STORY OF GUMUN

PROLOG 

    Semua berawal di semester empat, di semester ini kami merasakan perbedaan yang cukup jauh dari semester-semester sebelumnya. Bagaimana tidak berbeda, di semester ini kami mulai fokus pada mata kuliah penjurusan, dan tentu saja kami mulai melakukan kegiatan yang lebih padat dan begitu sulit dari semester sebelumnya. 

    Pada semester ini kami mendapat mata kuliah yang ya cukup menarik untuk kami pelajari. Nama mata kuliah yang kami pelajari yaitu Kewirausahaan Islam yang diampu oleh Dosen Ibu Sri Haryanti. 

    Pada hari Senin yang cerah ini, kami tidak tahu menahu tentang Dosen mata kuliah kewirausahaan ini. kami sempat menduga bahwa beliau mungkin saja sangat galak atau yang lebih parah lagi kami takut bahwa beliau sedikit tidak asyik untuk di ajak berbincang kecil-kecilan. Jahat sekali bukan? 

    Hari ini adalah hari pertama kami masuk kuliah, sudah bisa di bayangkan bukan?, bagaimana kondisi kelas pada saat itu. Ya, tentu saja suasana kelas pada saat itu begitu ramai, suara tawa yang begitu keras, sampai obrolan-obrolan yang sangat asyik yang rasanya kami sangat tidak ingin berhenti pada topik yang kami bicarakan. 

    Dari perbincangan ini kami mendengar bahwa Dosen kami yaitu Ibu Sri Haryanti, terkenal dengan metode pembelajarannya yang unik dan interaktif. Wah, sangat keren sekali bukan?

    Tepat pada saat kami berbincang-bincang dan tertawa cukup keras, tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu lembut hingga mengeluarkan suara. 

    “Assalamualaikum, apakah benar ini kelas 4A dengan mata kuliah Kewirausahaan Islam?” 

    “Waalikumussalam, benar ibu.” sahut kami yang tiba-tiba saja terdiam sejenak. 

    “Sstttt diem, jangan berisik dosennya udah dateng.” 

    “Kayaknya itu bukan dosen deh.” 

    ”Ini ibu Sri bukan ya?” 

    “Kayaknya itu dosen yang ngajar deh.” 

    “Wahhh , cantik banget ya ibunya.” 

    Bertanya-tanya hingga menduga-duga apakah benar beliau dosen kami. Membicarakan dengan intonasi nada yang cukup rendah tetapi bisa di dengar oleh kami. Itulah yang kami lontarkan ketika dosen kewirausahaan datang. 

    Ketika dosen sedang menyiapkan alat untuk mengajar, kami cukup merasa kebingungan, hingga rasanya kelas begitu hening dan sunyi. Entahlah, kami sibuk dengan pikiran yang ada di kepala masing-masing. 


CHAPTER 1:

BIKIN BISNIS APA YA? 

    Pada pembelajaran kewirausahaan, di awali dengan adanya perkenalan, di jelaskan tentang metode pembelajaran, kedisiplinan, peraturan berpakaian, hingga tugas-tugas yang akan di buat pada semester 4 ini. Waktu terus berlalu, 2 jam lebih akhirnya mata kuliah kewirausahaan yang diampu oleh dosen Ibu Sri Haryanti sudah berakhir. 

    Rasanya sangat lelah tetapi juga sangat asik. Saat kami ingin bergegas pulang, tiba-tiba saja. 

    “Ini bikin kelompoknya mau di pilih atau milih sendiri?” seru penanggung jawab mata kuliah kewirausahaan. 

    “Milih sendiri”, sahut kami. 

    Ya tentu saja, kelas kami dengan kompak menjawab ‘Milih sendiri’. Mata kuliah kewirausahaan ini menggunakan metode tugas kelompok yang beranggotakan 5 mahasiswa dan 7 kelompok. Tugas yang diberikan oleh ibu Sri yaitu membuat businness plan yang kreatif dan inovatif. Di salah satu platform yaitu WhatsApp, kami cepat-cepatan untuk mengklik nomor kelompok dan orang yang akan kami pilih, sebut saja kami sedang war nomor kelompok. 

    Singkat cerita, pembagian kelompok sudah di tentukan, akhirnya kami semua terbagi menjadi beberapa kelompok, yang pada akhirnya kami yaitu Ghina, Ulfah, Nabila, Ubay dan Malfin berkumpul menjadi satu kelompok di mata kuliah Kewirausahaan Islam ini. 

    Rasanya sangat senang dalam pembagian kelompok ini, tetapi kami mulai memikirkan bagaimana membuat business plan, yang tentunya tugas ini tidak boleh asal-asalan dalam mengambil langkah, dan ya tentunya kami semua di haruskan untuk berpikir dan membuat strategi agar bisa membuat bisnis yang tentunya prospek ke depannya bagus dan bernilai, sebelum itu kami juga di buat pusing dengan pertanyaan 'apa yang akan kami jual?'. 


CHAPTER 2: 

MENCARI NAMA PRODUK

    Malam harinya, kami membuat grup WhatsApp. Kami mulai berdiskusi panjang tentang bagaimana business plan ini akan jalan, apa yang akan kami lakukan kedepannya, apa nama produknya, dan lain sebaginya. 

    Di dalam diskusi itu, kami menyuarakan opsi-opsi tentang produk yang akan kami jalankan. 

    "Kita mau buat apa ya?" Tanya Malfin. 

    Ulfah pun berfikir sejenak. 

    "Jujur, aku tertarik sama nasi bakar." Usulnya. 

    "Kalo aku tertarik buat jual pisang naga." Sahut Ghina. 

    "Aku sih tertarik sama cirambay." Usul Malfin. 

    “Cirambay udah gak unik Fin." sanggah Ulfah. 

    Di dalam diskusi ini pun kami membahas tentang makanan yang unik dan tentunya menarik untuk kalangan mahawiswa. Kami berdiskusi dari yang ingin membuat lumpia isi, pangsit rebus, dimsum, mini pancake, hingga kue subuh. Di dalam diskusi, kami merasakan adanya perbedaan entah itu pro ataupun kontra dari masing-masing ide. 

    Pada akhirnya, Nabilla pun membagikan sebuah link video dari platform TikTok dan menemukan makanan yang sangat menarik dengan tulisan “Cara Membuat Mini Towel Cake Roll”. 

    "Boleh juga nih." seru Ubay. 

    "Mini towel cake roll terkesan modern dan unik, tapi tetap ada unsur tradisionalnya dari dadar gulung." 

    Setelah berjam-jam kami berdiskusi panjang lebar, kami akhirnya menemukan titik temu. Kami sepakat untuk mengambil inspirasi dari Mini Towel Cake Roll. 

    Kami sudah merasa lega dengan pernyataan bahwa kami ‘sudah menemukan apa yang akan kami jual’ dan menyatakan bahwa kami ‘sudah selesai’. Ternyata dugaan kami salah besar. Membuat bussines plan tidak semudah apa yang kami bayangkan. Dari sebuah pertanyaan “Bagaimana kita bikin bussines plan” saja sudah tergambar bagaimana sulitnya membuat kosnep bussines plan. Di sisi lain kami mulai overthinking tentang apa yang akan kami lakukan. 

    Bussines plan yang sungguhan ia akan memikirkan tentag bagaimana nama produknya, bagaimana modal untuk usaha, apa saja bahan-bahan yang akan dibeli, barang apa saja yang akan kami gunakan, dan berapa keuntungan dalam sebuah bisnis. 


CHAPTER 3: 

KESULITAN MENCARI NAMA PRODUK USAHA

    Dalam perjalanan kami, kami menyadari pentingnya memiliki identitas yang kuat untuk bisnis Mini Towel Cake Roll ini. Keesokan harinya, setelah melewati banyak diskusi tentang menu dan strategi bisnis, lima sahabat itu menemui tantangan baru yaitu bagaiman menciptakan nama merek yang sempurna untuk bisnis kami. Setelah kami keluar dari ruangan A. 204, kami duduk melingkar di gedung A lantai 2 untuk membahas bagaimana tugas yang diberikan oleh dosen kami. 

    Hingga kami menggaruk-garukkan kepala karena sedang kebingungan. 

    "Sepertinya kita butuh sesuatu yang mencerminkan nama kelompok kita deh, tapi juga namanya harus yang menarik" kata Nabila yang membuka obrolan terlebih dahulu. 

    "Ya, kita butuh sesuatu yang unik terus juga gampang diingat sama pelanggan" tambah Ulfah, menatap layar handphone dengan penuh fokus. kami mulai memutar otak, mencoba memikirkan nama-nama yang sesuai dengan visi dan nilai-nilai kelompok kami. 

    "Kalo Flower Cake gimana?" usul Ghina, dengan wajah agak ragu. 

    "Masa iya Flower, kan kita ga jualan bunga" kata Nabilla, dan di sahut oleh gelak tawa Malfin, Ubay, Nabila, Ulfah dan tentunya Ghina. 

    "Apa aja sih nama merek, kayaknya susah banget yah nentuin nama merek doang" kata Ubay yang sedang kebingungan. 

    Kami terus mencatat dan mendiskusikan setiap ide-ide yang keluar, berusaha mencari yang terbaik di antara puluhan nama yang kami pikirkan. Namun, setiap nama terasa kurang pas ketika di aplikasikan dengan bisnis kami. Setelah berjam-jam brainstorming, kami masih belum menemukan nama yang cocok. Rasa frustrasi mulai menghampiri kami. 

    "Susah juga ya nyiptain nama brand yang bagus" kata Malfin, menggelengkan kepala dengan kekecewaan. 

    "Jangan Menyerah Jangan Menyerah". Seru kami yang tiba-tiba saja kompak menyanyikan lagu D’MASIV, tentunya kami tertawa terbahak-bahak dengan tingkah laku spontan ini. Kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk memikirkan apa yang akan kita lakukan untuk produk ini. kekita kita ingin meninggalkan gedung A. 

    Seketika Ubay nyeletuk 

    “Bagaimana kalo GUMUN aja?” Tanya Ubay. 

    “Lah iya iya, kenapa ga kepikiran sampai situ”, seru Malfin. Nabilla, Ulfah dan Ghina mengangguk setuju dengan pilihan Ubay. Nama tersebut mencerminkan persahabatan yang sangat erat ini, dan nama GUMUN juga mengisyaratkan dengan kata. 

    G yaitu Ghina,

    U yaitu Ulfah,

    M yaitu Malfin,

    U yaitu Ubay,

    N yaitu Nabila. 

    Semua mata mereka bersinar dengan antusiasme. Nama itu mencerminkan persahabatan mereka yang erat dan menciptakan kesan yang manis dan ceria, persis seperti yang mereka inginkan untuk bisnis ini. Kami menuju motor masing-masing dengan semangat baru. Kami siap untuk menghadapi langkah berikutnya dalam perjalanan untuk membuka bisnis Mini Towel Cake Roll kami. 


CHAPTER 4: 

PRESENTASI MENDADAK, KEPALA HAMPIR MELEDAK 

    Hari senin pun tiba, hari dimana mata kuliah kewirausahaan berlangsung. Kami ber-5 berkumpul duduk bersama selayaknya sebuah kelompok, awalnya kami kira metode pembelajarannya seperti biasa. Tapi semua berubah ketika dosen mengumumkan bahwa pada hari itu presentasi, panik mulai melanda, wajah-wajah kami pucat pasih, keringat dingin mulai menetes dan jantung mulai berdebar kencang.

    “Jangan panik!, ini adalah kesempatan kalian untuk menunjukkan kemampuan inprovisasi dan berani tampil berbeda”, kata bu Dosen bagaikan suntikan semangat bagi kami. 

    Disitu, secara spontan kami berlima merasa tertantang dengan apa yang bu Sri ucapkan. 

    “Gimana mau maju ga?” Tanya Malfin.

    “Minggu depan aja lah, aku belum hafal sama materinya.” Ujar Ulfah.

    “Lagian juga proposal-nya belum jadi.” Seru Ubay. 

    Perdebatan pro dan kontra untuk maju presentasi membuat kami bimbang untuk melakukan presentasi hari ini atau minggu depan. 

    “Untuk proposal bisa menyusul di minggu depan, sekarang presentasi seadannya saja.” Sahut bu Sri. 

    Dengan tekat bulat, kami memutuskan untuk maju, meskipun rasa gugup masih menyelimuti satu persatu, kami memaparkan ide-ide bisnis kami dengan penuh keberanian dan penuH kepercayaan diri. Meskipun awalnya ragu, kami berhasil memukau audiens dan dengan antusias teman-teman kelas memberikan aplouse. Setelah presentasi selesai, kami merasa lega karena sudah melakukan presentasi dengan baik.


CHAPTER 5: 

MEMBELI BAHAN-BAHAN 

    Hari sabtu yang sangat cerah ini, menjadi latar belakang untuk memulai petualangan baru dan seru untuk membeli bahan apa saja yang akan digunakan untuk membuat Mini Towel cake Roll ini. Di dalam toko bahan kue, kami melongo oleh berbagai pilihan tepung, gula, dan bahan lainnya yang tersusun rapih di rak yang berukuran cukup besar. 

    “Sebentar deh, ini kita tepungnya yang kiloan atau yang tinggi protein?” tanya Ghina. 

    "Kita butuh tepung yang berkualitas tinggi, tepung maizena, vanilla essen, mentega, gula pasir, susu UHT, telor, pewarna makanan yang merah sama coklat, whipping cream, gorio-rio, strawberry" kata ulfah, sambil meneliti daftar belanja yang ingin di beli. 

    Pada saat Ulfah menyebutkan bahan-bahan yang akan digunakan. Kami sangat tertegun dengan apa yang Ulfah ucapkan. 

    “Wahh banyak banget ya”, sahut Ubay. 

    “Semoga cukup ya uangnya gaes.” Tutur Malfin Setelah apa yang di sebutkan oleh Ulfah. 

    Kami langsung berpencar menyisiri rak untuk mengambil bahan apa saja yang ingin di beli. Setelah 1 jam kami mencari bahan-bahan di dalam toko bahan plastik dan bahan kue Mutiara 2, ternyata bahan-bahan di toko tersebut tidak terlalu komplit, sehingga kami harus membeli bahan-bahan tersebut di toko lain. ketika kami sudah selesai berkutit di toko Mutiara 2 kami langsung berangkat kerumah Nabilla untuk membuat Mini Towel Cake Roll. 


CHAPTER 6:

MEMBUAT MINI TOWEL CAKE ROLL

    Di siang hari yang terik, setelah kami membeli bahan cake di toko mutiara 2, kami memutuskan untuk cake di rumah Nabilla. Perjalanan kami kerumah Nabilla tidaklah mudah, jalanan terasa begitu panas dan udara terasa kering karena matahari begitu terik. Sampai akhirnya, setelah melalui perjalanan yang panjang, kami tiba dirumah Nabilla. Rasa lelah seketika lenyap ketika melihat rumah Nabilla yang begitu sejuk karena terdapat banyak pepohonan dan tanaman yang hijau. 

    “ Assalamualaikum billa” seru Ghina, Ulfah, Ubay, dan Malfin 

    “Waalaikumsalam ayo masuk dulu” sahut Nabilla 

    “Bill disini yang jual gorio-rio dimana ya? tadi di toko Mutiara 2 ga ada” tanya Ghina 

    “Ada tu di toko Asfa yuk sama aku belinya” Malfin, Ubay, dan Ulfah bergegas masuk ke dalam rumah Nabilla untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat mini towel cake roll. 

    Setelah Nabilla dan Ghina mendapatkan gorio-rio, kami langsung bergegas membuat mini towel cake roll. Kami kira membuat Mini towel Cake Roll begitu mudah seperti apa yang kami lihat di Platform Tiktok, ternyata begitu sulit untuk di buat. Ternyata kami harus menakar bahan-bahan cake dengan teliti. 

    “Ini tepung maizena, tepung terigu, gula berapa gram?”. Tanya Malfin. 

    “35 gram tepung terigu, tepung maizena 5 gram sama gula halusnya 1,5 sendok makan”. Jawab Ulfah.  

    “Bentar deh, aku punya timbangan, timbang pake ini aja”, sahut Nabilla memberikan alat timbangan makanan. 

    “Ini takaran susunya berapa sendok makan?”. Tanya Ghina yang hendak memasukkan ke air dalam wadah. 

    “Takaran susunya 250 ml, kalo liat dari resep di tiktok si kayak gitu”. Jawab ulfah yang sedang serius menatap di layar handphone. 

    Setelah kami membuat takaran yang di kira cukup, kami langsung mengeksekusi bahan bahan apa saja yang akan kami buat. Ketika kami membuat adonan kulit Mini Towel Cake ini ternyata tidak semudah apa yang ada di platform TikTok. Dari adonan yang terlalu cair, adonan yang begitu kental, terlalu tebal, terlalu tipis, tidak bulat sempurna, kulit adonan yang menempel di teflon, kulit adonan yang berlubang hingga adonan kulit menjadi gosong.  


CHAPTER 7:

UBAY: SAKIT KEPALA BIKIN MERANA

    Aroma manis Mini Towel Cake Roll yang coba kami buat, ternyata memiliki rasa lezat dan lembut di lidah. Rasa puas dan bahagia terpancar di wajah kami setelah menghabiskan waktu bersama di rumah Nabilla untuk membuat Mini Towel Cake Roll. 

    Namun, kebahagiaan itu seketika berubah saat kami hendak pulang. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung dan hujan deras mulai turun. 

    Aku khawatir, memantau ke luar jendela dan melihat hujan yang tak kunjung reda. Akhirnya, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah Nabilla sambil bermain game untuk menunggu hujan reda. Tawa dan canda kembali terdengar, hingga melupakan rasa lelah dan lapar. 

    Waktu demi waktu berlalu, dan hujan semakin mereda. Kami pun pamit kepada Nabilla dan bergegas pulang sebelum hujan deras kembali menerjang. Saat perjalanan pulang, hujan malah semakin deras. Aku, Malfin, Ulfah, dan Ghina pun berhenti sejenak di minimarket terdekat untuk meneduh. Sesampainya di kos, Aku langsung merasakan sakit kepala akibat terkena hujan. Wajahku tampak pucat dan tubuhku lemas. 

    Malam itu, rencana kami untuk pulang dengan gembira setelah menikmati Mini Towel Cake Roll dari rumah Nabilla harus tergantikan dengan rasa lelah dan sakit kepala akibat hujan deras. Namun, rasa persahabatan dan kepedulian satu sama lain menjadi obat mujarab di tengah situasi yang kurang menyenangkan tersebut. 


CHAPTER 8: 

MEMBUAT MINI TOWEL CAKE ROLL PART II

    Tugas ini memang agak pusing, menguras tenaga, pikiran dan juga waktu, akan tetapi kita semua merasa tertantang untuk terus semangat dan optimis, di minggu yang ke dua ini ternyata masih ada bahan yang belum kami beli, akhirnya kami semua berdiskusi dan singkat cerita kita semua berbagi tugas supaya lebih efisien. 

    Ulfah dan Nabilla mendapat bagian untuk membeli Butter Cream, susu UHT, dan sendok. Akhirnya mereka langsung bergegas ke toko bahan kue untuk membeli bahan yang kurang tersebut. 

    Ubay dan Malfin bergegas ke Hypermart Assalam untuk membeli stroberi segar yang nantinya siap diolah menjadi isian lezat untuk mini towel cake roll. Kos Bu Pon dipenuhi dengan aroma mentega yang harum. Nabilla dan Ulfah sibuk mengocok butter cream hingga mengembang sempurna, siap melapisi cake roll dengan kelembutan yang tak tertahankan. 

    Ubay dan Malfin, dengan tangan terampil, memotong stroberi menjadi potongan-potongan kecil, siap untuk ditaburkan di atas cake roll dan memberikan rasa manis yang menyegarkan. 

    Di tengah kesibukan, kami menyadari kekurangan bahan penting, yakni susu dan telur. Tanpa panik, Ubay bergegas ke warung terdekat untuk melengkapi bahan-bahan. Untuk membuat packagin lebih menarik kami memutuskan untuk mencetak stiker yang sudah di desain, akhirnya ghina dan ulfah pergi ke fotocopy untuk mencetak stiker tersebut. Setelah semua selesai dengan bagiannya, kami mulai membuat adonan mini towel cake roll. 


CHAPTER 9: 

NABILLA DAN DRAMA MINI TOWEL CAKE ROLL

    Nabilla, Malfin, Ubay, Ghina dan Ulfah baru saja menyelesaikan misinya: membuat mini towel cake roll. Hujan yang mengguyur sore itu seolah memberi tepuk tangan meriah atas perjuangannya melawan tepung, gula, dan teflon. 

    Dengan hati-hati, Nabilla membawa hasil karyanya pulang. Mini towel cake roll ini harus segera masuk kulkas agar bisa dipotong dengan sempurna. Sesampai di rumah, Nabilla langsung menata kue-kuenya di dalam kulkas, bagaikan permata-permata kecil yang siap dinikmati. 

    Keesokan harinya, Minggu pagi yang cerah, Nabilla memulai ritual pemotongan dan pengemasan. Dia mulai dengan membuat whipped cream yang lembut dan halus, bagaikan awan putih yang menyelimuti kue. Kemudian, dengan penuh cinta, dia menaburkan topping di atasnya, menciptakan kombinasi rasa yang menggoda: milo, strawberry, oreo, dan mix. 

    Satu per satu, mini towel cake roll dipotong sesuai pesanan, bagaikan karya seni yang siap dipamerkan. Nabilla ingin mengabadikan keindahan kue-kuenya dengan foto-foto yang menarik. Tapi, oh tidak! Dia lupa memberi alas untuk kue gumun di dalam kemasannya. 

    Dengan sedikit rasa panik, Nabilla mengambil kembali kue-kuenya dan menatanya ulang. Kali ini, dia tidak ingin terulang lagi. Setelah perjuangan panjang, akhirnya dia berhasil menyelesaikan foto-fotonya dan menata kembali kue gumun ke dalam plastik agar mudah dibawa ke kampus. 

    Nabilla memandangi mini towel cake rollnya dengan rasa puas. Meskipun penuh dengan drama dan keriwehan, dia berhasil menyelesaikan misinya. Dia pun siap untuk membagikan kelezatan mini towel cake rollnya kepada teman-teman yang sudah memesan produk gumun di kampus. 


EPILOG 

    Akhirnya, GUMUN mini towel cake roll siap untuk menyapa! Open pre-order dibuka, dan pesanan mulai berdatangan satu persatu. Kue-kue mungil ini pun menemukan rumah barunya di jujugan cafe UIN RM Said Surakarta, dan siap untuk dinikmati oleh para pecinta kuliner. 

    Namun, di balik kesuksesan ini, ada kenyataan pahit yang harus dihadapi. Meskipun banyak yang membeli, GUMUN masih belum menghasilkan keuntungan. Kami pusing memikirkan bagaimana cara agar usaha kami bisa bertahan. 

    Semangat kami tidak pernah padam. Sampai hari ini, kami terus memikirkan strategi baru untuk GUMUN. Mempelajari cara agar bisa balik modal, membuat mini towel cake roll dengan lebih serius, dan mengembangkan menu baru. 

    Perjalanan GUMUN masih panjang dan penuh rintangan. Tapi, dengan kegigihan, kreativitas, dan kerja sama tim yang solid, kami yakin bahwa GUMUN akan mencapai kesuksesan yang gemilang.

    Kelak, GUMUN akan menjadi brand kue ternama yang dicintai banyak orang. Mini towel cake roll akan menjadi ikon kelezatan dan inovasi, membawa kenangan indah bagi setiap gigitannya. GUMUN adalah kisah tentang mimpi, kerja keras, dan tekad untuk meraih cita-cita. Kisah yang menginspirasi kita semua untuk pantang menyerah dan terus berusaha, demi mewujudkan mimpi yang kami impikan.

    Lima sahabat itu belajar banyak selama perjalanan mereka, tentang kerja keras, kesabaran, dan betapa pentingnya memiliki orang-orang yang peduli di sekitar. Bersama, mereka melewati segala rintangan dan meraih impian mereka dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan. 

    Dan begitulah kisah tentang lima sahabat yang mengejar impian bersama dalam bisnis makanan mereka, sebuah cerita tentang persahabatan, ketekunan, dan keberanian. 

    Dan di balik perjuangan mereka untuk menciptakan nama merek yang sempurna, tersimpan satu cerita tentang ketekunan, kolaborasi, dan kebersamaan yang membuat persahabatan mereka semakin kokoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...