KEWIRAUSAHAAN ISLAM - MARYAM YUMMY

CERITA PERJALANAN KEWIRAUSAHAAN

“MARYAM YUMMY”




========================================================

CHAPTER 1:

PROSES PENEMUAN IDE BISNIS

Pada perkuliahan semester 4 ini kami dipertemukan dengan mata kuliah Kewirausahaan Islam, dengan dosen pengampu mata kuliah Ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Beliau memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat sebuah rancangan bisnis atau biasa disebut dengan business plan yang kemudian akan di eksekusi bersama oleh masing-masing kelompok yang telah dibagi.

Kami mendapat kelompok 3 yang berjumlah 5 orang beranggotakan dari Karisma Nur Eka, Dita Maharani, Femina Nur Haliza, Rollanda Alvin Aditiya, dan Adi Nugroho. Setelah pertemuan kelas selesai, kami langsung membuat grup WhatsApp guna memudahkan dalam berkoordinasi dan berdiskusi lebih lanjut terkait produk yang akan kita jual.

Dalam grup tersebut, kami berdiskusi dan menumpahkan semua ide-ide bisnis yang masing-masing kami miliki. Ide bisnis ini kami dapatkan dari berbagai sumber referensi melalui media sosial mulai dari TikTok, Instagram, Youtube, dan juga artikel Google. Dengan produk yang sangat beraneka ragam mulai dari Ide bisnis di bidang kuliner seperti jelly ball, mochi, pisang coklat, bola-bola coklat, batagor mercon, es cendol dawet hingga ide bisnis di bidang jasa seperti jasa pengerjaan tugas hingga bimbingan belajar.

Suatu ketika, pada saat jam makan siang Karisma dan Liza makan di warung ayam geprek, di depan warung makan tersebut terdapat pedagang bertopi menjual roti Maryam. Sontak Karisma berkata "Wah ada roti Maryam, sudah lama aku tidak melihatnya", "Roti Maryam bentuknya seperti apa sih?" tanya Liza penasaran apa itu roti Maryam,  "mau coba?" jawab Karisma.

Setelah selesai makan ayam geprek, Karisma dan Liza mencoba untuk membeli roti Maryam dengan varian rasa coklat. Ternyata dengan harga sebesar Rp 8.000/pcs untuk sebuah roti Maryam terbilang cukup mahal. Dengan harga tersebut masih dibilang sepadan, karena roti Maryam ini memiliki ukuran yang cukup besar meskipun rasanya biasa saja.

Setelah mencoba membeli roti Maryam tersebut, tercetuslah ide untuk menjual roti Maryam dengan harga yang lebih terjangkau dan rasa yang lebih nikmat serta beragam. Lantas, Liza dan Karisma menyampaikan ide tersebut pada grup WhatsApp guna berdiskusi lebih lanjut mengenai ide bisnis roti Maryam.

Di keesokan harinya setelah pertemuan kelas kami mencoba berdiskusi secara langsung mengenai produk apa yang akan kita jual. Pasalnya pada saat berdiskusi melalui grup WhatsApp kami tidak menemukan kesepakatan bersama. Di Gazebo FEBI kami mulai berdiskusi lagi terkait ide-ide bisnis yang sudah kami bagikan pada grup WhatsApp yang kemudian kami pertimbangkan satu per satu efisiensi dan efektivitas dari ide bisnis yang sudah ada.

Setelah berdiskusi yang cukup lama dengan menganalisis berbagai faktor dari masing-masing ide bisnis tadi, kami bersepakat menentukan produk yang akan kami jual yaitu roti Maryam. Awalnya kami ingin memproduksi roti Maryam sendiri namun setelah melihat tutorial di YouTube, kami merasa memiliki keterbatasan dalam memproduksi dengan risiko kegagalan yang cukup besar. Sehingga, kami memutuskan untuk membeli roti Maryam yang sudah setengah jadi dalam bentuk makanan beku.

Beberapa faktor mengapa kami memilih roti Maryam sebagai produk yang akan kami jual, di antaranya:

    1.     Bahan baku mudah didapat

Kami bersepakat untuk menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi berupa makanan beku (frozen food) yang mudah kami dapat di agen-agen makanan beku terdekat.

    2.     Proses pengolahan tidak terlalu rumit

Karena kami menggunakan bahan baku yang sudah setengah jadi dalam bentuk beku. Jadi, kami hanya perlu mengolahnya sebentar dengan cara dipanggang menggunakan mentega.

    3.     Belum banyak pesaing

   Kami melihat roti Maryam ini memiliki peluang yang cukup menjanjikan. Karena, belum banyak pesaing di pasaran. Dan juga sebagai sarana kami memperkenalkan kuliner tersebut.


CHAPTER 2:

UJI COBA PERTAMA 

Setelah kami bersepakat menentukan ide bisnis. Di kemudian hari kami langsung melakukan uji coba pertama dengan langkah awal yaitu mencari bahan baku di agen makanan beku. Kami melakukan pencarian ke beberapa agen makanan beku (frozen food) yang ternyata kami malah menghadapi kesulitan dalam menemukan adonan roti Maryam tersebut. Kami mencoba mencari di beberapa toko online (E-Commerce) yang sebenarnya memiliki harga cukup murah, tetapi kami memiliki keraguan jika barang tidak berkualitas dan risiko basi saat pengiriman.

Sehingga kami memutuskan untuk mencari agen makanan beku terdekat melalui Google Maps, muncullah beberapa opsi. Kemudian kami kunjungi satu per satu agen terdekat. Opsi pertama kami mengunjungi SuperIndo, kami segera masuk ke dalam dan mencari bagian makanan beku (frozen food) namun kami tidak menemukan roti Maryam tersebut di dalam freezer. Sontak kami merasa kecewa karena tidak menemukannya.

Kami pergi ke opsi selanjutnya yaitu agen makanan beku di daerah Colomadu. Kami mengendarai sepeda motor menuju lokasi tersebut, ketika hampir sampai di lokasi hujan mulai turun dan kami bergegas untuk segera berteduh di dekat lokasi. Sambil berteduh di rumah warga kami mencoba menanyakan lokasi tersebut kepada warga setempat. Karena tidak terlihat papan nama agen makanan beku sama sekali.

Karisma dan Dita mencoba berkeliling sembari menelepon nomor agen tersebut, kemudian menghampiri mas-mas penjual es buah dan kuli bangunan di sekitar untuk memastikan dan menanyakan lokasi agen tersebut. Namun, mereka tidak mengetahui lokasi agen penjual makanan beku di area tersebut. Selanjutnya, kami mencari beberapa opsi lagi di Google Maps. Kami berdiskusi untuk memilih beberapa opsi yang akan di kunjungi berikutnya.

Setelah memutuskan destinasi berikutnya, dengan hujan yang masih lebat kami memaksa untuk melanjutkan perjalanan pencarian roti Maryam. Lagi-lagi kami tidak menemukan agen yang sesuai pada alamat yang tertera di Google Maps, sontak Adi bertanya kepada tukang parkir untuk menanyakan alamat tersebut. Tukang parkir memberikan informasi bahwa toko tersebut telah berpindah tempat ke seberang jalan.

Setelah mendapatkan informasi tersebut kami langsung berjalan menuju lokasi yang diberikan oleh tukang parkir tadi. Setibanya di lokasi, tanpa melepas helm Karisma langsung bertanya kepada penjual “Permisi bu, apakah menjual roti Maryam beku?”. “ada mbak” jawab ibu penjual. Seketika kami sangat bersyukur setelah perjalanan yang dramatis akhirnya bisa menemukan roti Maryam yang kita cari. Kami langsung mengecek pada freezer dan kami mencoba membeli varian rasa campuran (mix) yang terdiri dari rasa original dan coklat.

Dengan kondisi cuaca yang masih hujan lebat dan banjir di jalanan, kami bertekad untuk segera pulang dan mencoba roti Maryam tersebut. Sebelumnya Karisma dan Adi mampir ke toko untuk membeli mentega, kami semua menuju kos Adi untuk segera memasak roti tersebut. Karena keterbatasan alat kami mencoba memasaknya menggunakan panci listrik, yang ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama.

Setelah proses memasak kami tidak sabar untuk langsung mencoba roti Maryam yang sudah matang itu. Kami sangat kelaparan karena tidak sempat makan siang dan kehujanan di jalan sehingga membuat badan kami basah kuyup. karena baru Satu roti Maryam yang matang, Karisma membagi menjadi lima potong agar semua bisa mencobanya.

Setelah mencoba kami merasa bahwa roti tersebut enak. “Wah, enak sekali ternyata” ucap Dita. Kami melanjutkan untuk memasak semua roti Maryam tadi, dan memutuskan untuk menjadikan agen tersebut sebagai pemasok roti Maryam kita.


CHAPTER 3:

PEMANTAPAN IDE DAN STRATEGI BISNIS

Pada hari kamis, setelah pertemuan kelas kami melanjutkan diskusi untuk menyusun Business plan dengan ide yang telah kami sepakati. Di gazebo FEBI kami saling berbagi pendapat mengenai penyusunan strategi bisnis yang akan kami jalankan, mulai dari  penyusunan  latar belakang usaha, perumusan visi misi usaha,  dan pembentukan struktur organisasi usaha.

Pada latar belakang usaha kami menekankan faktor kurang dikenalnya makanan roti Maryam ini dikalang anak muda zaman sekarang. Kami mencoba untuk memperkenalkan cita rasa dari roti khas Timur Tengah itu, dengan berinovasi menawarkan berbagai varian rasa serta harga yang terjangkau.

Visi yang kami junjung yaitu: Menjadi pelopor dalam memperkenalkan dan menghidangkan Roti Maryam dengan keunikan berbagai macam rasa serta kelezatan yang khas kepada kalangan anak muda sehingga menjadi pilihan utama dalam menikmati makanan yang murah dan dapat menunda rasa lapar.

Untuk mencapai visi tersebut kami merumuskan beberapa misi yang akan kami kerjakan, antara lain:

      1.     Menawarkan roti maryam dengan kualitas yang terbaik dan rasa yang beragam;

    2.  Memperkenalkan roti maryam kepada kalangan anak muda dengan keunikan berbagai macam rasa dan kelezatan yang khas sebagai pilihan makanan yang murah serta dapat menunda rasa lapar;

    3.  Memperluas jangkauan pasar melalui media sosial, serta mengembangkan kemitraan strategis dengan restoran, kafe, dan toko-toko makanan;

       4.     Menawarkan harga yang terjangkau dan kompetitif.

Pembagian struktur organisasi ini meliputi berbagai posisi mulai dari Adi Nugroho sebagai Ketua, Dita Maharani dan Femina Nur Haliza sebagai Tim Produksi, Karisma Nur Eka sebagai Keuangan, dan Rollanda Alvin Aditiya sebagai Pemasaran.

Setelah menyusun beberapa hal tersebut, kami kembali berdiskusi untuk menentukan kemasan dan varian rasa apa yang akan digunakan. Kami mencari berbagai referensi kemasan dan rasa yang sekiranya cocok untuk produk kita, kami melakukan pencarian di berbagai sumber seperti media sosial dan E-Commerce. Setelah pencarian itu kami berdebat untuk menentukan kemasan berbahan plastik atau kertas. “Kertas saja yang lebih ramah lingkungan” usul Alvin. Sontak Adi menjawab “Plastik saja biar lebih mudah dan murah”. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor kami pun bersepakat untuk menggunakan kemasan berbahan dasar kertas saja.

Setelah bersepakat untuk menggunakan kemasan kertas, kami melanjutkan berdiskusi untuk menentukan varian rasa apa yang akan kami tawarkan. Kami menawarkan 5 varian rasa, Coklat menjadi pilihan yang paling pertama kami tawarkan, karena mengingat banyak orang menyukai rasa manis dari coklat. Tiramisu menjadi pilihan aman kedua karena sangat cocok untuk di padu padankan dengan roti Maryam. Selanjutnya Liza mengusulkan varian rasa yang ketiga yaitu Matcha dan Dita mengusulkan rasa Strawberry serta Blueberry sebagai pasangannya.

Hal selanjutnya yang tidak kalah penting untuk di susun yaitu melakukan analisis pasar. Analisis pasar ini sangatlah penting untuk mengetahui berbagai hal meliputi kondisi pasar, peluang usaha, dan lain sebagainya. Analisis SWOT menjadi metode yang kami pilih, karena kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan, peluang serta ancaman yang terjadi di pasaran.

Modal menjadi tumpuan utama dalam menjalankan suatu usaha. Karena tanpa modal, bisnis ini tidak akan bisa berjalan. Kami melakukan penghitungan modal awal yang dibutuhkan untuk memproduksi roti Maryam ini. Setelah memperhitungkan berbagai kebutuhan, kami pun bersepakat untuk mengeluarkan iuran sebesar Rp 20.000,- per anggota sebagai modal awal usaha, dengan total modal awal terkumpul sebesar Rp 100.000,-

Strategi pemasaran dan rencana pasar merupakan faktor penting untuk menjalankan bisnis dalam jangka panjang. Dengan menetapkan strategi pemasaran yang tepat menjadikan bisnis ini berjalan dengan optimal, dalam penetapannya kami menggunakan metode bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari 4P (Product, Price, Place, Promotion). Media sosial menjadi alat utama kami untuk melakukan pemasaran produk ini, dengan memanfaatkan jaringan atau relasi kerabat dan teman-teman terdekat sebagai targetnya.

Melihat target utama pasar kami yaitu kalangan anak muda yang didominasi para mahasiswa, maka kami melakukan penyesuaian harga produk agar lebih terjangkau dan kompetitif. Ada beberapa usulan harga jual mulai dari Rp 2.500/pcs sampai Rp 5.000/pcs. Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti biaya produksi dan laba yang akan kita ambil, kami pun memutuskan untuk menjual roti Maryam ini dengan harga Rp 4.000/pcs.

Metode penjualan yang kami gunakan yaitu sistem Pre-Order (PO), di mana kami membuka pesanan terlebih dahulu, lalu akan memproduksi sesuai dengan pesanan yang telah diterima. Agar mengurangi risiko produk tidak laku. Selain sistem PO, kami juga memanfaatkan kerja sama dengan mitra seperti Jujugan Cafe FEBI, kami  menitipkan sejumlah produk untuk dijual.


CHAPTER 4:

EKSEKUSI IDE BISNIS 

          Setelah pemantapan ide dan strategi bisnis, kami langsung mengeksekusi bisnis tersebut dengan langkah awal pembagian tugas. Alvin bertugas sebagai konten kreator pemasaran dengan membuat logo bisnis dan poster-poster yang akan dibagikan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Liza, Dita, dan Karisma melakukan pencarian agen roti Maryam yang lebih terjangkau, dan mencari kemasan serta varian rasa yang sesuai. Untuk roti Maryam berencana untuk mencari agen lain yang lebih dekat.

        Sembari melakukan pencarian bahan-bahan tersebut, kami juga membagikan poster Pre-Order (PO) dan promo dengan jangka waktu 3 hari pemesanan. Kami menawarkan promo paket menarik yaitu paket bundling, di mana untuk pembelian 4 pcs kami berikan harga hanya Rp 15.000 untuk 5 pembeli pertama. Target awal kami hanya menjual 20 pcs roti Maryam, ternyata antusias konsumen sangat tinggi hingga pesanan kami mencapai 2 kali lipat dari target awal dengan total 40 pesanan.

            Kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian agen-agen makanan beku lainnya, karena agen yang kami sepakati di awal lokasinya terlalu jauh dan juga harganya lebih mahal. Kami menemukan beberapa agen baru dengan produk yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau. Kami pun memutuskan untuk mengambil agen yang berlokasi di Pabelan, Kartasura.

            Di hari yang sama Karisma, Dita, dan Liza mencari selai (glaze) sesuai dengan varian rasa yang telah di sepakati. Toko bahan kue joyoboyo menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi, di toko tersebut kami hanya menemukan varian rasa Matcah dan Tiramisu. Disaat mencium aroma khas tiramisu Karisma menyeletuk “emm, aromanya enak sekali”. “wah mantap sekali aromanya” jawab Dita.

            Sayangnya pada toko tersebut kami tidak menemukan rasa lainnya, kemudian kami melanjutkan pencarian ke toko berikutnya yang berlokasi tidak jauh dari tempat sebelumnya. Ketika sedang menelusuri rak untuk mencari rasa yang lain, kami malah menemukan kemasan pilihan kita. Sontak Dita bergegas menginfokan ke grub WhatsApp bahwa di toko tersebut juga menjual kemasan yang sesuai dengan kesepakatan di awal. Tanpa pikir panjang kami pun langsung membeli kemasan dan rasa yang masih kurang tadi.

            Di hari berikutnya, kami langsung berkumpul di depan kos Adi untuk pembagian tugas produksi. Alvin dan Adi bertugas untuk mengemasi selai (glaze) tadi ke dalam kemasan yang lebih kecil yaitu plastik klip. Sedangkan Dita, Karisma, dan Liza bertugas untuk memasak roti Maryam. Mereka bertiga langsung bergegas menuju kos liza untuk mengeksekusinya.

         Pada saat memasak ternyata kami mengalami kesulitan karena kami harus memasaknya satu per satu untuk mendapatkan kematangan yang sempurna. Setelah memakan waktu sekitar 3 jam, akhirnya roti Maryam ini pun siap dikemas. Kami pun mengemasinya sesuai dengan pesanan pelanggan dengan menuliskan varian rasanya pada kemas agar tidak tertukar.

            Di tengah proses pengemasan tersebut tiba-tiba datanglah Nabilla, yang merupakan pelanggan pertama kami untuk mengambil pesanannya. Nabilla langsung mencobanya di depan kami, “Bagaimana rotinya? Enak tidak?” Tanya Liza. Sontak Nabilla memberikan dua jempolnya sambil menganggukkan kepala kepada kami, yang menandakan bahwa roti tersebut enak. 

       Setelah selesai mengemasi semua roti Maryam, kami langsung bergegas untuk menyerahkan kepada konsumen lain sesuai dengan pesanannya. Kami menggunakan sistem Cash On Delivery (COD) untuk memudahkan dalam melakukan transaksi. Selain membuat pesanan untuk para konsumen, kami juga menyiapkan beberapa roti Maryam yang kemudian dititipkan ke Jujugan Cafe FEBI.


CHAPTER 5:

EVALUASI BISNIS

            Dalam menjalankan suatu bisnis pasti banyak hal yang terlewat dan kurang maksimal, oleh karena itu evaluasi ini di perlukan guna memperbaiki jalannya bisnis agar lebih optimal. Apalagi untuk kami yang baru pertama kali menjalankan bisnis baru yang di mulai dari nol, kurangnya pengalaman yang kami miliki mengharuskan kami untuk terus belajar dan mengamati kebutuhan konsumen.

Meskipun kami telah menyiapkan kebutuhan yang sesuai dengan rencana, ide, dan strategi bisnis yang telah kami rumuskan, tentunya kondisi nyata di pasaran masih banyak yang luput dari analisa kami. Maka dari itu pada saat eksekusi bisnis ini kami tentunya memiliki berbagai hal yang harus di benahi.

Evaluasi pertama yang sangat kami perhatikan tentang luputnya ketelitian kami dalam proses pengemasan yang di lakukan, sehingga membuat 2 pesanan tidak lengkap yaitu tidak adanya selai (glaze) dalam kemasan. Kesalahan ini kami sadari ketika ada pelanggan yang menyampaikan komplain terkait pesanannya kepada Dita  dan Karisma melalui WhatsApp. Hal ini membuat kami merasa bersalah, dan langsung mengatasinya dengan meminta maaf serta mengganti selai (glaze) yang kurang.

Modal menjadi evaluasi kedua yang kami bahas, karena perhitungan modal di awal tidak sesuai dengan kebutuhan yang dikeluarkan untuk saat proses produksi. Kenyataannya, modal yang kami hitung di awal dengan nominal sebesar Rp 100.000 masih kurang untuk menutup biaya produksi yang dibutuhkan. Sehingga kami pun melakukan penghitungan ulang dengan lebih terperinci mulai dari biaya untuk membeli roti Maryam, selai, hingga kemasan. Lantas, kami pun menemukan kesalahan perhitungan pada pembelian selai (glaze) tidak sesuai dengan harga yang sudah di anggarkan.

Faktor utama kenapa modal ini mengalami pembengkakan, karena target awal penjualan kami hanya 20 pcs, yang ternyata permintaan pasar sangat tinggi sehingga kami menerima 40 pcs pesanan yang berarti 2 kali lipat dari target awal penjualan. Hal ini lah, yang membuat tim produksi dan keuangan harus menalangi sebagian besar biaya tambahan di luar perhitungan awal.

Saat kami menghitung omset yang kami dapatkan, ternyata tidak sesuai dengan perkiraan di awal. Sontak, kami pun mencari-cari ke mana uang itu pergi. “ada yang belum bayar pesanan itu pasti” tanya Alvin dengan kecurigaan. “sudah semua” bantah Dita. Lalu Karisma sebagai penanggung jawab keuangan dalam bisnis ini, melakukan penghitungan ulang terhadap pengeluaran dan pendapatan yang diperoleh. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Karisma menemukan titik terang.

Ternyata, pada saat melakukan pembelian bahan produksi berupa selai (glaze) dan kemasan kami tidak membelinya sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga membuat biaya produksi meningkat. Hal ini, membuat keuntungan yang kami dapatkan sangat sedikit. Namun dengan keuntungan yang hanya sebesar Rp 5.000 membuat kami masih memiliki persediaan bahan yang cukup untuk beberapa pesanan. 

Setelah mengevaluasi hal-hal tersebut, kami pun merencanakan bisnis yang lebih baik lagi ke depannya. Kami berkomitmen untuk melanjutkan kembali usaha ini sebagai media pembelajaran kewirausahaan dan membangun mentalitas sebagai seorang wirausahawan.



~

“kepuasaan pelanggan prioritas kami”

“do the best, be the best, and always best of the best”

“work hard, pray hard, istirahard”

~



lihat cerita lengkap bisnis kami pada video Youtube berikut ini: 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...