Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kewirausahaan Islam. Tampilkan semua postingan

TIN KIMBAB


LATAR BELAKANG USAHA

  Kimbab, sebagai salah satu makanan khas Korea yang terkenal di dunia, memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pecinta kuliner internasional, termasuk di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya tren kuliner global, masyarakat Indonesia kini semakin terbuka terhadap berbagai jenis makanan dari berbagai budaya, termasuk makanan Korea. Hal ini terlihat dari menjamurnya restoran-restoran Korea di kota-kota besar dan tingginya minat konsumen terhadap makanan Korea. Melihat peluang ini, kami berinisiatif untuk mendirikan bisnis kimbab yang tidak hanya menawarkan cita rasa autentik Korea, tetapi juga mengombinasikan elemen rasa lokal, sehingga dapat diterima lebih luas oleh konsumen. Bisnis ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan pasar akan makanan cepat saji yang sehat, lezat, dan mudah dijangkau.

  Kami melihat peluang besar dalam pangsa pasar yang belum tergarap secara maksimal, terutama di kota-kota dengan komunitas besar yang tertarik pada budaya Korea serta konsumen yang mencari alternatif makanan sehat dan praktis. Kimbab juga memiliki harga yang relatif terjangkau, sehingga dapat menarik berbagai segmen pasar mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga keluarga.

VISI, MISI dan TUJUAN 

Visi:

Menjadi sebuah usaha makanan jajanan ringan ternama dengan mengedepankan suistanability, kehigienisan serta kesehatan produk.

Misi: 

1. Menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. 

2. Menghasilkan produk yang memiliki cita rasa lezat dan berbeda dibandingkan dengan produk yang lain.

3. Menjalin relasi bisnis dengan bebagai mitra untuk mengembangkan bisnis kimbab.

4. Dapat menjadi komunikasi yang baik antar konsumen dan mitra. 

5. Dapat menciptakan lapangan kerja baru sehingga akan memberikan manfaat antar sesama.

Tujuan:

1. Melakukan inovasi dan modifikasi varian isi. 

2. Sebagai sebuah usaha homemade yang sederhana dan menguntungkan.

3. Menjadi motivasi bagi pengusaha muda dalam berusaha dan mempunyai inovasi yang baru.

FILOSOFI LOGO 

  TIN Kebab mengusung konsep kebersamaan, inovasi, dan kualitas. Nama "TIN" tidak hanya mencerminkan inisial dari pemilik, tetapi juga mengandung makna kekuatan seperti logam tin yang kokoh namun fleksibel. Filosofi ini melambangkan bagaimana bisnis ini berdiri dengan kekuatan kolaborasi antara Titis, Imah, dan Nurul, serta kemampuan beradaptasi dengan selera konsumen. 

  TIN Kebab berkomitmen untuk menghadirkan kebab dengan cita rasa otentik yang dipadukan dengan inovasi rasa lokal, memberikan pengalaman kuliner yang segar dan berbeda. Tujuan utama bisnis ini adalah untuk memberikan kualitas terbaik kepada pelanggan sambil menjaga nuansa kebersamaan dan kehangatan.

Bahan dan Cara Pembuatan 

1. Bahan

a. Telur Ayam (6)

b. Sosis (6)

c. Wortel (5)

d. Timun (4)

e. Beras 1kg

f. Wijen 10 gr

g. Minyak Wijen 50 ml

h. Nori kimbab 7 Lembar

i. Nori tabur 10gr

j. Garam 15gr

k. Lada 

l. Minyak 110ml

m. Air 5L

2. Pembuatan Kimbab

1. Siapkan bahan- bahan yang akan digunakan yaitu telur, timun, wortel, beras, wijen, minyak wijen, nori kimbab, nori tabur, garam, lada, minyak.

2. Cuci beras sampai bersih lalu masak beras sampai matang

3. Kocok telur dan tambahkan garam dan lada lalu kocok hingga merata

4. Goreng telur yang sudah di kocok ke dalam pan hingga matang lalu dipotong kecil- kecil

5. Tumis sosis sampai layu

6. Tumis Wortel dan tambahkan garam sedikit

7. Setelah nasi matang tuangkan nasi ke piring dan taburi nasi dengan minyak wijen, kecap asin, dan nori tabur, lalu aduk hingga merata.

8. Kemudian susun nori lalu letakkan nasi diatas nori lalu susun sosis, wortel, timun, dan telur 

9. Lalu gulung nori setelah tergulung lumuri dengan minyak wijen supaya merekat 

10. Potong-potong kimbab, lalu taburi kimbab dengan biji wijen 

11. Packing kimbab dengan rapi.

https://drive.google.com/file/d/15RGo4hNKKUQT7XdEeTD8wwhkzZGYRLdp/view?usp=drivesdk

Penasaran dengan makanan khas Korea tapi kamu bisa beli dengan harga terjangkau? Yuk kepoin kimbab by TIN Kimbab di Instagram @tin_kimbab cuma 2.000 aja lohh 

KIMBAB OISHI CHWICHAN


Perjalanan bisnis kimbab "Chwichan" dimulai dari empat mahasiswi yang memiliki semangat untuk memulai usaha kuliner sebagai bagian dari tugas mata kuliah kewirausahaan. Sebelum memutuskan untuk memilih berbisnis kimbab ini banyak opsi yang akan dipilih, antara lain Kimbab, Cornribs, Donat, Ubi lumer, Tempe mendoan, Jolla jelly, Puding. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memilih berbisnis kimbab, Fahmi, Zaida, Reina, dan Difta, melihat tren makanan Korea yang sedang naik daun di Indonesia sebagai peluang emas. Setelah melakukan riset dan diskusi, mereka memutuskan untuk mengangkat kimbab makanan khas Korea yang sehat dan praktis sebagai produk utama mereka. Nama "Chwichan" dipilih dengan makna personal, menggambarkan semangat dan kebersamaan mereka. 


VISI :

Menjadi pilihan utama dalam industri makanan cepat saji sehat di Indonesia dengan menghadirkan kimbab berkualitas tinggi yang mengutamakan rasa, kesehatan, dan kepraktisan, serta mempopulerkan budaya kuliner Korea di kalangan masyarakat luas. 

MISI : 

a. Menyajikan kimbab autentik yang lezat, sehat, dan terbuat dari bahan-bahan segar serta berkualitas tinggi.

b. Mengembangkan variasi menu kimbab yang sesuai dengan selera lokal tanpa menghilangkan cita rasa asli Korea.

c. Memberikan pelayanan yang cepat, ramah, dan profesional kepada setiap pelanggan, baik di gerai fisik maupun layanan online.

 Setelah merumuskan visi-misi yang berfokus pada menghadirkan kimbab berkualitas tinggi dengan cita rasa autentik namun ramah di lidah Indonesia, mereka memulai perjalanan yang penuh tantangan. Mulai dari urusan perizinan usaha seperti SIUP hingga NPWP, setiap langkah memerlukan usaha keras, namun mereka belajar banyak dari proses tersebut. Bisnis ini juga dijalankan dengan prinsip-prinsip syariah yang mengutamakan kejujuran dalam setiap aspek usahanya.

 Ketika mulai merancang strategi pemasaran, mereka memfokuskan produk ini untuk menyasar pasar anak muda, keluarga, dan komunitas penggemar budaya Korea. Strategi pemasaran mereka mencakup penjualan di lokasi-lokasi strategis seperti acara Car Free Day, festival kuliner, serta memanfaatkan platform digital seperti GoFood dan GrabFood. Mereka juga aktif mempromosikan produk melalui media sosial, bekerja sama dengan influencer dan komunitas lokal untuk meningkatkan kesadaran akan produk kimbab mereka.

   Tidak hanya berjuang di pasar, mereka juga menghadapi tantangan operasional, seperti bagaimana menjaga kualitas produk dan bahan baku yang terkadang sulit ditemukan atau mengalami kenaikan harga. Kelemahan lain dari produk mereka adalah ketahanannya yang singkat hanya bertahan sekitar enam jam setelah produksi yang membuat mereka harus benar-benar memperhitungkan kapan dan di mana produk ini dijual.

Langkah-Langkah 

 1. Cuci beras dan ketan hingga bersih, lalu masak dengan air secukupnya masak menggunakan rice cooker

 2. Rebus air menggunakan panci, lalu masukkan sayuran yang sebelumnya sudah dicuci. Untuk memasaknya beri penyedap pada sayur dan rebus secara bergantian dan tunggu hingga matang, usahakan jangan terlalu matang. Berikan minyak wijen pada sayuran yang sudah matang.

 3. Kocok telur, lalu goreng menggunakan teflon. Berikan sedikit minyak untuk menggoreng Jika sudah matang, potong telur memanjang. Lalu panggang sosis diatas teflon hingga matang

4. Jika nasi sudah matang, ambil nasi secukupnya, lalu berikan sejumput garam dan 1 sdm minyak wijen, kemudian aduk hingga rata. 

5. Letakkan nori diatas alas untuk menggulung nori, ambil secukupnya nasi, ratakan diatas lembaran nori. Tata bayam secara memanjang, wortel, mentimun, sosis, dan telur. 

6. Gulung perlahan, tekan-tekan supaya lebih padat dan tidak mudah pecah.. Lepaskan penggulung, potong-potong sesuai selera lalu taburi dengan wijen.

 Logo "Kimbab Oishii Chwichan" menggabungkan elemen-elemen bermakna:

Lingkaran Merah melambangkan energi, gairah, dan kehangatan, mencerminkan dedikasi terhadap kualitas.

"Kimbab Oishi" menyatukan budaya Korea dan Jepang, mewakili perpaduan rasa khas Asia yang kaya dan pengalaman kuliner.

Gambar Kimbab merepresentasikan produk utama, menyoroti keanekaragaman dan keseimbangan antara bahan serta rasa.

Warna Putih melambangkan kemurnian, kesederhanaan, dan kebersihan, memastikan produk yang higienis dan berkualitas tinggi.

"Chiwichan" merujuk pada "Chiwi Cantik," diambil dari nama empat anggota perempuan dalam kelompok.

   Nahh mengenai biaya produksi kimbab "Kimbab Oishii Chwichan" ini dimulai dengan perhitungan harga pokok penjualan yang terdiri dari beberapa komponen penting. Untuk memproduksi 50 potong kimbab, total biaya bahan baku yang diperlukan adalah Rp 53.000, termasuk beras, ketan, nori, bayam, wortel, telur, sosis, dan timun.

   Selain bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dihitung sebesar Rp 8.000, yang berasal dari upah empat pekerja dengan waktu kerja dua jam. Sedangkan, biaya overhead pabrik, termasuk bahan tambahan seperti kecap asin, wijen, mayonais, saus cabai, minyak wijen, dan biaya kemasan, mencapai Rp 51.000.

     Secara keseluruhan, total biaya produksi untuk 50 potong kimbab adalah Rp 112.000. Dengan harga pokok per potong kimbab sebesar Rp 2.240, produk ini dijual dengan harga Rp 2.500 per potong. Dari setiap potong, bisnis mendapatkan keuntungan Rp 260. Dalam satu kali produksi, dengan 50 potong terjual habis, keuntungan yang diperoleh adalah Rp 13.000.

Kelompok 1 Akuntansi Syariah 5B : 

1. Fahmi Sarifatus Sholihah (225221055)

2. Zaida Nafia Rahma (225221058)

3. Reina Zahira Shaffa (225221079)

4. Difta Viona Anggraini (225221080)


COCERIA (COOKIES CERIA)

 


        Dalam bisnis plan ini, kami menghadirkan cookies dengan penyajian yang baru yaitu disajikan dalam toples dengan dilumuri beraneka macam rasa seperti coklat, matcha, hazelnut, dll. Kami menguraikan visi misi serta strategi kami dalam menghadirkan cookies sebagai makanan yang belum dikenal oleh banyak masyarakat. Kami yakin dapat memperkenalkan kelezatan yang jarang dirasakan oleh penikmat kuliner di kalangan masyarakat.
        bisnis ini sangat berpotensi karena sebagian masyarakat terutama anak muda sangat menyukai makanan dengan cita rasa manis, kekinian, dan praktis ketika dibawa kemana-mana. Cookies ini dapat dijadikan cemilan ketika sedang berkumpul atau bercengkrama dengan teman saat istirahat. Selain itu, cookies ini dapat dijadikan cemilan penunda rasa lapar. Dengan berbagai macam alasan diatas, memberikan kami keyakinan untuk membuka bisnis cookies yang kami beri nama “COCERIA (Cookies Ceria)” 

VISI DAN MISI USAHA

Visi: 
        Menjadikan Cookies sebagai pilihan utama masyarakat terutama anak muda ketika mencari cemilan dengan harga terjangkau, rasa yang nikmat, mudah dibawa kemana-mana, dan kekinian.

Misi: 
  1. Menawarkan Cookies dengan kualitas baik, konsisten, dan rasa yang beragam. 
  2. Mempromosikan dan memperluas jangkauan pasar Cookies dengan menggunakan platform digital         seperti melalui aplikasi Instagram, Tiktok, atau Whatsapp. 
  3. Menawarkan harga yang terjangkau dan kompetitif. 

Gambaran Produk

        Deskripsi Produk: cookies adalah jenis makanan ringan yang sempat populer di Indonesia. Berikut adalah gambaran umum tentang Cookies:

  1. Bentuk dan Tekstur: Cookies memiliki bentuk bulat dengan tekstur yang renyah dengan ciri khas terdapat choco chips di dalamnya. 
  2. Bahan-Bahan Utama: Cookies terbuat dari mentega, gula putih, gula palem, telur, vanili, tepung terigu, baking soda, garam, dan choco chips. 
  3. Proses Pembuatan: Seluruh bahan baku dicampur menjadi satu dalam sebuah wadah, kemudian diuleni dan setelah itu adonan dibentuk bulat (sekitar satu sendok makan). Cookies disusun di loyang kemudian dipanggang sekitar 10 sampai 12 menit hingga matang dan mengembang.
  4. Penyajian: Cookies disajikan dalam toples kemudian disiram dengan coklat/matcha/varian lain. 
  5. Karakteristik Rasa: Cookies memiliki rasa yang manis dengan tekstur renyah dan lumer di mulut. Rasa manis dapat meningkatkan mood bagi konsumen. 
  6. Kegunaan: Cookies dapat digunakan sebagai makanan penutup/dessert dan camilan pendamping ketika melakukan beberapa aktivitas seperti mengerjakan tugas, menonton film, dll. 
        Bisnis cookies ini memiliki peluang atau potensi memperoleh keuntungan yang cukup besar. Cookies memiliki beberapa faktor seperti banyak peminatnya, harga yang terjangkau, mudah dibawa kemana-mana dan faktor lainnya yang menjadikan bisnis ini cukup menguntungkan. Dengan penerapan strategi yang tepat usaha ini dapat dikatakan menjanjikan untuk dijalankan, tentu dengan kegigihan serta konsisten pada pelaksanaannya. 

Melangkah Kedunia Kewirausahaan : Kisah Inspiratif Dari Mahasiswa Membangun Usaha Bakso Mercon

Melangkah Kedunia Kewirausahaan : Kisah Inspiratif Dari Mahasiswa

Bakso Mercon By. AWAASH 


Disusun Oleh :

Azka Amalina 2252231161

Wafrah Nafiatul Manahil 225231182

Ainahaq Raudhatul Firdausa 225231164

Arzita Ifra Hadziku Asfi 225231179

Sylvia Intan Trijulianti 225231169

Hisyam Mahendra Pratama 225231187


Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

 

         Di era digital ini begitu banyak perkembangan yang terjadi, baik dalam dunia pendidikan, kesehatan, dan yang paling terasa yaitu bisnis. Marak sekali kita jumpai begitu banyak produk yang ditawarkan atau dipasarkan melalui media sosial, tidak hanya praktis namun produk dapat dipasarkan secara cepat dan universal. Dengan adanya digitalisasi teknologi inilah yang mendorong kita sebagai generasi muda untuk terus berkarya dan berkarir, salah satunya berwirausaha.

Berwirausaha ialah tindakan seseorang mulai dari menentukan modal, memasarkan produk, proses produksi hingga penjualan marketing pada suatu bisnis usaha. Melalui mata kuliah kewirausahaan, kami pun dengan sangat antusias menentukan jenis produk apa yang paling tepat untuk kita pilih dalam berwirausaha.

Sebelum menentukan jenis produk, kelompok kami sepakat melakukan riset pasar untuk mengetahui produk apa saja yang dapat kita pilih dengan baik agar laku dan laris dipasaran. Selain melakukan riset, kelompok kami juga melakukan tindakan pendukung yakni melihat perkembangan pada media sosial. Tindakan pendukung ini sangat penting untuk dapat melihat responsif masyarakat secar luas dan akurat, melalui media sosial kita dapat mengetahui harga pasaran suatu produk secara umum serta kita dapat menentukan lokasi manakah yang sesuai untuk penjualan produk tersebut.

Setelah mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebet, kelompok kami sepakat untuk menjual produk “Bakso Mercon”. Alasan kami memilih produk tersebut terinspirasi dari selera tim kami yang sangat menyukai makanan pedas. Melakukan bisnis adalah hal yang membutuhkan keuletan, oleh karena itu tentukan bisnis maupun usaha yang anda gemari atau anda kuasai basic dan skill nya, sehingga anda dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan serta dapat melakukan analisis yang terbaik untuk usaha dan bisnis yang akan anda lakukan.

Bakso mercon yang ingin kami jual yakni bakso yang lembut, gurih, pedas. Namun kami menemukan beberapa kendala, bagi yang tidak terlalu menyukai pedas. Sehingga kami menemukan ide baru yakni Bakso Mercon dengan adanya tingkatan level 1 hingga level 5. Tujuannya agar bagi pembeli yang tidak begitu menyukai pedas mercon dapat request dan membeli produk kami dengan level yang rendah.

Setelah menentukan bisnis usaha, kami menentukan nama produk yakni “Bakso Mercon By. AWAASH” yang merupakan arti dari Bakso Mercon By. Aina, Wafrah, Arzita, Azka, Sylvia, Hisyam yakni anggota tim kelompok kami. AWAASH juga dapat diartikan oleh masyarakat luas bahwasanya bakso tersebut benar-benar pedas, sehingga masyarakat luas dapat tergiur dan tertarik untuk membeli bakso mercon by. Awaash. Selain itu, Awaash juga merupakan bentuk dari persatuan dan kesatuan tim kelompok kami dalam usaha ini. Kita bersama-sama bertekad bahwasanya bisnis ini akan berhasil jika kita bersatu dan bekerja sama dari awal hingga masa mendatang.

Kemudian kami melakukan riset pasar terlebih dahulu untuk dapat menghitung Harga Pokok Penjualan, supaya kami bisa menentukan apakah produk yang dijual ini akan menguntungkan atau merugikan. Kitapun membagi tim untuk melakukan riset pasar agar dapat bekerja lebih cepat satu sama lain. Sylvia dan wafrah bertugas untuk riset pasar terkait bahan baku bakso, aina dan arzita bertugas riset pasar terkait packaging, Azka bertugas untuk riset pasar terkait harga bumbu, kemudian Hisyam yang betugas untuk melakukan riset pasar terkait tempat berjualan serta membuat kerangka poster yang menarik. Pembagian tugas ini dilakukan dihari yang sama, dan dilaporkan melalui grub WhatsApp sebagai komunikasi apakah harga tersebut adalah harga yang murah, normal, maupun mahal. Sehingga masing-masing dari kami dapat mempertimbangkan pilihan mana yang paling baik untuk digunakan dalam berbisnis.

Setelah melakukan riset pasar, selanjutnya kami melakukan trial product. Trial product ialah melakukan uji coba terkait rasa, tekstur, serta mekanisme lain yang dilakukan sebelum produk diluncurkan atau dijual di lapangan. Kelompok kami berhasil membuat trial product dengan sukses, rasa yang gurih, pedas dan pas. Sehingga kami memberanikan diri untuk melakukan Open Pre Order Bakso Mercon kami.

Dalam memasarkan produk pre order juga memerlukan pengetahuan dan tidak asal. Hal yang harus ditentukan ialah design poster dan foto produk. Kami mendesain dengan dominan warna merah dan hitam yang menunjukan betapa eskstra pedasnya bakso mercon kami. Dalam hal design inilah yang nantinya akan berpengaruh dalam pemasaran produk, semakin menarik design yang kita ciptakan maka akan semakin menarik perhatian masyarakat maupun pembeli.

Selanjutnya, yakni menentukan waktu open pre order, dalam menentukan waktu open pre order disarankan minimal 5 hari sebelum produk itu dijual. Tujuannya yakni dapat membuat customer tergiur. Kemudian selama waktu open pre order tersebut, kami harus rajin dan konsisten dalam meng-upload konten terkait produk kami, agar customer semakin penasaran dan terbayang-bayang dengan kepedasan super dari bakso mercon yang menggugah selera terutama ketika hujan.

Poster dan konten open pre order kami pun sudah diluncurkan dengan sangat antusias. Kami bersama-sama berusaha dan berdoa agar bisnis pertama kami akan berjalan dengan baik dan sukses dipasaran. Setelah melakukan riset dan perhitungan HPP, kami sepakat menjual dengan harga Rp. 6000,- per porsinya. Lima hari telah berlalu, dan sungguh bersyukurnya kami pesanan open pre order kami menembus 70 porsi untuk pembelian pertama kami. Dengan bersemangat kami segera melakukan iuran modal untuk awal.

Persiapan demi persiapan kami lakukan dengan sangat berhati-hati dalam menjalankan prosedur produk open pre order kami. Disinilah kami belajar apa itu makna kebersamaan dan kerja sama tim. Kerja sama tim merupakan suatu kemampuan untuk bekerja bersama dalam mewujudkan visi dan misi bersama, termasuk dalam mendorong setiap individu untuk bergerak dan saling membantu satu sama lain agar dapat meraih tujuan bersama-sama.

FLASHBACK

Sebelum kami memutuskan untuk menjual Bakso Mercon sebenarnya kami mengalami pergantian produk, ketika melakukan survei pasar kami melihat es manis merupakan menu yang sangat menyegarkan untuk berbagai kalangan terutama di siang hari. Namun, dugaan kami kurang tepat karna ternyata es lumut kurang diterima dengan baik bagi warga Solo, berikut kisah awal mula kami memilih produk es lumut.

Setelah perkuliahan selesai, kami bertemu dan sepakat untuk menjual minuman manis yang menyegarkan. Kamipun melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan agar produk yang dipilih ialah produk yang tepat. Mulai dari scroll tiktok mencari berita trending hingga mencari pada twitter untuk menilai selera masyarakat secara luas dalam berbagai kalangan usia. Tidak lupa juga kami survei pasar untuk menyaksikan apakah produk yang kami pilih akan menjadi produk yang mengantusiaskan masyarakat atau tidak.

Setelah berbagai proses ternyata es lumut ialah sang juara, mulai dari rasa yang manis dan segar dicampur dengan jelly rasa buah yang sangat juicy di lidah. Sehingga kami berenam berkumpul untuk mendiskusikan jualan di CFD Slamet Riyadi, mencoba menjual es lumut dan kami menamainya ‘ES LUMUT by AWAASH’. AWAASH adalah singkatan dari enam anggota kelompok kami yaitu Azka, Wafrah, Aina, Arzita, Sylvi, dan Hisyam. Es lumut ini terbuat dari jelly yang telah dimasak lalu diparut atau dihancurkan dengan es batu dan dicampur dengan serbuk pop ice dan ditambahkan susu evaporasi.

Kemudian, dikarenakan perkuliahan kami selesai lebih cepat, kami sempatkan untuk berkumpul membahas tentang es lumut ini, kelompok kami mulai mencatat apa yang di butuhkan untuk membuat Es lumut ini seperti nutrijell, gula, susu evaporasi, cup, pop ice, dan lain-lain. Kami bersama-sama belanja di toko dan berpencar untuk mencari barang yang dibutuhkan sehingga bisa mempersingkat waktu karena takut kesorean.

Setelah kami belanja di bagi ada yang membawa barang dan memasak jelly dan membuat serbuk tadi, dari kelompok kami kebanyakan yang ngekost maka kulkas minim untuk menyimpan jelly nya apalagi letak rumah dan kost kami jauh, “wajar kami jadi penjual pemula” ajari dong puh sepuhhh, jadi kami gak perlu takut walaupun kami masih awal berjualan, membutuhkan banyak tempat untuh menaruh jelly dan serbuk yang sudah di buat apalagi kami membutuhkan meja dan karpet untuk berjualan sehingga kita hampir keteteran tapi kita masih bisa berusaha.

Keesokan harinya tibalah hari minggu pada tanggal 18 Februari 2024 di CFD Slamet Riyadi pada pukul 05.00 pagi kami harus sudah berkumpul di lokasi untuk berjualan produk kami yaitu ES LUMUT, tantangan kami harus bangun pagi karana jualan kita cfd dan harus mencari tempat yang strategis dan ramai pembeli, karna kami jualan pemula harus bertanya sama penjual lama kalo tempat ini di pakai apa belum? Si penjual lama menjawab kalo tempat ini udah ada yang booking, kita dapet tempat tapi di suruh penjual lama di tempat disana agak pojokan emang tempatnya luas tapi kurang ramai pembeli, karna si penjual lama berjualan es teh dan penjual lama tau kami Jualan es lumut juga karena sama-sama es jadi takut kesaing, emang tempat kami minim orang beli sehingga masyarakat sekitar asing dengan nama produk kami yaitu es lumut.

Kamipun menawarkan produk ke masyarakat sekitar dan keliling membawa kertas yang bergambar es lumut biar banyak yang minat dan membuat pamflet yang di upload di story WhatsApp dan Instagram. ⁠sehingga es lumut kami kurang di minati, pertama berjualan es lumut dengan harga 7000 ribu dan kami turunkan menjadi 5000 ribu karna cfd jam 09.00 harus tutup dan harus di bersihkan. ⁠Pelanggan pertama kami Adek-adek karna penasaran sama es kami, trs Adek ini beli dia minta rasa strawberry dan Adek ini mengira es lumut kami gak pake es batu terus adek nya minta pake es batu padahal es lumut kami pake es batu dan setelah adik-adik ini beli akhirnya banyak yang membeli produk kami.

CFD hampir waktunya udah selesai kami membereskan dagangan karna waktunya udah selesai, karna produk kami masih ada, kami buka jualan di deket rumah azka di samping masjid, yang biasanya banyak anak-anak disana. ⁠Sesampai di rumah azka kami mencari tempat dan menata ulang produk kami untuk berjualan kembali, karena TPA nya libur sehingga anak-anak kecil gak ada yang keluar.⁠ Pembeli pertama ada bapak-bapak yang minat sama produk kami dan akhir nya membeli dan dia mencicipi di depan kami terus saran bapaknya katanya kemanisan padahal takaran gula kami pas karana mungkin faktor orang berbeda-beda.

Karena ⁠produk kami masih ada, kemudian kami mempunyai ide es lumut ini menjadi es kucir biar banyak anak-anak yang minat dengan harga 1000 dan es kucir nya di taruh di rumah azka karna banyak anak kecil yang kurkus dan akhir nya produk kami habis. ⁠Karena jualan itu memang membutuhkan effort bagi pemula apalagi es yang banyak saingan nya kita voting kembali dan berkumpul sepakat menjual makanan pedas yang sedang sangat viral yakni BAKSO MERCON. 

BACK TO NORMAL

Untuk selanjutnya kami akan menceritakan sedikit perjalanan tugas kewirausahaan kami. Ternyata setelah kita mencoba berdagang es lumut  itu, dagangan kami tidak terlalu banyak peminat mungkin karena baru awal jualan dan kurangnya persiapan yang matang,  kami tidak menyerah mungkin dengan gagalnya bisnisnya kami ini membuat jalan keluar yang lain, dari sini kami juga belajar banyak dan mencari cara agar mendapatkan bisnis yang lain dan diminati banyak orang. Mungkin untuk berjualan tahap awal ini memang sulit tetapi kami tetap mencoba dan terus belajar,intropeksi dari kesalahan dan membenahi apa yang mungkin dari kami tidak tahu caranya makanya terjadi beberapa kesalahan teknis seperti dari cara pembuatanyaa atau juga dari teknik pemasaran kami yang kurang  persiapan.

Dari sini kami terus mencari ide cemerlang yang sekiranya diminati banyak orang dan tidak tertinggal zaman now, karena di era sekarang ini banyak sekali orang-orang ber-kreasi dalam jualan makanan, tentu saja kami merasa tertantang untuk ini , kami berusaha keras untuk menciptakan ide-ide yang menarik dan menghasilkan laba yang memuaskan.

 Setelah beberapa hari kami memikirkan ide berjualan apa yang kemungkinan banyak diminati masyarakat, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba berjualan bakso mercon. Sebenarnya bakso mercon ini cukup familiar dikalangan anak-anak remaja karena saat ini banyak orang menyukai makanan pedas termasuk bakso dengan berbagai tingkat level kepedasan. Kami memulai dari awal kembali seperti mempersiapkan bahan-bahan, design produk, memanajemen waktu, dan  packing yang menarik. Awal kami memulai berjualan bakso mercon ini tidak langsung ke CFD, tetapi kami mencoba untuk berjualan secara Pre Order, dimana kami menawarkan produk yang kami jual kepada teman-teman kampus, tetangga rumah, tetangga kos, serta dipromosikan melalui sosial media masing-masing anggota. Kami open pre order sekitar lima harian. Setelah kami rekap  pesanan yang masuk, Alhamdulillah banyak yang tertarik dengan produk kami dan dari pre order yang kami buka, pesanan yang masuk tembus 70 porsi lebih.

Pada hari berikutnya, kami mempersiapkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan seperti bumbu-bumbu dapur, alat dan tempat untuk memasak, serta packaging. Kami memutuskan untuk memasak di kos Wafrah karena lokasi kosnya dekat dari kampus. Kami disini saling berbagi tugas, ada yang merebus dan menggoreng bakso, menghaluskan bumbu, serta mempersiapkan packaging yang akan kami gunakan.

Setelah perkuliahan pagi kami selesai, kami segera menuju ke kos Wafrah untuk mempersiapkan pesanan bakso mercon yang kami terima. Pertama-tama, Sylvia mulai mempersiapkan bahan lalu memilih dan memilah bagian yang layak digunakan atau yang harus dibuang karna kurang layak, kemudian sylvia mencuci bersih seluruh bahan makanan dan merebus bakso terlebih dahulu. Di lain sisi, Azka juga merebus cabai merah dan cabai rawit sampai lunak. Tujuan merebus cabai ini untuk mempertahankan warna bakso mercon kami yang identik dengan warna merah. Kemudian setelah bakso selesai direbus, bakso tersebut digoreng oleh Wafrah hingga warnanya sedikit kecoklatan atau biasa disebut dengan golden brown. Di sisi lain, Arzita membuat bumbu halus dengan menggunakan blender. Bumbu halus tersebut antara lain, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan kemiri.

Sesudah bakso dan bumbu halus siap, Aina menyalakan kompor untuk menumis bumbu halus tersebut hingga tercium aroma harum dan tidak langu. Setelah harum, bumbu tersebut diberi tambahan penyedap rasa, garam, gula, lada, dan kaldu bubuk. Lalu bakso yang sudah digoreng tadi dimasukkan ke dalam bumbu dan diaduk rata. Oh iya,  cara kami menentukan level pedasnya adalah dengan cara level satu diberi satu sendok bumbu cabai, level dua diberi dua sendok bumbu cabai, hingga level lima diberi lima sendok bumbu cabai serta tambahan berupa cabe bubuk agar rasa pedasnya terasa nyata.

Jika bakso mercon tersebut terasa sudah pas, maka siap untuk dikemas. Kami menggunakan packaging berupa sterofoam dan tusuk bambu karena menurut kami packaging tersebut lebih aman serta memudahkan customer kami untuk menyantap bakso mercon yang kami sajikan. Dikarenakan banyaknya orderan, maka kami menandai sterofoam tersebut dengan nama dan level yang dipilih oleh customer kami.

Setelah semua selesai, kami memberi kabar pada Hisyam lewat chat WhatsApp bahwa bakso mercon tersebut sudah siap untuk diantarkan kepada teman-teman kami yang memesan. Kami melayani pengantaran ke kampus, ke kos, bahkan ke rumah teman kami yang memesan jika jaraknya berdekatan.

Setelah open pre order, kami memikirkan cara agar bakso mercon ini tetap eksis di kalangan masyarakat umum. Untuk itu, kami memutuskan untuk berjualan di Car Free Day. Kami memilih untuk berjualan di CFD Slamet Riyadi karena dirasa CFD tersebut lebih banyak pengunjung yang datang untuk menikmati kuliner paginya. Sehari sebelumnya, kami mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk berjualan esok hari.

Hari Minggu pun tiba, kami bersiap-siap untuk berjualan di CFD. Untuk menghindari kesalahan sebelumnya saat berjualan es lumut, kami mencari lokasi yang lebih strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Untungnya, kami menemukan lokasi yang cocok untuk tempat kami berjualan. Kami segera menata lapak jualan kami, seperti memasang taplak meja, menata panci dan mangkok bakso, sterofoam serta tak lupa poster jualan kami yang sudah dicetak. Saat awal berjualan, lapak kami sepi sehingga kami mencoba menawarkan kepada orang-orang dan berusaha menarik pelanggan yang lewat di depan lapak kami.

Pelangganpun berdatangan dan membeli bakso mercon kami. Rasanya senang sekali bakso mercon kami masuk di selera kalangan masyarakat umum. Tidak hanya remaja, bahkan anak-anak dan orang tua pun merasa bakso mercon kami cocok di lidah mereka dengan adanya tingkat kepedasan ini. Tak terasa waktu cepat berlalu, begitu pun dengan waktu CFD yang hanya terbatas hingga pukul sembilan pagi. Dua puluh menit sebelum CFD dibubarkan, bakso mercon kami tersisa dua porsi. Namun kami yakin jika produk jualan kami akan habis terjual sebelum jam sembilan.

Di pagi hari yang awalnya cerah itu, tiba-tiba mendung mendekat dan rintik gerimis mulai turun. Kami agak panik, tetapi kemudian ada seorang ibu dan anak datang ke lapak kami dan bertanya produk apa yang kami jual dan berapa harga perporsinya. Kami melayani dengan senang hati meskipun diguyur gerimis. Dikarenakan hanya tersisa dua porsi saja, maka ibu dan anak tersebut ingin membeli semuanya. Kami segera mengemas bakso mercon tersebut ke sterofoam dan memasukkanya ke dalam plastik. Sebelum hujan mengguyur kami, kami segera mengemasi barang-barang yang tadi kami gunakan untuk berjualan dan segera kembali ke rumah Azka.

PENUTUP

Tanpa di sadari dalam berwirausaha ini kami telah melakukan proses yang panjang dari masalah kegagalan pemilihan produk, susahnya mencari pelanggan, ada juga kesalahan kita menentukan tempat berjualan yang strategis, dan dengan lika-liku bermacam-macam yang mau tidak mau harus kita lakukan demi berlangsungnya usaha jual beli kami.

Banyak hal yang bisa kami pelajari dari melakukan bisnis wirausaha ini apalagi melakukan wirausaha ini dengan orang-orang yang notabene nya adalah orang orang yang belum pernah melakukan bisnis bersama sehingga ada tantangan tersendiri contohnya adanya perbedaan pendapat dengan partner bisnis tetapi ada juga keuntungan melakukan bisnis bersama yaitu banyaknya ide-ide yang tertuang baik itu dari segi produk, ataupun pemasaran dan kita bisa sama-sama membagi pekerjaan agar lebih cepat selesai dan tenaga yang diperlukan juga tidak sebanyak dengan melakukan bisnis sendiri karena kita gotong royong bekerja sama dalam melakukan bisnis usaha ini. seperti kata pepatah "berat sama dijinjing ringan sama dipikul" dengan kebersamaan membuat hal yang sedikit terasa melimpah, hal yang sulit menjadi mudah, dan hal yang berat menjadi lebih ringan.

Dalam melakukan bisnis pasti juga ada resikonya yang mau tidak mau harus kita terima, perlu di ingat kita harus siap jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, contohnya sepinya pembeli, uang modal yang tidak balik atau tidak untung, cuaca yang tidak bersahabat, dan hal hal buruk lainnya, kita harus siap akan hal itu karena itu semua adalah sebagian dari proses dan menguji kemampuan kita untuk menghadapi masalah-masalah tersebut jika itu bisa kita lewati maka bisnis kita akan lebih maju.

Tanpa kami sadari sudah begitu jauh kami melangkah dalam dunia kewirusahaan. Perjalanan yang kami lewati telah memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi kami, kami merasakan berbagai kesan yang tak terlupakan. kami belajar bahwa bersama teman dalam bisnis bukanlah tentang menghindari konflik, tetapi tentang bagaimana cara kami mengatasinya bersama-sama, dengan setiap tantangan yang kami hadapi, kami tumbuh lebih kuat dan lebih bijaksana mengambil keputusan dan pada akhirnya kami menyadari bahwa keberhasilan sejati adalah tentang melangkah bersama-sama, tidak hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan karena saat kita berproses di situlah hal-hal tentang kehidupan terjadi dimana kita harus saling mengerti saling memahami dan saling mengingatkan jika terjadi kesalahan, intinya ego kita harus bisa di kendalikan karena ini bukan tentang satu individu tetapi ini adalah kelompok. Bersusah-susahlah karna ‘sehabis gelap terbitlah terang’, sebagai mahasiswa kita harus memiliki prinsip bahwasanya kesuksesan itu dimaknai dari proses (step by step) yang telah kita lewati dari bawah. Jangan pernah menyamaratakan bahwa apa yang kita mulai tidak sebanding dengan apa yang diperoleh orang lain, yakinlah bahwa usaha yang sedang diperjuangkan dengan maksimal dan kesungguhan tidak akan pernah menghianati hasil.

 

-LEBIH BAIK LELAH BEKERJA DAN BERUSAHA DARI PADA DIAM DAN TIDAK MELAKUKAN APAPUN- (Kelompok 3, Perbankan Syariah 4E)



 

 

 

perjalanan kewirausahaan "cookielab.id"

 

PERJALANAN KEWIRAUSAHAAN

“COOKIELAB.ID”


Di tengah kesibukan semester 4, Iqbal, Maulana, Fitri, Hilda dan Ana mendapatkan tugas dari dosen mata kuliah Kewirausahaan Islam untuk membuat proposal bisnis dan mendirikan usaha kecil. Awalnya, kami merasa bingung dan ragu karena belum pernah memiliki pengalaman berwirausaha. Bagaimana mungkin kami yang masih mahasiswa bisa memulai usaha? Namun, setelah berdiskusi kami termotivasi untuk mencoba.

Pertemuan demi pertemuan kami habiskan untuk bertukar ide dan gagasan. Setelah berdiskusi, kelompok kami menemukan ide untuk membuat bisnis usaha dalam bidang pangan berupa mini cookies yang diberi nama Cookielab.id. Ide membuat mini cookies sebagai produk bisnis usaha tidak sengaja tebersit saat kami melakukan brainstorming. Menurut kami mini cookies cukup mudah dibuat karena menggunakan bahan utama tepung terigu yang mudah didapatkan di pasar maupun supermarket sehingga tidak akan menyita banyak waktu saat proses produksi.

Dalam memulai usaha ini tentunya diperlukan macam-macam tahapan. Tahapan yang telah kami lalui untuk membuat produk ini adalah sebagai berikut:

 

PERSIAPAN

Di awali dengan penentuan produk yang akan dijual dengan mempertimbangkan target sasaran dari produk. Pada akhirnya kami sepakat dan mengambil keputusan untuk mengembangkan produk makanan karena memiliki pasar yang luas, didasari naiknya minat baik dari muda sampai tua. Di awal kami mencari beberapa makanan yang mudah dan praktis untuk kami jual, kami mencari beberapa produk di sosial media seperti Instagram, Youtube dan Tiktok. Setelah mecari beberapa produk kami awalnya ingin menjual keripik dari kulit pangsit atau makanan ringan karena dengan menjual produk itu kami mendapatkan cukup banyak keuntungan karena bahan yang digunakan dalam pembuatan hanya sedikit dan modal yang kita berikan tidak terlalu banyak tetapi kami masih mempertimbagkan lagi karena dalam menjualkan produk ini hanya beberapa orang yang tertarik karena makanan ini sudah banyak diperjualkan.

Kami mencari lagi beberapa produk makanan lainnya agar mendapat produk dengan inovasi yang baru, selain itu kami juga sudah menenmukan beberapa ide untuk makanan yang kami buat seperti jelly ball dan pisang coklat tetapi sudah ada beberapa dari kelompok lain yang membuat produk tersebut. Setelah mencari beberapa produk lagi kami menemukan beberapa makanan yang layak dijual dengan inovasi terbaru kami menumakan produk makanan dari Instagram yaitu cookies dengan lumeran coklat, setelah melihat video tersebut kami langsung setuju untuk membuat produk tersebut karena pembuatan yang cukup mudah, bahan-bahan pembuatan yang mudah dicari dengan harga yang terjangkau dan makanan yang bisa dinikmati oleh beberapa kalangan. Setelah itu kami mengumpulkan atau menyiapkan modal, bahan, dan alat yang dibutuhkan untuk persiapan produk kami. Dalam penentuan target pasar kami menargetkan pada kriteria pembeli tertentu, hal ini kami lakukan karena target pasar yang berbeda akan menuntut upaya pendekatan yang juga cukup berbeda, mengenali target konsumen usaha adalah kunci sukses pemasaran. Selanjutnya kami memikirkan nama produk yang akan kami pakai, kami juga harus memastikan bahwa belum ada orang yang telah memakai nama yang akan digunakan secara komersial. Setelah mencari nama-nama produk untuk cookies kami ada 2 pilihan opsi nama, yang pertama ada Cookielicius di mana dinamakan Cookielicius karena memiliki arti cookies yang enak, sehingga kami berharap cookies yang kami jual dapat menarik daya minat banyak konsumen. Selanjutnya, nama yang kedua ada CookieLab.id makna nama tersebut diambil dari kata Lab yaitu Laboratoruim yang artinya percobaan. Kami berharap dengan percobaan-percobaan ini dapat menemukan banyak varian cookies. Dari 2 pilihan nama ini, kami sepakat memilih nama CookieLab.id untuk produk kami. Persiapan lain yang perlu dipersiapkan setelah pembuatan nama merk produk yaitu logo produk. Berikut adalah contoh logo dari produk kami.


Logo tersebut mengalami beberapa perubahan setelah kami mendiskusikan dengan beberapa anggota kelompok banyak sekali perdebatan-perdebatan bentuk pada logo dan akhirnya kami mendapatkan logo yang diinginkan dengan bentuk dan kertas yang menarik.

PERCOBAAN DAN PRODUKSI

Percobaan produk, kami melakukan percobaan atau survei jauh sebelum proses realisasi bisnis diselenggarakan, agar bisa mendapatkan cita rasa yang pas dan enak. Selain itu, kami juga melakukan survei pada bahan baku, setelah mendapatkan keputusan, kami mulai mencoba membuat produk sekaligus membuat foto display untuk produk kami sebagai media promosi.

Pada awalnya, kami berencana membuat mini cookies menggunakan pan, karna kami melihat di beberapa video tutorial mudah sekali membuat melted cookies di pan, tetapi tidak untuk kami karena pada saat pembuatan kami mengalami kendala dalam mengolah, di awal kami sudah berekspektasi tinggi cookies yang kami buat di pan itu akan berhasil ternyata di awal percobaan cookies yang kami buat tidak sesuai ekspektasi kami, mungkin karna api yang kami gunakan terlalu besar dan kami kesulitan mengembangkan resep sehingga tekstur cookies yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang kami inginkan, dari percobaan pertama kami langsung merencanakan lagi bagaimana solusi agar cookies ini dibuat selain dengan memakai pan karna di awal dalam pembuatan menggunakan pan terlalu memakan waktu yang banyak dan hasil cookies  yang tidak terlalu sempurna  Oleh karena itu, dilakukan orientasi terhadap metode pengolahan dan menggantinya menggunakan oven untuk menghasilkan resep yang sesuai prinsip yang kami miliki.

Di hari berikutnya kami menggunakan oven untuk pembuatan yang kedua, pada pembuatan menggunakan oven ini kami menambahkan beberapa bahan yang digunakan dari sebelumnya, ternyata menggunakan oven juga tidak langsung mendapatkan hasil yang kami inginkan, mungkin dalam proses pembuatan bahan kue masih ada beberapa takaran yang belum sesuai, jadi stelah di oven beberapa cookies masih ada yang terlalu keras dan bentuk cookies yang masi belum sama rata. Dari percobaan kedua kami mencari solusi lagi dan lebih memperhatikan lagi step-step yang digunakan dalam pembuatan bahannya agar dipercobaan selanjutnya cookies lebih lembut dan bentuknya bisa sama rata.

Di pembuatan terakhir untuk penjualan kami menyiapkan dengan matang alat dan bahan-bahan agar tidak ada lagi kesalahan atau kekurangan pada saat pembuatan, dan akhirnya dipembuatan terakhir hasilnya lumayan memuaskan walaupun bentuk cookies masih ada yang belum sama rata tetapi kami berusaha semaksimal mungkin agar penyajiannya tetap sama.

Dalam pemesanan produk, kami menggunakan sistem pre-order. Kami membagikan sebuah poster pre-order seminary mungkin agar banyak peminat untuk membeli produk kami. Dengan sistem pre-order ini kami bisa membuat produk sesuai dengan jumlah pesanan yang didapat, jadi dengan adanya sistem pre-order ini kami bisa menakar berapa cookies yang harus kami buat. Produksi yang dilakukan secara masif telah dilaksanakan sejak awal pre-order pertama. Dapat dikatakan proses produksi cukup berhasil karena pembelian melebihi target yang kami tentukan menggunakan sistem promosi yang kami gunakan.

PEMASARAN PRODUK

            Strategi pemasaran produk merupakan salah satu hal yang sangat penting. Berbagai macam bentuk dan juga kemasan dipercantik supaya bisa menarik konsumen untuk membeli produk makanan kami. Pertama kami menggunakan kemasan produk yang menarik, kemasan atau packaging di dalam strategi pemasaran produk itu sangat berperan penting untuk menarik konsumen membeli produk yang kita tawarkan, kami mencari beberapa referensi packaging di beberapa e-commerce banyak pilihan yang membuat kami bingung untuk memilihnya dan akhirnya kami mendapatkan referensi packaging yang menarik. Kami membuat 2 packaging yang besar dan yang kecil, kenapa sih harus 2 packaging? tentu saja kami membuat 2 tempat karena kami menggunakan saus krim atau glaze untuk cookies tersebut agar lebih baik dan menarik. Kami memisahkan saus krim tersebut karna setiap orang memiliki selera tersendiri, ada beberapa orang yang ingin memakan cookies dengan saus krim secara terpisah dan ada juga yang ingin dimakan secara langsung atau dicampur ke cookies. Maka dari itu kami membuat dua packaging.

            Lalu yang kedua kami membuat foto produk yang unik dan menarik. Dengan adanya visual yang menarik, orang-orang tentu akan terdorong untuk membelinya. Dengan beberapa kali take foto, akhirnya kami mendapatkan foto yang bagus dan menarik, di akhir kami juga membuat video dengan trend yang ada di sosial media dengan video tersebut juga sangat menarik konsumen untuk membelinya.

            Kami juga menggunakan media promosi berupa poster, kami membuat poster dengan semenarik mungkin agar menarik perhatian banyak peminat untuk membeli produk kami, dengan menambahkan tagline dan caption yang menarik juga.



            Produk ini kami sebarkan melalui sosial media masing-masing anggota. Penerimaan pesanan dilakukan mulai dari hari Senin sampai Jumat per minggunya dan pesanan akan diproduksi pada hari Sabtu untuk didistribusikan pada hari Minggu.

Karena target penjualan kami kebanyakan remaja, maka kami membuat tampilan produk kami semenarik mungkin. Selain menarik perhatian pembeli dengan membuat tampilan produk yang menarik, kami juga membuat promo launching dengan ketentuan untuk 10 pembeli pertama akan mendapatkan harga sebesar Rp 8.000 dengan harga awal sebesar Rp 10.000. Hal ini membuat banyak orang yang mulai melirik produk dari usaha kami.

EVALUASI DAN TANTANGAN

Dalam menjalankan usaha bisnis kami menghadapi berbagai tantangan, seperti modal yang terbatas, persaingan yang ketat dan waktu yang terbatas karena kesibukan perkuliahan. Namun, kami tidak menyerah selalu berfikir positif, belajar dari kesalahan yang kemarin dan terus berusaha mencari solusi. Hal ini menjadi langkah krusial dalam perjalanan wirausaha, sehingga kami melakukan evaluasi dan mengidentifikasi kekurangan untuk menentukan langkah perbaikan agar mencapai hasil yang lebih baik kedepannya.

Pada penjualan pertama, beberapa kekurangan teridentifikasi dan perlu diubah untuk penjualan berikutnya. Salah satunya adalah penggunaan glaze atau lumeran coklat yang terlalu encer. Hal ini menyebabkan cookies tidak menyatu sempurna dengan glaze. Sehingga, kami perlu mencari formula glaze yang lebih pas, dengan kekentalan yang tepat untuk melekat sempurna pada cookies. Kekurangan kedua adalah ukuran cookies yang belum sama rata. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti proses pencetakan, atau bahkan suhu oven. Kami perlu melakukan eksperimen lebih lanjut untuk menemukan solusi terbaik, demi menghasilkan cookies dengan ukuran yang seragam dan estetis.

Bisnis kami masih dalam tahap awal, sehingga kami belum menghasilkan keuntungan yang signifikan. Namun, kami telah berhasil menutupi biaya operasional kami. Kami telah menetapkan harga yang kompetitif untuk produk kami dan kami telah mengelola biaya produksi kami dengan cermat. Total modal yang kami habiskan selama operasional sebesar Rp 241.000. Saat penjualan pertama, kami menjual produk dengan harga Rp 10.000 dan Rp 8.000 untuk 10 pembeli pertama. Selama penjualan, kami berhasil menjual 26 cookies dengan total pendapatan Rp 244.000.

Hal yang menyebabkan modal kami lebih banyak terletak pada harga salah satu glaze yang lebih mahal dibandingkan dengan harga glaze yang lain. Dikarenakan pada awalnya kami hanya membeli dua glaze untuk percobaan dan menghitung modal yang dihabiskan dan perkiraan laba yang akan kami dapatkan. Namun, pada saat kami membeli lagi untuk produksi dan penjualan ternyata glaze varian matcha harganya jauh lebih mahal dari varian lainnya, dan kami tidak memperkirakan hal itu. Hal ini, membuat laba yang kami dapatkan sangat sedikit. Namun, kami masih mempunyai beberapa persediaan bahan produksi untuk penjualan kedua. Sehingga pada saat penjualaan yang kedua kami berencana untuk menaikkan harga jual menjadi Rp 12.000 agar kami bisa mendapatkan laba yang sesuai.

            Pengalaman memulai bisnis usaha ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami. Kami belajar tentang pentingnya kerjasama, ketekunan, dan kreativitas dalam berbisnis. Kami juga belajar tentang bagaimana mengambil keputusan yang tepat. Dengan bewirausaha ini kami jadi tau tidak semudah itu untuk mejadi pengusaha dengan berbagai macam tantangan yang dihadapi dan bagaimana caranya untuk bisa memecahkan masalah atau tantangan tersebut.  


 

DOKUMENTASI

           

MENEMUKAN IDE PEMBUATAN MY DESSERT (Puding Vla)


MUNCULNYA IDE


Di tengah hiruk piruk kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, sembilan mahasiswa jurusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Najwa Fauzi Perdana, Boby Prayoga, Maulana Alim Wiguna, Rofiq Auliyarahman, Nadia Ayu Meitawati, Zakia Zara Alatas, Febriana Wiwid Puspandari, Tiya Dita Ningrum sedang berdiskusi menemukan inspirasi tentang ide bisnis untuk tugas mata kuliah “Kewirauasahaan”. Sambil meminum es teh di jujugan cafĂ© sambil menyantap makanan Fauzi pun terbangun dari lamunanya.

“Guysss gimana kalo kita bisnis dessert aja? pasti banyak peminatnya kan lumayan untungnya banyak banget tau bisnis dessert itu”. Kami pun berdiam sejenak sambil memikirkan perkataan yang di ucapkan tiya.

Jam menunjukan pukul satu siang, waktunya kelas kami akan segera di mulai. Saat di dalam kelas yang sangat ramai karena dosenya belum dateng. Kelompok kita sedang membahas masalah bisnis yang tadi belum terpecahkan.

“Woiii gimana tadi? pada setuju nggak sama ide tiya?”sahut Fauzi sedikit badmood karena terburu-buru ada acara.

“yasudahhh Dessert aja yaa, udah pusing aku tugasnya banyak banget” sahut Nadia langsung mencairkan suasana yang agak mencekam, disertai dengan dorongan pintu kelas dan munculah dosen yang akan mengajar kelas kami.


PEMASARAN



Setelah melewati lika liku mencari bahan dari sekian toko yang ada, akhrnya kita menemukan barang yang murah dan kualitasnya sangat sangat bisa di acungkan jempol. Mulailah kita memasarkanya secara online dan ofline di mana sebagian besar objeknya adalah mahasiswa dan masyarakat umum.

Zara dan Nadia yang sebelumnya mempunyai kebiasaan memposting barang jualanya di media sosial dan banyak diminati orang, kini dessert kami yg sudah mulai laku terjual 38 cup di sosial media maupun secara langsung dengan kisaran harga 5.000.

Karena media yang kita gunakan adalah media sosial maka costumernya juga berasal dari berbagai daerah. Maka kami menggunakan system COD yaitu Cash On Delivery.

Agenda COD untuk orderan pertama pun telah sukses dilakukan. Tapi tidak hanya berhenti di situ, ternyata sebagian besar customer memilih bertransaksi dengan metode COD. COD demi COD telah kita lalui, kami pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat ke rumah masing masing. Ke esokan harinya, kita sepakat berkumpul kembali untuk menghitung hasil penjualan yang kita dapatkan dari COD yang kita lakukan dari bebrapa hari yang lalu

“yaampuuun nggak yangka yaa, kita dapat uang sebanyak” ucap Nadia dengan penuh kegirangan sambil mengkibas kibaskan uang yang telah di dapatkan

“ihh iya yaa, padahalkan ini cuman tugas tapi ternyata kita bisa dapat uang dari tugas ini” sahut Zara dengan rasa senang

“ehh kemarin modal awal berapasi ?” tanya boby


Modal awal : Rp. 67.000

Harga jual : 1 Cup  = Rp. 5.000

Keuntungan : Rp. 190.000

Terjual : 38 Cup

Laba bersih : Rp. 123.000
 

Kita saling menatap satu sama lain dan memberikan applause ke diri masing masing, karena bisnis dessert kami berhasil meebihi target awal penjualan.

“wahhh ga yangka yaa, baru pertama kali jualan udah dapet untung segini, kirain ga akan balik modal” celetuk Zara

“iya ya, kalau kita telaten menekuni jualan ini mungkin bisa jadi bisnis gede, peluang bisnis nih”.

Nggak kerasa sudah 2 jam waktu berlalu, dan sekarang jam menunjukan pukul 12 siang. Pantas saja kita semua sudah lapar dan akan mencari makan siang. Ketika di perjalanan kita sepakat berhenti di salah satu rumah makan padang, di samping indomaret kampus setelah selesai makan kami pun lanjut pulang kerumah masing masing.


PRESENTASI

Sinar matahari yang mulai bangun dari tidurnya. Membuat pagi ini menjadi sempurna. Suasana pagi yang hangat disambut dengan kicauan burung yang sangat merdu.

Hari ini adalah hari selasa hari dimana presentasi tugas kewirausahaan akan dilaksanakan suasana kampus pagi masih belum ramai, terihat dari parkiran motor yang belum penuh, dan ruang kelas yang masih kosong dan terbuka lebar, kita berempat berjalan melewati lorong kampus yang masih sepi mungkin karena mahasiswa dan mahasiswi disini sudah pada balik ke kampung halaman.

Kami membuka pintu kelas dan segera mencari tempat duduk yang masih kosong belum ditempati, karena bangku depan sudah penuh, akhirnya kami memilih duduk paing belakang

“disitu aja pas buat kita tempat duduknya” sambil menunjuk arah bangku yang ada di belakang dan langsung menuju kesana

Presentasi dimulai dari kelompok pertama, mereka mulai menyampaikan poin poin penting dari materinya. Kami yang duduk di belakang mendengarkan dngan seksama sembari menyiapkan materi dari kelompok kami.

Selang beberapa menit kemudian, kini giliran keompok kami yang akan melakukan presentasi.

Selesai melaukan presentasi, tibalah saatnya melakukan sesi tanya jawab, beberapa teman kami pun membirikan perntanyaan, pertanyaan yang diberikan sebagian besar mengenai peluang usaha dan juga keuntungan yang di peroleh. Dngan cepat dan lugas kami menjawab pertanyaan yang diberikan.

“Sekian dari kelompok kami, jika ada salah kata atau kekurangan mohon di maafkan, terimakasih, wassalamualaikum wr, wb” penutup dari kelompok kami .

“walaikumsallam Wr, Wb.” Sahut teman teman dengan kompak dan memberikan applause kepada kelompok kami

Lalu kelompok kami duduk ke belakang dan presentasi di lanjutkan oleh kelompok berikutnya.

“Akhirnya selesai juga yaa” zara menghela nafas panjang seperti orang yang merasa puas akan hal yang baru saja di selesaikanya.

Dengan rasa lega akhirnya kita selesai melakukan presentasi yang sedikit menegangkan, tapi dari situ kita bisa mengambil hikmah apa artinya sabar dalam berjualan dalam menghadapi customer yang agak rewel, dan sabar dalam menghadapi kendala dan rintangan. Dan dari situ juga kita bangga, karena telah melewati kendala dan rintangan itu bersama sama sampai hasil akhir.


PENUTUP

Mungkin itu saja yang bisa kami ceritakan dari awal munculnya ide pembuatan dessert, memasarkan product hingga mengambil keuntungan dari jualan tersebut. Kami dari kelompok 3 mengucapkan terima kasih ke pada ibu sri yang telah mengajarkan kita tentang Kewirausahaan.

Bisnis Plan

Analisis Kepuasan Pelanggan terhadap Layanan Shopee Food

  Nama; Rossi Ilham ALfarizi NIM; 245211237 Kelas; 4F Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan ...