Scroll, Klik, Untung: Peran Teknologi Informasi dalam Bisnis Modern

 Oleh : Hafidz Ahzar Saputra

245211084

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, salah satunya dalam dunia bisnis. Di masa lalu, aktivitas bisnis identik dengan membuka toko fisik, menata barang dagangan, dan menunggu pembeli datang secara langsung. Namun, di era digital saat ini, cara berbisnis telah mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Cukup dengan melakukan scroll di layar ponsel, klik beberapa tombol, dan menyelesaikan pembayaran, transaksi jual beli dapat berlangsung dengan cepat dan mudah. Fenomena inilah yang menunjukkan bahwa teknologi informasi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi fondasi utama dalam menjalankan bisnis modern.

Kemajuan teknologi informasi memungkinkan pelaku usaha untuk memasarkan dan menjual produk secara daring melalui berbagai platform digital. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan dan komunikasi, tetapi juga sebagai media pemasaran yang sangat efektif. Melalui konten video, foto, dan siaran langsung, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk mereka secara kreatif dan menarik. Target pasar pun dapat ditentukan dengan lebih spesifik, terutama kalangan muda yang aktif menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat proses promosi menjadi lebih efisien dan tepat sasaran dibandingkan dengan metode pemasaran konvensional.

Selain media sosial, keberadaan marketplace juga semakin memperkuat peran teknologi informasi dalam bisnis. Marketplace menyediakan ruang bagi penjual dan pembeli untuk bertemu secara virtual tanpa batasan ruang dan waktu. Banyak toko besar maupun brand ternama yang kini membuka toko online resmi agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas. Konsumen tidak perlu lagi datang ke toko fisik, karena seluruh proses pembelian dapat dilakukan secara daring, mulai dari memilih barang, memesan, hingga melakukan pembayaran. Sistem pembayaran digital seperti BRImo, GoPay, ShopeePay, dan aplikasi keuangan lainnya semakin memudahkan transaksi dan mempercepat proses jual beli.

Kemudahan ini mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Jika sebelumnya konsumen harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk pergi ke toko, kini mereka cukup duduk santai di rumah. Proses belanja menjadi sangat sederhana: scroll untuk melihat produk, klik untuk memesan, bayar melalui aplikasi, lalu menunggu barang sampai di rumah. Perubahan ini menunjukkan bahwa toko tidak lagi terbatas pada bangunan fisik di pinggir jalan, tetapi telah berpindah ke dalam genggaman ponsel setiap individu. Dengan kata lain, teknologi informasi telah mendekatkan penjual dan pembeli dalam satu ruang digital yang sama.

Keberhasilan bisnis di era digital juga sangat dipengaruhi oleh strategi pemasaran yang diterapkan. Banyak pelaku usaha berlomba-lomba membuat iklan yang menarik, menawarkan promo diskon, cashback, hingga gratis ongkir untuk menarik perhatian konsumen. Kreativitas dalam menyajikan konten menjadi kunci utama agar produk terlihat menonjol di tengah persaingan yang ketat. Selain itu, pelayanan yang cepat dan responsif juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Ketika konsumen merasa puas, mereka cenderung melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan produk kepada orang lain.

Manfaat teknologi informasi dalam dunia bisnis tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh konsumen. Dari sisi konsumen, belanja online memberikan efisiensi waktu dan tenaga karena tidak perlu keluar rumah. Jangkauan pasar yang luas memungkinkan konsumen membandingkan berbagai produk dari berbagai penjual dengan mudah. Selain itu, konsumen juga dapat menghemat biaya tambahan seperti bensin, parkir, dan biaya transportasi lainnya. Cukup dengan membeli kuota internet, konsumen sudah dapat mengakses berbagai kebutuhan melalui media digital.

Namun, di balik berbagai kemudahan dan manfaat tersebut, teknologi informasi juga menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Toko-toko fisik mulai mengalami penurunan jumlah pengunjung karena banyak konsumen beralih ke belanja online. Pedagang tradisional yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi berisiko kehilangan pelanggan. Di sisi lain, persaingan di dunia digital juga semakin ketat. Banyak toko online menjual produk yang serupa dengan merek berbeda dan harga yang lebih murah, sehingga konsumen menjadi sangat sensitif terhadap harga.

Oleh karena itu, pelaku usaha dituntut untuk terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Kemampuan memanfaatkan teknologi secara kreatif dan strategis menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang di era bisnis modern. Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi informasi dapat menjadi peluang besar untuk meraih keuntungan. Namun, tanpa kesiapan dan adaptasi yang baik, teknologi juga dapat menjadi ancaman bagi pelaku usaha. Dengan demikian, peran teknologi informasi dalam bisnis modern sangatlah penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat saat ini.


Belanja Sekali Klik : Realitas Gen Z di Era Marketplace Oleh : Desta Herawati

 Oleh : Desta Herawati

Teknologi digital telah mengubah kehidupan masyarakat secara signifikan, terutama dalam hal berbelanja. Sekarang dapat dilakukan hanya dengan ponsel dan koneksi internet daripada harus datang langsung ke toko. Generasi Z mengetahui situasi ini. Mereka berkembang di tengah kemajuan teknologi, sehingga kehadiran pasar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pasar maya seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada telah menjadi platform yang sangat disukai oleh Gen Z karena kemudahan akses, tampilan aplikasi yang menarik, dan berbagai promosi yang ditawarkan membuat belanja online menjadi menyenangkan dan praktis. Gen Z dapat mencari produk, membandingkan harga, membaca ulasan, dan membayar dengan beberapa sentuhan layar. Istilah "belanja sekali klik" berasal dari proses yang cepat ini.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa dampak yang cukup nyata. Salah satu realitas yang sering dialami Gen Z adalah meningkatnya perilaku konsumtif. Banyak pembelian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena tergoda diskon, gratis ongkir, atau tren yang sedang ramai di media sosial. Flash sale dan promo tanggal kembar sering kali membuat Gen Z merasa harus segera membeli barang sebelum kesempatan hilang. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memengaruhi kondisi keuangan pribadi. Selain itu, penggunaan fitur paylater menjadi fenomena yang cukup menonjol di kalangan Gen Z. Fitur ini memberikan kemudahan untuk membeli barang sekarang dan membayarnya di kemudian hari. Bagi sebagian Gen Z, paylater dianggap solusi praktis ketika dana terbatas.

Namun, kurangnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan membuat sebagian dari mereka mengalami kesulitan membayar tagihan. Beberapa kasus yang diberitakan menunjukkan mahasiswa dan pekerja muda harus menghadapi beban utang kecil yang terus menumpuk akibat penggunaan paylater yang tidak terkontrol. Di sisi lain, marketplace juga membuka peluang positif bagi Gen Z. Banyak anak muda yang memanfaatkan platform ini untuk memulai usaha sendiri. Dengan modal yang relatif kecil, Gen Z dapat menjual produk seperti pakaian, makanan, aksesoris, atau barang buatan tangan. Kreativitas dan kemampuan memanfaatkan media digital menjadi modal utama. Tidak sedikit kisah sukses Gen Z yang berhasil membangun bisnis online dan memperoleh penghasilan mandiri melalui marketplace.

Selain itu, pasar menawarkan banyak pekerjaan baru yang diminati Gen Z, seperti pengelola toko online, affiliate marketer, pembuat konten produk, dan kurir logistik. Dinilai bahwa pekerjaan ini lebih fleksibel dan sesuai dengan gaya hidup anak muda. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pekerjaan di sektor ini tidak selalu mudah. Tekanan target, jam kerja yang panjang, dan persaingan yang ketat menjadi tantangan yang harus dihadapi. Masalah keamanan juga menjadi bagian dari realitas Gen Z di era marketplace. Kasus penipuan online, barang yang tidak sesuai dengan deskripsi, atau toko yang tidak bertanggung jawab masih sering terjadi. Gen Z yang terbiasa dengan kecepatan terkadang kurang teliti dalam membaca ulasan atau mengecek reputasi penjual. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehati-hatian tetap diperlukan meskipun transaksi dilakukan secara digital.

Selain sebagai tempat transaksi, marketplace juga memengaruhi gaya hidup Gen Z. Keputusan membeli barang sering kali dipengaruhi oleh ulasan pengguna lain, rekomendasi influencer, dan tren yang viral. Marketplace menjadi ruang di mana selera, opini, dan kebiasaan konsumsi terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa peran marketplace tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial. Secara keseluruhan, belanja sekali klik menunjukkan kehidupan Gen Z di era marketplace yang penuh dengan kemudahan tetapi juga penuh dengan tantangan. Pasar menawarkan kemudahan akses, efisiensi, dan peluang ekonomi, tetapi juga membawa risiko konsumtif, masalah keuangan, dan keamanan digital. Gen Z harus sadar dan bijak saat menggunakan pasar.

Dengan literasi digital dan keuangan yang baik, Gen Z dapat menjadikan marketplace sebagai sarana yang bermanfaat, bukan sekadar tempat berbelanja impulsif. Belanja sekali klik seharusnya menjadi simbol kemajuan, bukan sumber masalah, dalam kehidupan Gen Z di era digital.


Strategi Pemasaran Digital untuk Meningkatkan Loyalitas Konsumen

 Oleh : Revalina Julya Rizmawati

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia bisnis. Transformasi digital tidak hanya mengubah cara perusahaan memasarkan produk, tetapi juga mengubah perilaku konsumen dalam mencari informasi, membandingkan harga, hingga melakukan pembelian. Di era bisnis digital saat ini, konsumen memiliki banyak pilihan dan akses informasi yang luas. Mereka dapat membaca ulasan, menonton review, serta membandingkan kualitas produk hanya dalam hitungan menit. Oleh karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga harus mampu membangun dan mempertahankan loyalitas mereka melalui strategi pemasaran digital yang tepat dan berkelanjutan.

Kesetiaan konsumen menjadi faktor yang sangat berharga bagi kelangsungan sebuah bisnis. Pelanggan yang sudah percaya biasanya akan kembali membeli produk yang sama, memberikan rekomendasi kepada orang lain, dan tidak mudah tergoda oleh penawaran dari kompetitor. Di era digital, kesetiaan tersebut tidak hanya ditentukan oleh mutu produk, tetapi juga oleh pengalaman yang dirasakan pelanggan saat berinteraksi dengan brand di berbagai platform online. Interaksi yang konsisten, pelayanan yang responsif, serta komunikasi yang transparan akan memperkuat hubungan emosional antara perusahaan dan konsumen. Oleh karena itu, strategi pemasaran digital sebaiknya difokuskan pada upaya membangun hubungan jangka panjang yang didasari rasa percaya, kepuasan, dan keterlibatan aktif pelanggan.

Salah satu strategi yang efektif adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi dua arah. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau Facebook, perusahaan dapat berinteraksi langsung dengan konsumen, menjawab pertanyaan, serta menanggapi keluhan secara cepat. Respons yang cepat dan ramah dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek. Selain itu, konten yang menarik, informatif, dan relevan juga mampu menciptakan kedekatan emosional antara brand dan pelanggan. Penggunaan fitur live streaming, polling, atau kolom komentar dapat meningkatkan keterlibatan dan membuat konsumen merasa dihargai karena pendapatnya diperhatikan.

Selain media sosial, perusahaan juga dapat memanfaatkan email marketing dan pesan personal berbasis data pelanggan. Dengan memanfaatkan data riwayat pembelian atau preferensi konsumen, perusahaan dapat memberikan rekomendasi produk yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelanggan. Strategi personalisasi ini membuat konsumen merasa dipahami dan diperhatikan secara individual, bukan sekadar dianggap sebagai target pasar umum. Pendekatan yang lebih personal mampu meningkatkan kepuasan sekaligus memperkuat loyalitas karena pelanggan merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan brand.

Program loyalitas berbasis digital juga menjadi cara yang efektif untuk mempertahankan pelanggan. Pemberian poin, diskon khusus, cashback, atau reward eksklusif bagi pelanggan setia dapat mendorong pembelian ulang. Sistem keanggotaan atau membership berbasis aplikasi memudahkan konsumen dalam mengakses berbagai keuntungan dan memantau poin yang telah dikumpulkan. Dengan adanya insentif yang jelas dan transparan, konsumen akan memiliki alasan tambahan untuk tetap memilih produk atau layanan yang sama dibandingkan pesaing.

Hal yang perlu diperhatikan adalah mempertahankan mutu pelayanan serta pengalaman pengguna (user experience). Website atau aplikasi yang mudah dipahami, proses pembayaran yang praktis, navigasi yang sederhana, serta sistem transaksi yang terjamin keamanannya akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi konsumen. Kecepatan respons layanan pelanggan melalui fitur chat atau customer service online juga sangat berpengaruh terhadap kepuasan. Ketika pelanggan merasa nyaman, aman, dan terbantu saat bertransaksi, tingkat kepercayaan mereka akan meningkat dan peluang untuk melakukan pembelian ulang menjadi lebih besar.

Perusahaan juga perlu melakukan evaluasi dan inovasi secara berkala agar strategi pemasaran digital tetap relevan dengan perkembangan zaman. Analisis data digital seperti tingkat klik, waktu kunjungan, serta umpan balik pelanggan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Dengan memahami pola perilaku konsumen, perusahaan dapat menyesuaikan strategi pemasaran agar lebih efektif dan mampu mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah persaingan digital yang semakin ketat.


Seni Merayu Tanpa Terlihat Jualan di Media Sosial

 Oleh: Lista Mardani / 245211095

Universitas Raden Mas Said Surakarta

Setiap kali membuka media sosial, kita selalu dihadapkan pada dua jenis unggahan. Pertama, unggahan yang langsung terasa seperti hard sell, dengan ajakan membeli yang terang-terangan dan bahasa promosi yang kaku. Biasanya jenis ini mudah kita lewati tanpa berpikir dua kali. Kedua, unggahan yang terasa berbeda. Ia mengalir seperti cerita, tidak memaksa, tapi entah bagaimana membuat kita penasaran dan akhirnya mencari tahu lebih lanjut tentang produk atau orang di baliknya. Perbedaan ini bukan soal keberuntungan atau jumlah pengikut, melainkan soal pendekatan. Di sinilah letak seni yang paling dicari tapi jarang dikuasai, bagaimana merayu tanpa terlihat seperti sedang menjual. Media sosial sejatinya adalah ruang sosial, bukan etalase toko. Orang datang ke sana untuk terhubung, mencari hiburan, atau belajar sesuatu yang baru. Mereka sama sekali tidak datang dengan niat untuk dibujuk belanja. Maka pendekatan yang paling masuk akal sebenarnya sederhana, kita harus hadir sebagai manusia yang menarik, bukan sebagai brand yang hanya ingin meraup untung.

Langkah pertama yang paling mendasar adalah bicara seperti sedang mengobrol dengan teman. Coba perhatikan lingkungan sekitar kita, bagaimana cara teman-teman bercerita atau berkeluh kesah di media sosial? Mereka tidak menggunakan bahasa formal apalagi istilah teknis yang rumit. Mereka bicara dari hati, dengan diksi yang sederhana dan mengalir. Mereka juga tidak takut menunjukkan sisi manusiawinya, termasuk ketika sedang bingung, gagal, atau justru bahagia berlebihan. Di sinilah pelajaran pentingnya, orang lebih mudah terhubung dengan kejujuran daripada kesempurnaan. Jika kita bisa menulis dengan nada yang sama, seolah sedang bercerita kepada satu orang yang kita anggap dekat, maka dinding pemisah antara penjual dan pembaca akan mulai runtuh. Bahasa yang hangat dan personal ini akan membuat pembaca merasa sedang berinteraksi dengan manusia, bukan dengan mesin penjual otomatis.

Selain gaya bicara yang dekat, kebiasaan memberi tanpa syarat juga menjadi kunci yang tidak kalah penting. Sebelum menawarkan produk, berikan sesuatu yang bernilai lebih dulu. Nilai ini tidak harus berupa barang atau diskon, bisa berupa perspektif baru tentang masalah yang sedang banyak dirasakan orang. Bisa juga berupa cerita yang menginspirasi, atau bahkan sekadar pengakuan jujur tentang perjalanan kita menjalani usaha. Ketika orang sudah mendapat manfaat dari tulisan kita, secara alami mereka akan penasaran dan bertanya lebih lanjut tentang apa yang kita tawarkan. Dalam konteks ini, empati memegang peranan besar. Cobalah pahami apa yang sedang dirisaukan atau diharapkan oleh calon pembaca. Unggahan yang diawali dengan kalimat seperti "saya tahu rasanya..." atau "akhir-akhir ini banyak yang bertanya tentang..." akan langsung menyentuh perasaan karena membuat orang merasa tidak sendirian. Ketika mereka merasa dimengerti, rasa percaya akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu diminta.

Semua usaha ini tidak akan berarti tanpa konsistensi dalam membangun karakter diri kita ke media sosial. Media sosial bukan ajang sekali tayang langsung viral, melainkan proses panjang membangun kedekatan dan branding. Orang butuh waktu untuk mengenali gaya bicara kita, butuh beberapa kali pertemuan dengan unggahan kita sebelum akhirnya memutuskan untuk percaya. Maka membangun sebuah branding dan menikmati setiap prosesnya menjadi hal yang wajib. Terus- menerus menulis dengan gaya yang sama, hangat dan apa adanya, sampai suatu hari orang-orang akan mengenali tulisan kita bahkan tanpa melihat nama pengirimnya. Pada titik itulah rayuan bekerja dengan sempurna. Mereka membeli bukan karena kita hebat mempromosikan, tapi karena mereka merasa sudah mengenal dan percaya siapa kita. Jadi, daripada sibuk memikirkan strategi jualan yang ribet, mencoba dengan satu langkah sederhana, menulis dan membuat video seolah kita sedang mengobrol dengan satu orang yang paling kita pahami.


Dua Pilar Penting Dunia Digital: Data Analyst dan Riset Pasar

Aditya alfaradi / 245211119

 Transformasi digital telah mengubah lanskap bisnis secara fundamental, di mana data tidak lagi sekadar produk sampingan dari operasional perusahaan, melainkan aset strategis yang menentukan daya saing organisasi. Dalam konteks inilah profesi data analyst dan peneliti pasar (market researcher) muncul sebagai dua pilar utama dalam fungsi intelijen bisnis. Data analyst didefinisikan sebagai profesional yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan, memproses, dan menganalisis data sekunder untuk menghasilkan rekomendasi berbasis bukti bagi pengambilan keputusan organisasi. Sementara itu, peneliti pasar hadir dengan pendekatan yang berbeda, yakni menyelami aspek kualitatif dari perilaku konsumen melalui metode seperti wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus untuk mengungkap motivasi di balik keputusan pembelian. Kedua profesi ini, meskipun sama-sama bergulat dengan data, memiliki paradigma, metodologi, dan output yang berbeda secara signifikan.

Di tengah hiruk-pikuk transformasi digital, data analyst hadir sebagai profesi yang mengubah data mentah menjadi aset berharga bagi perusahaan. Seorang data analyst didefinisikan sebagai profesional yang bertanggung jawab mengumpulkan, memproses, menganalisis, dan menafsirkan data untuk membantu organisasi membuat keputusan yang lebih baik . Core competence mereka terletak pada kemampuan mengolah data sekunder yang berasal dari berbagai sumber database internal perusahaan, traffic website, media sosial, hingga data transaksi pelanggan . seorang analis data harus menguasai berbagai jenis analisis mulai dari descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, hingga planning maker . Proses kerja mereka dimulai dari ekstraksi data terstruktur dari database, dilanjutkan dengan persiapan data melalui proses pembersihan dan transformasi, lalu eksplorasi untuk menemukan tren dan pola tersembunyi . Hasil akhir dari kerja keras ini adalah visualisasi data dalam bentuk dashboard interaktif menggunakan tools seperti Tableau, Power BI, atau Looker Studio, serta laporan komprehensif yang menyajikan insight bagi para pemangku kepentingan . Dengan kemampuan ini, data analyst mampu menjawab pertanyaan "apa yang terjadi" di masa lalu, "mengapa hal itu terjadi" melalui analisis diagnostik, hingga "apa yang kemungkinan akan terjadi" di masa depan. Singkatnya, peran mereka mirip arsitek yang merancang suatu bangunan informasi dari data-data mentah yang masih acak. Tanpa kontribusi mereka, data perusahaan hanya akan jadi kumpulan informasi yang gak punya makna apa-apa.

Jika data analyst adalah arsitek yang merancang bangunan dari tumpukan angka, maka peneliti pasar hadir sebagai antropolog yang memahami penghuni di dalam bangunan tersebut. Kekuatan utama riset pasar terletak pada kemampuannya menjawab pertanyaan "mengapa" sesuatu yang tidak pernah bisa diungkap oleh data kuantitatif sendirian . Melalui riset kualitatif yang mendalam, para peneliti pasar berupaya untuk menelusuri secara sistematis jalinan rumit antara motivasi, emosi, dan pengalaman konsumen, yang secara sinergis membentuk perilaku pembelian mereka. Mereka menggunakan beragam metode seperti wawancara mendalam (in-depth interview) yang memungkinkan eksplorasi personal terhadap kebiasaan belanja dan preferensi individu, atau diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) yang menghadirkan dinamika sosial dalam memahami suatu produk atau merek . Teknik observasi langsung pun kerap digunakan untuk menangkap perilaku nyata konsumen di lingkungan alami mereka sesuatu yang tidak akan pernah terekam dalam log data atau riwayat transaksi . Data kaya dan kontekstual yang dihasilkan dari metode-metode ini memberikan pemahaman holistik tentang nuansa psikologi konsumen yang kompleks. Misalnya, ketika data analyst menemukan pola penurunan penjualan pada kategori produk tertentu, peneliti pasarlah yang turun ke lapangan untuk mengungkap bahwa ternyata konsumen menganggap kemasan produk tidak lagi relevan dengan gaya hidup mereka yang semakin peduli lingkungan . Tanpa sentuhan riset pasar, perusahaan hanya akan tahu apa yang terjadi, tetapi buta terhadap mengapa hal itu terjadi dan pada akhirnya kehilangan arah untuk merumuskan solusi yang tepat.

data analyst dan peneliti pasar memiliki peran yang saling melengkapi dalam ekosistem bisnis modern. Data analyst unggul dalam mengolah data kuantitatif untuk mengidentifikasi pola dan tren pasar, sementara peneliti pasar mampu menggali motivasi mendalam di balik perilaku konsumen melalui pendekatan kualitatif. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena data tanpa makna hanya akan menghasilkan angka kosong, sedangkan pemahaman tanpa bukti empiris berisiko menjadi spekulasi belaka. Oleh karena itu, organisasi yang ingin bertahan di era digital perlu membangun sinergi antara kedua fungsi ini. Pada akhirnya, kolaborasi antara analisis data dan riset pasar menjadi kunci bagi perusahaan untuk tidak hanya memahami apa yang terjadi di pasar, tetapi juga mengapa hal itu terjadi, sehingga strategi bisnis yang dirumuskan dapat lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

 BINUS Online. (2025, Juni 25). Data Analyst: Kualifikasi dan Peluang Kerja di Perusahaan Teknologi. BINUS University. https://online.binus.ac.id/

Gramedia. (2021). Profesi Market Researcher: Tugas, Tanggung Jawab, dan Jenjang Karier. Gramedia Blog. https://www.gramedia.com/

Greenbook. (2025, November 17). Brand Side Roles and Teams – A View of Today and What Is Ahead? GRIT Report. https://www.greenbook.org/

Institut Teknologi Bandung. (2024, Februari 24). REACTOR Fisika ITB: Kenalkan Karier Profesional Data Analyst di Era Teknologi dan Big Data. ITB News. https://www.itb.ac.id/

Market Research Society. (2023, Juli 5). The new Market Researcher: Embracing data analytics is a must. MRS Insights. https://www.mrs.org.uk/

Prasetya UB. (2018, November 3). Riset Kualitatif Paling Diminati Pasar. Universitas Brawijaya. https://prasetya.ub.ac.id/

Putribuana, A. E. (2024, September 14). Data Analyst VS Market Research. Apa Bedanya? Medium. https://medium.com/

Vizologi. (2023, Desember 6). Analisis Riset Pasar: Mengubah Data Menjadi Keputusan. https://vizologi.com/


Pentingnya Riset Pasar dalam Menentukan Strategi Bisnis Digital

 Oleh: Zalfa Melia Putri Suprianto

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia bisnis. Aktivitas bisnis yang sebelumnya dilakukan secara tradisional kini bergeser ke ranah digital, mulai dari pemasaran, transaksi, hingga pelayanan pelanggan. Perubahan ini menciptakan peluang yang luas, namun sekaligus meningkatkan tingkat persaingan antar pelaku bisnis. Dalam situasi tersebut, pemahaman terhadap pasar menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan sebuah bisnis digital.

Salah satu cara utama untuk memahami pasar adalah melalui riset pasar. Riset pasar membantu pelaku bisnis memperoleh gambaran yang jelas mengenai kebutuhan, perilaku, serta preferensi konsumen. Tanpa riset pasar yang memadai, strategi bisnis digital berisiko tidak relevan dan sulit untuk bertahan dalam waktu lama. Oleh karena itu, riset pasar memiliki peran penting dalam menentukan strategi bisnis digital yang efektif dan relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Riset pasar merupakan proses pengumpulan, analisis, dan penafsiran data mengenai pasar dan konsumen. Menurut Philip Kotler, riset pasar adalah “desain, pengumpulan, analisis, dan pelaporan data yang relevan untuk situasi pemasaran tertentu.” Definisi ini menegaskan bahwa riset pasar bukan sekadar mengumpulkan data, tetapi juga mengolahnya menjadi dasar pengambilan keputusan strategis.

Dalam konteks bisnis digital, riset pasar menjadi semakin penting karena perilaku konsumen cenderung cepat berubah. Konsumen digital tidak hanya mempertimbangkan harga dan kualitas produk, tetapi juga pengalaman pengguna, kemudahan akses, serta nilai emosional yang ditawarkan oleh sebuah brand. Melalui riset pasar, bisnis dapat memahami bagaimana konsumen berinteraksi dengan platform digital, jenis konten apa yang menarik perhatian mereka, dan faktor apa yang memengaruhi keputusan pembelian.

Riset pasar juga berperan penting dalam menentukan segmentasi dan target pasar. Setiap konsumen memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Dengan riset pasar, pelaku bisnis dapat mengelompokkan konsumen berdasarkan usia, minat, gaya hidup, serta kebiasaan digital. Kotler dan Keller menyatakan bahwa segmentasi yang tepat memungkinkan perusahaan untuk menyusun strategi pemasaran yang lebih fokus dan efisien. Dalam bisnis digital, segmentasi ini sangat membantu dalam menentukan platform yang digunakan, gaya komunikasi, serta jenis produk atau layanan yang ditawarkan.

Contoh konkret dapat dilihat pada strategi pemasaran melalui media sosial. Banyak bisnis digital yang gagal menarik perhatian audiens karena menggunakan pendekatan yang sama di semua platform. Padahal, pengguna Instagram, TikTok, dan marketplace memiliki karakteristik yang berbeda. Melalui riset pasar, bisnis dapat mengetahui platform mana yang paling relevan dengan target konsumennya dan menyesuaikan strategi konten agar lebih efektif dan tepat sasaran.

Selain pemasaran, riset pasar juga berpengaruh besar terhadap pengembangan produk dan layanan digital. Banyak produk digital tidak bertahan lama karena tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan melakukan riset pasar, pelaku bisnis dapat mengidentifikasi masalah nyata yang dihadapi konsumen dan merancang solusi yang relevan. Hal ini sejalan dengan pendapat Drucker yang menyatakan bahwa tujuan utama bisnis adalah menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Riset pasar menjadi alat penting untuk memastikan bahwa produk yang diciptakan benar-benar dibutuhkan oleh pelanggan.

Lebih lanjut, riset pasar membantu bisnis digital dalam mengantisipasi risiko dan perubahan pasar. Dunia digital sangat cepat berubah, karena dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, perubahan algoritma, serta tren konsumen yang cepat bergeser. Riset pasar yang dilakukan secara rutin memungkinkan perusahaan untuk menjadi lebih fleksibel dan cepat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Dengan demikian, strategi bisnis tidak bersifat kaku, tetapi dapat berkembang sesuai dengan kondisi pasar.

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa riset pasar memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan strategi bisnis digital. Riset pasar membantu bisnis memahami konsumen, menentukan segmentasi dan target pasar, mengembangkan produk yang relevan, serta menyusun strategi pemasaran yang efektif. Tanpa riset pasar, strategi bisnis digital cenderung dibangun atas dasar asumsi yang berisiko menimbulkan kegagalan.

Dalam dunia bisnis digital yang sangat kompetitif dan selalu berubah, riset pasar bukan sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Keberhasilan dalam bisnis digital tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada seberapa baik bisnis tersebut memahami konsumen mereka. Oleh karena itu, riset pasar menjadi fondsi utama untuk menciptakan strategi bisnis digital yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan pasar.


Strategi Content Marketing Untuk Meningkatkan Engagement Melalui Aplikasi Tiktok Bagi UMKM

 Oleh: Enggar Intan Aryani (245211099)

Di era digital ini aplikasi TikTok menduduki peringkat pertama sebagai platform digital yang unggul bagi para UMKM untuk mempromosikan produknya secara kreatif dan efisien. TikTok digunakan oleh lebih dari 1 miliar pengguna aktif di seluruh dunia yang didominasi oleh kalangan generasi muda, terutama remaja di Indonesia. TikTok menjadi platform unggulan disebabkan oleh satu faktor utama yaitu karena TikTok menawarkan peluang engagement tinggi melalui content marketing.

Untuk memanfaatkan peluang engagement tinggi melalui content marketing diperlukan strategi. Mulai dari memahami dan mengsegmentasikan target pasar melalui TikTok analytics untuk postingan optimal dan konten relevan yang dapat meningkatkan engagement hingga 50 persen. Selanjutnya UMKM harus membuat konten autentik yang relevan dengan trend yang sedang viral, strategi tersebut dapat membantu meningkatkan engagement 2 hingga 3 kali lipat. UMKM juga harus konsisten dalam membuat konten video pendek berdurasi 15 detik hingga 30 detik misalnya 3 sampai 5 postingan setiap harinya agar dapat meningkatkan jumlah tayangan. UMKM dituntut untuk kreatif dalam memanfaatkan fitur interaktif yang telah disediakan oleh aplikasi TikTok seperti TikTok Shop dan Live TikTok untuk meningkatkan loyalitas konsumen. Terakhir, UMKM harus analitis dalam melacak metrik TikTok analytics karena data tersebut memberikan wawasan mendalam tentang performa konten agar mereka dapat mengidentifikasi secara real time apa yang berhasil dan apa yang gagal sehingga UMKM dapat langsung memperbaiki kegagalan tersebut.

Strategi Content Marketing di TikTok memberikan dampak positif bagi para UMKM yang masih terbatas oleh sumber daya. Berikut merupakan beberapa dampak positif strategi content marketing bagi UMKM:

Yang paling utama, TikTok menawarkan peluang engagement tinggi dengan menyediakan fitur interaktif seperti stich dan hastag challenge yang mendorong pengguna untuk berpartisipasi aktif sehingga UMKM dapat membangun omnichannel yang menjadikan produk semakin dikenal luas oleh masyarakat.

Yang kedua, strategi pemasaran melalui content marketing TikTok membantu meningkatkan brand awareness dengan konten berkualitas yang dapat membuat produk lebih dikenali serta memperluas jangkauan pemasaran produk.

Yang ketiga, strategi content marketing juga membantu meningkatkan kepercayaan konsumen dan mendorong konversi penjualan melalui konten edukatif seperti review produk dan kolaborasi dengan influencer yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen serta meyakinkan konsumen agar tidak merasa ragu untuk membeli produk.

Yang ke-empat, strategi content marketing dapat mengefisienkan biaya pemasaran karena hanya dengan memanfaatkan aplikasi TikTok dan membuat konten yang mencakup kualitas produk, proses produksi, serta keunggulan produk dibandingkan produk sejenis dari kompetitor dapat mendorong keputusan pembelian konsumen tanpa harus mengeluarkan budget iklan yang besar.

Strategi content marketing melalui TikTok memiliki banyak sekali dampak positif bagi UMKM. Namun, muncul tantangan utama bagi UMKM dalam mempromosikan produknya melalui content marketing. Yaitu tantangan dalam konsistensi pembuatan konten serta skill editing yang masih terbatas. UMKM dapat mengatasi tantangan tersebut dengan mengikuti pelatihan gratis dari program pemerintah atau komunitas TikTok for business. Para UMKM dapat mengatasi tantangan konsistensi pembuatan konten dengan membuat jadwal posting rutin dan memanfaatkan tools gratis seperti Google Calendar atau Canva. Untuk meningkatkan skill editing, UMKM harus memiliki keinginan untuk terus belajar dan meningkatkan skill editing dengan menggunakan aplikasi editing sederhana seperti Capcut bagi pemula karena Capcut menyediakan template siap pakai. Tetapi sebagai UMKM yang kreatif, kita harus terus mengupgrade skill editing dengan mempelajari tutorial online di Youtube atau platform digital lainnya. Para UMKM juga dapat memanfaatkan fitur AI untuk memunculkan inovasi dalam pembuatan konten yang menarik. Strategi ini memastikan promosi produk tetap konsisten dan menarik minat pembeli tanpa biaya yang besar serta mempertahankan engagement audiens.


Peran Customer Relationship Management dalam Membangun Loyalitas Konsumen di Era Digital

 Oleh: Afriza Putra Pradana / 245211098

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan konsumen secara mendasar. Konsumen tidak lagi menjadi pihak pasif yang hanya menerima pesan pemasaran, melainkan berperan aktif dalam mencari informasi, membandingkan produk, serta menyampaikan pengalaman mereka melalui berbagai platform digital. Dalam situasi ini, perusahaan tidak cukup hanya berfokus pada menarik konsumen baru, tetapi juga harus mampu mempertahankan konsumen yang sudah ada. Salah satu pendekatan strategis yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah Customer Relationship Management (CRM), yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan hubungan jangka panjang antara perusahaan dan konsumen.

CRM merupakan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan teknologi, proses bisnis, dan strategi pemasaran untuk memahami kebutuhan, preferensi, serta perilaku konsumen. Melalui CRM, perusahaan dapat mengumpulkan dan menganalisis data konsumen dari berbagai titik interaksi, seperti media sosial, situs web, aplikasi, dan layanan pelanggan. Informasi ini memungkinkan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang lebih personal dan relevan. Personalisasi tersebut menjadi penting karena konsumen di era digital cenderung mengharapkan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.

Salah satu manfaat utama CRM adalah kemampuannya dalam meningkatkan kepuasan konsumen. Ketika perusahaan mampu memberikan respons yang cepat, pelayanan yang konsisten, serta komunikasi yang relevan, konsumen akan merasa dihargai. Perasaan dihargai ini berkontribusi pada terbentuknya hubungan emosional antara konsumen dan merek. Hubungan emosional tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun loyalitas konsumen. Konsumen yang loyal tidak hanya akan melakukan pembelian ulang, tetapi juga cenderung merekomendasikan produk atau layanan kepada orang lain.

Selain meningkatkan kepuasan, CRM juga membantu perusahaan dalam memahami nilai setiap konsumen. Tidak semua konsumen memiliki kontribusi yang sama terhadap perusahaan, sehingga diperlukan strategi yang tepat dalam mengelola hubungan dengan masing-masing segmen konsumen. Dengan memanfaatkan data CRM, perusahaan dapat mengidentifikasi konsumen yang memiliki nilai tinggi dan memberikan perlakuan khusus, seperti penawaran eksklusif atau program loyalitas. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan retensi konsumen, tetapi juga memaksimalkan nilai jangka panjang dari setiap konsumen.

Di era digital, peran CRM semakin diperkuat oleh kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan, analitik data, dan otomatisasi pemasaran. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk memproses data dalam jumlah besar secara cepat dan akurat, sehingga dapat menghasilkan wawasan yang lebih mendalam tentang perilaku konsumen. Sebagai contoh, perusahaan dapat memprediksi kebutuhan konsumen berdasarkan riwayat pembelian mereka, serta memberikan rekomendasi produk yang relevan. Hal ini menciptakan pengalaman konsumen yang lebih efisien dan menyenangkan.

Namun, implementasi CRM tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan komitmen organisasi secara keseluruhan. Perusahaan harus memastikan bahwa seluruh bagian organisasi memiliki orientasi yang sama, yaitu berfokus pada konsumen. Budaya organisasi yang berorientasi pada konsumen akan mendorong terciptanya pelayanan yang konsisten dan berkualitas. Selain itu, perusahaan juga harus menjaga keamanan dan privasi data konsumen, karena kepercayaan merupakan elemen penting dalam hubungan jangka panjang.

Dengan demikian, CRM merupakan strategi yang sangat penting dalam membangun loyalitas konsumen di era digital. Melalui pemanfaatan data, personalisasi layanan, serta integrasi teknologi dan proses bisnis, perusahaan dapat menciptakan hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan konsumen. Loyalitas konsumen yang terbentuk tidak hanya memberikan keuntungan dalam bentuk pembelian ulang, tetapi juga menciptakan nilai strategis bagi perusahaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perusahaan yang mampu mengelola hubungan dengan konsumen secara efektif melalui CRM akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat di tengah persaingan digital yang semakin ketat.


Pentingnya Content Planning yang Tepat di Era Digital

 Oleh: Bayu Sujatmoko/245211092

Di era digital saat ini, arus informasi bergerak sangat cepat dan kompetisi perhatian publik semakin ketat. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang strategis untuk membangun personal branding, memperluas jaringan bisnis, hingga meningkatkan penjualan. Dalam situasi ini, content planning atau perencanaan konten bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Tanpa perencanaan yang tepat, konten akan kehilangan arah, tidak konsisten, dan sulit mencapai tujuan yang diharapkan.

Content planning adalah proses merancang ide, tema, jadwal, format, serta tujuan konten sebelum dipublikasikan. Perencanaan ini mencakup identifikasi target audiens, penentuan pesan utama, pemilihan platform distribusi, hingga evaluasi performa konten. Di tengah algoritma digital yang terus berubah, konsistensi dan relevansi menjadi kunci. Platform seperti Instagram dan TikTok, misalnya, sangat dipengaruhi oleh interaksi dan konsistensi unggahan. Tanpa strategi yang terstruktur, konten mudah tenggelam di antara jutaan unggahan lain setiap harinya.

Relevansi content planning semakin terasa dalam konteks bisnis digital dan kewirausahaan modern. Banyak pelaku usaha kecil hingga startup memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi utama karena biayanya relatif rendah dibandingkan media konvensional. Namun, promosi yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan sering kali tidak menghasilkan dampak signifikan. Konten yang dibuat hanya berdasarkan tren sesaat tanpa mempertimbangkan identitas merek dapat membingungkan audiens dan melemahkan positioning bisnis. Dengan content planning yang matang, setiap unggahan memiliki tujuan jelas, apakah untuk meningkatkan awareness, engagement, atau konversi penjualan.

Selain itu, perencanaan konten membantu membangun citra dan kredibilitas. Di era digital, kepercayaan menjadi aset berharga. Audiens cenderung mengikuti akun yang konsisten, informatif, dan memiliki nilai tambah. Melalui content planning, pembuat konten dapat menyusun kalender editorial yang memuat variasi konten seperti edukasi, inspirasi, promosi, hingga testimoni. Strategi ini menciptakan keseimbangan antara konten yang memberikan manfaat dan konten yang bersifat komersial. Hasilnya, hubungan antara brand dan audiens menjadi lebih kuat dan berkelanjutan.

Dari sisi efisiensi, content planning juga menghemat waktu dan sumber daya. Tanpa perencanaan, proses pembuatan konten sering dilakukan secara mendadak sehingga kualitasnya kurang maksimal. Dengan adanya rencana bulanan atau mingguan, tim dapat mempersiapkan materi lebih matang, melakukan riset terlebih dahulu, serta menyesuaikan desain dan copywriting dengan karakter target pasar. Hal ini sangat penting terutama bagi mahasiswa, pelaku UMKM, maupun profesional muda yang memiliki keterbatasan waktu namun ingin tetap aktif di dunia digital.

Lebih jauh lagi, content planning memungkinkan evaluasi dan pengukuran kinerja yang lebih terarah. Setiap konten yang dipublikasikan seharusnya memiliki indikator keberhasilan, seperti jumlah tayangan, tingkat interaksi, atau pertumbuhan pengikut. Dengan perencanaan yang sistematis, data tersebut dapat dianalisis untuk menentukan strategi selanjutnya. Konten yang efektif dapat dioptimalkan, sementara yang kurang berhasil dapat diperbaiki. Proses ini menciptakan siklus perbaikan berkelanjutan yang sangat dibutuhkan dalam persaingan digital.

Dalam konteks perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan analitik digital, content planning juga dapat dikombinasikan dengan pemanfaatan data. Tren, perilaku audiens, serta waktu unggah terbaik dapat dianalisis untuk menghasilkan strategi yang lebih presisi. Artinya, perencanaan konten tidak lagi sekadar menyusun ide, tetapi juga berbasis data dan riset. Pendekatan ini menjadikan konten lebih tepat sasaran dan berdampak nyata.

Pada akhirnya, pentingnya content planning di era digital terletak pada kemampuannya mengubah aktivitas unggah konten yang acak menjadi strategi komunikasi yang terarah dan berkelanjutan. Di tengah derasnya informasi dan kompetisi yang semakin tinggi, hanya mereka yang memiliki perencanaan matang yang mampu bertahan dan berkembang. Content planning bukan sekadar jadwal posting, melainkan fondasi utama dalam membangun reputasi, meningkatkan nilai, dan mencapai tujuan di dunia digital yang dinamis.


Transformasi Bisnis di Era Digital

 Oleh : Amanda Oktavia N.S

UIN Raden Mas Said Surakarta

Di era sekarang, hampir semua aktivitas sudah terhubung dengan internet. Mulai dari belanja, belajar, sampai urusan keuangan, semuanya bisa dilakukan hanya lewat ponsel. Inilah yang disebut bisnis digital, yaitu bentuk usaha yang memanfaatkan teknologi dan platform online dalam proses produksi, pemasaran, hingga distribusi produk atau jasa. Bisnis tidak lagi terbatas pada toko fisik, tetapi juga berkembang melalui website, aplikasi, dan media sosial yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

Tujuan dari bisnis digital pada dasarnya adalah menciptakan efisiensi dan memperluas jangkauan pasar. Sistem yang serba online membuat proses transaksi menjadi lebih cepat dan biaya operasional dapat ditekan. Selain itu, teknologi memungkinkan pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi serta memberikan pengalaman yang lebih baik kepada konsumen. Karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, pelaku bisnis dituntut untuk mampu beradaptasi agar tetap relevan dan berkelanjutan.

Salah satu bentuk bisnis digital yang paling umum adalah e-commerce. E-commerce memungkinkan proses jual beli dilakukan secara daring, mulai dari pemesanan hingga pembayaran. Di Indonesia, platform seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada menjadi contoh yang sangat dikenal. Dalam praktiknya, e-commerce memiliki beberapa model seperti B2B (business to business), B2C (business to consumer), C2C (consumer to consumer), dan C2B (consumer to business). Perbedaan model tersebut menunjukkan bahwa transaksi digital dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan karakter pelaku usahanya.

Selain e-commerce, terdapat pula marketplace yang berperan sebagai perantara antara penjual dan pembeli. Marketplace menyediakan sistem, tempat promosi, serta fasilitas pembayaran tanpa harus memiliki produk yang dijual. Di Indonesia, Bukalapak dan Blibli turut menjadi bagian dari perkembangan ini. Sementara secara global, Amazon dan Alibaba menjadi pemain besar. Kehadiran marketplace membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya tanpa harus memiliki toko fisik.

Model bisnis lain yang berkembang adalah sistem berlangganan atau subscription. Dalam model ini, pelanggan membayar secara berkala untuk mendapatkan akses layanan tertentu. Contohnya dapat ditemukan pada layanan hiburan seperti Netflix dan Spotify. Ada pula layanan perangkat lunak seperti Microsoft 365 dan Adobe Creative Cloud. Model ini memberikan keuntungan berupa pendapatan yang lebih stabil bagi perusahaan sekaligus kemudahan akses bagi pengguna.

Perkembangan bisnis digital juga terlihat pada sektor keuangan melalui fintech atau financial technology. Fintech menghadirkan layanan keuangan yang lebih praktis dan efisien. Contohnya dompet digital seperti OVO dan GoPay, platform investasi seperti Bibit, serta bank digital seperti Bank Jago. Melalui layanan ini, masyarakat dapat melakukan transaksi, pembayaran, hingga investasi dengan lebih mudah hanya melalui perangkat digital. Selain itu, perkembangan media sosial juga melahirkan profesi content creator. Platform seperti YouTube dan TikTok memberikan ruang bagi individu untuk menghasilkan pendapatan melalui konten kreatif. Content creator dapat bekerja sama dengan berbagai merek untuk promosi maupun edukasi, sehingga membuka peluang ekonomi baru dalam ekosistem digital.

Di bidang pendidikan, hadir pula edutech yang memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran. Platform seperti Ruangguru dan Zenius membantu siswa belajar secara fleksibel melalui sistem online. Selain itu, penggunaan Learning Management System seperti Google Classroom mempermudah interaksi antara guru dan siswa tanpa harus berada di ruang kelas yang sama.

Dari berbagai model tersebut, terlihat bahwa teknologi telah menjadi fondasi utama dalam menjalankan bisnis di era digital. Keberhasilan bisnis digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan platform, tetapi juga pada kemampuan memahami kebutuhan konsumen serta konsistensi dalam berinovasi. Perubahan yang cepat menuntut pelaku usaha untuk terus belajar dan menyesuaikan strategi. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, bisnis digital mampu menciptakan peluang sekaligus nilai yang berkelanjutan.


Bisnis Plan

Scroll, Klik, Untung: Peran Teknologi Informasi dalam Bisnis Modern

 Oleh : Hafidz Ahzar Saputra 245211084 Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia...