Tampilkan postingan dengan label Bisnis Sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis Sederhana. Tampilkan semua postingan

BUSINESS PLAN "DASTER BETARI"


Di tengah dinamika tren fashion yang terus berkembang, pakaian rumahan seperti daster kini tidak lagi identik dengan tampilan tradisional atau sekadar digunakan oleh kaum ibu-ibu. Saat ini, daster mulai diminati oleh kalangan anak muda. Daster merupakan salah satu pakaian rumah yang sudah lama dikenal di Indonesia, memiliki peran penting dalam budaya berpakaian sehari-hari, terutama bagi perempuan. Pakaian ini identik dengan kenyamanan, kesederhanaan, dan fleksibilitas pemakaian di berbagai kegiatan rumah tangga. Meskipun daster sering dianggap sebagai pakaian yang sederhana, perkembangan tren fashion saat ini membuka peluang baru untuk mengubah citra daster menjadi lebih modis dan relevan untuk berbagai segmen masyarakat, termasuk anak muda.

Kebutuhan masyarakat akan pakaian rumahan yang nyaman terus meningkat, terutama dengan perubahan gaya hidup di era digital dan pandemi yang membuat banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Pakaian rumah yang nyaman dan tetap menarik menjadi prioritas banyak konsumen. Mengacu pada tren tersebut, daster "Betari" hadir sebagai brand daster yang mengusung konsep modern, elegan, dan casual untuk para perempuan muda. Dengan fokus pada kenyamanan dan desain yang trendi, Betari memadukan bahan berkualitas tinggi seperti katun yang lembut, desain kekinian, dan motif menarik yang sesuai dengan selera anak muda. Melihat adanya celah di pasar, di mana daster modern dengan desain fashionable untuk kaum muda masih terbatas, Betari ingin menjadi solusi untuk para perempuan yang menginginkan pakaian rumah yang santai, namun tetap stylish. Betari juga lahir dari pemahaman akan kebutuhan gaya hidup praktis yang dimiliki oleh Gen Z sekarang, yang sering kali membutuhkan pakaian multifungsi, nyaman dipakai di rumah, tapi tetap pantas untuk digunakan saat menerima tamu atau bahkan jalan-jalan santai. Oleh karena itu, Betari tidak hanya fokus pada fungsionalitas daster, tapi juga estetika dan daya tarik visual produk.

Dengan strategi pemasaran melalui media sosial dan platform e-commerce, Betari menargetkan para Gen Z yang aktif di dunia digital serta menawarkan produk yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Usaha ini juga memperhatikan aspek keberlanjutan dengan memilih bahan-bahan ramah lingkungan dan mendukung produksi lokal untuk meningkatkan pemberdayaan komunitas pengrajin daster.

"Notnow Wonton: Kelezatan Klasik dengan Sentuhan Modern di Setiap Gigitan"

NOTNOW WONTON

    Wonton, hidangan klasik yang sudah dicintai selama berabad-abad, kini mendapatkan sentuhan baru di Notnow Wonton. Kami di Notnow Wonton tidak hanya menjaga keaslian rasa tradisional, tetapi juga berinovasi dengan berbagai kreasi unik yang siap memanjakan lidah Anda. Dari wonton goreng renyah hingga wonton kuah beraroma khas, setiap gigitan di Notnow Wonton akan membawa Anda dalam perjalanan kuliner yang memikat.

    Wonton pertama kali muncul sebagai sajian sederhana dalam masakan tradisional Tiongkok. Awalnya diisi dengan daging, lalu disajikan dalam kuah hangat. Seiring waktu, wonton telah mengalami evolusi, dan di Notnow Wonton, kami menggabungkan rasa klasik dengan tren kuliner masa kini. Dalam menjalankan usaha ini terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan lagi seperti halnya kualitas bahan baku, proses produksi yang bersih dan higienis, inovasi dalam penyajian, rasa khas tersendiri. Karena konsumen pastinya mencari makanan tidak hanya mementingkan rasa saja pasti tentunya juga kualitas dan kebersihan dalam produk yang di perjual belikan, tidak lupa juga makanan yang diperjual belikan harus sehat. Karena itulah penting juga dalam menjaga kualitas dalam produk serta loyalitas.

VISI DAN MISI USAHA

VISI
Menjadi wirausahawan wonton muda sukses yang dikenal akan kualitas, rasa autentik, dan inovasi dalam penyajian, serta mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan makanan yang praktis.

MISI
  • Menghasilkan produk wonton dengan kualitas terbaik menggunakan bahan-bahan segar dan proses produksi yang higienis.
  • Membangun brand awareness melalui pemasaran yang efektif dan inovatif.
  • Menjaga kepuasan pelanggan dengan memberikan pelayanan yang baik dan responsif.
TUJUAN USAHA
  • Mendapatkan keuntungan yang berkelanjutan dari penjualan wonton.
  • Menarik minat konsumen untuk mecicipi makanan wonton yang inovatif sehingga mencapai target penjualan.
  • Mengasah soft skil dalam berwirausaha dan manajemen bisnis.
  • Memenuhi tugas mata kuliah kewirausahaan islam.

Resep Wonton Spesial ala Notnow Wonton

Bahan-Bahan:

  1. Kulit Wonton
  2. Daging Ayam fillet (paha/dada) – 500 gram
  3. Daun Bawang Iris Halus – 2 batang
  4. Telur – 1 butir
  5. Bawang putih – 7 siung
  6. Gula Pasir – 2 sdm
  7. Saus Tiram – 1 sdm
  8. Minyak Wijen – 1 sdt
  9. Garam dan Merica – Secukupnya
  10. Kaldu Bubuk – 500 ml
  11. Saus Pedas – 200 gr
  12. Tepung Tapioka – 5 sdm
  13. Cabe Rawit (sesuai selera)
  14. Cabe Kriting (sesuai selera)
  15. Kecap Manis – 1 sdm
  16. Air (Secukupnya)

Alat-Alat:

  1. Mangkok/ Baskom
  2. Copper
  3. Telenan
  4. Penggorengan (Wajan)
  5. Sendok & Sumpi
  6. Pisau

Cara Pembuatan:

  1. Copper dada ayam fillet( jangan terlalu halus), Kemudian masukkan 1 butir telur, 2 siung bawang putih, 1 sdt (garam, kaldu bubuk,gula pasar), ½ sdt merica, 1 sdm minyak wijen dan saus tiram) dan 5 sdm tepung tapioca copper sampai tercampu semuannya.
  2. Siapkan kulit pangsit dan sedikit air, ambil 1 lembar kulit pangsit lalu beri 1sdt bahan daging, olesi tepian kulit pangsit dengan air lalu bungkus sesuai selera, lakukan sampai habis. 
  3. Panaskan air dalam wajan, rebus pangsit hingga matang,angkat,sisihkan
  4. Untuk pembuatan sausnya, rebus cabe rawit, bawang putih dan cabe kriting. Kalau sudah kemudian haluskan.
  5. Tumis bahan yang sudah halus lalu tambah saus tomat dan bumbu penyedap lainnya kemudian tambahkan air, koreksi rasa kalau dirasa sudah pas tunggu sampai air menyusut sedikit lalu matikan kompor. Saus wonton sudah matang.
    Wonton di Notnow Wonton fleksibel untuk dinikmati dalam berbagai kesempatan. Baik sebagai makanan ringan di sore hari, hidangan pembuka untuk makan malam, atau bahkan menu utama untuk pesta, wonton kami selalu siap untuk menjadi bintang di meja Anda. Kami berkomitmen untuk menyajikan wonton yang tidak hanya lezat, tetapi juga memberikan pengalaman kuliner yang istimewa. Setiap kreasi kami dirancang untuk menggugah selera dan meninggalkan kesan mendalam di setiap gigitan.

Ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana Notnow Wonton menciptakan kelezatan di setiap gigitan? Klik link untuk informasi lengkapnya!

 https://drive.google.com/drive/folders/1oF7Qn7KOb0J9aVxrM-IVncubxgs-Kg94 


MAKARONI RUJAK PEDAS

 MAKARONI RUJAK PEDAS


Makanan ringan pedas telah menjadi bagian dari gaya hidup kaum milenial dan kamu gen Z yang mencari makanan ringan praktis, murah, dan tentunya sesuai dengan selera pedas mereka. Fenomena ini tidak hanya didukung oleh preferensi rasa, tetapi juga oleh meningkatnya paparan terhadap tren makanan ringan melalui media sosial, yang kerap mempopulerkan tantangan dan ulasan makanan pedas. Dengan semakin tingginya permintaan terhadap makanan pedas, bisnis camilan seperti "Makaaroni Rujak Pedas" memiliki potensi besar untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas.

Makaroni adalah salah satu bahan dasar makanan ringan yang banyak disukai oleh berbagai kalangan di Indonesia. Makaroni pedas telah menjadi makanan ringan favorit yang mudah dijumpai di berbagai tempat, mulai dari warung tradisional hingga supermarket modern. Produk makaroni yang digoreng atau dipanggang dengan bumbu pedas biasanya memiliki tekstur yang renyah, membuatnya semakin digemari. Namun, inovasi dalam bumbu dan rasa sangat penting untuk menarik perhatian konsumen. Dengan mengombinasikan makaroni dengan bumbu rujak khas Indonesia yang identik dengan rasa pedas, asam, manis, dan segar, produk ini menawarkan inovasi baru di tengah banyaknya varian camilan pedas yang ada. Rasa rujak yang akrab di lidah masyarakat Indonesia memberikan diferensiasi yang jelas bagi "Makaaroni Rujak Pedas" dibandingkan dengan snack makaroni pedas biasa. Hal ini menjadikan produk ini mampu bersaing dan memiliki keunikan tersendiri, sehingga lebih mudah diterima oleh pasar.

       VISI DAN MISI USAHA

VISI

Menjadi pemimpin pasar dalam industri camilan pedas di Indonesia dengan menciptakan inovasi produk yang berkualitas, sehat, dan lezat serta membawa kebahagiaan melalui setiap gigitan makaroni rujak pedas.

MISI

  • Menyediakan produk berkualitas tinggi: Memastikan setiap produk makaroni rujak pedas diolah dengan bahan-bahan terbaik dan melalui proses produksi yang higienis dan aman.
  • Inovasi produk: Terus berinovasi dalam menciptakan varian baru yang sesuai dengan selera pasar, seperti tingkat kepedasan yang berbeda dan rasa tambahan yang menarik.
  • Pemasaran yang tepat sasaran: Memanfaatkan teknologi digital dan platform media sosial untuk menjangkau konsumen muda dan memperluas pasar produk di seluruh Indonesia.
  • Pelayanan prima: Memberikan pelayanan yang ramah, responsif, dan cepat dalam melayani pelanggan baik secara online maupun offline.
  • Keberlanjutan usaha: Mengelola usaha secara berkelanjutan dengan fokus pada pengelolaan sumber daya yang efektif serta memberikan kontribusi positif terhadap komunitas dan lingkungan sekitar.

      TUJUAN USAHA

  • Menghasilkan produk berkualitas dan inovatif, mengembangkan produk camilan makaroni dengan bumbu rujak pedas yang memiliki cita rasa unik, berkualitas, serta menarik perhatian konsumen dengan varian rasa dan tingkat kepedasan yang beragam.
  • Mencapai keuntungan yang berkelanjutan, membangun usaha yang stabil dan berkelanjutan dengan menjaga efisiensi dalam produksi serta meningkatkan volume penjualan secara konsisten melalui berbagai saluran distribusi, baik online maupun offline.
  • Menarik minat konsumen dan memperluas pasar, meningkatkan awareness konsumen terhadap produk Makaroni Rujak Pedas melalui promosi digital dan strategi pemasaran yang efektif, serta mengajak konsumen untuk berperan sebagai promotor dalam menyebarkan informasi produk kepada lingkungannya.
  • Mengembangkan keterampilan manajemen dan kewirausahaan, meningkatkan kemampuan tim dalam pengelolaan usaha, pemasaran, dan manajemen keuangan untuk memastikan kelangsungan dan pertumbuhan bisnis, serta mengasah kreativitas dan inovasi dalam menciptakan produk yang diminati pasar.

           PROFIL PERUSAHAAN

Nama Usaha      : Makaroni Rujkan Pedas

Bidang Usaha    : Kuliner ( Makanan Ringan )

Jenis Produk      : Camilan makaroni dengan bumbu rujak pedas khas

Lokasi Usaha     : Dukuhan Nayu, RT 003/RW 008, Kec. Banjarsari, Kota SKA

Contact Person  : makaronirujakpedas@gmail.com (Email)

       Slogan Usaha     : “Pedas, Renyah, Nikmat, Bikin Nagih!

      DESKRIPSI PRODUK

Makaroni Rujak Pedas adalah usaha yang bergerak di bidang kuliner, khususnya dalam produksi makanan ringan yang inovatif. Produk ini menawarkan camilan berbahan dasar makaroni yang diolah dengan bumbu rujak pedas khas Indonesia, memberikan sensasi rasa yang unik. Makaroni yang renyah dipadukan dengan bumbu rujak yang manis, asam, dan pedas menciptakan perpaduan rasa yang menggugah selera. Selain varian rasa rujak pedas klasik, kami juga menyediakan pilihan rasa lain, seperti rujak manis dengan tingkat kepedasan yang lebih rendah dan rujak super pedas bagi pecinta pedas sejati.

  Setiap kemasan Makaroni Rujak Pedas dirancang menarik dan praktis, dengan tampilan yang menarik perhatian konsumen. Produk ini ditujukan untuk semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang mencari camilan lezat dan praktis. Dengan menggunakan bahan-bahan alami tanpa pengawet, Makaroni Rujak Pedas merupakan pilihan camilan yang sehat dan berkualitas. Proses produksi yang higienis dan terstandarisasi menjamin konsistensi kualitas produk.Camilan ini siap disantap langsung dari kemasan, atau dapat dijadikan topping pada hidangan lain seperti salad atau nasi goreng, menambah cita rasa pedas yang menggugah selera. Dengan semua keunggulan tersebut, Makaroni Rujak Pedas tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga pengalaman kuliner yang memuaskan bagi setiap konsumen.
Lebih detail lagi pembahasan bisnis plan ini silahkan klik:
"klik disini"

MENEMUKAN IDE PEMBUATAN MY DESSERT (Puding Vla)


MUNCULNYA IDE


Di tengah hiruk piruk kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, sembilan mahasiswa jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Najwa Fauzi Perdana, Boby Prayoga, Maulana Alim Wiguna, Rofiq Auliyarahman, Nadia Ayu Meitawati, Zakia Zara Alatas, Febriana Wiwid Puspandari, Tiya Dita Ningrum sedang berdiskusi menemukan inspirasi tentang ide bisnis untuk tugas mata kuliah “Kewirauasahaan”. Sambil meminum es teh di jujugan cafĂ© sambil menyantap makanan Fauzi pun terbangun dari lamunanya.

“Guysss gimana kalo kita bisnis dessert aja? pasti banyak peminatnya kan lumayan untungnya banyak banget tau bisnis dessert itu”. Kami pun berdiam sejenak sambil memikirkan perkataan yang di ucapkan tiya.

Jam menunjukan pukul satu siang, waktunya kelas kami akan segera di mulai. Saat di dalam kelas yang sangat ramai karena dosenya belum dateng. Kelompok kita sedang membahas masalah bisnis yang tadi belum terpecahkan.

“Woiii gimana tadi? pada setuju nggak sama ide tiya?”sahut Fauzi sedikit badmood karena terburu-buru ada acara.

“yasudahhh Dessert aja yaa, udah pusing aku tugasnya banyak banget” sahut Nadia langsung mencairkan suasana yang agak mencekam, disertai dengan dorongan pintu kelas dan munculah dosen yang akan mengajar kelas kami.


PEMASARAN



Setelah melewati lika liku mencari bahan dari sekian toko yang ada, akhrnya kita menemukan barang yang murah dan kualitasnya sangat sangat bisa di acungkan jempol. Mulailah kita memasarkanya secara online dan ofline di mana sebagian besar objeknya adalah mahasiswa dan masyarakat umum.

Zara dan Nadia yang sebelumnya mempunyai kebiasaan memposting barang jualanya di media sosial dan banyak diminati orang, kini dessert kami yg sudah mulai laku terjual 38 cup di sosial media maupun secara langsung dengan kisaran harga 5.000.

Karena media yang kita gunakan adalah media sosial maka costumernya juga berasal dari berbagai daerah. Maka kami menggunakan system COD yaitu Cash On Delivery.

Agenda COD untuk orderan pertama pun telah sukses dilakukan. Tapi tidak hanya berhenti di situ, ternyata sebagian besar customer memilih bertransaksi dengan metode COD. COD demi COD telah kita lalui, kami pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat ke rumah masing masing. Ke esokan harinya, kita sepakat berkumpul kembali untuk menghitung hasil penjualan yang kita dapatkan dari COD yang kita lakukan dari bebrapa hari yang lalu

“yaampuuun nggak yangka yaa, kita dapat uang sebanyak” ucap Nadia dengan penuh kegirangan sambil mengkibas kibaskan uang yang telah di dapatkan

“ihh iya yaa, padahalkan ini cuman tugas tapi ternyata kita bisa dapat uang dari tugas ini” sahut Zara dengan rasa senang

“ehh kemarin modal awal berapasi ?” tanya boby


Modal awal : Rp. 67.000

Harga jual : 1 Cup  = Rp. 5.000

Keuntungan : Rp. 190.000

Terjual : 38 Cup

Laba bersih : Rp. 123.000
 

Kita saling menatap satu sama lain dan memberikan applause ke diri masing masing, karena bisnis dessert kami berhasil meebihi target awal penjualan.

“wahhh ga yangka yaa, baru pertama kali jualan udah dapet untung segini, kirain ga akan balik modal” celetuk Zara

“iya ya, kalau kita telaten menekuni jualan ini mungkin bisa jadi bisnis gede, peluang bisnis nih”.

Nggak kerasa sudah 2 jam waktu berlalu, dan sekarang jam menunjukan pukul 12 siang. Pantas saja kita semua sudah lapar dan akan mencari makan siang. Ketika di perjalanan kita sepakat berhenti di salah satu rumah makan padang, di samping indomaret kampus setelah selesai makan kami pun lanjut pulang kerumah masing masing.


PRESENTASI

Sinar matahari yang mulai bangun dari tidurnya. Membuat pagi ini menjadi sempurna. Suasana pagi yang hangat disambut dengan kicauan burung yang sangat merdu.

Hari ini adalah hari selasa hari dimana presentasi tugas kewirausahaan akan dilaksanakan suasana kampus pagi masih belum ramai, terihat dari parkiran motor yang belum penuh, dan ruang kelas yang masih kosong dan terbuka lebar, kita berempat berjalan melewati lorong kampus yang masih sepi mungkin karena mahasiswa dan mahasiswi disini sudah pada balik ke kampung halaman.

Kami membuka pintu kelas dan segera mencari tempat duduk yang masih kosong belum ditempati, karena bangku depan sudah penuh, akhirnya kami memilih duduk paing belakang

“disitu aja pas buat kita tempat duduknya” sambil menunjuk arah bangku yang ada di belakang dan langsung menuju kesana

Presentasi dimulai dari kelompok pertama, mereka mulai menyampaikan poin poin penting dari materinya. Kami yang duduk di belakang mendengarkan dngan seksama sembari menyiapkan materi dari kelompok kami.

Selang beberapa menit kemudian, kini giliran keompok kami yang akan melakukan presentasi.

Selesai melaukan presentasi, tibalah saatnya melakukan sesi tanya jawab, beberapa teman kami pun membirikan perntanyaan, pertanyaan yang diberikan sebagian besar mengenai peluang usaha dan juga keuntungan yang di peroleh. Dngan cepat dan lugas kami menjawab pertanyaan yang diberikan.

“Sekian dari kelompok kami, jika ada salah kata atau kekurangan mohon di maafkan, terimakasih, wassalamualaikum wr, wb” penutup dari kelompok kami .

“walaikumsallam Wr, Wb.” Sahut teman teman dengan kompak dan memberikan applause kepada kelompok kami

Lalu kelompok kami duduk ke belakang dan presentasi di lanjutkan oleh kelompok berikutnya.

“Akhirnya selesai juga yaa” zara menghela nafas panjang seperti orang yang merasa puas akan hal yang baru saja di selesaikanya.

Dengan rasa lega akhirnya kita selesai melakukan presentasi yang sedikit menegangkan, tapi dari situ kita bisa mengambil hikmah apa artinya sabar dalam berjualan dalam menghadapi customer yang agak rewel, dan sabar dalam menghadapi kendala dan rintangan. Dan dari situ juga kita bangga, karena telah melewati kendala dan rintangan itu bersama sama sampai hasil akhir.


PENUTUP

Mungkin itu saja yang bisa kami ceritakan dari awal munculnya ide pembuatan dessert, memasarkan product hingga mengambil keuntungan dari jualan tersebut. Kami dari kelompok 3 mengucapkan terima kasih ke pada ibu sri yang telah mengajarkan kita tentang Kewirausahaan.

KEWIRAUSAHAAN ISLAM - MARYAM YUMMY

CERITA PERJALANAN KEWIRAUSAHAAN

“MARYAM YUMMY”




========================================================

CHAPTER 1:

PROSES PENEMUAN IDE BISNIS

Pada perkuliahan semester 4 ini kami dipertemukan dengan mata kuliah Kewirausahaan Islam, dengan dosen pengampu mata kuliah Ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Beliau memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat sebuah rancangan bisnis atau biasa disebut dengan business plan yang kemudian akan di eksekusi bersama oleh masing-masing kelompok yang telah dibagi.

Kami mendapat kelompok 3 yang berjumlah 5 orang beranggotakan dari Karisma Nur Eka, Dita Maharani, Femina Nur Haliza, Rollanda Alvin Aditiya, dan Adi Nugroho. Setelah pertemuan kelas selesai, kami langsung membuat grup WhatsApp guna memudahkan dalam berkoordinasi dan berdiskusi lebih lanjut terkait produk yang akan kita jual.

Dalam grup tersebut, kami berdiskusi dan menumpahkan semua ide-ide bisnis yang masing-masing kami miliki. Ide bisnis ini kami dapatkan dari berbagai sumber referensi melalui media sosial mulai dari TikTok, Instagram, Youtube, dan juga artikel Google. Dengan produk yang sangat beraneka ragam mulai dari Ide bisnis di bidang kuliner seperti jelly ball, mochi, pisang coklat, bola-bola coklat, batagor mercon, es cendol dawet hingga ide bisnis di bidang jasa seperti jasa pengerjaan tugas hingga bimbingan belajar.

Suatu ketika, pada saat jam makan siang Karisma dan Liza makan di warung ayam geprek, di depan warung makan tersebut terdapat pedagang bertopi menjual roti Maryam. Sontak Karisma berkata "Wah ada roti Maryam, sudah lama aku tidak melihatnya", "Roti Maryam bentuknya seperti apa sih?" tanya Liza penasaran apa itu roti Maryam,  "mau coba?" jawab Karisma.

Setelah selesai makan ayam geprek, Karisma dan Liza mencoba untuk membeli roti Maryam dengan varian rasa coklat. Ternyata dengan harga sebesar Rp 8.000/pcs untuk sebuah roti Maryam terbilang cukup mahal. Dengan harga tersebut masih dibilang sepadan, karena roti Maryam ini memiliki ukuran yang cukup besar meskipun rasanya biasa saja.

Setelah mencoba membeli roti Maryam tersebut, tercetuslah ide untuk menjual roti Maryam dengan harga yang lebih terjangkau dan rasa yang lebih nikmat serta beragam. Lantas, Liza dan Karisma menyampaikan ide tersebut pada grup WhatsApp guna berdiskusi lebih lanjut mengenai ide bisnis roti Maryam.

Di keesokan harinya setelah pertemuan kelas kami mencoba berdiskusi secara langsung mengenai produk apa yang akan kita jual. Pasalnya pada saat berdiskusi melalui grup WhatsApp kami tidak menemukan kesepakatan bersama. Di Gazebo FEBI kami mulai berdiskusi lagi terkait ide-ide bisnis yang sudah kami bagikan pada grup WhatsApp yang kemudian kami pertimbangkan satu per satu efisiensi dan efektivitas dari ide bisnis yang sudah ada.

Setelah berdiskusi yang cukup lama dengan menganalisis berbagai faktor dari masing-masing ide bisnis tadi, kami bersepakat menentukan produk yang akan kami jual yaitu roti Maryam. Awalnya kami ingin memproduksi roti Maryam sendiri namun setelah melihat tutorial di YouTube, kami merasa memiliki keterbatasan dalam memproduksi dengan risiko kegagalan yang cukup besar. Sehingga, kami memutuskan untuk membeli roti Maryam yang sudah setengah jadi dalam bentuk makanan beku.

Beberapa faktor mengapa kami memilih roti Maryam sebagai produk yang akan kami jual, di antaranya:

    1.     Bahan baku mudah didapat

Kami bersepakat untuk menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi berupa makanan beku (frozen food) yang mudah kami dapat di agen-agen makanan beku terdekat.

    2.     Proses pengolahan tidak terlalu rumit

Karena kami menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi dalam bentuk beku. Jadi, kami hanya perlu mengolahnya sebentar dengan cara dipanggang menggunakan mentega.

    3.     Belum banyak pesaing

   Kami melihat roti Maryam ini memiliki peluang yang cukup menjanjikan. Karena, belum banyak pesaing di pasaran. Dan juga sebagai sarana kami memperkenalkan kuliner tersebut.


CHAPTER 2:

UJI COBA PERTAMA 

Setelah kami bersepakat menentukan ide bisnis. Di kemudian hari kami langsung melakukan uji coba pertama dengan langkah awal yaitu mencari bahan baku di agen makanan beku. Kami melakukan pencarian ke beberapa agen makanan beku (frozen food) yang ternyata kami malah menghadapi kesulitan dalam menemukan adonan roti Maryam tersebut. Kami mencoba mencari di beberapa toko online (E-Commerce) yang sebenarnya memiliki harga cukup murah, tetapi kami memiliki keraguan jika barang tidak berkualitas dan risiko basi saat pengiriman.

Sehingga kami memutuskan untuk mencari agen makanan beku terdekat melalui Google Maps, muncullah beberapa opsi. Kemudian kami kunjungi satu per satu agen terdekat. Opsi pertama kami mengunjungi SuperIndo, kami segera masuk ke dalam dan mencari bagian makanan beku (frozen food) namun kami tidak menemukan roti Maryam tersebut di dalam freezer. Sontak kami merasa kecewa karena tidak menemukannya.

Kami pergi ke opsi selanjutnya yaitu agen makanan beku di daerah Colomadu. Kami mengendarai sepeda motor menuju lokasi tersebut, ketika hampir sampai di lokasi hujan mulai turun dan kami bergegas untuk segera berteduh di dekat lokasi. Sambil berteduh di rumah warga kami mencoba menanyakan lokasi tersebut kepada warga setempat. Karena tidak terlihat papan nama agen makanan beku sama sekali.

Karisma dan Dita mencoba berkeliling sembari menelepon nomor agen tersebut, kemudian menghampiri mas-mas penjual es buah dan kuli bangunan di sekitar untuk memastikan dan menanyakan lokasi agen tersebut. Namun, mereka tidak mengetahui lokasi agen penjual makanan beku di area tersebut. Selanjutnya, kami mencari beberapa opsi lagi di Google Maps. Kami berdiskusi untuk memilih beberapa opsi yang akan di kunjungi berikutnya.

Setelah memutuskan destinasi berikutnya, dengan hujan yang masih lebat kami memaksa untuk melanjutkan perjalanan pencarian roti Maryam. Lagi-lagi kami tidak menemukan agen yang sesuai pada alamat yang tertera di Google Maps, sontak Adi bertanya kepada tukang parkir untuk menanyakan alamat tersebut. Tukang parkir memberikan informasi bahwa toko tersebut telah berpindah tempat ke seberang jalan.

Setelah mendapatkan informasi tersebut kami langsung berjalan menuju lokasi yang diberikan oleh tukang parkir tadi. Setibanya di lokasi, tanpa melepas helm Karisma langsung bertanya kepada penjual “Permisi bu, apakah menjual roti Maryam beku?”. “ada mbak” jawab ibu penjual. Seketika kami sangat bersyukur setelah perjalanan yang dramatis akhirnya bisa menemukan roti Maryam yang kita cari. Kami langsung mengecek pada freezer dan kami mencoba membeli varian rasa campuran (mix) yang terdiri dari rasa original dan coklat.

Dengan kondisi cuaca yang masih hujan lebat dan banjir di jalanan, kami bertekad untuk segera pulang dan mencoba roti Maryam tersebut. Sebelumnya Karisma dan Adi mampir ke toko untuk membeli mentega, kami semua menuju kos Adi untuk segera memasak roti tersebut. Karena keterbatasan alat kami mencoba memasaknya menggunakan panci listrik, yang ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama.

Setelah proses memasak kami tidak sabar untuk langsung mencoba roti Maryam yang sudah matang itu. Kami sangat kelaparan karena tidak sempat makan siang dan kehujanan di jalan sehingga membuat badan kami basah kuyup. karena baru Satu roti Maryam yang matang, Karisma membagi menjadi lima potong agar semua bisa mencobanya.

Setelah mencoba kami merasa bahwa roti tersebut enak. “Wah, enak sekali ternyata” ucap Dita. Kami melanjutkan untuk memasak semua roti Maryam tadi, dan memutuskan untuk menjadikan agen tersebut sebagai pemasok roti Maryam kita.


CHAPTER 3:

PEMANTAPAN IDE DAN STRATEGI BISNIS

Pada hari kamis, setelah pertemuan kelas kami melanjutkan diskusi untuk menyusun Business plan dengan ide yang telah kami sepakati. Di gazebo FEBI kami saling berbagi pendapat mengenai penyusunan strategi bisnis yang akan kami jalankan, mulai dari  penyusunan  latar belakang usaha, perumusan visi misi usaha,  dan pembentukan struktur organisasi usaha.

Pada latar belakang usaha kami menekankan faktor kurang dikenalnya makanan roti Maryam ini dikalang anak muda zaman sekarang. Kami mencoba untuk memperkenalkan cita rasa dari roti khas Timur Tengah itu, dengan berinovasi menawarkan berbagai varian rasa serta harga yang terjangkau.

Visi yang kami junjung yaitu: Menjadi pelopor dalam memperkenalkan dan menghidangkan Roti Maryam dengan keunikan berbagai macam rasa serta kelezatan yang khas kepada kalangan anak muda sehingga menjadi pilihan utama dalam menikmati makanan yang murah dan dapat menunda rasa lapar.

Untuk mencapai visi tersebut kami merumuskan beberapa misi yang akan kami kerjakan, antara lain:

      1.     Menawarkan roti maryam dengan kualitas yang terbaik dan rasa yang beragam;

    2.  Memperkenalkan roti maryam kepada kalangan anak muda dengan keunikan berbagai macam rasa dan kelezatan yang khas sebagai pilihan makanan yang murah serta dapat menunda rasa lapar;

    3.  Memperluas jangkauan pasar melalui media sosial, serta mengembangkan kemitraan strategis dengan restoran, kafe, dan toko-toko makanan;

       4.     Menawarkan harga yang terjangkau dan kompetitif.

Pembagian struktur organisasi ini meliputi berbagai posisi mulai dari Adi Nugroho sebagai Ketua, Dita Maharani dan Femina Nur Haliza sebagai Tim Produksi, Karisma Nur Eka sebagai Keuangan, dan Rollanda Alvin Aditiya sebagai Pemasaran.

Setelah menyusun beberapa hal tersebut, kami kembali berdiskusi untuk menentukan kemasan dan varian rasa apa yang akan digunakan. Kami mencari berbagai referensi kemasan dan rasa yang sekiranya cocok untuk produk kita, kami melakukan pencarian di berbagai sumber seperti media sosial dan E-Commerce. Setelah pencarian itu kami berdebat untuk menentukan kemasan berbahan plastik atau kertas. “Kertas saja yang lebih ramah lingkungan” usul Alvin. Sontak Adi menjawab “Plastik saja biar lebih mudah dan murah”. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor kami pun bersepakat untuk menggunakan kemasan berbahan dasar kertas saja.

Setelah bersepakat untuk menggunakan kemasan kertas, kami melanjutkan berdiskusi untuk menentukan varian rasa apa yang akan kami tawarkan. Kami menawarkan 5 varian rasa, Coklat menjadi pilihan yang paling pertama kami tawarkan, karena mengingat banyak orang menyukai rasa manis dari coklat. Tiramisu menjadi pilihan aman kedua karena sangat cocok untuk di padu padankan dengan roti Maryam. Selanjutnya Liza mengusulkan varian rasa yang ketiga yaitu Matcha dan Dita mengusulkan rasa Strawberry serta Blueberry sebagai pasangannya.

Hal selanjutnya yang tidak kalah penting untuk di susun yaitu melakukan analisis pasar. Analisis pasar ini sangatlah penting untuk mengetahui berbagai hal meliputi kondisi pasar, peluang usaha, dan lain sebagainya. Analisis SWOT menjadi metode yang kami pilih, karena kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan, peluang serta ancaman yang terjadi di pasaran.

Modal menjadi tumpuan utama dalam menjalankan suatu usaha. Karena tanpa modal, bisnis ini tidak akan bisa berjalan. Kami melakukan penghitungan modal awal yang dibutuhkan untuk memproduksi roti Maryam ini. Setelah memperhitungkan berbagai kebutuhan, kami pun bersepakat untuk mengeluarkan iuran sebesar Rp 20.000,- per anggota sebagai modal awal usaha, dengan total modal awal terkumpul sebesar Rp 100.000,-

Strategi pemasaran dan rencana pasar merupakan faktor penting untuk menjalankan bisnis dalam jangka panjang. Dengan menetapkan strategi pemasaran yang tepat menjadikan bisnis ini berjalan dengan optimal, dalam penetapannya kami menggunakan metode bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari 4P (Product, Price, Place, Promotion). Media sosial menjadi alat utama kami untuk melakukan pemasaran produk ini, dengan memanfaatkan jaringan atau relasi kerabat dan teman-teman terdekat sebagai targetnya.

Melihat target utama pasar kami yaitu kalangan anak muda yang didominasi para mahasiswa, maka kami melakukan penyesuaian harga produk agar lebih terjangkau dan kompetitif. Ada beberapa usulan harga jual mulai dari Rp 2.500/pcs sampai Rp 5.000/pcs. Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti biaya produksi dan laba yang akan kita ambil, kami pun memutuskan untuk menjual roti Maryam ini dengan harga Rp 4.000/pcs.

Metode penjualan yang kami gunakan yaitu sistem Pre-Order (PO), di mana kami membuka pesanan terlebih dahulu, lalu akan memproduksi sesuai dengan pesanan yang telah diterima. Agar mengurangi risiko produk tidak laku. Selain sistem PO, kami juga memanfaatkan kerja sama dengan mitra seperti Jujugan Cafe FEBI, kami  menitipkan sejumlah produk untuk dijual.


CHAPTER 4:

EKSEKUSI IDE BISNIS 

          Setelah pemantapan ide dan strategi bisnis, kami langsung mengeksekusi bisnis tersebut dengan langkah awal pembagian tugas. Alvin bertugas sebagai konten kreator pemasaran dengan membuat logo bisnis dan poster-poster yang akan dibagikan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Liza, Dita, dan Karisma melakukan pencarian agen roti Maryam yang lebih terjangkau, dan mencari kemasan serta varian rasa yang sesuai. Untuk roti Maryam berencana untuk mencari agen lain yang lebih dekat.

        Sembari melakukan pencarian bahan-bahan tersebut, kami juga membagikan poster Pre-Order (PO) dan promo dengan jangka waktu 3 hari pemesanan. Kami menawarkan promo paket menarik yaitu paket bundling, di mana untuk pembelian 4 pcs kami berikan harga hanya Rp 15.000 untuk 5 pembeli pertama. Target awal kami hanya menjual 20 pcs roti Maryam, ternyata antusias konsumen sangat tinggi hingga pesanan kami mencapai 2 kali lipat dari target awal dengan total 40 pesanan.

            Kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian agen-agen makanan beku lainnya, karena agen yang kami sepakati di awal lokasinya terlalu jauh dan juga harganya lebih mahal. Kami menemukan beberapa agen baru dengan produk yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau. Kami pun memutuskan untuk mengambil agen yang berlokasi di Pabelan, Kartasura.

            Di hari yang sama Karisma, Dita, dan Liza mencari selai (glaze) sesuai dengan varian rasa yang telah di sepakati. Toko bahan kue joyoboyo menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi, di toko tersebut kami hanya menemukan varian rasa Matcah dan Tiramisu. Disaat mencium aroma khas tiramisu Karisma menyeletuk “emm, aromanya enak sekali”. “wah mantap sekali aromanya” jawab Dita.

            Sayangnya pada toko tersebut kami tidak menemukan rasa lainnya, kemudian kami melanjutkan pencarian ke toko berikutnya yang berlokasi tidak jauh dari tempat sebelumnya. Ketika sedang menelusuri rak untuk mencari rasa yang lain, kami malah menemukan kemasan pilihan kita. Sontak Dita bergegas menginfokan ke grub WhatsApp bahwa di toko tersebut juga menjual kemasan yang sesuai dengan kesepakatan di awal. Tanpa pikir panjang kami pun langsung membeli kemasan dan rasa yang masih kurang tadi.

            Di hari berikutnya, kami langsung berkumpul di depan kos Adi untuk pembagian tugas produksi. Alvin dan Adi bertugas untuk mengemasi selai (glaze) tadi ke dalam kemasan yang lebih kecil yaitu plastik klip. Sedangkan Dita, Karisma, dan Liza bertugas untuk memasak roti Maryam. Mereka bertiga langsung bergegas menuju kos liza untuk mengeksekusinya.

         Pada saat memasak ternyata kami mengalami kesulitan karena kami harus memasaknya satu per satu untuk mendapatkan kematangan yang sempurna. Setelah memakan waktu sekitar 3 jam, akhirnya roti Maryam ini pun siap dikemas. Kami pun mengemasinya sesuai dengan pesanan pelanggan dengan menuliskan varian rasanya pada kemas agar tidak tertukar.

            Di tengah proses pengemasan tersebut tiba-tiba datanglah Nabilla, yang merupakan pelanggan pertama kami untuk mengambil pesanannya. Nabilla langsung mencobanya di depan kami, “Bagaimana rotinya? Enak tidak?” Tanya Liza. Sontak Nabilla memberikan dua jempolnya sambil menganggukkan kepala kepada kami, yang menandakan bahwa roti tersebut enak. 

       Setelah selesai mengemasi semua roti Maryam, kami langsung bergegas untuk menyerahkan kepada konsumen lain sesuai dengan pesanannya. Kami menggunakan sistem Cash On Delivery (COD) untuk memudahkan dalam melakukan transaksi. Selain membuat pesanan untuk para konsumen, kami juga menyiapkan beberapa roti Maryam yang kemudian dititipkan ke Jujugan Cafe FEBI.


CHAPTER 5:

EVALUASI BISNIS

            Dalam menjalankan suatu bisnis pasti banyak hal yang terlewat dan kurang maksimal, oleh karena itu evaluasi ini di perlukan guna memperbaiki jalannya bisnis agar lebih optimal. Apalagi untuk kami yang baru pertama kali menjalankan bisnis baru yang di mulai dari nol, kurangnya pengalaman yang kami miliki mengharuskan kami untuk terus belajar dan mengamati kebutuhan konsumen.

Meskipun kami telah menyiapkan kebutuhan yang sesuai dengan rencana, ide, dan strategi bisnis yang telah kami rumuskan, tentunya kondisi nyata di pasaran masih banyak yang luput dari analisa kami. Maka dari itu pada saat eksekusi bisnis ini kami tentunya memiliki berbagai hal yang harus di benahi.

Evaluasi pertama yang sangat kami perhatikan tentang luputnya ketelitian kami dalam proses pengemasan yang di lakukan, sehingga membuat 2 pesanan tidak lengkap yaitu tidak adanya selai (glaze) dalam kemasan. Kesalahan ini kami sadari ketika ada pelanggan yang menyampaikan komplain terkait pesanannya kepada Dita  dan Karisma melalui WhatsApp. Hal ini membuat kami merasa bersalah, dan langsung mengatasinya dengan meminta maaf serta mengganti selai (glaze) yang kurang.

Modal menjadi evaluasi kedua yang kami bahas, karena perhitungan modal di awal tidak sesuai dengan kebutuhan yang dikeluarkan untuk saat proses produksi. Kenyataannya, modal yang kami hitung di awal dengan nominal sebesar Rp 100.000 masih kurang untuk menutup biaya produksi yang dibutuhkan. Sehingga kami pun melakukan penghitungan ulang dengan lebih terperinci mulai dari biaya untuk membeli roti Maryam, selai, hingga kemasan. Lantas, kami pun menemukan kesalahan perhitungan pada pembelian selai (glaze) tidak sesuai dengan harga yang sudah di anggarkan.

Faktor utama kenapa modal ini mengalami pembengkakan, karena target awal penjualan kami hanya 20 pcs, yang ternyata permintaan pasar sangat tinggi sehingga kami menerima 40 pcs pesanan yang berarti 2 kali lipat dari target awal penjualan. Hal ini lah, yang membuat tim produksi dan keuangan harus menalangi sebagian besar biaya tambahan di luar perhitungan awal.

Saat kami menghitung omset yang kami dapatkan, ternyata tidak sesuai dengan perkiraan di awal. Sontak, kami pun mencari-cari ke mana uang itu pergi. “ada yang belum bayar pesanan itu pasti” tanya Alvin dengan kecurigaan. “sudah semua” bantah Dita. Lalu Karisma sebagai penanggung jawab keuangan dalam bisnis ini, melakukan penghitungan ulang terhadap pengeluaran dan pendapatan yang diperoleh. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Karisma menemukan titik terang.

Ternyata, pada saat melakukan pembelian bahan produksi berupa selai (glaze) dan kemasan kami tidak membelinya sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga membuat biaya produksi meningkat. Hal ini, membuat keuntungan yang kami dapatkan sangat sedikit. Namun dengan keuntungan yang hanya sebesar Rp 5.000 membuat kami masih memiliki persediaan bahan yang cukup untuk beberapa pesanan. 

Setelah mengevaluasi hal-hal tersebut, kami pun merencanakan bisnis yang lebih baik lagi ke depannya. Kami berkomitmen untuk melanjutkan kembali usaha ini sebagai media pembelajaran kewirausahaan dan membangun mentalitas sebagai seorang wirausahawan.



~

“kepuasaan pelanggan prioritas kami”

“do the best, be the best, and always best of the best”

“work hard, pray hard, istirahard”

~



lihat cerita lengkap bisnis kami pada video Youtube berikut ini: 



Kisah terciptanya bisnis sederhana, By fructus fila gelata

Ternyata kuliah di prodi perbankan syariah tidak meluluh tentang mata kuliah perbankan saja, tapi kita dituntut buat bisa dalam segala hal. Bagi kami mungkin di prodi ini kita bisa mendapatkan ilmu semuanya, mulai dari akuntansi kita dapat, manajemen kita dapat, perbankan kita dapat, tapi hanya basic basic kecilnya saja. Dari situ lah muncul untuk melanjutkan mencari tahu tentang itu.

Memasuki semester empat ini, kita dapet mata kuliah tentang kewirausahaan islam. Dimana kita diajarkan tentang berbisnis islam. Meskipun bisnis yang kita pelajaran mungkin terbilang kecil, tapi kalau di lanjut tambah besar bisnisnya. Untuk memulai bisnis pasti kalau sendiri malu, tapi ada saja yang bisnis sendiri, tapi kebayang gk sih kalau sendiri apa apanya di kerjain sendiri, dari awal planing sampai pembagian keuntung pun di kerjakan sendiri. Membuat produk sendiri, membersihkan produk sendiri, apa apa serba sendiri, tidak kebayang secapek itu. Maka dari itu, kami membuat tim untuk membuat bisnis.

Awal mulanya bingung mau buat bisnis apa. Apa yang sudah ada? Apa yang sedang trending? Atau yang bagaimana? Apa yang dibutuhkan oleh kelompok kita dan di butuhkan oleh sekitar tempat kita. Dilihat juga dari tranding di sekitar tempat kita, apakah sudah ada yang jual apa belum, gimana buat nya susah atau tidaknya. Itu semua harus kita kuasai dalam mata kuliah kali ini.

Kita membuat bisnis dengan produk makanan. Karena makanan itu kebutuhan pokok, itu jadi salah satu ide bagus bisnis kita. Dilihat lihat yang jual jelly ball di sekitaran tempat kita belum ada yang buat, maka dari itu kita membuat bisnis dengan produk tersebut. Tapi, namanya masih terbilang biasa saja, akhirnya kita membuat nama dengan nama Latin yaitu “Fructus pula gelata” yang artinya buah jelly bulat.

Disisi lain fructus fila gelata dengan nama yang unik bisa memikat pelanggan untuk membeli produk kami. Dengan campuran antara jelly, buah dan kuah susu sudah cukup mencukupi kebutuhan akan penundaan lapar. Disatu sisi juga produk kami juga memiliki nilai gizi Yang tinggi dimana dari buah yang kita masukan ke jelly sangat lumayan bergizi dan penindasan lapar. Dan produk kami juga bisa menunda dahaga saat tengah hari yang panas. Dengan warna yang cantik akan memikat banyak orang. Tapi tidak hanya warna saja yang kamu jaga tapi dari kuantitas,segi kebersihan, segi kesehatan kami juga unggul.

Fructus Pila Jelata adalah usaha kami yang kami bangun bersama. Sejak awal usaha, kami memiliki tekad yang kuat untuk membuat Fructus Pila Jelata menjadi minuman jelly yang terkemuka. Setiap hari, kami dengan penuh semangat menelusuri pasar dan toko, memilih buah-buahan terbaik untuk diolah menjadi minuman jelly berkualitas. Kami percaya bahwa dengan menggunakan buah yang segar, kami dapat memberikan minuman yang tidak hanya menyegarkan, namun juga memberikan nutrisi dan vitamin yang dibutuhkan tubuh dan badan.

Kami berusaha untuk tidak hanya menciptakan rasa yang nikmat, tetapi juga menyehatkan tubuh dan badan konsumen kami. Dengan setiap gelas Fructus Pila Jelata yang diminum oleh konsumen, kami yakin bahwa tidak hanya menjual minuman, melainkan juga memberikan pengalaman dan kebaikan bagi mereka. Dan untuk mencapai tujuan kami, kami melakukan berbagai langkah dan tahapan. Banyak langkah yang kami lalui seperti memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen kami dan melakukan usaha ini agar bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan masyarakat.

Selain itu kami juga selalu berusaha mengikuti selera masyarakat dan tren aman. Kami setiap hari terus berusaha untuk berinovasi dan memberikan minuman jelly yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen kami. Dengan memahami kemauan dan keinginan konsumen kami serta mengikuti perubahan yang ada dalam selera masyarakat, kami setiap hari berusaha untuk tetap sesuai dengan kondisi dan tuntutan pasar yang terus berubah. Dengan terus mengikuti tren terbaru dan merespons perubahan dalam kebutuhan konsumen. Agar produk Fructuc Pila Jelata kami jual menjadi pilihan utama dan yang pertama bagi konsumen kami.

Filosofi logo dan packaging wadah.

Bisnis plan kami menggunakan nama Fluctus Pila Gelata atau nama lain dari Fruit Jelly Ball adalah minuman ringan dengan jelly berisikan buah-buahan beraneka buah, yang dicampurkan dengan susu full cream dan susu evaporasi yang segar dan berkualitas.

Bisnis plan kami menggunakan atau memakai desain logo yang mana didalam logo terdapat gambar buah yang mana bisnis plan kita fructus Pila gelata/fruit jelly ball itu menjadi identitas produk bisnis plan kami, sebaliknya warna yang digunakan oleh logo sticker brand bisnis plan kami memakai warna pink keunguan karena tim kami mayoritas perempuan semua jadi tim kami menggunakan warna dan logo yang mana menggambarkan cewek banget gitu jadi kami menggunakan warna logo pink keunguan atau warna ungu ragu gitu .ja Logo yang kami buat itu desain sendiri buat sendiri.

Packaging produk bisnis plan yang kami pakai twinball mangkok 300ml karena lebih menarik jika produk kami menggunakan packaging twinball mangkok, Dengan packaging wadahnya kami menggunakan twinball mangkok dan ditutupnya ditempelin stiker brand kami agar lebih menarik sehingga tampilan pun jauh lebih menarik dan banyak peminatnya.

Dalam kisah tentang bisnis Jelly Ball, kita bisa menjelajahi setiap aspeknya melalui lensa analisis SWOT yang tak terduga.

Di jalan kecil tapi banyak keramaian, terdapat sebuah kedai kecil yang menyajikan kelezatan unik: Jelly Ball. Kedai itu dikelola oleh sekelompok mahasiswa, yang memiliki mimpi besar untuk mengangkat bisnisnya ke tingkat yang lebih tinggi.

Kekuatan kami terletak pada inovasi uniknya. Jelly Ball bukanlah sekadar makanan, tetapi pengalaman sensorik yang menggoda. Setiap gigitan memberikan ledakan rasa yang memukau, membuat pelanggan kembali lagi dan lagi. kami juga memiliki bakat dalam memasarkan produknya, menarik perhatian melalui media sosial dan kolaborasi dengan influencer lokal.

Namun, seperti setiap usaha, Jelly Ball juga memiliki kelemahan. Bahan baku yang digunakan kadang sulit didapat, membatasi produksi dalam skala besar. Selain itu, sistem operasional yang belum matang menyebabkan ketidakstabilan dalam kualitas produk dan waktu tunggu yang panjang bagi pelanggan.

Di tengah tantangan, terdapat peluang yang menggiurkan. Pasar makanan unik sedang berkembang pesat, dengan minat konsumen terhadap sensasi baru yang tidak terduga. Adam punya kesempatan untuk memperluas jangkauan bisnisnya melalui kemitraan dengan kafe lokal atau bahkan membangun merek Jelly Ball yang dikenal secara nasional.

Namun, di balik peluang tersembunyi ancaman. Persaingan di industri makanan selalu sengit, dengan pesaing yang siap mengambil alih pangsa pasar. Selain itu, peraturan pemerintah terkait keamanan makanan dan standar produksi bisa menjadi batu sandungan bagi Jelly Ball jika tidak dikelola dengan baik.

Dengan keseimbangan yang rapuh antara kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman, Adam harus menavigasi liku-liku bisnis Jelly Ball dengan hati-hati. Di dalamnya, ia menemukan bukan hanya tantangan, tetapi juga pelajaran berharga tentang ketekunan, kreativitas, dan keberanian untuk terus maju meskipun badai menghadang.

      Hallo gais disini kita mau menceritakan perjalanan kelompok kita dalam membeli bahan-bahan untuk membuat fructus pilla gelata.Awal mulanya kita survei-survei toko yang menjual barang yang kita butuhkan dengan harga yang murah namun tetap berkualitas,dan akhirnya setelah mencari kesana kemari ketemu juga.Kita sempat kebingungan untuk membeli buah yang murah itu dimana,tetapi setelah dipikir-pikir kita hanya membutuhkan buah sedikit dan harus bermacam-macam buahnya jadi kita memutuskan untuk membeli buah yang sudah potongan disuperindo.

Dengan harga yang murah kita juga bisa mendapatkan beberapa macam buah,terdapat 4 macam buah terdiri dari melon,semangka,papaya,dan buah naga,selain buah kita juga membeli susu kental manis disana dan lumayan lagi diskon,soalnya kita para pemburu diskonan. Setelah itu kita membeli beberapa nutrijell di toko Laris dengan beragam rasa terdapat rasa jambu,leci,strawberry,dan jeruk.

Untuk cup,sendok,plastik,dan biji selasih kita membeli ditoko plastik yang ada diKartasura dengan harga yang sangat murah.Dari sekian banyaknya bahan yang kita cari ada satu barang yang sangat sulit ditemukan yaitu cetakan jelynya,gatau kenapa cetakan jelly ini susah banget dicari smape-sampe kita cari disemua toko yang ada diKartasura dan sekitarnya itu engga ada sama sekali,didaerah tempat tinggal kita juga sangat sulit ditemukan,sampai kita hampir menyerah untuk mencari si cetakan jelly ini,apa gara-gara lagi viral jadinya sangat langka.Dan akhirnya ada salah satu teman kita yang tinggal diSimo membantu mencarikan cetakan ini dan alhamdulilahnya ketemu,kita awalnya udah senang sekali tapi ternyata cetakannya bukan berbentuk bulat tetapi berbentuk seperti telur puyuh. Setelah difikir-fikir daripada kita engga menemukan cetakannya akhirnya kita memutuskan untuk membeli cetakan yang berbentuk telur puyuh tersebut.

       Hallo gais,disini kita mau ngejelasin kenapa kita memberi harga yang sangat murah untuk produk kita. Karena sasaran pasaran kita kan untuk anak kecil, orang dewasa, sampai orang tua, jadi sebisa mungkin kita memberikan harga yang pas banget dikantong semua kalangan. Setelah dipertimbangkan bersama kita memutuskan untuk memberikan harga Rp.7000/cup.Karena menurut kita itu sudah sesuai dengan modal dan tenaga kita dalam pembuatan fructus pilla gelata. Modal awal yang kita keluarkan sebesar Rp.150.000.

Awalnya mula kita mempromosikan produk kita ini di sosial media yaitu seperti whatsapp dan instagram, kita sempet ragu si apa produk kita ada yang beli atau tidak, dan alhamdulillah banyak orang minat untuk membeli produk kita ini.Produk kita terjual 33 cup, dengan harga 7000/cup kita mendapatkan keuntungan sebesar Rp.81.000.Untuk laba bersih kita sendiri mendapatkan Rp.71.000 dan untuk pengeluaran untuk gas,air,dll Rp.10.000.

Rencana pasar sangatlah penting untuk menganalisa kebutuhan pasar apa yang sedang dicari oleh masyarakat. Dengan adanya perumusan analisis pasar bisa menjadikan ide bisnis yang unik dan diminati oleh masyarakat.

Mengikuti trend untuk membuat sebuah bisnis. Agar bisnis tetap banyak peminatnya kita juga harus melakukan modifikasi terhadap trend yang sedang ada. Dan mengapa kita memilih bisnis ini karena diarea kampus.

Kami sendiri menargetkan kepada mahasiswa dan juga masyarakat luar dan setelah kita menjual, malah peminat yang banyak itu dari masyarakat biasa. Produk ini bisa dinikmati ketika perut lapar tapi malah untuk makan berat. Jadi produk ini sangatt cocok untuk mengganjal perut yang kosong.

Dalam pemasaran produk ini kami memilih untuk mempromosikan lewat media sosial dengan system pre-order. Harga dari produk kita ini juga sangat terjangkau oleh mahasiswa. Setelah kami berjualan produk ini banyak juga mengikuti open PO dari kami. Dan customer juga sangat sabar menunggu open PO dari kami. Dan alhamdulillahnya banyak juga customer yang berantusias untuk membeli produk dari kami.

Rencana taktis dari kami untuk mengembangkan bisnis ini dengan cara menambah varian rasa buah dan menjalin kolaborasi dengan produk lain. Dengan adanya kolaborasi dengan brand lain bisa menjadikan produk kami lebih terkenal lagi dikalangan masyarakat luar.

Kita sempat berencana untuk berjualan secara offline seperti di car free day atau disekitaran kampus.Tetapi karena minimnya waktu dan tenaga kita jadinya berjualan secara online seperti di wa atau diig.

Dari jualan kemarin kami menerima kritik dan saran dari para pembeli. Dari para pembeli kemarin ada beberapa yang bilang krimer dan jellynya enak dan rasa udah pas tapi ada beberapa pembeli yang bilang untuk krimernya kurang manis. Tapi menurut kita rasanya udah pas, mungkin karena lidah setiap orang berbeda-beda dan ada yang suka manis dan ada yang suka kurang manis. Jadi karena ada beberapa pembeli yang bilang kurang manis maka kami menambahkan gula lagi ke krimer biar rasanya lebih manis lagi.



Bisnis Plan

Analisis Kepuasan Pelanggan terhadap Layanan Shopee Food

  Nama; Rossi Ilham ALfarizi NIM; 245211237 Kelas; 4F Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan ...