FLASH SALE DAN FOMO: STRATEGI MARKETPLACE DALAM MENGGODA KONSUMEN GEN Z
Oleh: Naya Alfiyya Sabila
“People are more motivated by the fear of loss than by the prospect of gain.”
Kutipan dari Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman related banget kalau
dikaitkan dengan kebiasaan Gen Z dalam berbelanja. Tidak sedikit orang yang
membeli suatu barang bukan karena mereka benar-benar butuh, tetapi karena
mereka tergiur dengan promo.
Apalagi belanja di zaman ini gampang banget, banyak aksesnya. Tinggal buka
aplikasi, scroll cari barang, dan checkout. Buat Gen Z yang sukanya instan, hal ini
tentu sangat menarik. Terlebih lagi kalau lagi banyak promo, rasanya susah untuk
menahan jari. Dari sinilah marketplace ambil peran, adanya flashsale yang
membuat harga miring suatu barang, tiba-tiba stok yang menipis. Ditambah lagi
muncul rasa FOMO karena merasa harus membeli barang itu biar ngga ketinggalan
trend. Itulah cara marketplace mempengaruhi cara berpikir konsumen, terutama
Gen Z. Oleh karena itu, banyak orang yang berpindah cara belanjanya, dari yang
datang ke toko konvensional (offline) menjadi online karena dianggap lebih praktis.
Kalau diperhatikan lebih jauh, inti strategi ini sebenarnya sederhana yaitu
menciptakan rasa mendesak. Ketika waktu dibatasi dan stok dibuat seakan akan
terbatas, orang jadi ngga punya kesempatan untuk berpikir. Mereka langsung fokus
pada satu hal, yaitu jangan sampai kehabisan. Ini sejalan dengan teori (Kahneman
& York, 2012) tentang loss aversion, dimana rasa takut kehilangan promo lebih
besar dibandingkan pertimbangan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan
atau tidak. Jadi, keputusan belanja sering kali diambil karena takut rugi dan
keinginan yang kuat, bukan berdasarkan kebutuhan.
Menurut Kotler dan Keller (2016), stategi pemasaran yang efektif bukan hanya
berfokus pada suatu produk, tetapi juga mampu mempengaruhi emosi dan perilaku
konsumen. Hal ini terlihat jelas dalam praktik flashsale di marketplace. Bukan
hanya karena harga murahnya, konsumen juga ditarik karena situasi. Bukan hanyabarang tapi juga karena adanya rasa urgent. Dampaknya berasa banget, banyak yang
niat awalnya hanya mau melihat lihat tetapi akhirnya jadi kalap. Kemudahan akses
dan mudahnya proses pembayaran membuat semuanya terasa ringan dan tidak
terlalu dipikirkan. Laudon dan Traver (2020) juga menjelaskan bahwa
perkembangan e-commerce memang membuat pembelian impulsif semakin
meningkat karena hampir tidak ada hambatan dalam proses transaksi. Di satu sisi,
srategi ini memang menguntungkan konsumen, karena bisa mendapatkan harga
yang lebih murah dan tidak perlu repot keluar rumah. Namun, disisi lain, tanpa
disadari kebiasaan ini menumbuhkan perilaku konsumtif. Pengeluaran menjadi
awur awuran sedangkan barang yang dibeli bukan yang benar-benar dibutuhkan.
Selain itu, karena adanya pengaruh dari media sosial yang melihat review atau
unboxing suatu barang karena rekomendasi dari influencer, secara tidak langsung
membuat barang itu semakin menarik. Ketika digabungkan dengan flashsale,
dorongan untuk membeli semakin kuat, konsumen bukan hanya takut kehabisan
promo, tetapi juga takut ketinggalan trend. Oleh karena itu, penting bagi konsumen
untuk memiliki kontrol diri. Tidak semua promo harus dibeli dan tidak semua trend
harus diikuti. Disinilah kesadaran menjadi penting, terutama Gen Z yang menjadi
umpan empuk dari strategi ini. Mulailah membiasakan diri untuk berpikir dua kali
sebelum membeli, pertimbangkan kebutuhan, dan utamakan yang menjadi
prioritas, maka kita bisa lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan.
Flashsale dan FOMO bukan hanya strategi diskon, tetapi cara marketplace
menggoda konsumen, terutama Gen Z yang didorang agar segera mengambil
keputusan. Dengan memanfaatkan rasa takut ketinggalan, ditambah batas waktu
dan stok yang terbatas, proses belanja terasa mendesak sekaligus menarik. Tanpa
disadari, banyak keputusan pembelian yang terjadi karena dorongan situasi
daripada kebutuhan yang sebenarnya. Meski begitu, konsumen tetap memiliki full
control atas pilihan mereka. Ditengah banyaknya promo yang terus muncul, penting
untuk tidak langsung terbawa suasana. Membiasakan diri untuk berpikir sejenak
sebelum membeli dapat membantu menghindari keputusan yang impulsif. Karena,
belanja yang cerdas bukan diukur dari seberapa besar diskon yang didapat,
melainkan dari seberapa tepat kita memilih apa yang benar-benar dibutuhkan dan
dapat memberi manfaat.DAFTAR PUSTAKA
Kahneman, D., & York, N. (2012). D. Kahneman. (2011). 26(2), 111–113.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson
Education.
Laudon, K. C., & Traver, C. G. (2020). E-Commerce: Business, Technology,
Society. Pearson.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar