Erza Maulana Habibie – Manajemen Zakat dan Wakaf
Di era digital yang bergerak cepat ini, organisasi menghadapi tekanan luar biasa perubahan pasar yang instan, ekspektasi pelanggan yang dinamis, persaingan global, dan teknologi disruptif yang terus muncul. Dalam konteks inilah manajemen tradisional yang mengandalkan hierarki kaku, pengendalian terpusat, dan birokrasi kian kehilangan efektivitas. Menurut pengamatan saya pribadi, organisasi yang gagal menyesuaikan gaya manajemennya akan menghadapi stagnasi, konflik internal, dan bahkan kehilangan relevansi. Permasalahan utama yang sering muncul antara lain: silo antardepartemen yang memblokir alur informasi, budaya yang takut salah sehingga menghambat eksperimen, serta resistensi terhadap perubahan yang menghambat transformasi.
Manajemen modern harus menjawab tantangan tersebut lewat tiga pilar utama: kolaborasi, inovasi, dan transformasi. Kolaborasi memungkinkan integrasi keahlian dan sumber daya, inovasi menjadi motor penggerak adaptasi dan diferensiasi, sementara transformasi mengubah cara kerja, struktur, dan budaya organisasi agar tahan terhadap perubahan berkelanjutan. Esai ini akan membahas bagaimana ketiga pilar tersebut saling terkait dan bagaimana sebuah organisasi dapat mengelolanya secara efektif, serta tantangan yang harus dihadapi.
Pada Pembahasan kali ini penulis akan membagi menjadi tiga subtopik: (1) Kolaborasi dalam manajemen modern, (2) Inovasi sebagai inti dinamika, dan (3) Transformasi organisasi: strategi dan tantangan.
1. Kolaborasi dalam manajemen modern
Kolaborasi bukan sekadar kerja sama antar individu, melainkan integrasi lintas fungsi, lintas disiplin, bahkan lintas organisasi. Dalam konteks organisasi modern, kolaborasi sering diwujudkan lewat tim lintas fungsi (cross-functional teams) dan jaringan internal- eksternal.
Tim lintas fungsi (cross-functional teams). Model tim ini mengumpulkan anggota dari berbagai departemen misalnya pemasaran, R&D, produksi, keuangan untuk bekerja bersama dalam proyek tertentu. Pendekatan seperti ini mendukung ide yang lebih holistik dan mengurangi fragmentasi antara unit-unit. Menurut literatur, tim lintas fungsi dapat meningkatkan kreativitas karena kombinasi perspektif yang beragam.
Kolaborasi eksternal dan inovasi terbuka. Dalam beberapa kasus, organisasi perlu menjalin kerja sama dengan mitra eksternal pemasok, pelanggan, lembaga penelitian, dan start-up. Konsep “collaborative innovation”menekankan bagaimana berbagi sumber daya, ide, dan risiko antara berbagai pihak dapat mempercepat pengembangan baru (produk, layanan, proses) dan menciptakan nilai bersama.
Peran kepemimpinan dalam kolaborasi. Kepemimpinan modern harus mendorong budaya kepercayaan, komunikasi terbuka, dan inklusivitas. Pemimpin harus mampu menjadi fasilitator, bukan hanya pengendali. Dalam banyak organisasi progresif, peran manajer telah bergeser dari pengawas menuju pembimbing yang memberdayakan tim.
Namun, kolaborasi menghadapi hambatan nyata: ego departemen (silo), konflik atas sumber daya, perbedaan bahasa profesional antara unit, resistensi terhadap transparansi, serta kurangnya sistem pendukung (teknologi kolaboratif, insentif). Jika tidak ditangani, kolaborasi bisa menjadi “kerjasama formal” yang dangkal tanpa dampak nyata.
2. Inovasi sebagai inti dinamika organisasi
Inovasi adalah kemampuan organisasi menghasilkan ide baru yang berguna dalam produk, layanan, proses, model bisnis dan menerapkannya. Di dunia yang berubah cepat, inovasi bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Keterkaitan inovasi dan transformasi digital. Digitalisasi membuka peluang inovasi tambahan: data analytics, AI, IoT, dan automasi menjadi enabler proses baru. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital yang berhasil menciptakan budaya inovasi kolaboratif meningkatkan adaptabilitas perusahaan.
Kepemimpinan transformasional mendorong inovasi. Gaya kepemimpinan transformasional yakni pemimpin yang mampu menginspirasi visi, memotivasi, dan memberdayakan terbukti meningkatkan perilaku inovatif bawahan melalui komitmen terhadap perubahan (commitment to change). Di Korea, penelitian terhadap 535 manajer menemukan bahwa kepemimpinan transformasional memengaruhi inovasi bawahan melalui peningkatan komitmen terhadap perubahan, terutama bila organisasi mendukung kreativitas.
Pendekatan berbasis kekuatan (strengths-based) dalam transformasi inovasi. Dalam proyek transformasi besar, kerap staf merasa kewalahan atau takut gagal. Penelitian baru menyarankan bahwa memulai dari kekuatan individu mengenali keunggulan setiap anggota tim kemudian membentuk tim berdasarkan kekuatan tersebut, dapat meningkatkan keterlibatan dan meredam resistensi. Model ini mendukung inovasi demokratis, di mana setiap orang diasah untuk berkontribusi.
Inovasi terstruktur vs. eksploratori. Organisasi tidak hanya butuh inovasi incremental (peningkatan kecil) tetapi juga inovasi radikal. Agar inovasi berkelanjutan, organisasi harus menjaga keseimbangan antara eksploitasi (memaksimalkan hal-hal yang sudah ada) dan eksplorasi (mencoba hal baru). Filosofi ambidexterity organisasi (kemampuan dua tangan) sering diangkat dalam literatur manajemen inovasi modern.
Tantangan inovasi. Beberapa tantangan yang sering muncul:
• Budaya takut gagal.
Jika kegagalan dihukum, staf enggan bereksperimen.
• Kekurangan kapasitas sumber daya.
Inovasi memerlukan waktu, tenaga, dan dukungan finansial.
• Fragmentasi ide.
Tanpa mekanisme integrasi ide, inovasi terisolasi dalam silo.
• Resistensi perubahan.
Beberapa individu lebih nyaman mempertahankan status quo.
• Kesulitan dalam skala (scaling).
Banyak ide gagal di tahap implementasi atau tidak mampu diperluas ke seluruh organisasi.
Untuk menanggulangi ini, manajemen modern menyarankan metode seperti prototyping cepat, feedback loop real-time, dan co-creation (kolaborasi dari berbagai level dalam organisasi). Pendekatan “Innovative Change Management” menggabungkan proses transformasi dengan inovasi organisasi tidak hanya menerapkan perubahan, tetapi selalu belajar dan memperbaiki secara iteratif.
3. Transformasi organisasi: strategi dan tantangan
Transformasi berarti perubahan mendasar terhadap struktur, proses, teknologi, dan budaya organisasi agar relevan dan adaptif dalam jangka panjang. Pendekatan baru dalam transformasi. Sebuah artikel McKinsey menyebutkan empat tindakan yang harus dilakukan pemimpin untuk membangun jaringan tim efektif sebagai mesin transformasi (network of teams) daripada hanya mengandalkan unit-unit hierarkis. ([McKinsey & Company][8]) Pendekatan ini mencerminkan bahwa transformasi tidak terjadi lewat satu perintah tunggal, melainkan melalui integrasi jaringan tim otonom yang saling terhubung.
Menjembatani tekanan dan peremajaan. Transformasi organisasi seringkali menjadi “pedang bermata dua”: di satu sisi perusahaan menghadapi tekanan untuk cepat beradaptasi, di sisi lain perlu ruang inovatif dan fleksibel. Studi Fredberg (2022) memperingatkan bahwa transformasi yang terlalu kencang atau mendesak dapat menekan kreativitas atau menimbulkan burnout.
Digital transformation sebagai inti transformasi. Transformasi modern biasanya melibatkan digitalisasi proses, integrasi data, otomatisasi, dan adopsi platform baru. Namun transformasi digital sejati bukan sekadar mengganti sistem, melainkan membangun kompetensi organisasional: pembelajaran berkelanjutan, fleksibilitas struktural, dan mindset digital. Sebagai contoh, penelitian terhadap UKM di Eropa memaparkan bahwa kemampuan organisasi untuk belajar dan mengelola pengetahuan sangat krusial dalam kematangan transformasi digital.
Transformasi melalui kolaborasi manusia dengan AI. Di masa depan, transformasi organisasi melibatkan kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan. Sebuah studi tentang perusahaan industri Tiongkok menemukan bahwa transformasi digital berbasis AI meningkatkan kinerja, dengan inovasi digital hijau sebagai mediator, dan kolaborasi manusia-AI memperkuat efeknya.
Strategi transformasi yang efektif, antara lain:
Visi transformasi yang jelas dan inklusif. Visi harus dipahami dan diterima semua pihak, bukan hanya ditetapkan dari puncak.
Roadmap bertahap dengan pilot projects. Memulai transformasi lewat skala kecil, kemudian meluas secara bertahap.
Memberdayakan agen perubahan internal (change agents). Individu atau tim internal yang memimpin transformasi dari dalam.
Sistem umpan balik cepat. Feedback loop dari pengguna dan tim lapangan untuk menyempurnakan proses.
Perubahan budaya dan mindset. Transformasi sejati memerlukan perubahan cara berpikir dari “kepatuhan” ke “inisiatif”, dari “hindari risiko” ke “pengelolaan risiko”.
Pengukuran dan evaluasi berkelanjutan. Indikator kinerja transformasi diperlukan agar adaptasi bisa dilakukan.
Namun, transformasi menghadapi hambatan nyata: resistensi diri (fear of change), konflik kepentingan antartim, ketidakpastian terkait ROI transformasi, keterbatasan kapasitas digital, dan kelelahan organisasi jika transformasi terlalu sering atau tidak terkelola dengan baik.
Manajemen modern tidak cukup mengandalkan struktur hierarkis lama; ia harus berfokus pada kolaborasi, inovasi, dan transformasi sebagai tiga pilar saling terkait. Kolaborasi menyatukan sumber daya dan keahlian; inovasi menjadi kekuatan adaptif untuk menghadapi dinamika; dan transformasi mengikis cara lama, mengganti model kerja, struktur, dan budaya agar organisasi tetap relevan.
Kepemimpinan transformasional, dukungan organisasi terhadap kreativitas, struktur tim otonom yang terhubung, serta pendekatan inovatif dalam manajemen perubahan merupakan elemen-elemen kunci agar manajemen modern berhasil. Namun, organisasi harus menyadari hambatan-hambatan seperti silo, resistensi, ketidakpastian, dan risiko budaya.
Dalam pandangan saya, kunci keberhasilan manajemen modern ada pada mindset: organisasi harus menjadi tempat yang menghargai eksperimen, kolaborasi terbuka, dan keberanian menghadapi kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Tanpa perubahan mindset di semua level dari manajemen puncak hingga staf operasional kolaborasi maupun inovasi akan sulit tumbuh.
Berdasarkan pemaparan di atas, berikut beberapa saran praktis bagi organisasi dan pemimpin:
Bangun fasilitas dan infrastruktur kolaborasi
Investasi pada alat kolaborasi digital (platform komunikasi, manajemen proyek, sistem berbagi pengetahuan) yang memfasilitasi kerja lintas tim dan jarak jauh.
Bentuk tim lintas fungsi berproyek
Dorong penggunaan tim cross-functional untuk proyek strategis agar ide tidak terjebak dalam silo.
Mulai transformasi lewat pilot dan eksperimen kecil
Lakukan uji coba “proof of concept” pada unit-unit kecil sebelum meluncurkan transformasi penuh.
Pimpin dengan gaya transformasional dan demokratis
Pemimpin perlu memberi inspirasi, kejelasan visi, memberdayakan staf, dan memberi ruang bagi inisiatif.
Menciptakan kultur eksperimen dan pembelajaran
Jadikan kegagalan sebagai bahan pembelajaran; berikan penghargaan pada upaya kreatif, bukan hanya pada hasil.
Monitoring dan evaluasi adaptif
Gunakan metrik transformasi (adopsi teknologi, kepuasan staf, produktivitas, inovasi yang berhasil) dan lakukan koreksi secepatnya bila diperlukan.
Kembangkan kompetensi digital dan literasi teknologi
Sediakan pelatihan bagi staf agar mampu memanfaatkan teknologi, memahami data, dan berpikir digital.
Dengan mengikuti saran-saran tersebut, organisasi dapat mengadopsi manajemen modern yang tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh memanfaatkan kolaborasi, inovasi, dan transformasi sebagai kekuatan sinergis dalam menghadapi masa depan.
Cui, J. (2025). AI-Driven Digital Transformation and Firm Performance in Chinese Industrial Enterprises: Mediating Role of Green Digital Innovation and Moderating Effects of Human-AI Collaboration. http://arxiv.org/abs/2505.11558
González-Varona, J. M., López-Paredes, A., Poza, D., & Acebes, F. (2021). Building and development of an organizational competence for digital transformation in SMEs. Journal of Industrial Engineering and Management, 14(1), 15–24. https://doi.org/10.3926/jiem.3279
Lessem, R., & Schieffer, A. (2016). Transformation Management. Transformation Management. https://doi.org/10.4324/9781315550176
Misra, D. K., Hill, L. A., Laroia, G., & Hamacher, C. (2024). A Better Way to Unlock Innovation and Drive Change. MIT Sloan Management Review, 66(1), 31–35.
Septiana, Y. D. (2019). Inovasi dalam Organisasi. Al-Karim, 4(2), 91–97.
Siagian, S. P. (1982). Manajemen Modern. Jakarta, Pustaka Jaya, 20–33.
Suryadi. (2020). Transformasi Manajemen Modern. Jurnal Manajemen Dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, 12(3).
Susanti, I. (2021). Kolaborasi dalam Manajemen Konflik. Kumparan.Com, 1. https://kumparan.com/ika-susanti-1602824683517173180/kolaborasi-dalam-manajemen-konflik-1v2WQA3hNr9
Tadjudin, D. (2000). Manajemen Kolaborasi. 97–119.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar