By Annisa Latifa
Jika kita melihat di antara
deretan penjual kaki lima di sekitar kampus saat jam istirahat, ada satu hal
yang semakiin mencolok ketimbang tumpukan uang kembalian, yaitu berupa stiker
persegi berwarna putih dan merah yang memiliki kode matriks hitam di tengahnya.
Quick Response Code Indonesian Standard, atau yang lebih dikenal dengan
sebutan QRIS bukan lagi menjadi suatu hal yang hanya dimiliki oleh toko-toko di
mal besar. Di lingkungan kampus yang dihuni oleh mahasiswa sebagai penduduk
asli dunia digital, QRIS telah menjadi jembatan utama yang menghubungkan
pedagang kecil dengan dunia ekonomi digital.
Alasan utama mengapa pedagang
mulai beralih menggunakan QRIS adalah untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan
konsumen. Mahasiswa sekarang cenderung jarang membawa banyak uang tunai.
Menurut Alifia & Permana, (2024), dalam penelitiannya menjelaskan bahwa pengguanaan
QRIS terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan UMKM
karena dapat menarik perhatian semua kalangan, terutama generasi muda yang
sudah akrab dengan transaksi nontunai. Dengan satu kode QR, pedagang dapat
menerima pembayaran dari berbagai aplikasi bank dan dompet digital. Hal ini
memberi keuntungan bagi pedagang yang tidak menyediakan cara pembayaran
digital, karena beresiko kehilangan pelanggan yang hanya membawa ponsel.
Selain aspek omzet, efisien
operasional juga menjadi faktor pendorong lainnya. Dari hasil observasi dan wawancara
singkat dengan beberapa pedagang, masalah “uang kembalian” sering kali menjadi
hambatan dalam transaksi uang tunai. Sering terjadi drama masalah kurangnya
uang receh Rp500 atau Rp1.000 yang dapat memperlambat antrean. Namun, dengan
adanya QRIS, jumlah transaksi bisa sangat tepat hingga ke satuan rupiah paling
kecil. Selain itu, dari sisi keamanan pedagang merasa lebih aman karena risiko
menerima uang palsu dapat dihilangkan.
Namun efektivitas ini juga
terdapat hambatannya. Kendala teknis tetap menjadi hambatan bagi para pedagang kecil.
Salah satu tantangan yang paling sering dikeluhkan adalah jaringan intermet. Di
area kampus yang banyak penggunanya, sinyal seluler sering kali tidak stabil.
Kegagalan proses scanning atau notifikasi yang terlambat masuk bisa menimbulkan
keraguan, apakah uang sudah benar-benar masuk atau belum? Selain itu, masalah
penyelesaian atau pencairan dana juga menjadi sangat penting. Berbeda dengan
uang tunai yang bisa langsung digunakan untuk belanja modal ke pasar sore
harinya, dana dari QRIS biasanya membutuhkan waktu H+1 atau lebih sebelum masuk
ke rekening pedagang. Bagi pelaku usaha dengan perputaran modal harian yang
ketat, jeda waktu ini cukup menganggu.
Hambatan lainnya yag tidak
kalah penting adalah kemampuan literasi digital. Menurut Listiyono et al., (2024), menjelaskan bahwa adanya ketidakmerataan
infrastruktur teknologi dan kurangnya pendidikan digital menjadi tantangan
dalam implementasi penggunaan QRIS. Beberapa pedagang senior mungkin merasa
kesulitan atau ragu saat harus mengecek mutasi saldo lewat aplikasi di ponsel
mereka. Ketakitan akan keamanan data atau potensi penipuan menggunakan bukti
bayar palsu yang diedit juga sering kali membayangi pikiran para pedagang yang
baru mengenal teknologi ini.
Kesimpulannya, penggunaan QRIS
bagi UMKM di sekitar kampus sudah berada di jalur yang sangat efektif dalam hal
menjangkau pelanggan dan meningkatkan efisiensi transaksi. QRIS telah berhasil
mengubah wajah pedagang tradisional menjadi bagian dari inklusi finansial
nasional. Namun, keberhasilan ini harus didukung dengan perbaikan infrastruktur
jaringan di area publik dan kebijakan pencairan dana yang lebih cepat agar
tidak menganggu arus aks pedagang kecil. Digitalisasi bukan hanya soal
menempelkan stiker kode QR pada gerobak, melainkan bagaimana cara menciptakan ekosistem
yang dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi pedagang maupun pembeli. Pada
akhirnya, QRIS adalah pintu masuk bagi UMKM untuk meningkatkan status mereka,
dari sekadar bertahan hidup menjadi usaha yang lebih terorganisir secara
digital.
DAFTAR PUSTAKA
Alifia, N., & Permana, E.
(2024). Analisis Penggunaan Qris Terhadap Peningkatan Pendapatan UMKM. 25(1).
Listiyono, H., Wahyudi, E. N.,
& Diartono, D. A. (2024). Dinamika Implementasi QRIS : Meninjau Peluang
dan Tantangan bagi UMKM Indonesia. 8(2), 120–126.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar