Customer Relationship Management sebagai Penentu Loyalitas Pelanggan Digital

 Oleh : Hafifah Sitaturohmah / 245211087

Pernahkah kita merasa bahwa terdapat sebuah aplikasi belanja yang bisa memahami apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita mencarinya? Layanan pelanggan merespons dengan cepat dan ramah, notifikasi promo muncul pada waktu yang tepat, dan rekomendasi produk terasa sangat personal. Pengalaman seperti ini membuat sebagian konsumen merasa nyaman dan cenderung setia pada satu merek meskipun banyak pilihan platform digital lain yang tersedia. Kesetiaan pelanggan ini adalah hasil dari pendekatan pengelolaan hubungan pelanggan yang terencana dan sistematis. Dalam dunia bisnis digital yang semakin kompetitif, kemampuan sebuah bisnis dalam membangun kedekatan dengan pelanggan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan suatu bisnis. Dalam hal tersebut, Customer Relationship Management (CRM) memegang peran penting sebagai strategi utama untuk mengelola hubungan yang terarah dan berkelanjutan.

CRM merupakan sebuah pendekatan manajemen yang memiliki focus pada pembangunan dan pemeliharaan hubungan jangka panjang antara perusahaan dengan pelanggan. Strategi ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan sesaat, namun berfokus pada terciptanya pembangunan hubungan yang berkelanjutan dan menguntungkan satu sama lain. Interaksi pelanggan terjadi melalui berbagai saluran seperti media sosial, marketplace, email, hingga aplikasi layanan pelanggan. Jika setiap saluran berjalan sendiri-sendiri, pengalaman pelanggan akan terasa terputus dan tidak konsisten. CRM berfungsi mengintegrasikan seluruh titik interaksi tersebut sehingga perusahaan dapat memahami perjalanan pelanggan secara menyeluruh. Integrasi ini dapat menciptakan komunikasi yang lebih terarah, personal, dan relevan sesuai denga apa yang dibutuhkan pelanggan.

Kekuatan utama CRM terletak pada pengelolaan dan pemanfaatan data pelanggan. Riwayat pembelian, produk yang dilihat pelanggan, hingga ketertarikan terhadap promosi akan menghasilkan sebuah informasi yang sangat penting dan bernilai. Data tersebut bukan sekadar angka, namun gambaran sebuah pola perilaku dan preferensi pelanggan. Ketika dianalisis secara sistematis, perusahaan dapat mengidentifikasi kebutuhan yang bahkan mungkin belum disadari oleh pelanggan itu sendiri sebelumnya. Hal inilah yang membuat rekomendasi produk terasa lebih tepat sasaran dan komunikasi menjadi lebih personal.

Selain personalisasi, komunikasi juga menjadi kunci dalam membangun loyalitas. Loyalitas tidak lahir dari satu transaksi yang memuaskan, melainkan dari rangkaian pengalaman baik yang terus berulang. Respons yang cepat terhadap pertanyaan, penyelesaian keluhan secara profesional, serta program loyalitas (penghargaan) yang dirancang dengan baik menunjukkan adanya perhatian yanng berkelanjutan sehingga mencerminkan bahwa perusahaan memang benar-benar memperhatikan para pelanggan. Pelanggan yang merasa diperhatikan akan lebih mudah membangun kepercayaan. Dengan adanya kepercayaan yang tumbuh, pada akhirnya dapat mendorong pelanggan untuk tetap bertahan meskipun terdapat banyak alternatif yang ditawarkan oleh kompetitor.

Namun demikian, CRM tidak dapat dipahami hanya sebagai perangkat lunak atau sistem teknologi saja. Teknologi hanya alat bantu, keberhasilan sangat bergantung pada orientasi perusahaan terhadap pelanggan. Sistem yang canggih tidak akan memberikan dampak yang signifikan apabila tidak didukung oleh komitmen manajemen dan budaya organisasi yang berfokus pada pelayanan. Seluruh bagian dalam perusahaan perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya menjaga hubungan pelanggan. Dengan integrasi strategi dan budaya tersebut, CRM dapat berfungsi secara optimal sebagai alat penguatan hubungan.

Di era persaingan bisnis digital yang semakin ketat, mempertahankan pelanggan justru menjadi sesuatu yang lebih menantang dibandingkan mendapatkan pelanggan baru. Pelanggan saat ini memiliki akses informasi yang luas dan mudah untuk membandingkan merek satu dengan lainnya. Satu pengalaman buruk yang diberikan saat pelayanan dapat dengan cepat mempengaruhi keputusan pelanggan. Karena itulah, pengelolaan hubungan yang sistematis menjadi kebutuhan primer dan bukan lagi sekedar pilihan. Perusahaan yang mampu memanfaatkan CRM secara efektif akan lebih siap menghadapi dinamika tersebut dan membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Jadi kesimpulannya ialah, Customer Relationship Management dapat dipahami sebagai fondasi dalam membangun loyalitas pelanggan digital. CRM berperan dalam mengintegrasikan data, pola komunikasi, dan strategi pengelolaan hubungan dalam satu sistem yang ter arah. Loyalitas tidak lagi bergantung pada promosi sementara atau pemberian diskon sesaat, tetapi pada pengalaman yang konsisten dan bermakna. Ketika pelanggan merasa dikenali, dihargai, dan diprioritaskan, hubungan yang terjalin tidak sekedar bersifat transaksional saja. Dalam perkembangan bisnis modern, kemampuan mengelola dan membangun hubungan melalui CRM menjadi faktor yang sangat penting untuk menentukan keberlanjutan suatu usaha dan daya saing perusahaan di masa mendatang.


Konsistensi Konten vs Tren Viral: Strategi Mana yang Lebih Efektif bagi UMKM di Era Digital?

 Oleh: Fauziyah Nur Istikomah / 245211114

Transformasi digital telah mengubah lanskap pemasaran UMKM secara fundamental. Platform media sosial tidak lagi sekadar etalase, melainkan arena kompetisi atensi yang sangat padat. Media sosial menjadi salah satu sarana utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mempromosikan produk dan membangun hubungan dengan konsumen. Di tengah persaingan yang semakin ketat, UMKM dituntut untuk kreatif dalam menyusun strategi konten.

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua brand yang aktif di dunia digital berlomba-lomba membuat konten viral. Alasannya sederhana, agar produk mereka dilirik oleh lebih banyak orang. Hal ini didorong oleh fakta bahwa konten viral umumnya menghasilkan views dan engagement yang jauh lebih tinggi dibandingkan dari konten biasa lainnya.

Secara konseptual, konsistensi konten menawarkan pendekatan yang lebih sistematis. Produksi konten yang rutin dengan pesan merek yang selaras memungkinkan UMKM membangun brand equity secara progresif. Dalam perspektif perilaku konsumen, kepercayaan tidak lahir dari risiko tunggal, melainkan dari repetisi pesan yang kredibel. Di sinilah letak kekuatan konsistensi “ia bekerja pelan tetapi akumulatif”. Namun demikian, strategi ini sering dikritik karena membutuhkan disiplin produksi, perencanaan konten, serta sumber daya yang tidak selalu dimiliki UMKM skala mikro. Dengan kata lain, konsistensi bukan sekadar soal niat, melainkan kapasitas operasional.

Sebaliknya, tren viral kerap dipandang sebagai “jalan pintas” menuju visibilitas. Algoritma platform digital memang cenderung memberi jangkauan lebih luas pada konten yang relevan dengan tren yang sedang populer. Bagi UMKM dengan modal terbatas, momentum viral dapat membantu meningkatkan awareness dalam waktu relatif singkat. Namun demikian, efektivitas viralitas tidak selalu konsisten karena dipengaruhi oleh dinamika algoritma dan perilaku audiens yang berubah-ubah. Selain itu, fokus yang berlebihan pada perolehan views dan likes tanpa strategi konversi yang jelas berpotensi membuat peningkatan engagement tidak berbanding lurus dengan penjualan. Di sisi lain, ketergantungan yang terlalu tinggi pada tren juga dapat membuat identitas merek menjadi kurang kuat dan tidak konsisten.

Dari sudut pandang keberlanjutan bisnis, mengejar viral tanpa fondasi konten yang konsisten justru berpotensi menciptakan pertumbuhan semu. Lonjakan traffic yang tidak diikuti strategi retensi hanya menghasilkan audiens yang dangkal dan mudah berpindah. Fenomena ini kerap terlihat pada akun UMKM yang sempat “meledak” karena satu konten, tetapi kemudian mengalami stagnasi bahkan penurunan engagement. Artinya, viralitas tidak otomatis berbanding lurus dengan kinerja bisnis.

Dalam perspektif Islam, konsistensi selaras dengan nilai istiqamah, yaitu keteguhan dan konsistensi dalam menjalankan suatu kebaikan. Prinsip ini relevan dalam dunia bisnis, karena keberlanjutan usaha tidak dibangun dari tindakan sesaat, melainkan dari upaya yang terus-menerus dan terencana. Rasulullah SAW pun menganjurkan amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Dalam konteks UMKM, konsistensi konten mencerminkan etika kerja yang disiplin dan bertanggung jawab.

Namun, memutlakkan konsistensi sebagai strategi superior juga perlu dikritisi. Konsistensi yang tidak adaptif berisiko melahirkan konten yang monoton dan tenggelam dalam kebisingan digital. Dalam ekosistem algoritmik yang sangat dinamis, rigiditas justru dapat menurunkan discoverability. Oleh karena itu, problem utamanya bukan memilih antara stabilitas atau momentum, melainkan bagaimana UMKM mengelola trade-off antara keduanya secara kontekstual.

Dengan demikian, perdebatan konsistensi konten versus tren viral seharusnya tidak disederhanakan sebagai pilihan dikotomis. Dalam realitas ekonomi digital yang kompleks, efektivitas strategi sangat bergantung pada tujuan bisnis, kapasitas produksi konten, serta kedewasaan manajerial UMKM itu sendiri. Konsistensi memberikan fondasi keberlanjutan, sementara tren viral menyediakan momentum akselerasi. UMKM yang gagal memahami relasi dialektis ini berisiko terjebak antara kerja konten yang melelahkan tanpa pertumbuhan, atau euforia viral yang tidak pernah benar-benar menjadi profit.


User Experience dan Dampaknya terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Digital

 Oleh: Maretta Sofiy Saputri

Perkembangan pemasaran digital di era sekarang sangat bergantung pada peran content creator dalam mempromosikan produk melalui platform media sosial, seperti Tiktok, Instagram, dan Shopee. Dengan menggunakan video, foto, atau penjelasan singkat, content creator bisa membuat pengikutnya tertarik dan percaya terhadap produk tersebut. Biasanya, produk yang sedang dipromosikan ditampilkan berupa tautan yang ditempatkan di bio atau fitur kumpulan link, sehingga pengguna dapat mengakses halaman pembelian dengan mudah. Namun, dalam kenyataannya sering kali terdapat berbagai masalah user experience (UX) yang justru menghalangi proses pembelian. Ini menunjukkan bahwa suksesnya strategi pemasaran digital tidak hanya tergantung pada menariknya sebuah konten, tetapi juga pada bagaimana user experience (UX) setelah mereka mengklik tautan tersebut.

Masalah yang sering terjadi adalah tautan promosi tidak tersusun secara rapi. Banyak pembuat konten menampilkan berbagai produk di satu halaman yang panjang tanpa membagi produk tersebut ke dalam kategori yang jelas. Produk seperti pakaian, skincare, dan aksesoris dicantumkan dalam satu daftar tanpa ada tanda atau keterangan khusus. Akibatnya, pengguna perlu menggulir cukup jauh untuk menemukan produk yang mereka cari. Dalam perilaku konsumen digital yang sering menginginkan cepat dan praktis, proses yang terlalu lama dan tidak teratur bisa membuat orang kehilangan minat beli.

Masalah berikutnya adalah adanya hambatan teknis di tautan tersebut. Banyak pengguna menghadapi masalah seperti loading yang lambat, halaman tidak berespons, atau bahkan hanya menampilkan layar kosong atau blank page. Padahal, ketika pengguna mengklik link, mereka biasanya sudah tertarik dengan produk yang sedang dipromosikan. Hambatan teknis yang begitu kecil sekalipun bisa menghentikan proses pengambilan keputusan pembelian konsumen yang menggunakan marketplace cenderung memiliki banyak pilihan dan biasanya tidak akan sabar jika prosesnya terasa sulit atau memakan waktu terlalu lama.

Selain masalah teknis dan struktur tautan, ada juga kasus di mana produk yang terlihat dalam konten tidak sesuai dengan produk yang tersedia di tautan pembelian. Di beberapa kasus, content creator mempromosikan barang dengan merek tertentu, tetapi ketika pengguna mengklik tautan yang diberikan, produk yang muncul justru berasal dari merek lain atau merupakan barang yang mirip tetapi memiliki kualitas yang berbeda. Meskipun penampilan barang terlihat sama, perbedaan merek atau status sebagai produk tiruan bisa memengaruhi cara konsumen memandang kualitas dan keaslian barang tersebut.

Ketidaksesuaian ini menyebabkan pengalaman yang membingungkan dan bisa mengurangi kepercayaan konsumen. Apa yang terlihat dalam konten harusnya sesuai dengan apa yang terdapat di halaman pembelian. Jika ada perbedaan, pelanggan bisa merasa bingung dan meragukan tingkat transparansi promosi itu. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya memengaruhi keputusan beli saat itu, tetapi juga berdampak pada kualitas content creator serta brand yang dipromosikan.

Dari segi strategi pemasaran digital, seluruh proses mulai dari tahap promosi sampai pada proses pembelian harus berjalan secara terstruktur. Konten yang menarik memang bisa membuat orang tertarik dan memperhatikan, tetapi tahap setelah klik juga sangat penting dalam menentukan apakah seseorang benar-benar melakukan tindakan yang diharapkan. Jika user experience (UX) di akhir proses tidak baik, maka kesempatan untuk menjual produk bisa hilang. Bahkan, pengalaman buruk bisa menyebar lewat ulasan atau komentar dari orang lain, sehingga memengaruhi cara orang umum memandang sesuatu secara lebih luas.

Maka dari itu, meningkatkan user experience (UX) dalam promosi digital sangat penting sekali. Tautan promosi harus dibuat dengan rapi, diuji secara teknis sebelum dibagikan, dan memastikan bahwa produk yang dipromosikan sesuai dengan produk yang tersedia di halaman pembelian. Tanpa dukungan dari pengalaman pengguna yang baik, strategi pemasaran yang kreatif dan menarik pun bisa berisiko menghilangkan peluang untuk mengubah pengunjung menjadi pelanggan serta menurunkan tingkat kepercayaan konsumen.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa user experience (UX) memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan strategi pemasaran digital. Kasus link promosi dari content creator yang tidak efektif menunjukkan bahwa masalah teknis, struktur yang tidak jelas, dan ketidaksesuaian produk bisa menghambat proses pembelian yang sedang hampir selesai. Oleh karena itu, dalam persaingan bisnis digital yang semakin sengit, user experience (UX) harus menjadi hal utama yang diperhatikan agar strategi pemasaran bisa menghasilkan hasil yang baik dan terus berkelanjutan.


Strategi Promosi Efektif di Tengah Persaingan Bisnis Modern

 Oleh : Muhammad Amirul Zulfikar / 245211101

Perkembangan teknologi dan internet telah merubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia bisnis dan pemasaran. Jika di masa lalu promosi hanya dilakukan melalui media konvensional seperti televisi, radio, dan koran, saat ini metode tersebut mulai bergeser ke ranah digital. Salah satu bentuk pemasaran yang berkembang pesat adalah online advertising. Online advertising merupakan strategi promosi produk atau jasa melalui media internet dengan memanfaatkan berbagai platform digital. Strategi ini dianggap lebih efektif karena mampu menjangkau audiens yang lebih luas, cepat, dan terukur.

Di era digital, hampir semua kalangan masyarakat menggunakan internet dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, berbelanja, dan lain lain. Kondisi seperti ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memasarkan produknya secara online. Maka dari itu, online advertising menjadi salah satu strategi yang sangat relevan dan penting untuk dipahami oleh pengusaha, mahasiswa khususnya yang untuk yang mengambil progam studi bisnis dan manajemen.

Online advertising memiliki berbagai bentuk dan media. Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, shopee live menjadi sarana yang paling sering digunakan untuk beriklan. Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat menampilkan iklan dalam bentuk gambar, video, dan bahkan bisa melakukan live untuk dapat langsung berinteraksi terhadap audiens yang bisa menarik perhatian pengguna. Selain media sosial, aplikasi pencari seperti Google juga menyediakan layanan iklan berbayar yang memungkinkan sebuah bisnis muncul di halaman pertama hasil pencarian sesuai dengan kata kunci tertentu.

Salah satu keunggulan utama online advertising adalah kemampuannya dalam melakukan targeting atau penargetan audiens secara spesifik. Pengiklan dapat menentukan target berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi, minat, hingga perilaku konsumen. Misalnya, sebuah brand fashion dapat menargetkan iklannya kepada Perempuan remaja yang berusia sekitar 18–25 tahun yang tertarik pada tren pakaian terbaru. Dengan sistem ini, promosi menjadi lebih tepat sasaran dibandingkan iklan konvensional yang hanya menjangkau audiens secara umum tanpa segmentasi yang jelas.

Selain itu, online advertising juga menawarkan sistem pengukuran yang transparan dan real-time. Pengiklan dapat melihat jumlah tayangan, jumlah klik, hingga tingkat pembelian yang dihasilkan dari iklan tersebut. Data ini sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran. Jika suatu iklan kurang efektif, pengiklan dapat segera melakukan perbaikan pada desain, pesan, atau target audiensnya. Hal ini menunjukkan bahwa online advertising tidak hanya praktis, tetapi juga berbasis data.

Namun demikian, online advertising juga memiliki tantangan. Persaingan di dunia digital sangat ketat karena hampir semua bisnis memanfaatkan platform yang sama. Akibatnya, biaya iklan bisa meningkat, terutama jika banyak pengiklan menargetkan audiens yang serupa. Selain itu, pengguna internet saat ini semakin selektif terhadap iklan. Jika konten yang ditampilkan tidak menarik atau terlalu sering muncul, iklan tersebut bisa diabaikan bahkan dianggap mengganggu. Oleh karena itu, kreativitas dalam membuat konten iklan menjadi faktor penting dalam keberhasilan online advertising.

Mahasiswa sebagai generasi digital juga memiliki peran penting dalam memahami fenomena ini. Tidak hanya sebagai konsumen yang terpapar iklan setiap hari, mahasiswa juga berpotensi menjadi pelaku usaha digital. Dengan memahami konsep online advertising, mahasiswa dapat memanfaatkan peluang bisnis secara lebih optimal, misalnya dalam menjalankan usaha kecil, personal branding, atau bisnis berbasis media sosial.

Online advertising merupakan strategi promosi yang sangat efektif dan relevan di era digital. Dengan kemampuan targeting yang spesifik, sistem pengukuran yang jelas, serta jangkauan yang luas, metode ini memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha. Meskipun demikian, tantangan seperti persaingan yang ketat dan perubahan perilaku konsumen tetap harus diperhatikan. Oleh karena itu, pemahaman yang baik mengenai strategi, kreativitas konten, serta analisis data menjadi kunci utama dalam menjalankan online advertising secara sukses. Bagi mahasiswa, memahami konsep ini bukan hanya penting secara akademis, tetapi juga sebagai bekal dalam menghadapi dunia bisnis yang semakin digital dan kompetitif.


Pengaruh Iklan Digital terhadap Keputusan Pembelian Konsumen

 Oleh : Wakid Ichsan Abdullah

Cara pembisnis memasarkan barang dan jasa mereka telah berubah dikarenakan kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi. Munculnya iklan digital atau iklan online adalah salah satu transformasi tersebut. Karena kemampuan mereka untuk menjangkau pelanggan secara luas, cepat, dan terukur, iklan digital kini menjadi strategi utama dalam pemasaran modern. Dalam era digital yang ditandai dengan peningkatan penggunaan internet dan media sosial, pengaruh iklan digital terhadap keputusan pembelian konsumen menjadi semakin signifikan dan tidak dapat diabaikan.

Pada dasarnya, keputusan pembelian konsumen terdiri dari beberapa proses, seperti mengidentifikasi kebutuhan konsumen, mencari informasi, melakukan evaluasi alternatif, membuat keputusan untuk membeli, dan bertindak setelah pembelian. Dalam setiap tahapan tersebut, iklan digital sangat cocok untuk hal tersebut. Iklan yang muncul di platform video, media sosial, atau mesin pencari dapat meningkatkan kesadaran konsumen terhadap suatu produk pada tahap pengenalan kebutuhan. Misalnya, orang mungkin menyadari pentingnya merawat kulit dengan lebih baik setelah melihat iklan produk kecantikan di media sosial.

Iklan digital memudahkan pelanggan untuk mendapatkan informasi tentang produk hanya dengan satu klik pada tahap pencarian informasi. Konsumen menjadi lebih percaya terhadap produk yang dijual karena fitur seperti ulasan pelanggan, tautan langsung ke situs resmi, dan testimoni video. Dibandingkan dengan metode periklanan konvensional, kemudahan akses informasi ini mempercepat proses pengambilan keputusan. Selain itu, iklan dapat ditampilkan sesuai dengan minat dan perilaku pengguna berkat keunggulan media digital, yang membuat pesan yang diterima lebih relevan dan personal. Sehingga metode iklan digital sangat cocok untuk di terapkan pada proses periklanan zaman sekarang.

Selanjutnya, iklan digital sering menampilkan perbandingan produk, diskon, atau promosi eksklusif, yang dapat memengaruhi persepsi nilai konsumen pada tahap evaluasi alternatif. Untuk menciptakan rasa urgensi yang mendorong pelanggan untuk melakukan pembelian, gunakan taktik seperti tawaran terbatas atau potongan harga terbatas. Dalam kasus ini, pengaruh iklan digital terhadap keputusan pembelian diperkuat oleh komponen psikologis seperti rasa takut kehilangan kesempatan (fear of missing out).

Iklan digital juga memiliki kemampuan untuk membangun hubungan dua arah antara pelanggan dan bisnis. Konsumen dapat bertanya langsung tentang produk sebelum memutuskan untuk membeli melalui kolom komentar, pesan langsung, atau fitur live streaming. Interaksi ini meningkatkan kedekatan emosional dan kepercayaan antara konsumen dan merek. Kemungkinan pelanggan akan melakukan pembelian lebih besar jika ada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.

Namun, efek dari iklan digital tidak selalu menguntungkan. Iklan yang berlebihan dapat membuat orang jenuh atau bahkan tidak percaya pada merek tertentu. Selain itu, iklan yang tidak transparan, seperti informasi yang dilebih-lebihkan atau manipulatif, dapat membuat konsumen merasa tidak nyaman dan bahkan dapat merusak reputasi perusahaan. Oleh karena itu, untuk menjaga hubungan yang baik antara bisnis dan pelanggan, etika dalam periklanan digital sangat penting untuk diperhatikan.

Secara keseluruhan, keputusan pembelian yang dibuat oleh pelanggan dipengaruhi secara tidak langsung oleh iklan digital. Online advertising adalah alat yang efektif untuk pemasaran pada zaman sekarang karena dapat menargetkan audiens tertentu, memberikan informasi dengan cepat, dan memungkinkan interaksi langsung. Namun, strategi iklan digital yang efektif dan penerapan prinsip etika sangat penting untuk keberhasilan. Iklan digital dengan pendekatan profesional dan bertanggung jawab dapat meningkatkan penjualan dan membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.


Strategi Implementasi Customer Relationship Management (CRM): Upaya Pengembangan Bisnis Digital di Era Society 5.0

 Oleh : Achmad Iqbal Saputra / 245211088

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

Era Society 5.0 ditandai dengan integrasi teknologi digital dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Perkembangan ini mendorong perubahan besar dalam cara perusahaan menjalankan bisnisnya. Bisnis digital menjadi model yang semakin dominan karena memanfaatkan internet dan teknologi cerdas. Persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pada pelanggan. Pelanggan kini memiliki akses informasi yang luas dan dapat membandingkan layanan dengan mudah. Oleh karena itu, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan menjadi kunci keberhasilan. Salah satu strategi yang relevan adalah penerapan Customer Relationship Management atau CRM. CRM menjadi pendekatan penting dalam pengembangan bisnis digital di era Society 5.0.

Customer Relationship Management merupakan strategi yang digunakan perusahaan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan secara sistematis. CRM tidak hanya berupa perangkat lunak, tetapi juga mencakup proses dan budaya perusahaan. Tujuan utama CRM adalah meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan. Dalam bisnis digital, data pelanggan menjadi aset yang sangat berharga. Melalui pengelolaan data yang baik, perusahaan dapat memahami kebutuhan dan preferensi pelanggan. Pemanfaatan teknologi seperti big data dan artificial intelligence semakin memperkuat efektivitas CRM. Informasi yang diolah secara tepat membantu perusahaan memberikan layanan yang lebih personal. Dengan demikian, hubungan antara perusahaan dan pelanggan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Implementasi CRM dalam bisnis digital memerlukan strategi yang terencana. Langkah pertama adalah mengidentifikasi kebutuhan dan karakteristik pelanggan secara menyeluruh. Perusahaan perlu mengintegrasikan berbagai saluran komunikasi seperti media sosial, email, dan aplikasi pesan. Integrasi ini memungkinkan interaksi yang konsisten dan responsif terhadap pelanggan. Selanjutnya, perusahaan harus memilih sistem CRM yang sesuai dengan skala dan kebutuhan bisnis. Pelatihan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi. Karyawan harus memahami pentingnya pelayanan yang berorientasi pada pelanggan. Dengan strategi yang tepat, CRM dapat berjalan secara optimal dalam mendukung pertumbuhan bisnis.

Di era Society 5.0, teknologi berperan sebagai pendukung utama implementasi CRM. Artificial intelligence membantu menganalisis pola perilaku pelanggan secara lebih akurat. Sistem otomatisasi memungkinkan perusahaan merespons pertanyaan pelanggan dengan cepat. Chatbot dan layanan digital lainnya meningkatkan efisiensi pelayanan. Selain itu, teknologi cloud memudahkan penyimpanan dan akses data secara real time. Keamanan data pelanggan juga harus menjadi perhatian utama perusahaan. Perlindungan data yang baik akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis. Dengan dukungan teknologi yang tepat, CRM mampu menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih baik.

Strategi CRM juga berkontribusi dalam meningkatkan daya saing bisnis digital. Hubungan yang baik dengan pelanggan akan menciptakan loyalitas jangka panjang. Pelanggan yang loyal cenderung melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan produk kepada orang lain. Hal ini berdampak pada peningkatan pendapatan perusahaan secara berkelanjutan. CRM membantu perusahaan mengurangi biaya pemasaran karena mempertahankan pelanggan lebih efektif daripada mencari pelanggan baru. Analisis data pelanggan juga membantu perusahaan mengembangkan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan memahami pelanggan secara mendalam, perusahaan dapat menciptakan nilai tambah yang unik. Keunggulan ini menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan di era digital.

Meskipun demikian, implementasi CRM tidak terlepas dari tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola teknologi. Selain itu, biaya investasi sistem CRM terkadang cukup besar bagi perusahaan kecil. Integrasi data dari berbagai platform juga membutuhkan perencanaan yang matang. Risiko kebocoran data menjadi ancaman yang harus diantisipasi dengan sistem keamanan yang kuat. Perusahaan juga harus menjaga konsistensi dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Tanpa komitmen manajemen yang kuat, CRM tidak akan berjalan efektif. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan pengawasan secara berkala agar strategi CRM tetap relevan.

Secara keseluruhan, strategi implementasi Customer Relationship Management merupakan langkah penting dalam pengembangan bisnis digital di era Society 5.0. CRM membantu perusahaan memahami pelanggan secara lebih mendalam melalui pemanfaatan teknologi. Hubungan yang baik dengan pelanggan menjadi aset utama dalam memenangkan persaingan. Dukungan teknologi seperti artificial intelligence dan big data memperkuat efektivitas strategi ini. Namun, keberhasilan implementasi CRM bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan komitmen manajemen. Tantangan yang ada harus dihadapi dengan perencanaan yang matang dan sistem yang terintegrasi. Dengan penerapan yang tepat, CRM mampu meningkatkan loyalitas dan kepuasan pelanggan. Pada akhirnya, CRM menjadi strategi yang relevan dan berkelanjutan bagi perkembangan bisnis digital di masa depan.


Data Analytics sebagai Kunci dalam Meningkatkan Daya Saing Bisnis Digital

 Oleh: Dimas Rasyid Anggara

Di zaman serba cepat ini perkembangan teknologi bergerak sangat cepat yang merambah diberbagai aspek mulai dari bisnis hingga informasi. Pada aspek bisnis hampir semua perusahaan dituntut untuk selalu berinovasi agar bisa bertahan dengan jangka waktu yang lama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Tren yang muncul di media sosial sangat berpengaruh terhadap keinginan konsumen, dari fenomena itulah muncul big data sebagai aset penting dalam pengambilan keputusan untuk sebuah bisnis dalam melakukan inovasi dan menjaga keberlanjutan bisnis. Data Analystics muncul sebagai jawaban untuk menentukan pola atau tren yang ada dan membuat sebuah bisnis bisa berinovasi dan bertahan dipersaingan pasar.

Data Analystic itu sebuah proses untuk menganalisis sebuah data untuk menghasilkan sebuah jawaban untuk menentukan langkah atau keputusan. Data yang paling umum digunakan sebuah bisnis berupa data perilaku konsumen, data transaksi, dan data preferensi pelanggan. Dari data-data tersebut peran dari data analystic akan mengubah sebuah data mentah untuk menjadi sebuah pemahaman terkait keputusan atau langkah yang akan diambil. Pemahaman yang didapat dari data analystic tersebutlah yang akan dipakai sebuah bisnis untuk menentukan strategi untuk target pasar, perhitungan risiko, dan menentukan inovasi.

Untuk memahami perilaku pelanggan secara lebih akurat, melalui analisis data historis dan real-time, bisnis bisa mengetahui preferensi, kebiasaan, hingga kebutuhan konsumen. Sebuah bisnis akan melakukan penyesuaian terhadap hasil yang didapat dari analisis data historis dan real-time, bisa penyesuaian produk hingga pelayanan agar sesuai dengan keinginan pelanggan. Pemanfaatan data analytics membantu bisnis mengidentifikasi kebutuhan dalam operasional mereka dan memungkinkan dalam pengambilan keputusan menjadi lebih objektif. Data yang dianalisis dengan baik dapat menjadi sumber ide untuk inovasi. Dengan memahami tren pasar dan feedback pelanggan, perusahaan dapat menciptakan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Keputusan yang didasarkan pada data cenderung memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang hanya mengandalkan intuisi.

Dampak dari data analystic terhadap bisnis digital berupa meningkatnya kepuasan dan loyalitas pelanggan karena sebuah bisnis mampu menyesuaikan keinginan pelanggan. Respon dari bisnis yang lebih cepat dalam menghadapi perubahan tren yang sedang terjadi juga menjadi salah satu dampak dari data analystic terhadap bisnis digital. Hal tersebut menajdi keunggulan sebuah bisnis yang memakai data analystic dibandingkan pesaing yang tidak menggunakan. Bisnis juga mampu bersaing dalam perubahan tren di pasar yang sangat cepat menjadikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Dalam pemanfaatan data analystic juga terdapat tantangannya tersendiri, dikarenakan data analystic ini tergolong masih baru jadi ketersediaan sumber daya manusianya yang kompeten masih kurang. Infrastuktur teknologi apalagi, di Indonesia masih sangat kurang infrastuktur dalam menopang kemajuan teknologi yang sangat pesat ini. Banyaknya data yang digunakan harus juga dibekali dengan maintenance berkala. Data juga menjadi salah satu tantangan dikarenakan data analystic ini sangat bergantung pada data maka keamanan dan privasi data harus sangat ditingkatkan rawan kebocoran data kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dari semua hal diatas ditarik kesimpulan bahwa data analytics merupakan elemen penting dalam bisnis digital. Tanpa pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan dan menganalisis perilaku konsumen Perusahaan diera sekarang akan sulit bersaing. Perubahant ren dipasar yang cukup cepat memerlukan analisis yang mendalam untuk melakukan inovasi untuk perkembangan sebuah bisnis di era sekarang. Harapannya di era dengan kemajuan teknologi yang cukup pesat ini bisnis harus bisa beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi dalam memilih strategi untuk meningkatkan dan menajaga daya saing pasar.


Scroll, Klik, Untung: Peran Teknologi Informasi dalam Bisnis Modern

 Oleh : Hafidz Ahzar Saputra

245211084

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya dalam dunia bisnis. Di masa lalu, aktivitas bisnis identik dengan membuka toko fisik, menata barang dagangan, dan menunggu pembeli datang secara langsung. Namun, di era digital saat ini, cara berbisnis telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Cukup dengan melakukan scroll di layar ponsel, klik beberapa tombol, dan menyelesaikan pembayaran, transaksi jual beli dapat berlangsung dengan cepat dan mudah. Fenomena inilah yang menunjukkan bahwa teknologi informasi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi fondasi utama dalam menjalankan bisnis modern.

Kemajuan teknologi informasi memungkinkan pelaku usaha untuk memasarkan dan menjual produk secara daring melalui berbagai platform digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga sebagai media pemasaran yang sangat efektif. Melalui konten video, foto, dan siaran langsung, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk mereka secara kreatif dan menarik. Target pasar pun dapat ditentukan dengan lebih spesifik, terutama kalangan muda yang aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat proses promosi menjadi lebih efisien dan tepat sasaran dibandingkan dengan metode pemasaran konvensional.

Selain media sosial, keberadaan marketplace juga semakin memperkuat peran teknologi informasi dalam bisnis. Marketplace menyediakan ruang bagi penjual dan pembeli untuk bertemu secara virtual tanpa batasan ruang dan waktu. Banyak toko besar maupun brand ternama yang kini membuka toko online resmi agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Konsumen tidak perlu lagi datang ke toko fisik, karena seluruh proses pembelian dapat dilakukan secara daring, mulai dari memilih barang, memesan, hingga melakukan pembayaran. Sistem pembayaran digital seperti BRImo, GoPay, ShopeePay, dan aplikasi keuangan lainnya semakin memudahkan transaksi dan mempercepat proses jual beli.

Kemudahan ini mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Jika sebelumnya konsumen harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk pergi ke toko, kini mereka cukup duduk santai di rumah. Proses belanja menjadi sangat sederhana: scroll untuk melihat produk, klik untuk memesan, bayar melalui aplikasi, lalu menunggu barang sampai di rumah. Perubahan ini menunjukkan bahwa toko tidak lagi terbatas pada bangunan fisik di pinggir jalan, tetapi telah berpindah ke dalam genggaman ponsel setiap individu. Dengan kata lain, teknologi informasi telah mendekatkan penjual dan pembeli dalam satu ruang digital yang sama.

Keberhasilan bisnis di era digital juga sangat dipengaruhi oleh strategi pemasaran yang diterapkan. Banyak pelaku usaha berlomba-lomba membuat iklan yang menarik, menawarkan promo diskon, cashback, hingga gratis ongkir untuk menarik perhatian konsumen. Kreativitas dalam menyajikan konten menjadi kunci utama agar produk terlihat menonjol di tengah persaingan yang ketat. Selain itu, pelayanan yang cepat dan responsif juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Ketika konsumen merasa puas, mereka cenderung melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan produk kepada orang lain.

Manfaat teknologi informasi dalam dunia bisnis tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh konsumen. Dari sisi konsumen, belanja online memberikan efisiensi waktu dan tenaga karena tidak perlu keluar rumah. Jangkauan pasar yang luas memungkinkan konsumen membandingkan berbagai produk dari berbagai penjual dengan mudah. Selain itu, konsumen juga dapat menghemat biaya tambahan seperti bensin, parkir, dan biaya transportasi lainnya. Cukup dengan membeli kuota internet, konsumen sudah dapat mengakses berbagai kebutuhan melalui media digital.

Namun, di balik berbagai kemudahan dan manfaat tersebut, teknologi informasi juga menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Toko-toko fisik mulai mengalami penurunan jumlah pengunjung karena banyak konsumen beralih ke belanja online. Pedagang tradisional yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi berisiko kehilangan pelanggan. Di sisi lain, persaingan di dunia digital juga semakin ketat. Banyak toko online menjual produk yang serupa dengan merek berbeda dan harga yang lebih murah, sehingga konsumen menjadi sangat sensitif terhadap harga.

Oleh karena itu, pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Kemampuan memanfaatkan teknologi secara kreatif dan strategis menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang di era bisnis modern. Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi informasi dapat menjadi peluang besar untuk meraih keuntungan. Namun, tanpa kesiapan dan adaptasi yang baik, teknologi juga dapat menjadi ancaman bagi pelaku usaha. Dengan demikian, peran teknologi informasi dalam bisnis modern sangatlah penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat saat ini.


Belanja Sekali Klik : Realitas Gen Z di Era Marketplace Oleh : Desta Herawati

 Oleh : Desta Herawati

Teknologi digital telah mengubah kehidupan masyarakat secara signifikan, terutama dalam hal berbelanja. Sekarang dapat dilakukan hanya dengan ponsel dan koneksi internet daripada harus datang langsung ke toko. Generasi Z mengetahui situasi ini. Mereka berkembang di tengah kemajuan teknologi, sehingga kehadiran pasar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pasar maya seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada telah menjadi platform yang sangat disukai oleh Gen Z karena kemudahan akses, tampilan aplikasi yang menarik, dan berbagai promosi yang ditawarkan membuat belanja online menjadi menyenangkan dan praktis. Gen Z dapat mencari produk, membandingkan harga, membaca ulasan, dan membayar dengan beberapa sentuhan layar. Istilah "belanja sekali klik" berasal dari proses yang cepat ini.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa dampak yang cukup nyata. Salah satu realitas yang sering dialami Gen Z adalah meningkatnya perilaku konsumtif. Banyak pembelian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena tergoda diskon, gratis ongkir, atau tren yang sedang ramai di media sosial. Flash sale dan promo tanggal kembar sering kali membuat Gen Z merasa harus segera membeli barang sebelum kesempatan hilang. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memengaruhi kondisi keuangan pribadi. Selain itu, penggunaan fitur paylater menjadi fenomena yang cukup menonjol di kalangan Gen Z. Fitur ini memberikan kemudahan untuk membeli barang sekarang dan membayarnya di kemudian hari. Bagi sebagian Gen Z, paylater dianggap solusi praktis ketika dana terbatas.

Namun, kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan membuat sebagian dari mereka mengalami kesulitan membayar tagihan. Beberapa kasus yang diberitakan menunjukkan mahasiswa dan pekerja muda harus menghadapi beban utang kecil yang terus menumpuk akibat penggunaan paylater yang tidak terkontrol. Di sisi lain, marketplace juga membuka peluang positif bagi Gen Z. Banyak anak muda yang memanfaatkan platform ini untuk memulai usaha sendiri. Dengan modal yang relatif kecil, Gen Z dapat menjual produk seperti pakaian, makanan, aksesoris, atau barang buatan tangan. Kreativitas dan kemampuan memanfaatkan media digital menjadi modal utama. Tidak sedikit kisah sukses Gen Z yang berhasil membangun bisnis online dan memperoleh penghasilan mandiri melalui marketplace.

Selain itu, pasar menawarkan banyak pekerjaan baru yang diminati Gen Z, seperti pengelola toko online, affiliate marketer, pembuat konten produk, dan kurir logistik. Dinilai bahwa pekerjaan ini lebih fleksibel dan sesuai dengan gaya hidup anak muda. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor ini tidak selalu mudah. Tekanan target, jam kerja yang panjang, dan persaingan yang ketat menjadi tantangan yang harus dihadapi. Masalah keamanan juga menjadi bagian dari realitas Gen Z di era marketplace. Kasus penipuan online, barang yang tidak sesuai dengan deskripsi, atau toko yang tidak bertanggung jawab masih sering terjadi. Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan terkadang kurang teliti dalam membaca ulasan atau mengecek reputasi penjual. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehati-hatian tetap diperlukan meskipun transaksi dilakukan secara digital.

Selain sebagai tempat transaksi, marketplace juga memengaruhi gaya hidup Gen Z. Keputusan membeli barang sering kali dipengaruhi oleh ulasan pengguna lain, rekomendasi influencer, dan tren yang viral. Marketplace menjadi ruang di mana selera, opini, dan kebiasaan konsumsi terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa peran marketplace tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial. Secara keseluruhan, belanja sekali klik menunjukkan kehidupan Gen Z di era marketplace yang penuh dengan kemudahan tetapi juga penuh dengan tantangan. Pasar menawarkan kemudahan akses, efisiensi, dan peluang ekonomi, tetapi juga membawa risiko konsumtif, masalah keuangan, dan keamanan digital. Gen Z harus sadar dan bijak saat menggunakan pasar.

Dengan literasi digital dan keuangan yang baik, Gen Z dapat menjadikan marketplace sebagai sarana yang bermanfaat, bukan sekadar tempat berbelanja impulsif. Belanja sekali klik seharusnya menjadi simbol kemajuan, bukan sumber masalah, dalam kehidupan Gen Z di era digital.


Strategi Pemasaran Digital untuk Meningkatkan Loyalitas Konsumen

 Oleh : Revalina Julya Rizmawati

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia bisnis. Transformasi digital tidak hanya mengubah cara perusahaan memasarkan produk, tetapi juga mengubah perilaku konsumen dalam mencari informasi, membandingkan harga, hingga melakukan pembelian. Di era bisnis digital saat ini, konsumen memiliki banyak pilihan dan akses informasi yang luas. Mereka dapat membaca ulasan, menonton review, serta membandingkan kualitas produk hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga harus mampu membangun dan mempertahankan loyalitas mereka melalui strategi pemasaran digital yang tepat dan berkelanjutan.

Kesetiaan konsumen menjadi faktor yang sangat berharga bagi kelangsungan sebuah bisnis. Pelanggan yang sudah percaya biasanya akan kembali membeli produk yang sama, memberikan rekomendasi kepada orang lain, dan tidak mudah tergoda oleh penawaran dari kompetitor. Di era digital, kesetiaan tersebut tidak hanya ditentukan oleh mutu produk, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan brand di berbagai platform online. Interaksi yang konsisten, pelayanan yang responsif, serta komunikasi yang transparan akan memperkuat hubungan emosional antara perusahaan dan konsumen. Oleh karena itu, strategi pemasaran digital sebaiknya difokuskan pada upaya membangun hubungan jangka panjang yang didasari rasa percaya, kepuasan, dan keterlibatan aktif pelanggan.

Salah satu strategi yang efektif adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi dua arah. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau Facebook, perusahaan dapat berinteraksi langsung dengan konsumen, menjawab pertanyaan, serta menanggapi keluhan secara cepat. Respons yang cepat dan ramah dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek. Selain itu, konten yang menarik, informatif, dan relevan juga mampu menciptakan kedekatan emosional antara brand dan pelanggan. Penggunaan fitur live streaming, polling, atau kolom komentar dapat meningkatkan keterlibatan dan membuat konsumen merasa dihargai karena pendapatnya diperhatikan.

Selain media sosial, perusahaan juga dapat memanfaatkan email marketing dan pesan personal berbasis data pelanggan. Dengan memanfaatkan data riwayat pembelian atau preferensi konsumen, perusahaan dapat memberikan rekomendasi produk yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelanggan. Strategi personalisasi ini membuat konsumen merasa dipahami dan diperhatikan secara individual, bukan sekadar dianggap sebagai target pasar umum. Pendekatan yang lebih personal mampu meningkatkan kepuasan sekaligus memperkuat loyalitas karena pelanggan merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan brand.

Program loyalitas berbasis digital juga menjadi cara yang efektif untuk mempertahankan pelanggan. Pemberian poin, diskon khusus, cashback, atau reward eksklusif bagi pelanggan setia dapat mendorong pembelian ulang. Sistem keanggotaan atau membership berbasis aplikasi memudahkan konsumen dalam mengakses berbagai keuntungan dan memantau poin yang telah dikumpulkan. Dengan adanya insentif yang jelas dan transparan, konsumen akan memiliki alasan tambahan untuk tetap memilih produk atau layanan yang sama dibandingkan pesaing.

Hal yang perlu diperhatikan adalah mempertahankan mutu pelayanan serta pengalaman pengguna (user experience). Website atau aplikasi yang mudah dipahami, proses pembayaran yang praktis, navigasi yang sederhana, serta sistem transaksi yang terjamin keamanannya akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi konsumen. Kecepatan respons layanan pelanggan melalui fitur chat atau customer service online juga sangat berpengaruh terhadap kepuasan. Ketika pelanggan merasa nyaman, aman, dan terbantu saat bertransaksi, tingkat kepercayaan mereka akan meningkat dan peluang untuk melakukan pembelian ulang menjadi lebih besar.

Perusahaan juga perlu melakukan evaluasi dan inovasi secara berkala agar strategi pemasaran digital tetap relevan dengan perkembangan zaman. Analisis data digital seperti tingkat klik, waktu kunjungan, serta umpan balik pelanggan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Dengan memahami pola perilaku konsumen, perusahaan dapat menyesuaikan strategi pemasaran agar lebih efektif dan mampu mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah persaingan digital yang semakin ketat.


Bisnis Plan

Customer Relationship Management sebagai Penentu Loyalitas Pelanggan Digital

 Oleh : Hafifah Sitaturohmah / 245211087 Pernahkah kita merasa bahwa terdapat sebuah aplikasi belanja yang bisa memahami apa yang kita butuh...