Mochi Pelangi

 Mochi Pelangi 

Agil Wahyudiana Wulandari 

225221064

Ide yang Bersemi di Tengah Kesibukan

Namaku Agil Wahyudiana Wulandari, mahasiswa semester 5 Prodi Akuntansi Syariah. Hidupku seperti kebanyakan mahasiswa lain: bergelut dengan tugas kuliah, organisasi, dan sesekali curi-curi waktu untuk bersantai di kosan. Waktu itu, mentari sore menyapa kampus dengan hangat, menyapa tiga sahabat Agil, Najib, dan Ezra, yang tengah bergelut dengan tugas akhir. Kewirausahaan Islam, atau KWU, yang diampu oleh Bu Sri Haryanti, S.E., M.M., menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. “Gue bener-bener pusing mikirin ide buat KWU ini,” keluh Najib, mengusap keningnya yang berkeringat. “Saya juga,” jawab Ezra, “Ide-ide yang muncul sepertinya tidak nyambung dengan kebutuhan pasar. Agil, yang dikenal dengan jiwa petualang dan kecintaannya pada dunia kuliner, tiba-tiba berseru, “Eh, gimana kalau kita bikin mochi? Tapi bukan mochi biasa, mochi pelangi!” Najib dan Ezra bertukar pandang, bingung. “Mochi pelangi? Apa maksudmu?" tanya Najib. “Ya, mochi dengan isian warna-warni, kayak pelangi gitu!” jelas Agil, matanya berbinar penuh semangat. “Bayangin, mochi warna merah, kuning, hijau, biru, ungu! Pasti lucu dan enak!” Ezra, yang punya jiwa seni dan kreativitas yang tinggi, langsung setuju. “Ide bagus, bro! Kita bisa bikin berbagai macam rasa, matcha, mangga, strawberry. Dan kita bisa pakai pewarna makanan alami biar warnanya lebih natural.”

Dari Dapur ke WhatsApp

Ide mochi pelangi ini langsung disambut antusias oleh najib dan erza. Mereka pun mulai berburu resep mochi dan bereksperimen di dapur Agil. Berjam-jam mereka bergelut dengan adonan, mengolah berbagai macam rasa, dan menyempurnakan teknik pembuatan mochi. “Gue rasa isian matchanya kurang manis, bro,” komentar Najib, sambil mencicipi mochi buatannya. “Iya, dan mochi oreonya kurang pekat cokelat,” tambah Ezra, sambil menambahkan sedikit bubuk cokelat ke dalam adonan. Setelah puas dengan hasil eksperimen mereka, trio sahabat ini mulai mempromosikan mochi pelangi mereka melalui WhatsApp. Mereka mengirimkan foto mochi pelangi yang cantik dan menggugah selera kepada teman dan keluarga, meminta feedback dan pre-order. “Guys, cobain mochi pelangi buatan kita! Enak banget, cocok buat cemilan atau dessert,” tulis Agil di grup WhatsApp mereka.

CFD dan Open PO

Peluang emas datang ketika Agil, najib dan erza memutuskan untuk berjualan mochi pelangi di CFD (Car Free Day) Colomadu. Mereka mendirikan booth kecil dengan banner warna-warni dan memajang mochi pelangi mereka dengan cantik. “Mochi Pelangi! Segar, lezat, dan pelangi banget!” teriak Ezra, mempromosikan mochi pelangi dengan semangat. Responnya luar biasa. Orang-orang tertarik dengan mochi pelangi yang unik dan warna-warni, ditambah dengan keramahan ketiga sahabat ini. Dalam waktu singkat, mochi pelangi mereka ludes terjual. “Kita berhasil, bro!” seru Agil, dengan senyum lebar. “Ini baru awal, bro. Kita bisa kembangin lagi mochi pelangi ini,” tambah Najib. Sejak saat itu, mereka membuka pre-order melalui WhatsApp. Mereka membuat menu dengan berbagai macam rasa dan harga, dan pelanggan bisa memesan mochi pelangi melalui story WhatsApp mereka. “Mochi Pelangi open pre-order! DM kita buat pesan mochi pelangi kesukaan kamu,” tulis Najib di grup WhatsApp mereka.

Menyeimbangkan Kuliah dan Bisnis

Menjalankan bisnis mochi pelangi di tengah kesibukan kuliah bukanlah hal yang mudah. Namun, Agil, najib dan erza tetap bersemangat dan berusaha menyeimbangkan waktu. Mereka belajar mengatur waktu dengan efektif, membagi hari mereka untuk kuliah, belajar, dan memproduksi mochi. “Kita harus disiplin dan efisien,” pesan Ezra, “Jangan sampai bisnis kita terbengkalai karena kuliah, dan sebaliknya.” Agil, najib dan erza juga belajar untuk mendelegasikan tugas, dengan masing-masing anggota mengambil peran yang berbeda. Agil fokus pada pengembangan resep dan produksi, Najib mengurus keuangan dan marketing, dan Ezra mendesain packaging dan mengelola media sosial.

Mimpi Manis yang Terwujud

Mochi pelangi Agil, najib dan erza semakin populer. Mereka tidak hanya memenuhi tugas KWU mereka, tetapi juga berhasil membangun bisnis kecil yang sukses. “Kita bukan hanya jualan mochi, tapi juga berbagi passion kita tentang kuliner dan kreativitas,” ujar Agil, merenungkan perjalanan mereka. “Kita buktikan kalau dengan kerja keras dan dedikasi, apa pun bisa tercapai,” tambah Najib. Mochi pelangi menjadi pilihan favorit para mahasiswa dan warga Colomadu, dikenal dengan rasa yang lezat, penampilan yang cantik, dan semangat tiga sahabat yang ada di baliknya. Kisah mochi pelangi ini menjadi bukti bahwa mimpi bisa terwujud dengan kerja keras, kreativitas, dan semangat pantang menyerah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...