Strategi Konten Pemasaran dan Pengaruhnya terhadap Impulse Buying di Marketplace
Oleh: Chalista Azzahra Putri Dhewari
Di zaman sekarang yang serba canggih ini dapat mempengaruhi perilaku konsumen
terutama dalam aktivitas berbelanjanya. Adanya kemajuan teknologi mendorong pesatnya
perkembangan e commerce dan maketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Platfrom- platfrom tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media jual beli yang mudah, cepat, dan praktis, tetapi juga sebagai tempat persaingan antar pelaku usaha. Dalam kondisi ini para pelaku usaha dituntut untuk merancang strategi pemasran yang kreatif serta efektif tujuannya agar menarik perhatian konsumen di tengah banyaknya berbagai informasi. Salah satu strategi yang banyak digunakan yaitu strategi konten pemasaran (content marketing).
Content marketing adalah strategi pemasaran yang berfokus pada pembuatan dan
distribusi konten yang bernilai untuk target audiens. Tujuan utama dari content marketing
adalah untuk menarik perhatian, membangun keterlibatan, dan mempengaruhi konsumen
potensial. Konten pemasran tidak hanya terbatas pada informasi produk, tetapi juga mencakup
foto produk, video promosi, live steaming, ulasan pelanggan, hingga storytelling yang mampu membangun pengalaman dari konsumen. Konten yang dirancang dengan baik mampu meningkatkan ketertarikan konsumen terhadap produk menjadi elemen utama yang dilihat pertama kali sebelum pengambilan keputusan pembeli. Misalnya konten yang menggunakan visual estetik, deskripsi produk yang persuasif, serta testimoni positif dapat menambah kepercayaan pembeli. Oleh sebab itu, kualitas dan kreativitas konten menjadi kunci dalam pemasaran digital, mengingat content marketing memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen dalam menciptakan minat serta mendorong keputusan pembelian.
Selain itu, marketplace juga memiliki peran untuk menyediakan berbagai fitur yang
mendukung seperti flash sale, diskon terbatas, gratis ongkir dan contdown timer yang secara
tidak langsung menjadi bagian dari strategi konten pemasran. Fitur-fitur tersebut dirancang
bertujuan untuk menciptakan rasa urgensi dan mendorong konsumen agar segera membeli
produk tersebut. Dalam kondisi ini, konsumen kerap mengalami fenomena fear of missing out
(FOMO), yaitu perasaan cemas atau takut kehilangan kesempatan mendapatkan penawaran
menarik. Fenomena tersebut sangat berkaitan dengan perilaku impluse buying, yaitu keputusan
pembelian yang dilakukan secara spontan tanpa adanya perencanaan sebelumnya. Dalam
lingkup marketplace, perilaku ini semakin sering terjadi karena adanya berbagai rangsanganeksternal, seperti tampilan visual produk yang menarik, promosi terbatas serta interaksi langsung melalui live streaming dan ulasan pelanggan.
Menurut Kotler dan Keller (2016), pembelian implusif dipengaruhi olleh stimulus
eksternal yang kuat, termasuk promosi dan tampilan visual yang mampu menarik perhatian
konsumen secara cepat. Selain itu, penggunaan influencer dan user generated content (UGC)
seperti riview dan testimoni juga memperkuat pengaruh terhadap impluse buying. Konten yang
diunggah oleh pengguna lebih bisa untuk meningkatkan kepercayaan para konsumen.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa content marketing memiliki pengaruh yang lebih
signifikan, bahkan lebih kuat dibandingkan strategi lain seperti influencer marketing dalam
mendorong pembelian implusif, terutama pada generasi Z. kombinasi antara konten yang
menarik dan juga strategi promosi seperti diskon, flash sale, serta informasi “stok tinggal
sedikit” terbukti efektif untuk meningkatkan perilaku impluse buying. Strategi ini
memanfaatkan aspek psikologis konsumen untuk menciptakan tekanan dan urgensi, sehingga
mampu mendorong konsumen untuk melakukan pembelian produk tanpa bepikir panjang.
Selaiin itu, algoritma marketplace yang diatur untuk menampilkan produk sesuai minat
penggunannya juga memperbesar peluang terjadinya impluse buying.
Namun, perilaku impluse buying tidak selamanya positif bagi kedua belah pihak. Di
satu sisi hal ini sangan menguntungkan bagi pelaku usaha atau affiliator karna dapat
meningkatkan penjulan dalam waktu yang singkat. Di sisi yang lain, konsumen cenderung
mengalami penyesalan dan pemborosan terhadap produk yang sudah dibeli. Oleh karena itu,
konsumen juga perlu adanya kontrol diri saat berbelanja, dan pelaku usaha juga perlu tetap
memperhatikan etika dalam pemasran. Kesimpulannya, strategi konten pemasaran memiliki
peran penting dalam memengaruhi perilaku impulse buying di marketplace. Melalui konten
yang menarik, informatif, dan persuasif, pelaku usaha dapat meningkatkan daya tarik produk
sekaligus mendorong keputusan pembelian secara spontan. Namun, keseimbangan antara
strategi pemasaran dan kesadaran konsumen tetap diperlukan agar aktivitas belanja tetap
rasional dan berkelanjutan.
SUMBER
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson
Education Limited.INOVASI. (2020). Pengaruh sales promotion, content marketing, dan shopping
lifestyle terhadap impulse buying pada e-commerce.
https://e-journals2.unmul.ac.id/index.php/INOVASI/article/view/1814
Jurnal Ilmu Wahana Pendidikan. (2023). Pengaruh content marketing dan electronic
word of mouth (E-WOM) terhadap impulse buying.
https://www.jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/5386
Jurnal Pendidikan Tata Niaga (PTN UNESA). (2023). Pengaruh content marketing,
E-WOM, dan price discount terhadap impulse buying pada Shopee.
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jptn/article/view/62631
Jurnal INSIDA. (2022). Pengaruh influencer marketing dan content marketing
terhadap impulse buying generasi Z.
https://ejurnal.undhi.ac.id/index.php/Insida/article/view/456
Jurnal MEBI. (2022). Pengaruh digital marketing dan user generated content
terhadap impulse buying.
https://ojs.ukipaulus.ac.id/index.php/jmebi/article/view/1222
Tidak ada komentar:
Posting Komentar