PENDAHULUAN
Setiap manusia memiliki kebutuhan yang beragam. Sejak lahir, manusia sudah berupaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, kemudian bergerak meningkat ke kebutuhan yang paling tinggi. Setiap hari atau bahkan setiap detik kebutuhan manusia selalu bertambah dan berubah-ubah, mulai dari kebutuhan pokok nya, kebutuhan psikologi nya, sampai kebutuhan ego atau nafsu nya. Dengan terusnya bertambah dan berubah-ubah nya kebutuhan manusia, menjadi semakin tidak teratur dan tidak tergambar apa saja yang telah dikonsumsi oleh manusia itu sendiri.
Penyebab kebutuhan manusia selalu bertambah dan berubah-ubah salah satunya ialah sifat manusia itu sendiri yang selalu merasa tidak pernah cukup. Sedari kecil, manusia mulai belajar untuk mengenal apa yang dirinya butuhkan sehingga tiap insan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.
Tidak sedikit individu yang merasa belum mengetahui apa yang dirinya butuhkan, bahkan mulai dari kebutuhan dasarnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh fasilitas sekitar yang kurang mendukungnya, dan lingkungan yang kurang suportif. Sehingga individu tersebut tergolong awam dan minim pengetahuan tentang kebutuhan dirinya, menjadi tidak terstruktur dan kehilangan arah.
Masalah tersebut menjadi perbincangan hangat kala itu, sehingga lahirlah berbagai teori-teori kebutuhan manusia, salah satunya kebutuhan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Abraham Maslow mengemukakan teori Hierarki Kebutuhan pada tahun 1943. Teori ini memberikan gambaran terkait kebutuhan manusia dari yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Teori ini tersusun dalam tingkatan yang sistematis, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri.
Menurut Abraham Maslow, manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Manusia yang telah bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, maka kebutuhan lainnya yang lebih tinggi biasanya timbul dan begitulah seterusnya (Sumarwan, 2011). Berikut penulis paparkan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow:
Di essay ini penulis akan membagikan sedikit kisah dan pengalaman pribadi dalam mengamalkan teori hierarki ini.
ISI
Teori hierarki kebutuhan ialah suatu teori tentang kebutuhan manusia yang memiliki tingkatan sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan merupakan teori tentang motif manusia dengan cara mengklasifikasikan kebutuhan dasar manusia dalam suatu hierarki, dan teori motivasi manusia yang dihubungkan beberapa kebutuhan ini dengan perilaku umum (Bouzenita, Boulanouar, 2016).
Menurut Beliau, manusia akan terpacu untuk memenuhi kebutuhan yang paling dibutuhkan sesuai dengan waktu, keadaan, dan pengalaman dirinya dalam mengikuti suatu hierarki (Artaya). Selanjutnya menurut teori Maslow juga, dipaparkan bahwa seseorang tidak akan dapat memenuhi kebutuhan tingkatan yang kedua apabila kebutuhan yang pertama belum terpenuhi, dan seterusnya (Jerome, 2013).
Abraham Maslow mengemukakan teori ini tidak secara bersamaan, tetapi ia berjenjang yang tersusun dalam lima tingkatan piramida, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri (bisa dilihat pada gambar diatas). Teori ini dikemukakan olehnya pada tahun 1943 dalam makalahnya yang berjudul “A Theory of Human Motivation”. Beliau menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi berbagai kebutuhannya yang disusun secara bertingkat, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri.
Dilihat dari gambar yang tertera diatas, penulis menyimpulkan bahwa manusia itu harus memenuhi kebutuhannya yang paling dasar dulu, yakni kebutuhan fisiologis. Sebab kebutuhan itulah yang menopang dirinya untuk terus hidup. Seandainya seseorang langsung memenuhi kebutuhan yang paling atas, yakni aktualisasi diri, tentu kehidupannya tidak akan berjalan dengan sempurna dan nyaman.
Setelah kebutuhan dasar atau kebutuhan fisiologis terpenuhi, maka dengan sendirinya manusia akan termotivasi dan terpacu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tingkat atas lainnya. Sebab terjadinya hal seperti ini, salah satunya ialah sifat manusia itu sendiri yang selalu merasa tidak pernah cukup. Berikut penulis akan berbagi kisah pribadi terkait pengalaman dalam mengikuti dan mengamalkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow ini.
Piramida pertama, kebutuhan fisiologis, ialah kebutuhan dasar yang menjadi faktor utama manusia itu bisa menjalani hidup. Cakupan dari teori ini meliputi pangan, sandang, papan, kebutuhan akan oksigen, suhu tubuh yang normal, Kesehatan, dan sebagainya. Penulis menganggap kebutuhan ini adalah kebutuhan yang sangat krusial. Dalam memenuhi kebutuhan fisiologis ini, penulis mengalokasikan dana yang diberikan setiap satu bulan sekali sekitar lima puluh persen, kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti konsumsi, alat kebersihan pribadi, dan perawatan diri.
Piramida kedua, kebutuhan rasa aman, merupakan kebutuhan tingkat kedua setelah kebutuhan fisiologis. Ini juga merupakan kebutuhan perlindungan fisik, dengan kata lain tidak selalu berkaitan dengan psikologis (Bari, A., dan Hidayat, R., 2022). Dalam memenuhi kebutuhan kedua ini, penulis selalu menyisihkan dari dana yang diberikan sebagai dana darurat sehingga jika terjadi sesuatu yang urgent, bisa menggunakan dana tersebut.
Piramida ketiga, kebutuhan sosial. Kebutuhan ini berlandaskan kepada perlunya manusia berhubungan dengan sesama, juga berlandaskan rasa dimiliki dan memiliki supaya dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya (Bari, A., dan Hidayat, R., 2022). Upaya penulis dalam memenuhi kebutuhan tingkat ketiga ini, penulis selalu menyisihkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga melalui smartphone. Selain itu, penulis juga menjaga tali silaturahmi terutama dengan teman saat sekolah dahulu. Bahkan sampai saat ini penulis selalu berkomunikasi dengan teman SD, SMP, dan SMA. Penulis juga menjaga hubungan baik dengan mereka.
Piramida keempat, kebutuhan ego atau penghargaan, ialah kebutuhan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi dari yang lainnya. Manusia berusaha mencapai prestis, reputasi dan status yang lebih baik. Manusia mempunyai ego yang kuat untuk bisa mencapai prestasi yang lebih baik untuk dirinya maupun lebih baik dari orang lain (Bari, A., dan Hidayat, R., 2022). Pengamalan penulis akan kebutuhan ini, masih berlangsung sampai sekarang. Semasa duduk di bangku sekolah, penulis aktif mengikuti berbagai perlombaan, seperti pidato keagamaan, cerdas cermat, pencak silat, dan fahmil qur’an. Dan saat ini, penulis akan mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa di UIN Raden Mas Said Surakarta untuk bisa mengukir lebih banyak lagi prestasi.
Piramida kelima, aktualisasi diri, yakni kebutuhan yang berasaskan keinginan dari seorang individu untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya (Bari, A., dan Hidayat, R., 2022). Sama dengan kebutuhan tingkat keempat, penulis sedang menjalankan pengamalan kebutuhan ini sekarang. Selain berupaya untuk mengukir lebih banyak prestasi, penulis membuat target atau goals yaitu bisa lulus tepat waktu sehingga membuat bangga keluarga. Selain itu, penulis juga menargetkan bisa memiliki profesi yang sesuai bidangnya dengan program studi yang sedang diampu, juga meraih financial freedom di usia tiga puluh tahun.
KESIMPULAN
Setiap manusia memiliki kebutuhan yang beragam. Sejak lahir, manusia sudah berupaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, kemudian bergerak meningkat ke kebutuhan yang paling tinggi. Setiap hari atau bahkan setiap detik kebutuhan manusia selalu bertambah dan berubah-ubah, mulai dari kebutuhan pokok nya, kebutuhan psikologi nya, sampai kebutuhan ego atau nafsu nya. Dengan terusnya bertambah dan berubah-ubah nya kebutuhan manusia, menjadi semakin tidak teratur dan tidak tergambar apa saja yang telah dikonsumsi oleh manusia itu sendiri.
Penyebab kebutuhan manusia selalu bertambah dan berubah-ubah salah satunya ialah sifat manusia itu sendiri yang selalu merasa tidak pernah cukup. Tidak sedikit individu yang merasa belum mengetahui apa yang dirinya butuhkan, bahkan mulai dari kebutuhan dasarnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh fasilitas sekitar yang kurang mendukungnya, dan lingkungan yang kurang suportif. Sehingga individu tersebut tergolong awam dan minim pengetahuan tentang kebutuhan dirinya, menjadi tidak terstruktur dan kehilangan arah. Masalah-masalah tersebut menjadi perbincangan hangat kala itu, sehingga muncul lah berbagai teori yang membahas terkait kebutuhan manusia, salah satunya teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow.
Abraham Maslow mengemukakan teori Hierarki Kebutuhan pada tahun 1943. Teori ini memberikan gambaran terkait kebutuhan manusia dari yang paling dasar hingga kebutuhan yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Teori ini tersusun dalam tingkatan yang sistematis, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Menurut Abraham Maslow, manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Manusia yang telah bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, maka kebutuhan lainnya yang lebih tinggi biasanya timbul dan begitulah seterusnya.
Abraham Maslow mengemukakan teori ini tidak secara bersamaan, tetapi ia berjenjang yang tersusun dalam lima tingkatan piramida, mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri (bisa dilihat pada gambar diatas). Teori ini dikemukakan olehnya pada tahun 1943 dalam makalahnya yang berjudul “A Theory of Human Motivation”. Beliau menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi berbagai kebutuhannya yang disusun secara bertingkat, mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri.
Teori ini menjadi pedoman bagi penulis dalam hidup. Walaupun dalam pengamalannya belum tepat dan sempurna, penulis akan selalu berupaya untuk memaksimalkan dalam mengamalkan apa yang tertuang di dalam teori hierarki kebutuhan ini. Teori yang dikemukakan oleh Abraham Maslow ini sangat berdampak dan bermanfaat bagi kehidupan penulis. Dengan adanya teori ini, penulis jadi lebih tahu dan lebih terarah dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Daftar Pustaka
Bari, A., & Hidayat, R. (2022). Teori Hirarki Kebutuhan Maslow Terhadap Keputusan Pembelian Merek Gadget. Motivasi, 7(1), 8-14.
Bouzenita, I, A., Boulanouar, W, A. (2016). Maslow’s Hierarchy of Needs: An Islamic Critique. Intellectual Discourse, 24:1 59–81.
Jerome, N. (2013). Application Of the Maslow’s Hierarchy of Need Theory; Impacts and Implications on Organizational Culture, Human Resource and Employee’s Performance. www.ijbmi.org Volume 2 Issue 3 ǁ March. ǁ PP.39-4
Muhibbin, M. (2020). Urgensi Teori Hierarki Kebutuhan Maslow Dalam Mengatasi Prokrastinasi Akademik Di Kalangan Mahasiswa. Jurnal Ilmu Kependidikan, 15(2), 69-80.
Sumarwan, U. (2011). Perilaku konsumen: Teori dan penerapannya dalam pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia.
https://tehtyastar.com/2018/01/31/teori-hierarki-kebutuhan-maslow/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar