DIGITALISASI SELAMATKAN UMKM BATIK PASAR LOKAL : Dampak pemahaman kemajuan teknologi yang tidak merata.

Email : revalisha02@gmail.com

by: Reva Nur Alisha Putri(245211206)

Di zaman yang semakin maju, dengan kehidupan yang serba digital dan serba cepat, membuat pedagang lokal di pasar tradisional kini mengalami transformasi digital yang sangat signifikan. Terutama di Pasar Klewer Solo, banyak pedagang batik yang telah beralih menggunakan platform digital karena sepinya pengunjung yang membeli secara langsung ke pasar. Pedagang yang telah memahami digitalisasi mulai memasarkan produknya melalui  marketplace  seperti Shopee, Tiktokshop, dan ada juga yang menggunakan website. Melalui live streaming di Shopee/ Tiktokshop pedagang bisa menawarkan produknya tanpa batas waktu dan tanpa butuh pertemuan secara langsung. Penonton live streaming yang berasal dari manca daerah dapat menanyakan informasi secara detail kepada host live tanpa perlu meluangkan banyak waktu dan tenaga. Menurut Luthfi & Sangaji (2025) Digitalisasi merupakan proses inovasi yang dinamis dan kompleks yang memungkinkan kebaikan dimasa depan. Oleh karena itu, digitalisasi menjadi langkah yang sangat penting bagi UMKM lokal, khususnya pedagang Batik.

Permasalahan UMKM Batik yang sering terjadi di pasar lokal yaitu penjualan terbatas di toko offline, penjualan hanya mencakup daerah disekitar toko, dan sarana pemasaran yang digunakan kurang efektif dalam memperluas jangkauan pasar. Syukron et al.(2024) menyatakan bahwa digitalisasi pemasaran menjadi solusi yang tepat dalam menghadapi tantangan tersebut di era modern. Sebagai contoh UMKM Batik di Pasar Klewer Solo, pedagang usia tua kini masih setia menjualkan dagangannya di toko offline. Bahkan masih ada yang belum mengerti jika ternyata pedagang lain sudah beralih ke platform digital. Hal ini seharusnya menjadi fokus anak muda untuk memberikan pemahaman kepada para UMKM lokal agar digitalisasi dapat dirasakan secara merata.

Selain pada sistem penjualan, pedagang UMKM Batik juga mengahadapi tantangan pada sistem operasionalnya. Fitria & Nirawati (2025) menyatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi oleh UMKM Batik adalah ketergantungan  pada  bahan  baku  alami  yang terbatas  ketersediaannya. Batik yang dimaksud adalah batik ecoprint yang bahan bakunya dari dedaunan yang tidak selalu ada. Sedangkan batik tulis memerlukan proses pembuatan yang lebih rumit dan penjualannya tidak jauh lebih banyak. Di era digital ini batik ecoprint lebih diminati karena keunikan motifnya yang berasal dari bahan-bahan alam, selain itu juga pembuatannya yang tidak memerlukan waktu lama.  Inovasi-inovasi ini hanya sudah dilakukan oleh pedagang yang paham akan kemajuan teknologi. Bagaimana dengan pedagang lokal yang kurang pemahaman tentang teknologi? tentu keberhasilan ekonomi mereka tidak lebih baik. Pasar yang baik adalah ketika satu orang pedagang mampu memperluas ilmunya untuk memajukan seluruh pasar. Namun hal itu sulit terjadi ketika pemahaman teknologi hanya disimpan untuk keberhasilan individu saja.

Pengaruh ketidak merataan pemahaman ini bisa diatasi dengan adanya peran beberapa pihak khususnya pemerintah dan generasi muda. Akbar et al.(2025) menjelaskan Pemerintah bisa mengadakan pelatihan literasi digital dan pendampingan berkelanjutan untuk pedagang dipasar lokal untuk mengurangi kesenjangan pemahaman teknologi dan akses digital. Pengembangan platform yang terintegrasi seperti aplikasi POL atau maretplace local, dapat dikombinasikan dengan pemahaman pembayaran dengan QRIS dan edukasi terkait promosi di media sosial juga dapat dilakukan oleh generasi muda saat ini Wiyana et al.(2025).  Pemahaman terkait penggunaan strategi omni channel juga perlu diberikan agar pedagang lokal dapat mengintegrasikan saluran online dan offline mereka untuk menawarkan produknya sesuai pada era digital ini.

Digitalisasi merupakan solusi krusial bagi UMKM Batik di pasar lokal seperti Pasar Klewer Solo untuk mengatasi keterbatasan jangkauan pasar dan efisiensi operasional. Meski memberikan peluang besar melalui marketplace dan live streaming, tetapi terdapat kesenjangan pemahaman teknologi antara pedagang muda dan pedagang tua. Untuk mencapai keberhasilan ekonomi yang merata, diperlukan sinergi dan kolaborasi dan sinergi antara peran pemerintah menyuarakan literasi digital serta kontribusi generasi muda dalam mendampingi pelaku usaha lokal. Integritas strategi omni channel dan inovasi produk, seperti batik eco-print, menjadi kunci agar tradisi batik tetap bisa berdaya saing di era digital.

 

Referensi

Fitria, D. A., & Nirawati, L. (2025). Jurnal Sinabis. 1, 1561–1566.

Korespondensi, E., Naskah, R., Wiyana, H., Subagja, S. N., Teknologi, U., Jakarta, M., & Bisnis, M. (2025). DIGITALISASI UMKM : STRATEGI DAN MODEL BISNIS BERBASIS. 1(1), 52–59.

Lamongan, K., Akbar, A., Afhami, A., Krisdianto, D., & Trianti, K. (2025). STRATEGI DIGITALISASI PASAR TRADISIONAL NON-PANGAN KABUPATEN LAMONGAN DALAM MENGHADAPI DISRUPSI E-COMMERCE. 14(2).

Luthfi, A., & Sangaji, B. (2025). Transformasi Digitalisasi UMKM Batik Bekasi : Studi Kasus Etiesta Craft. 03(01), 88–92.

Syukron, A., Akmal, M., Abdilah, A., Alam, I. N., & Astuti, D. (2024). Digitalisasi Batik Tulis untuk UMKM Syarisa Batik dalam Memperkenalkan Batik Bekasi di Indonesia. 01(09), 298–304.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

STRATEGI PENYUSUNAN KONTEN PEMASARAN UNTUK MENARIK MINAT KONSUMEN DI PLATFORM DIGITAL

By Lailatul Mukaromah 245211056 Perkembangan teknologi dan internet telah membawa perubahan besar dalam cara perusahaan memasarkan produk at...