Oleh: Fauziyah Nur Istikomah / 245211114
Transformasi digital telah mengubah lanskap pemasaran UMKM secara fundamental. Platform media sosial tidak lagi sekadar etalase, melainkan arena kompetisi atensi yang sangat padat. Media sosial menjadi salah satu sarana utama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mempromosikan produk dan membangun hubungan dengan konsumen. Di tengah persaingan yang semakin ketat, UMKM dituntut untuk kreatif dalam menyusun strategi konten.
Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua brand yang aktif di dunia digital berlomba-lomba membuat konten viral. Alasannya sederhana, agar produk mereka dilirik oleh lebih banyak orang. Hal ini didorong oleh fakta bahwa konten viral umumnya menghasilkan views dan engagement yang jauh lebih tinggi dibandingkan dari konten biasa lainnya.
Secara konseptual, konsistensi konten menawarkan pendekatan yang lebih sistematis. Produksi konten yang rutin dengan pesan merek yang selaras memungkinkan UMKM membangun brand equity secara progresif. Dalam perspektif perilaku konsumen, kepercayaan tidak lahir dari risiko tunggal, melainkan dari repetisi pesan yang kredibel. Di sinilah letak kekuatan konsistensi “ia bekerja pelan tetapi akumulatif”. Namun demikian, strategi ini sering dikritik karena membutuhkan disiplin produksi, perencanaan konten, serta sumber daya yang tidak selalu dimiliki UMKM skala mikro. Dengan kata lain, konsistensi bukan sekadar soal niat, melainkan kapasitas operasional.
Sebaliknya, tren viral kerap dipandang sebagai “jalan pintas” menuju visibilitas. Algoritma platform digital memang cenderung memberi jangkauan lebih luas pada konten yang relevan dengan tren yang sedang populer. Bagi UMKM dengan modal terbatas, momentum viral dapat membantu meningkatkan awareness dalam waktu relatif singkat. Namun demikian, efektivitas viralitas tidak selalu konsisten karena dipengaruhi oleh dinamika algoritma dan perilaku audiens yang berubah-ubah. Selain itu, fokus yang berlebihan pada perolehan views dan likes tanpa strategi konversi yang jelas berpotensi membuat peningkatan engagement tidak berbanding lurus dengan penjualan. Di sisi lain, ketergantungan yang terlalu tinggi pada tren juga dapat membuat identitas merek menjadi kurang kuat dan tidak konsisten.
Dari sudut pandang keberlanjutan bisnis, mengejar viral tanpa fondasi konten yang konsisten justru berpotensi menciptakan pertumbuhan semu. Lonjakan traffic yang tidak diikuti strategi retensi hanya menghasilkan audiens yang dangkal dan mudah berpindah. Fenomena ini kerap terlihat pada akun UMKM yang sempat “meledak” karena satu konten, tetapi kemudian mengalami stagnasi bahkan penurunan engagement. Artinya, viralitas tidak otomatis berbanding lurus dengan kinerja bisnis.
Dalam perspektif Islam, konsistensi selaras dengan nilai istiqamah, yaitu keteguhan dan konsistensi dalam menjalankan suatu kebaikan. Prinsip ini relevan dalam dunia bisnis, karena keberlanjutan usaha tidak dibangun dari tindakan sesaat, melainkan dari upaya yang terus-menerus dan terencana. Rasulullah SAW pun menganjurkan amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Dalam konteks UMKM, konsistensi konten mencerminkan etika kerja yang disiplin dan bertanggung jawab.
Namun, memutlakkan konsistensi sebagai strategi superior juga perlu dikritisi. Konsistensi yang tidak adaptif berisiko melahirkan konten yang monoton dan tenggelam dalam kebisingan digital. Dalam ekosistem algoritmik yang sangat dinamis, rigiditas justru dapat menurunkan discoverability. Oleh karena itu, problem utamanya bukan memilih antara stabilitas atau momentum, melainkan bagaimana UMKM mengelola trade-off antara keduanya secara kontekstual.
Dengan demikian, perdebatan konsistensi konten versus tren viral seharusnya tidak disederhanakan sebagai pilihan dikotomis. Dalam realitas ekonomi digital yang kompleks, efektivitas strategi sangat bergantung pada tujuan bisnis, kapasitas produksi konten, serta kedewasaan manajerial UMKM itu sendiri. Konsistensi memberikan fondasi keberlanjutan, sementara tren viral menyediakan momentum akselerasi. UMKM yang gagal memahami relasi dialektis ini berisiko terjebak antara kerja konten yang melelahkan tanpa pertumbuhan, atau euforia viral yang tidak pernah benar-benar menjadi profit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar