Oleh: Rangga Jaya Wardana/245211104
Perkembangan media sosial sekarang ini semakin masif, dari kalangan anak-anak, remaja, sampai dewasa. Awalnya media sosial hanya sebagai hiburan, tapi seiring berjalannya waktu media sosial dijadikan wadah untuk mempromosikan berbagai macam produk. Oleh karena itu terciptalah yang namanya influencer marketing, yaitu sebuah strategi pemasaran digital yang melibatkan antara sebuah brand dengan influencer untuk mempromosikan suatu produk atau layanan. Influencer marketing semakin diminati oleh brand-brand saat ini karena dinilai lebih efektif daripada strategi pemasaran lainnya. Bahkan karena alasan itu banyak orang yang berlomba-lomba ingin menjadi influencer, mereka beropini bahwa influencer itu keren dan effortless. Padahal menjadi influencer itu membutuhkan kekreatifitasan yang tinggi dan butuh kesabaran dalam berproses karena harus siap dihujat dan dicaci maki. Dengan banyaknya sumber daya manusia yang ada, para brand berbondong-bondong mencari influencer untuk mempromosikan produk atau layanan mereka. Namun dengan banyaknya influencer yang bertebaran, hal tersebut membuat kita bertanya-tanya apakah strategi tersebut benar-benar efektif atau sekedar tren sementara saja.
Para brand sudah mulai beralih dari iklan tradisional seperti tv, radio, koran, brosur, dan papan reklame, beralih ke influencer marketing karena lebih banyak kelebihannya. Salah satu kelebihannya yaitu jangkauan audiensnya lebih luas karena hampir semua orang menggunakan media sosial. Influencer menggunakan pendekatan komunikasi yang lebih natural dan persuasif. Influencer tidak hanya menampilkan produk saja tetapi terkadang mereka menyelipkannya di konten secara halus atau yang biasa disebut dengan soft selling, sehingga penonton tidak merasa seperti sedang ditawari produk tersebut. Kelebihan influencer marketing lainnya adalah brand bisa menentukan siapa influencer yang sesuai dengan citra produk dan target audiensnya. Dengan begitu brand tidak terkesan sia-sia mengeluarkan biaya untuk pemasaran produknya.
Tapi dari banyaknya kelebihan influencer marketing tersebut, mulai banyak yang mempertanyakan apakah strategi tersebut benar-benar efektif atau justru malah overrated. Jumlah influencer yang ada di Indonesia sudah sangat banyak sekarang dan hampir semuanya sudah pernah memasarkan sebuah produk di konten-konten mereka. Oleh sebab itu banyak konsumen yang mulai menyadari teknik tersebut, sehingga mereka beranggapan bahwa influencer tidak merekomendasikan produk secara jujur tetapi melebih-lebihkan karena dibayar oleh brand untuk mempromosikan produknya. Bahkan sekarang ini kita mulai banyak menemukan konten promosi yang viewsnya rendah karena terlalu hard selling dan citra produknya menjadi rusak karena terlalu sering muncul di sosial media atau sering kita sebut dengan brand yang “terlalu digoreng-goreng”.
Jika influencer marketing dianggap overrated karena terlalu melebih-lebihkan keunggulan suatu produk karena dibayar oleh brand, lantas apa solusi dari hal tersebut. Salah satu Solusi utama adalah dengan mengganti fokus promosi dari awalnya yang menekankan kuantitas beralih ke kualitas. Para brand masih banyak yang beranggapan bahwa influencer yang baik adalah yang memiliki jumlah followers yang banyak. Padahal kriteria untuk menentukan influencer yang baik tidak hanya berpatok pada followers saja, tetapi juga dengan kesesuaian influencer dengan citra dan target pasar yang dituju suatu brand. Selain itu brand juga harus memilih influencer yang jujur dalam mempromosikan produknya, karena konsumen sangat menghargai kejujuran tersebut dan menaikkan kepercayaan konsumen.
Influencer marketing pada dasarnya bukanlah strategi yang secara mutlak efektif maupun sepenuhnya overrated. Jika dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian influencer dengan produk maka strategi tersebut bisa efektif. Namun jika diterapkan hanya karena mengikuti sebuah trend saja maka strategi tersebut bisa menjadi bumerang bagi sebuah brand. Bahkan jika dilakukan tanpa memikirkan aspek-aspek tertentu bisa saja citra produk rusak karena influencer itu sendiri. Pada akhirnya brand tetap harus mengeksekusi strategi tersebut dengan matang, karena efektif atau tidaknya suatu strategi pemasaran selalu ada peran dari sebuah brand tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar