By Selfi Ami Chofifah 245211132
Di era saat ini siapa yang tidak tau aplikasi belanja online? Berdasarkan survey YouGov 67% konsumen di Indonesia menggunakan aplikasi e-commerce untuk belanja online, artinya mayoritas masyarakat sudah familiar dan secara aktif memakai aplikasi belanja seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan lain-lain. Pernahkah tanpa sadar ketika kita membuka aplikasi belanja online entah untuk sekedar melihat-lihat, ataupun check out, beberapa saat kemudian muncul notifikasi diskon untuk produk yang baru saja dicari? Atau setelah menonton satu video velocity di tiktok maupun media sosial lainnya, postingan yang muncul dipenuhi konten serupa, seolah-olah platform tersebut memahami minat pribadi pengguna. Jujur, siapa yang sering merasa seperti itu? Seolah-olah postingan tersebut related banget sama kondisi yang kita alami. Nah ternyata, fenomena tersebut bukanlah sebuah kebetulan, melainkan mekanisme bisnis digital yang bekerja melalui pengumpulan dan pemanfaatan data pengguna. Inilah inti dari ekonomi data, dimana sebuah sistem informasi tentang perilaku manusia menjadi aset utama dalam bisnis digital.
Ekonomi data menjadikan informasi pribadi sebagai komoditas utama. Dalam bisnis berbasis platform, data bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi model bisnis itu sendiri. Riwayat pencarian, kebiasaan belanja, lokasi, bahkan waktu kita berhenti pada satu produk, semuanya diolah melalui algoritma untuk membentuk profil digital yang sangat detail. Profil ini kemudian digunakan untuk memprediksi perilaku dan memengaruhi keputusan konsumsi. Secara ekonomi, sistem ini dianggap efisien dan modern. Namun secara etis, difikiran kita muncul pertanyaan yang lebih serius: apakah kita sebagai konsumen benar-benar menjadi pihak yang diuntungkan, atau justru sedang diarahkan tanpa sadar?
Masalahnya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada relasi kuasa yang terbentuk. Konsep information asymmetry menunjukkan bahwa ketimpangan informasi dapat melahirkan ketidakadilan dalam transaksi. Dalam konteks bisnis digital, platform memegang kendali penuh atas algoritma dan pengelolaan data, sementara konsumen hanya menerima hasil akhirnya. Kita diberi pilihan, tetapi pilihan itu sudah disaring oleh sistem yang tidak sepenuhnya kita pahami. Kita dianggap setuju, tetapi tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam proses perumusan aturan. Di titik ini, konsumen tidak sepenuhnya kehilangan kebebasan, tetapi kebebasan itu dibingkai oleh desain sistem yang tidak netral. Transparansi, kejujuran, dan perlindungan terhadap hak konsumen seharusnya menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban administratif.
Contohnya bisa kita lihat pada praktik pinjaman online ilegal di Indonesia. Banyak kasus menunjukkan bahwa akses terhadap data pribadi, termasuk daftar kontak, digunakan sebagai alat tekanan ketika terjadi keterlambatan pembayaran. Di sini terlihat jelas bahwa data bukan hanya alat analisis pasar, tetapi juga bisa menjadi instrumen kontrol. Bahkan dalam kasus kebocoran data di berbagai platform besar, konsumen sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan, sementara proses pertanggungjawaban berjalan lambat dan tidak selalu transparan.
Memang, di sisi lain ekonomi data juga ada manfaatnya seperti, pencarian lebih cepat, layanan terasa lebih sesuai, iklan menjadi lebih relevan dan sering mendapat promo atau diskon yang sesuai kebutuhan. Tanpa sistem berbasis data, mungkin layanan digital tidak akan secepat dan seefisien sekarang. Jadi, tidak adil jika kita bilang bahwa semuanya itu buruk. Tapi ingat, tetap saja ada batas yang perlu dijaga. Menurut saya masalah utamanya bukan terletak pada teknologi, tapi pada tanggung jawab. Transparansi sering kali cuma formalitas dalam bentuk syarat dan ketentuan yang panjang dan sulit dipahami. Padahal kalau memang niatnya melindungi konsumen, informasi seharusnya bisa dijelaskan dengan sederhana dan jelas. Selain itu, jika terjadi kebocoran data atau penyalahgunaan, harus ada pertanggungjawaban yang nyata. Di sisi lain, konsumen juga tidak bisa sepenuhnya pasif. Literasi digital penting supaya kita lebih sadar risiko saat membagikan data. Tapi tidak adil juga kalau semua kehati-hatian dibebankan ke konsumen, sementara perusahaan punya sumber daya dan kendali yang jauh lebih besar.
Pada akhirnya, ekonomi data memang tidak bisa dihindari. Kita hidup di dalamnya setiap hari. Namun yang perlu dipikirkan adalah bagaimana supaya sistem ini tidak membuat konsumen selalu berada “di bawah bayangan”. Kita seharusnya bukan cuma sumber data, tapi juga pihak yang haknya dihormati. Kalau bisnis digital mau bertahan lama, kepercayaan konsumen harus dijaga. Dan kepercayaan itu tidak bisa dibangun tanpa kejujuran dan tanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar