CERITA PERJALANAN KEWIRAUSAHAAN
“MARYAM YUMMY”
CHAPTER 1:
PROSES PENEMUAN IDE BISNIS
Pada perkuliahan semester
4 ini kami dipertemukan dengan mata kuliah Kewirausahaan Islam, dengan dosen
pengampu mata kuliah Ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Beliau memberikan tugas kepada
mahasiswa untuk membuat sebuah rancangan bisnis atau biasa disebut dengan
business plan yang kemudian akan di eksekusi bersama oleh masing-masing
kelompok yang telah dibagi.
Kami mendapat kelompok 3
yang berjumlah 5 orang beranggotakan dari Karisma Nur Eka, Dita Maharani, Femina
Nur Haliza, Rollanda Alvin Aditiya, dan Adi Nugroho. Setelah pertemuan kelas
selesai, kami langsung membuat grup WhatsApp guna memudahkan dalam berkoordinasi
dan berdiskusi lebih lanjut terkait produk yang akan kita jual.
Dalam grup tersebut,
kami berdiskusi dan menumpahkan semua ide-ide bisnis yang masing-masing kami
miliki. Ide bisnis ini kami dapatkan dari berbagai sumber referensi melalui media
sosial mulai dari TikTok, Instagram, Youtube, dan juga artikel Google. Dengan
produk yang sangat beraneka ragam mulai dari Ide bisnis di bidang kuliner
seperti jelly ball, mochi, pisang coklat, bola-bola coklat, batagor mercon, es
cendol dawet hingga ide bisnis di bidang jasa seperti jasa pengerjaan tugas
hingga bimbingan belajar.
Suatu ketika, pada saat
jam makan siang Karisma dan Liza makan di warung ayam geprek, di depan warung
makan tersebut terdapat pedagang bertopi menjual roti Maryam. Sontak Karisma
berkata "Wah ada roti Maryam, sudah lama aku tidak melihatnya",
"Roti Maryam bentuknya seperti apa sih?" tanya Liza penasaran apa itu
roti Maryam, "mau coba?" jawab
Karisma.
Setelah selesai makan ayam geprek, Karisma dan Liza mencoba untuk membeli roti Maryam dengan varian rasa coklat. Ternyata dengan harga sebesar Rp 8.000/pcs untuk sebuah roti Maryam terbilang cukup mahal. Dengan harga tersebut masih dibilang sepadan, karena roti Maryam ini memiliki ukuran yang cukup besar meskipun rasanya biasa saja.
Setelah mencoba membeli roti Maryam tersebut, tercetuslah ide untuk menjual roti Maryam dengan harga yang lebih terjangkau dan rasa yang lebih nikmat serta beragam. Lantas, Liza dan Karisma menyampaikan ide tersebut pada grup WhatsApp guna berdiskusi lebih lanjut mengenai ide bisnis roti Maryam.
Di keesokan harinya
setelah pertemuan kelas kami mencoba berdiskusi secara langsung mengenai produk
apa yang akan kita jual. Pasalnya pada saat berdiskusi melalui grup WhatsApp kami
tidak menemukan kesepakatan bersama. Di Gazebo FEBI kami mulai berdiskusi lagi terkait
ide-ide bisnis yang sudah kami bagikan pada grup WhatsApp yang kemudian kami
pertimbangkan satu per satu efisiensi dan efektivitas dari ide bisnis yang
sudah ada.
Setelah berdiskusi yang cukup
lama dengan menganalisis berbagai faktor dari masing-masing ide bisnis tadi,
kami bersepakat menentukan produk yang akan kami jual yaitu roti Maryam. Awalnya
kami ingin memproduksi roti Maryam sendiri namun setelah melihat tutorial di
YouTube, kami merasa memiliki keterbatasan dalam memproduksi dengan risiko
kegagalan yang cukup besar. Sehingga, kami memutuskan untuk membeli roti Maryam
yang sudah setengah jadi dalam bentuk makanan beku.
Beberapa faktor mengapa
kami memilih roti Maryam sebagai produk yang akan kami jual, di antaranya:
1.
Bahan baku mudah didapat
Kami bersepakat
untuk menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi berupa makanan beku (frozen
food) yang mudah kami dapat di agen-agen makanan beku terdekat.
2.
Proses pengolahan tidak
terlalu rumit
Karena
kami menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi dalam bentuk beku. Jadi,
kami hanya perlu mengolahnya sebentar dengan cara dipanggang menggunakan
mentega.
3. Belum banyak pesaing
Kami melihat roti Maryam ini memiliki peluang yang cukup menjanjikan. Karena, belum banyak pesaing di pasaran. Dan juga sebagai sarana kami memperkenalkan kuliner tersebut.
CHAPTER 2:
UJI COBA PERTAMA
Setelah kami bersepakat
menentukan ide bisnis. Di kemudian hari kami langsung melakukan uji coba
pertama dengan langkah awal yaitu mencari bahan baku di agen makanan beku. Kami
melakukan pencarian ke beberapa agen makanan beku (frozen food) yang
ternyata kami malah menghadapi kesulitan dalam menemukan adonan roti Maryam tersebut.
Kami mencoba mencari di beberapa toko online (E-Commerce) yang
sebenarnya memiliki harga cukup murah, tetapi kami memiliki keraguan jika
barang tidak berkualitas dan risiko basi saat pengiriman.
Sehingga kami memutuskan
untuk mencari agen makanan beku terdekat melalui Google Maps, muncullah
beberapa opsi. Kemudian kami kunjungi satu per satu agen terdekat. Opsi pertama
kami mengunjungi SuperIndo, kami segera masuk ke dalam dan mencari bagian
makanan beku (frozen food) namun kami tidak menemukan roti Maryam
tersebut di dalam freezer. Sontak kami merasa kecewa karena tidak menemukannya.
Kami pergi ke opsi
selanjutnya yaitu agen makanan beku di daerah Colomadu. Kami mengendarai sepeda
motor menuju lokasi tersebut, ketika hampir sampai di lokasi hujan mulai turun
dan kami bergegas untuk segera berteduh di dekat lokasi. Sambil berteduh di rumah
warga kami mencoba menanyakan lokasi tersebut kepada warga setempat. Karena
tidak terlihat papan nama agen makanan beku sama sekali.
Karisma dan Dita mencoba
berkeliling sembari menelepon nomor agen tersebut, kemudian menghampiri mas-mas
penjual es buah dan kuli bangunan di sekitar untuk memastikan dan menanyakan
lokasi agen tersebut. Namun, mereka tidak mengetahui lokasi agen penjual makanan
beku di area tersebut. Selanjutnya, kami mencari beberapa opsi lagi di Google
Maps. Kami berdiskusi untuk memilih beberapa opsi yang akan di kunjungi
berikutnya.
Setelah memutuskan
destinasi berikutnya, dengan hujan yang masih lebat kami memaksa untuk
melanjutkan perjalanan pencarian roti Maryam. Lagi-lagi kami tidak menemukan
agen yang sesuai pada alamat yang tertera di Google Maps, sontak Adi bertanya
kepada tukang parkir untuk menanyakan alamat tersebut. Tukang parkir memberikan
informasi bahwa toko tersebut telah berpindah tempat ke seberang jalan.
Setelah mendapatkan
informasi tersebut kami langsung berjalan menuju lokasi yang diberikan oleh
tukang parkir tadi. Setibanya di lokasi, tanpa melepas helm Karisma langsung
bertanya kepada penjual “Permisi bu, apakah menjual roti Maryam beku?”. “ada
mbak” jawab ibu penjual. Seketika kami sangat bersyukur setelah perjalanan yang
dramatis akhirnya bisa menemukan roti Maryam yang kita cari. Kami langsung
mengecek pada freezer dan kami mencoba membeli varian rasa campuran (mix) yang
terdiri dari rasa original dan coklat.
Dengan kondisi cuaca
yang masih hujan lebat dan banjir di jalanan, kami bertekad untuk segera pulang
dan mencoba roti Maryam tersebut. Sebelumnya Karisma dan Adi mampir ke toko
untuk membeli mentega, kami semua menuju kos Adi untuk segera memasak roti
tersebut. Karena keterbatasan alat kami mencoba memasaknya menggunakan panci
listrik, yang ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama.
Setelah proses memasak kami tidak sabar untuk langsung mencoba roti Maryam yang sudah matang itu. Kami sangat kelaparan karena tidak sempat makan siang dan kehujanan di jalan sehingga membuat badan kami basah kuyup. karena baru Satu roti Maryam yang matang, Karisma membagi menjadi lima potong agar semua bisa mencobanya.
Setelah mencoba kami merasa bahwa roti tersebut enak. “Wah, enak sekali ternyata” ucap Dita. Kami melanjutkan untuk memasak semua roti Maryam tadi, dan memutuskan untuk menjadikan agen tersebut sebagai pemasok roti Maryam kita.
CHAPTER 3:
PEMANTAPAN IDE DAN STRATEGI BISNIS
Pada hari kamis, setelah
pertemuan kelas kami melanjutkan diskusi untuk menyusun Business plan dengan
ide yang telah kami sepakati. Di gazebo FEBI kami saling berbagi pendapat
mengenai penyusunan strategi bisnis yang akan kami jalankan, mulai dari penyusunan
latar belakang usaha, perumusan visi misi usaha, dan pembentukan struktur organisasi usaha.
Pada latar belakang
usaha kami menekankan faktor kurang dikenalnya makanan roti Maryam ini dikalang
anak muda zaman sekarang. Kami mencoba untuk memperkenalkan cita rasa dari roti
khas Timur Tengah itu, dengan berinovasi menawarkan berbagai varian rasa serta harga
yang terjangkau.
Visi yang kami junjung
yaitu: Menjadi pelopor dalam memperkenalkan dan menghidangkan Roti Maryam dengan
keunikan berbagai macam rasa serta kelezatan yang khas kepada kalangan anak muda
sehingga menjadi pilihan utama dalam menikmati makanan yang murah dan dapat menunda
rasa lapar.
Untuk mencapai visi
tersebut kami merumuskan beberapa misi yang akan kami kerjakan, antara lain:
1.
Menawarkan roti maryam
dengan kualitas yang terbaik dan rasa yang beragam;
2. Memperkenalkan roti maryam kepada kalangan anak muda dengan keunikan berbagai macam rasa dan kelezatan yang khas sebagai pilihan makanan yang murah serta dapat menunda rasa lapar;
3. Memperluas jangkauan pasar melalui media sosial, serta mengembangkan kemitraan strategis dengan restoran, kafe, dan toko-toko makanan;
4.
Menawarkan harga yang
terjangkau dan kompetitif.
Pembagian struktur
organisasi ini meliputi berbagai posisi mulai dari Adi Nugroho sebagai Ketua, Dita
Maharani dan Femina Nur Haliza sebagai Tim Produksi, Karisma Nur Eka sebagai Keuangan,
dan Rollanda Alvin Aditiya sebagai Pemasaran.
Setelah menyusun
beberapa hal tersebut, kami kembali berdiskusi untuk menentukan kemasan dan
varian rasa apa yang akan digunakan. Kami mencari berbagai referensi kemasan
dan rasa yang sekiranya cocok untuk produk kita, kami melakukan pencarian di
berbagai sumber seperti media sosial dan E-Commerce. Setelah pencarian
itu kami berdebat untuk menentukan kemasan berbahan plastik atau kertas.
“Kertas saja yang lebih ramah lingkungan” usul Alvin. Sontak Adi menjawab
“Plastik saja biar lebih mudah dan murah”. Setelah mempertimbangkan berbagai
faktor kami pun bersepakat untuk menggunakan kemasan berbahan dasar kertas
saja.
Setelah bersepakat untuk
menggunakan kemasan kertas, kami melanjutkan berdiskusi untuk menentukan varian
rasa apa yang akan kami tawarkan. Kami menawarkan 5 varian rasa, Coklat menjadi
pilihan yang paling pertama kami tawarkan, karena mengingat banyak orang
menyukai rasa manis dari coklat. Tiramisu menjadi pilihan aman kedua karena sangat
cocok untuk di padu padankan dengan roti Maryam. Selanjutnya Liza mengusulkan
varian rasa yang ketiga yaitu Matcha dan Dita mengusulkan rasa Strawberry serta
Blueberry sebagai pasangannya.
Hal selanjutnya yang tidak
kalah penting untuk di susun yaitu melakukan analisis pasar. Analisis pasar ini
sangatlah penting untuk mengetahui berbagai hal meliputi kondisi pasar, peluang
usaha, dan lain sebagainya. Analisis SWOT menjadi metode yang kami pilih,
karena kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan, peluang serta ancaman yang
terjadi di pasaran.
Modal menjadi tumpuan
utama dalam menjalankan suatu usaha. Karena tanpa modal, bisnis ini tidak akan
bisa berjalan. Kami melakukan penghitungan modal awal yang dibutuhkan untuk memproduksi
roti Maryam ini. Setelah memperhitungkan berbagai kebutuhan, kami pun
bersepakat untuk mengeluarkan iuran sebesar Rp 20.000,- per anggota sebagai
modal awal usaha, dengan total modal awal terkumpul sebesar Rp 100.000,-
Strategi pemasaran dan
rencana pasar merupakan faktor penting untuk menjalankan bisnis dalam jangka
panjang. Dengan menetapkan strategi pemasaran yang tepat menjadikan bisnis ini
berjalan dengan optimal, dalam penetapannya kami menggunakan metode bauran
pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari 4P (Product, Price,
Place, Promotion). Media sosial menjadi alat utama kami untuk melakukan
pemasaran produk ini, dengan memanfaatkan jaringan atau relasi kerabat dan
teman-teman terdekat sebagai targetnya.
Melihat target utama pasar kami yaitu kalangan anak muda yang didominasi para mahasiswa, maka kami melakukan penyesuaian harga produk agar lebih terjangkau dan kompetitif. Ada beberapa usulan harga jual mulai dari Rp 2.500/pcs sampai Rp 5.000/pcs. Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti biaya produksi dan laba yang akan kita ambil, kami pun memutuskan untuk menjual roti Maryam ini dengan harga Rp 4.000/pcs.
Metode penjualan yang kami gunakan yaitu sistem Pre-Order (PO), di mana kami membuka pesanan terlebih dahulu, lalu akan memproduksi sesuai dengan pesanan yang telah diterima. Agar mengurangi risiko produk tidak laku. Selain sistem PO, kami juga memanfaatkan kerja sama dengan mitra seperti Jujugan Cafe FEBI, kami menitipkan sejumlah produk untuk dijual.
CHAPTER 4:
EKSEKUSI IDE BISNIS
Setelah pemantapan
ide dan strategi bisnis, kami langsung mengeksekusi bisnis tersebut dengan
langkah awal pembagian tugas. Alvin bertugas sebagai konten kreator pemasaran
dengan membuat logo bisnis dan poster-poster yang akan dibagikan untuk
menjangkau konsumen yang lebih luas. Liza, Dita, dan Karisma melakukan
pencarian agen roti Maryam yang lebih terjangkau, dan mencari kemasan serta
varian rasa yang sesuai. Untuk roti Maryam berencana untuk mencari agen lain
yang lebih dekat.
Sembari
melakukan pencarian bahan-bahan tersebut, kami juga membagikan poster Pre-Order
(PO) dan promo dengan jangka waktu 3 hari pemesanan. Kami menawarkan promo paket
menarik yaitu paket bundling, di mana untuk pembelian 4 pcs kami berikan harga
hanya Rp 15.000 untuk 5 pembeli pertama. Target awal kami hanya menjual 20 pcs
roti Maryam, ternyata antusias konsumen sangat tinggi hingga pesanan kami
mencapai 2 kali lipat dari target awal dengan total 40 pesanan.
Kami
memutuskan untuk melanjutkan pencarian agen-agen makanan beku lainnya, karena
agen yang kami sepakati di awal lokasinya terlalu jauh dan juga harganya lebih
mahal. Kami menemukan beberapa agen baru dengan produk yang lebih baik dan
harga yang lebih terjangkau. Kami pun memutuskan untuk mengambil agen yang
berlokasi di Pabelan, Kartasura.
Di hari
yang sama Karisma, Dita, dan Liza mencari selai (glaze) sesuai dengan varian
rasa yang telah di sepakati. Toko bahan kue joyoboyo menjadi lokasi pertama yang
kami kunjungi, di toko tersebut kami hanya menemukan varian rasa Matcah dan Tiramisu.
Disaat mencium aroma khas tiramisu Karisma menyeletuk “emm, aromanya enak sekali”.
“wah mantap sekali aromanya” jawab Dita.
Sayangnya
pada toko tersebut kami tidak menemukan rasa lainnya, kemudian kami melanjutkan
pencarian ke toko berikutnya yang berlokasi tidak jauh dari tempat sebelumnya. Ketika
sedang menelusuri rak untuk mencari rasa yang lain, kami malah menemukan
kemasan pilihan kita. Sontak Dita bergegas menginfokan ke grub WhatsApp bahwa di
toko tersebut juga menjual kemasan yang sesuai dengan kesepakatan di awal. Tanpa
pikir panjang kami pun langsung membeli kemasan dan rasa yang masih kurang
tadi.
Di hari berikutnya, kami langsung berkumpul di depan kos Adi untuk pembagian tugas produksi. Alvin dan Adi bertugas untuk mengemasi selai (glaze) tadi ke dalam kemasan yang lebih kecil yaitu plastik klip. Sedangkan Dita, Karisma, dan Liza bertugas untuk memasak roti Maryam. Mereka bertiga langsung bergegas menuju kos liza untuk mengeksekusinya.
Pada saat memasak ternyata kami mengalami kesulitan karena kami harus memasaknya satu per satu untuk mendapatkan kematangan yang sempurna. Setelah memakan waktu sekitar 3 jam, akhirnya roti Maryam ini pun siap dikemas. Kami pun mengemasinya sesuai dengan pesanan pelanggan dengan menuliskan varian rasanya pada kemas agar tidak tertukar.
Di tengah proses pengemasan tersebut tiba-tiba datanglah Nabilla, yang merupakan pelanggan pertama kami untuk mengambil pesanannya. Nabilla langsung mencobanya di depan kami, “Bagaimana rotinya? Enak tidak?” Tanya Liza. Sontak Nabilla memberikan dua jempolnya sambil menganggukkan kepala kepada kami, yang menandakan bahwa roti tersebut enak.
Setelah selesai mengemasi semua roti Maryam, kami langsung bergegas untuk menyerahkan kepada konsumen lain sesuai dengan pesanannya. Kami menggunakan sistem Cash On Delivery (COD) untuk memudahkan dalam melakukan transaksi. Selain membuat pesanan untuk para konsumen, kami juga menyiapkan beberapa roti Maryam yang kemudian dititipkan ke Jujugan Cafe FEBI.
CHAPTER 5:
EVALUASI BISNIS
Dalam
menjalankan suatu bisnis pasti banyak hal yang terlewat dan kurang maksimal,
oleh karena itu evaluasi ini di perlukan guna memperbaiki jalannya bisnis agar
lebih optimal. Apalagi untuk kami yang baru pertama kali menjalankan bisnis
baru yang di mulai dari nol, kurangnya pengalaman yang kami miliki mengharuskan
kami untuk terus belajar dan mengamati kebutuhan konsumen.
Meskipun kami telah
menyiapkan kebutuhan yang sesuai dengan rencana, ide, dan strategi bisnis yang
telah kami rumuskan, tentunya kondisi nyata di pasaran masih banyak yang luput
dari analisa kami. Maka dari itu pada saat eksekusi bisnis ini kami tentunya
memiliki berbagai hal yang harus di benahi.
Evaluasi pertama yang sangat
kami perhatikan tentang luputnya ketelitian kami dalam proses pengemasan yang di
lakukan, sehingga membuat 2 pesanan tidak lengkap yaitu tidak adanya selai (glaze)
dalam kemasan. Kesalahan ini kami sadari ketika ada pelanggan yang menyampaikan
komplain terkait pesanannya kepada Dita
dan Karisma melalui WhatsApp. Hal ini membuat kami merasa bersalah, dan
langsung mengatasinya dengan meminta maaf serta mengganti selai (glaze) yang
kurang.
Modal menjadi evaluasi
kedua yang kami bahas, karena perhitungan modal di awal tidak sesuai dengan
kebutuhan yang dikeluarkan untuk saat proses produksi. Kenyataannya, modal yang
kami hitung di awal dengan nominal sebesar Rp 100.000 masih kurang untuk
menutup biaya produksi yang dibutuhkan. Sehingga kami pun melakukan
penghitungan ulang dengan lebih terperinci mulai dari biaya untuk membeli roti
Maryam, selai, hingga kemasan. Lantas, kami pun menemukan kesalahan perhitungan
pada pembelian selai (glaze) tidak sesuai dengan harga yang sudah di anggarkan.
Faktor utama kenapa
modal ini mengalami pembengkakan, karena target awal penjualan kami hanya 20
pcs, yang ternyata permintaan pasar sangat tinggi sehingga kami menerima 40 pcs
pesanan yang berarti 2 kali lipat dari target awal penjualan. Hal ini lah, yang
membuat tim produksi dan keuangan harus menalangi sebagian besar biaya tambahan
di luar perhitungan awal.
Saat kami menghitung omset
yang kami dapatkan, ternyata tidak sesuai dengan perkiraan di awal. Sontak, kami
pun mencari-cari ke mana uang itu pergi. “ada yang belum bayar pesanan itu
pasti” tanya Alvin dengan kecurigaan. “sudah semua” bantah Dita. Lalu Karisma
sebagai penanggung jawab keuangan dalam bisnis ini, melakukan penghitungan
ulang terhadap pengeluaran dan pendapatan yang diperoleh. Setelah berpikir
cukup lama, akhirnya Karisma menemukan titik terang.
Ternyata, pada saat melakukan pembelian bahan produksi berupa selai (glaze) dan kemasan kami tidak membelinya sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga membuat biaya produksi meningkat. Hal ini, membuat keuntungan yang kami dapatkan sangat sedikit. Namun dengan keuntungan yang hanya sebesar Rp 5.000 membuat kami masih memiliki persediaan bahan yang cukup untuk beberapa pesanan.
Setelah mengevaluasi hal-hal tersebut, kami pun merencanakan bisnis yang lebih baik lagi ke depannya. Kami berkomitmen untuk melanjutkan kembali usaha ini sebagai media pembelajaran kewirausahaan dan membangun mentalitas sebagai seorang wirausahawan.
~
“kepuasaan pelanggan prioritas kami”
“do the best, be the best, and always best of the best”
“work hard, pray hard, istirahard”
~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar