KIMBAB OISHI CHWICHAN


Perjalanan bisnis kimbab "Chwichan" dimulai dari empat mahasiswi yang memiliki semangat untuk memulai usaha kuliner sebagai bagian dari tugas mata kuliah kewirausahaan. Sebelum memutuskan untuk memilih berbisnis kimbab ini banyak opsi yang akan dipilih, antara lain Kimbab, Cornribs, Donat, Ubi lumer, Tempe mendoan, Jolla jelly, Puding. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memilih berbisnis kimbab, Fahmi, Zaida, Reina, dan Difta, melihat tren makanan Korea yang sedang naik daun di Indonesia sebagai peluang emas. Setelah melakukan riset dan diskusi, mereka memutuskan untuk mengangkat kimbab makanan khas Korea yang sehat dan praktis sebagai produk utama mereka. Nama "Chwichan" dipilih dengan makna personal, menggambarkan semangat dan kebersamaan mereka. 


VISI :

Menjadi pilihan utama dalam industri makanan cepat saji sehat di Indonesia dengan menghadirkan kimbab berkualitas tinggi yang mengutamakan rasa, kesehatan, dan kepraktisan, serta mempopulerkan budaya kuliner Korea di kalangan masyarakat luas. 

MISI : 

a. Menyajikan kimbab autentik yang lezat, sehat, dan terbuat dari bahan-bahan segar serta berkualitas tinggi.

b. Mengembangkan variasi menu kimbab yang sesuai dengan selera lokal tanpa menghilangkan cita rasa asli Korea.

c. Memberikan pelayanan yang cepat, ramah, dan profesional kepada setiap pelanggan, baik di gerai fisik maupun layanan online.

 Setelah merumuskan visi-misi yang berfokus pada menghadirkan kimbab berkualitas tinggi dengan cita rasa autentik namun ramah di lidah Indonesia, mereka memulai perjalanan yang penuh tantangan. Mulai dari urusan perizinan usaha seperti SIUP hingga NPWP, setiap langkah memerlukan usaha keras, namun mereka belajar banyak dari proses tersebut. Bisnis ini juga dijalankan dengan prinsip-prinsip syariah yang mengutamakan kejujuran dalam setiap aspek usahanya.

 Ketika mulai merancang strategi pemasaran, mereka memfokuskan produk ini untuk menyasar pasar anak muda, keluarga, dan komunitas penggemar budaya Korea. Strategi pemasaran mereka mencakup penjualan di lokasi-lokasi strategis seperti acara Car Free Day, festival kuliner, serta memanfaatkan platform digital seperti GoFood dan GrabFood. Mereka juga aktif mempromosikan produk melalui media sosial, bekerja sama dengan influencer dan komunitas lokal untuk meningkatkan kesadaran akan produk kimbab mereka.

   Tidak hanya berjuang di pasar, mereka juga menghadapi tantangan operasional, seperti bagaimana menjaga kualitas produk dan bahan baku yang terkadang sulit ditemukan atau mengalami kenaikan harga. Kelemahan lain dari produk mereka adalah ketahanannya yang singkat hanya bertahan sekitar enam jam setelah produksi yang membuat mereka harus benar-benar memperhitungkan kapan dan di mana produk ini dijual.

Langkah-Langkah 

 1. Cuci beras dan ketan hingga bersih, lalu masak dengan air secukupnya masak menggunakan rice cooker

 2. Rebus air menggunakan panci, lalu masukkan sayuran yang sebelumnya sudah dicuci. Untuk memasaknya beri penyedap pada sayur dan rebus secara bergantian dan tunggu hingga matang, usahakan jangan terlalu matang. Berikan minyak wijen pada sayuran yang sudah matang.

 3. Kocok telur, lalu goreng menggunakan teflon. Berikan sedikit minyak untuk menggoreng Jika sudah matang, potong telur memanjang. Lalu panggang sosis diatas teflon hingga matang

4. Jika nasi sudah matang, ambil nasi secukupnya, lalu berikan sejumput garam dan 1 sdm minyak wijen, kemudian aduk hingga rata. 

5. Letakkan nori diatas alas untuk menggulung nori, ambil secukupnya nasi, ratakan diatas lembaran nori. Tata bayam secara memanjang, wortel, mentimun, sosis, dan telur. 

6. Gulung perlahan, tekan-tekan supaya lebih padat dan tidak mudah pecah.. Lepaskan penggulung, potong-potong sesuai selera lalu taburi dengan wijen.

 Logo "Kimbab Oishii Chwichan" menggabungkan elemen-elemen bermakna:

Lingkaran Merah melambangkan energi, gairah, dan kehangatan, mencerminkan dedikasi terhadap kualitas.

"Kimbab Oishi" menyatukan budaya Korea dan Jepang, mewakili perpaduan rasa khas Asia yang kaya dan pengalaman kuliner.

Gambar Kimbab merepresentasikan produk utama, menyoroti keanekaragaman dan keseimbangan antara bahan serta rasa.

Warna Putih melambangkan kemurnian, kesederhanaan, dan kebersihan, memastikan produk yang higienis dan berkualitas tinggi.

"Chiwichan" merujuk pada "Chiwi Cantik," diambil dari nama empat anggota perempuan dalam kelompok.

   Nahh mengenai biaya produksi kimbab "Kimbab Oishii Chwichan" ini dimulai dengan perhitungan harga pokok penjualan yang terdiri dari beberapa komponen penting. Untuk memproduksi 50 potong kimbab, total biaya bahan baku yang diperlukan adalah Rp 53.000, termasuk beras, ketan, nori, bayam, wortel, telur, sosis, dan timun.

   Selain bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dihitung sebesar Rp 8.000, yang berasal dari upah empat pekerja dengan waktu kerja dua jam. Sedangkan, biaya overhead pabrik, termasuk bahan tambahan seperti kecap asin, wijen, mayonais, saus cabai, minyak wijen, dan biaya kemasan, mencapai Rp 51.000.

     Secara keseluruhan, total biaya produksi untuk 50 potong kimbab adalah Rp 112.000. Dengan harga pokok per potong kimbab sebesar Rp 2.240, produk ini dijual dengan harga Rp 2.500 per potong. Dari setiap potong, bisnis mendapatkan keuntungan Rp 260. Dalam satu kali produksi, dengan 50 potong terjual habis, keuntungan yang diperoleh adalah Rp 13.000.

Kelompok 1 Akuntansi Syariah 5B : 

1. Fahmi Sarifatus Sholihah (225221055)

2. Zaida Nafia Rahma (225221058)

3. Reina Zahira Shaffa (225221079)

4. Difta Viona Anggraini (225221080)


1 komentar:

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...