EVOLUSI TEORI MANAJEMEN DAN RELEVANSINYA DENGAN ZAKAT DAN WAKAF

Nama: Shafira Zahra Syavia

NIM: 252141003

Kelas: Mazawa 1A

           EVOLUSI TEORI MANAJEMEN DAN RELEVANSINYA DENGAN ZAKAT DAN WAKAF

    Manajemen telah berkembang dan mengalami berbagi fase evolusi seiring dengan perkembangan zaman, teknologi, organisasi, dan kebutuhan manusia. Dimulai dari pendekatan ilmiah yang menekankan efisiensi kerja, menuju pendekatan humanistic yang menyoroti peran manusia sebagai pusat organisasi, hingga teori modern yang bersifat adaptif, sistemik, dan kontekstual. Setiap periode perkembangan teori manajemen tidak muncul secara tiba-tiba tetapi sebagai respons terhadap tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang dihadapi masyarakat pada masanya. Evolusi ini tidak hanya berpengaruh pada dunia industri atau perusahaan, tetapi juga mempunyai relevansi dalam konteks pengelolaan lembaga sosial seperti zakat dan wakaf. Zakat dan wakaf merupakan dua instrument utama dalam sistem ekonomi islam yang berfungsi sebagai saran redistribusi kekayaan, pemberdayaan umat, dan pengentasan kemiskinan. Dengan memahami teori manajemen kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip terbaik dari setiap teori untuk meningkatkan tata kelola zakat dan wakaf agar lebih efisien dan bermanfaat untuk lebih banyak orang.

   Teori manajemen ilmiah dikenakan oleh Fredrik Winslow Taylor pada awal abad ke-20. Teori ini menekankan pada penerapan metode ilmiah dalam menganalisis pekerjaan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan standar kerja. Taylor berpendapat bahwa setiap tugas harus dipelajari secara sistematis bukan hanya sekedar mengandalkan kebiasaan atau perkiraan. Prinsip dasar Taylor meliputi: Analisis ilmiah terhadap pekerjaan, pemilihan dan pelatihan kerja yang sesuai dan perancangan metode kerja yang efisien. Teori ini sangat relevan pada masa revolusi industri karena pada saat itu produktivitas menjadi fokus utama. Namun, terlalu fokus pada efisiensi dapat membuat kita mengabaikan aspek kemanusiaan pekerja.

     Dalam konteks zakat dan wakaf prinsip-prinsip manajemen ilmiah dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam pengelolaan dana zakat dan aset wakaf terutama pada aspek operasional dan administrasi. Misalnya, analisis ilmiah dapat digunakan untuk mengidentifikasi cara-cara terbaik untuk mengumpulkan, mendistribusikan, dan mengelola dana zakat dengan menggunakan data statistik untuk menentukan potensi zakat di wilayah tertentu. Pemilihan pekerja sesuai kemampuan penting untuk diterapkan agar dapat memastikan bahwa orang-orang yang ditugaskan untuk mengelola dana zakat dan aset wakaf adalah orang-orang kompeten yang memiliki kompetensi manajerial dan pemahaman syariah yang memadai. Perancangan metode kerja yang efisien dapat mengurangi biaya operasional dan meningkatkan jumlah dana yang tersedia untuk didistribusikan kepada orang yang membutuhkan. Dengan system yang terukur dan berbasis data potensi kebocoran dana dapat diminimalisir dan efisiensi pengelolaan dapat ditingkatkan. Namun penerapan teori ini tetap harus mempertimbangkan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan karena pengelolaan zakat bukan hanya sekedar aktivitas administratif tetapi ibadah sosial yang menuntut keikhlasan, amanah, dan keadilan

     Teori klasik dikembangkan oleh Henri Fayol pada awal abad ke-20. Teori ini menyempurnakan prinsip manajemen ilmiah dengan mengenalkan fungsi POAC serta 14 prinsip manajemen, seperti pembagian kerja, kesatuan perintah, disiplin, balas jasa, meletakkan kepentingan perseorangan dibawah kepentingan umum, ketertiban, dan keadilan. Pendekatan ini menekankan pada struktur organisasi, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas serta pentingnya koordinasi. Kontribusi utama teori ini adalah memberikan kerangka dasar untuk administrasi organisasi secara sistematis. Namun, teori ini juga kurang memperhatikan aspek kemanusiaan dalam organisasi.

     Dalam konteks zakat dan wakaf teori klasik yang menekankan struktur organisasi dan prinsip administrasi memberikan dasar untuk pembentukan tata kelola zakat dan wakaf yang jelas dan terarah. Prinsip-prinsip manajemen klasik dapat diterapkan guna menciptakan struktur organisasi yang efektif untuk mengelola zakat dan wakaf. Misalnya, pembagian kerja dapat digunakan untuk membagi tugas-tugas pengelolaan zakat dan wakaf diantara berbagai individu dan departemen. Wewenang dapat dilimpahkan pada individu yang bertanggung jawab untuk mengelola zakat dan wakaf. Disiplin dapat diaplikasikan untuk memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam pengelolaan zakat dan wakaf mematuhi aturan dan prosedur yang ditetapkan. Kelebihan teori klasik adalah memberikan kejelasan struktur dan tanggung jawab. Namun, dalam konteks islam pendekatan ini perlu dilengkapi dengan fleksibilitas dan semangat partisipatif agar tidak menjadi birokratis dan kaku.

     Aliran hubungan manusia muncul sekitar tahun 1930-1950 an untuk menekankan bahwa manusia bukan sekedar “Mesin Kerja”, tetapi makhluk sosial dengan kebutuhan psikologis, hubungan interpersonal dan emosional yang mempengaruhi kinerja mereka. Tokoh-tokoh penting seperti Elton Mayo, Mary Parker Follet, dan Chester I. Barnard menyoroti pentingnya hubungan sosial, motivasi, komunikasi, serta kepemimpinan yang partisipatif dalam meningkatkan kinerja organisasi. Penelitian Hawthorne Studies oleh Elton Mayo menunjukkan bahwa produktivitas karyawan meningkat bukan hanya karena kondisi fisik yang baik tetapi karena perhatian sosial dan hubungan interpersonal yang baik. Teori ini mengubah pandangan manajemen yang awalnya mekanistik menjadi humanistik.

     Teori hubungan manusia memberikan pelajaran tentang pentingnya factor sosial dan psikologis untuk kinerja yang lebih baik. Dalam konteks zakat dan wakaf tidak boleh mengandalkan sistem administratif yang kaku tetapi harus menerapkan prinsip-prinsip aliran hubungan manusia untuk meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja di antara orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Misalnya, program team building dapat digunakan untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan motivasi di antara para pengelola zakat dan wakaf. Penerapan open communication antara manajer dan karyawan dapat meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas. Sistem penghargaan non-finansial seperti pengakuan atas kinerja atau promosi dapat memberikan motivasi tambahan pada para pengelola. Gaya kepemimpinan partisipatif dapat menginspirasi para pengelola untuk berinisiatif dan berkontribusi pada pengambilan keputusan. Dalam hubungan dengan masyarakat pendekatan komunikasi yang partisipatif dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga zakat dan wakaf. Teori ini relevan dengan pemberdayaan mustahik dan pengelolaan wakaf produktif. Ketika mustahik dilibatkan secara aktif dalam program ekonomi produktif mereka tidak hanya menjadi penerima bantuan tetapi juga menjadi bagian dari perubahan sosial yang berkelanjutan.

     Teori manajemen modern memandang organisasi sebagai sistem terbuka yang berinteraksi dengan lingkungan eksternal. Tidak ada “one best way” dalam manajemen efektivitas tergantung dengan situasi (teori kontigensi). Teori manajemen modern juga menggabungkan pendekatan ilmiah, kuantitatif, teknologi dan informasi.Tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow, Douglas McGregor, Rennis Likert, dan Frederick Herzberg berperan dalam mengembangkan pemikiran manajemen modern. Fokus utama teori ini adalah motivasi, kepemimpinan, strategi organisasi, inovasi, dan keberlanjutan. Pendekatan ini sangat relevan di era digital dan globalisasi, di mana organisasi dituntut untuk adaptif terhadap perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi.

     Dalam era digital dan globalisasi, teori manajemen modern menjadi relevan untuk memperkuat sistem zakat dan wakaf karena, lembaga zakat dan wakaf saat ini beroperasi dalam lingkungan yang kompleks dan dinamis maka, prinsip-prinsip teori manajemen dapat diterapkan untuk menciptakan organisasi yang fleksibel dan adaptif yang mampu mengimbangi perubahan lingkungan. Misalnya pendekatan sistem dapat digunakan untuk memahami bagaimana berbagai bagian dari organisasi dapat berinteraksi dan bagaimana organisasi tersebut dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya karena tidak hanya berfokus pada internal saja. Pendekatan kontigensi dapat digunakan untuk menyesuaikan strategi dan praktik manajemen dengan situasi yang berbeda tanpa meninggalkan prinsip syari’ah karena, setiap daerah memiliki karakteristik umat, potensi ekonomi, dan tantangan sosial yang berbeda. Pendekatan ilmiah, kuantitatif, teknologi, dan informasi dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan digitalisasi zakat dan wakaf memungkinkan transparansi, efisiensi, dan kemudahan dalam pelayanan. Teori manajemen modern yang berorientasi pada sustainability sejalan dengan prinsip wakaf produktif. Pengelolaan ast wakaf seperti tanah, bangunan, atau investasi keuangan harus dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan ekonomi dan sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan jangka panjang islam dalam menciptakan kesejahteraan umat.

     Integrasi teori manajemen dengan nilai islam dapat terwujud dengan efisiensi dan profesionalisme yang di angkat dari Taylor dan Fayol diterapkan dengan niat ibadah dan tanggung jawab sosial yang kuat. Kepemimpinan Partisipatif dari Follet dan Likert yang sesuai dengan konsep syura dalam islam yang mendorong musyawarah dan keterlibatan bersama. Motivasi Humanistik dari Maslow dan Herzberg dapat diseimbangkan dengan motivasi ukhrawi yakni mencari ridha Allah sebagai tujuan. Dan yang terakhir adalah pendekatan sistem dan kontigensi yang sangat sesuai dengan konsep maqasid syari’ah yang menyesuaikan kebijakan umat demi tercapainya kemaslahatan umat. Dengan demikian lembaga zakat dan wakaf dapat menjadi model organisasi yang tidak hanya efektif secara manajerial tetapi juga beretika, transparan, dan membawa keberkahan.

     Evolusi teori manajemen telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang bagaimana mengelola organisasi secara efektif. dari era ilmiah hingga modern menunjukkan bahwa manajemen adalah ilmu yang dinamis, selalu beradaptasi dengan perubahan zaman, kebutuhan manusia, dan kemajuan teknologi. Prinsip-prinsip dari setiap teori mulai dari efisiensi kerja Taylor, struktur organisasi Fayol, hubungan manusiawi Mayo, hingga adaptivitas modern dapat diterapkan dalam pengelolaan zakat dan wakaf untuk meningkatkan profesionalisme, transparansi, dan keberlanjutan. Setiap tahap perkembangan membawa nilai dan prinsip yang berbeda, namun semuanya saling melengkapi dalam membentuk kerangka manajemen yang komprehensif dan berkelanjutan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang tepat lembaga zakat dan wakaf dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan menarik lebih banyak donasi serta dapat mencapai tujuan mereka untuk membantu mereka yang membutuhkan dan melestarikan aset wakaf untuk generasi mendatang. Zakat dan wakaf, sebagai instrumen keuangan Islam, memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan jika zakat dan wakaf dikelola secara efektif dan efisien. Teori manajemen dapat memberikan kerangka kerja untuk mengelola zakat dan wakaf secara profesional dan akuntabel. 

     Integrasi antara teori manajemen modern dan nilai-nilai Islam merupakan kunci bagi optimalisasi pengelolaan zakat dan wakaf di era sekarang. Evolusi teori manajemen memberikan kerangka ilmiah dan metodologis, sementara ajaran Islam memberikan arah etis dan spiritual. Keduanya saling melengkapi untuk membangun sistem pengelolaan zakat dan wakaf yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga membawa keberkahan bagi umat. Relevansi teori manajemen terhadap zakat dan wakaf terletak pada kemampuannya memberikan kerangka berpikir dan alat praktis untuk mencapai tujuan syariah, yaitu keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Namun, penerapan teori tersebut harus selalu diimbangi dengan nilai-nilai Islam, agar manajemen tidak kehilangan ruh spiritualnya. Dengan integrasi antara teori manajemen modern dan prinsip syariah, lembaga zakat dan wakaf dapat berkembang menjadi institusi yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga efektif secara sosial dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...