DIGITALISASI SELAMATKAN UMKM BATIK PASAR
LOKAL : Dampak pemahaman kemajuan teknologi yang tidak merata.
Email : revalisha02@gmail.com
Di zaman yang semakin maju, dengan
kehidupan yang serba digital dan serba cepat, membuat pedagang lokal di pasar
tradisional kini mengalami transformasi digital yang sangat signifikan.
Terutama di Pasar Klewer Solo, banyak pedagang batik yang telah beralih
menggunakan platform digital karena sepinya pengunjung yang membeli secara
langsung ke pasar. Pedagang yang telah memahami digitalisasi mulai memasarkan
produknya melalui marketplace seperti Shopee, Tiktokshop, dan ada juga yang
menggunakan website. Melalui live streaming di Shopee/ Tiktokshop pedagang bisa
menawarkan produknya tanpa batas waktu dan tanpa butuh pertemuan secara
langsung. Penonton live streaming yang berasal dari manca daerah dapat
menanyakan informasi secara detail kepada host live tanpa perlu meluangkan
banyak waktu dan tenaga. Menurut Luthfi
& Sangaji (2025) Digitalisasi merupakan
proses inovasi yang dinamis dan kompleks yang memungkinkan kebaikan dimasa depan.
Oleh karena itu, digitalisasi menjadi langkah yang sangat penting bagi UMKM
lokal, khususnya pedagang Batik.
Permasalahan UMKM Batik yang sering
terjadi di pasar lokal yaitu penjualan terbatas di toko offline, penjualan hanya
mencakup daerah disekitar toko, dan sarana pemasaran yang digunakan kurang
efektif dalam memperluas jangkauan pasar. Syukron
et al.(2024) menyatakan bahwa digitalisasi
pemasaran menjadi solusi yang tepat dalam menghadapi tantangan tersebut di era modern.
Sebagai contoh UMKM Batik di Pasar Klewer Solo, pedagang usia tua kini masih
setia menjualkan dagangannya di toko offline. Bahkan masih ada yang belum
mengerti jika ternyata pedagang lain sudah beralih ke platform digital. Hal ini
seharusnya menjadi fokus anak muda untuk memberikan pemahaman kepada para UMKM
lokal agar digitalisasi dapat dirasakan secara merata.
Selain pada sistem penjualan,
pedagang UMKM Batik juga mengahadapi tantangan pada sistem operasionalnya. Fitria
& Nirawati (2025) menyatakan bahwa salah
satu tantangan yang dihadapi oleh UMKM Batik adalah ketergantungan pada
bahan baku alami
yang terbatas ketersediaannya.
Batik yang dimaksud adalah batik ecoprint yang bahan bakunya dari dedaunan yang
tidak selalu ada. Sedangkan batik tulis memerlukan proses pembuatan yang lebih
rumit dan penjualannya tidak jauh lebih banyak. Di era digital ini batik
ecoprint lebih diminati karena keunikan motifnya yang berasal dari bahan-bahan
alam, selain itu juga pembuatannya yang tidak memerlukan waktu lama. Inovasi-inovasi ini hanya sudah dilakukan
oleh pedagang yang paham akan kemajuan teknologi. Bagaimana dengan pedagang
lokal yang kurang pemahaman tentang teknologi? tentu keberhasilan ekonomi
mereka tidak lebih baik. Pasar yang baik adalah ketika satu orang pedagang
mampu memperluas ilmunya untuk memajukan seluruh pasar. Namun hal itu sulit
terjadi ketika pemahaman teknologi hanya disimpan untuk keberhasilan individu
saja.
Pengaruh ketidak merataan pemahaman
ini bisa diatasi dengan adanya peran beberapa pihak khususnya pemerintah dan
generasi muda.
Akbar et al.(2025) menjelaskan Pemerintah bisa
mengadakan pelatihan literasi digital dan pendampingan berkelanjutan untuk
pedagang dipasar lokal untuk mengurangi kesenjangan pemahaman teknologi dan
akses digital. Pengembangan platform yang terintegrasi seperti aplikasi POL
atau maretplace local, dapat dikombinasikan dengan pemahaman pembayaran
dengan QRIS dan edukasi terkait promosi di media sosial juga dapat dilakukan
oleh generasi muda saat ini Wiyana
et al.(2025). Pemahaman terkait penggunaan strategi omni
channel juga perlu diberikan agar pedagang lokal dapat mengintegrasikan
saluran online dan offline mereka untuk menawarkan produknya sesuai pada era
digital ini.
Digitalisasi merupakan solusi krusial
bagi UMKM Batik di pasar lokal seperti Pasar Klewer Solo untuk mengatasi keterbatasan
jangkauan pasar dan efisiensi operasional. Meski memberikan peluang besar melalui
marketplace dan live streaming, tetapi terdapat kesenjangan pemahaman
teknologi antara pedagang muda dan pedagang tua. Untuk mencapai keberhasilan
ekonomi yang merata, diperlukan sinergi dan kolaborasi dan sinergi antara peran
pemerintah menyuarakan literasi digital serta kontribusi generasi muda dalam
mendampingi pelaku usaha lokal. Integritas strategi omni channel dan inovasi
produk, seperti batik eco-print, menjadi kunci agar tradisi batik tetap bisa
berdaya saing di era digital.
Referensi
Fitria, D. A., & Nirawati, L. (2025). Jurnal
Sinabis. 1, 1561–1566.
Korespondensi, E., Naskah, R., Wiyana, H., Subagja, S. N.,
Teknologi, U., Jakarta, M., & Bisnis, M. (2025). DIGITALISASI UMKM :
STRATEGI DAN MODEL BISNIS BERBASIS. 1(1), 52–59.
Lamongan, K., Akbar, A., Afhami, A., Krisdianto, D., &
Trianti, K. (2025). STRATEGI DIGITALISASI PASAR TRADISIONAL NON-PANGAN
KABUPATEN LAMONGAN DALAM MENGHADAPI DISRUPSI E-COMMERCE. 14(2).
Luthfi, A., & Sangaji, B. (2025). Transformasi
Digitalisasi UMKM Batik Bekasi : Studi Kasus Etiesta Craft. 03(01),
88–92.
Syukron, A., Akmal, M., Abdilah, A., Alam, I. N., &
Astuti, D. (2024). Digitalisasi Batik Tulis untuk UMKM Syarisa Batik dalam
Memperkenalkan Batik Bekasi di Indonesia. 01(09), 298–304.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar