RISOLICIOUS kelompok 4

 AWAL PENENTUAN IDE BISNIS

Pada awal perkuliahan menginjak semester 4, mahasiswa PBS 4A ditugaskan untuk

membuat sebuah business plan dan memilih sebuah produk, entah itu makanan atau yang

lainnya. Masing-masing dibagi kelompok agar bisa bekerja sama dan lebih mudah untuk

mengerjakan tugasnya. Kelompok kami akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah produk

yang berupa makanan, yang dimana makanan tersebut harus banyak diminati orang-orang

terutama dikalangan mahasiswa dan mudah dijangkau. Setelah beberapa kali mengadakan

pertemuan kelompok secara offline, akhirnya kami memutuskan membuat business plan

berupa produk makanan yaitu berupa risol mayo, yang mana tidak hanya pada tahap

perancangan, tetapi juga praktik dari business plan tersebut. Tugas itu merupakan tugas

kelompok, lalu kami pun membagi kelompok berisikan 5-6 orang bagian dari kelompok 4 yg

beranggotakan Jihad.H.Ziraky, Rico, Alifiya atau Oja, Kharisma, dan Melisah.

Sebelum menentukan kami menentukan akan berjuaklan risol, setelah pembetukan

kelompok kami langsung berdiskusi terkait tugas itu dikemudian hari di diskusi atau pertemuan

pertama kita membahas tentang ide bisnis atau core inti dari Business plan tersebut, "Guys kira²

kita pengen jualan apa nih" ucap Oja.. lalu aky menjawab, "btw perlu diingat ya gaes, business

plan itu bukan hanya jualan barang khususnya makanan, jasa pun termasuk di dalam nya".. lalu

kami pun berdiskusi selama kurang lebih 40 menit, yang pada akhirnya mendapatkan hasil

yaitu kita akan berkecimpung di bidang Barang, yakni F&B.. pertemuan pertama berakhir

disitu.. dengan catatan kami sepakat selama jeda ke pertemuan selanjutnya, kita memikirkan

"produk" yang akan dijual. Lalu selang pertemuan berikutnya di adakan pada hari kamis sekitar

jam 14.30, disitu kami mendiskusikan tentang Struktur Organisasi "Business" dan "produk apa

yang akan kita jual".

Singkat cerita, dari diskusi tersebut kita mendapatkan hasil : (Stuktur organisasi

perusahaan)

1. Ketua kelompok / Pemimpin - Jihad.H.Ziraky

2. Media digital - Rico Wibowo

3. Bendahara - Kharisma Nurdiana

4. Marketing - Alifiya Azzahra

5. Perlengkapan – Melisah

Setelah pembentukan struktur organisasi business plan tersebut, kami memutuskan

untuk berjualan risol mayo, yang dimana awalnya diberi nama “risol smile” atas usulan Rico, karena nama tersebut terinspirasi dari ide awal untuk memilih bisnis pukis smile. Kemudian

Oja mengusulkan ide lain untuk nama bisnis tersebut, yaitu “Risolicious” yang gabungan dari

“Risol” dan “Delicious” yangn berarti risol lezat.

Alasan kami memilih bisnis risol mayo untuk dijual di daerah kampus, diantaranya:

1. Pasar yang potensial:

a. Populasi mahasiswa yang besar, dan selalu ada pergantian mahasiswa baru

setiap tahunnya.

b. Kebutuhan akan makanan praktis, mahasiswa sering mencari makanan yang

praktis dan cepat saji, sehingga risol mayo bisa menjadi pilihan yang populer.

2. Biaya Awal yang relatif rendah:

a. Modal kecil, emulai bisnis risol mayo tidak memerlukan modal besar. Bahan-

bahannya cukup terjangkau dan proses produksinya sederhana.

b. Peralatan minimalis, bisnis ini tidak memerlukan peralatan yang mahal atau

canggih, cukup peralatan dapur standar.

3. Permintaan yang Stabil:

a. Makanan ringan yang populer, risol mayo merupakan jenis makanan ringan

yang disukai banyak orang dan cocok untuk berbagai kesempatan, dari camilan

hingga makanan pendamping.

b. Konsistensi pembelian, mahasiswa cenderung membeli makanan ringan secara

rutin, sehingga bisa memberikan pendapatan yang stabil.

4. Fleksibilitas Lokasi:

Dekat Kampus atau online, kita bisa memilih untuk menitipkan di warung

makan, kantin kampus, di sekitar kampus atau memanfaatkan platform online untuk

pemesanan dan pengantaran, menyesuaikan dengan trend konsumsi mahasiswa yang

serba cepat.

5. Potensi Inovasi dan Kreasi:

a. Variasi menu, bisa berinovasi dengan berbagai isi dan saus untuk risol mayo,

sehingga selalu ada hal baru yang menarik minat konsumen.

b. Peluang untuk berbeda, dengan kreativitas, kita bisa membuat risol mayo yang

unik dan berbeda dari kompetitor.

6. Promosi yang Efektif:

a. Media sosial, mahasiswa adalah pengguna aktif media sosial, sehingga promosi

melalui platform ini bisa sangat efektif.


b. Word of Mout, mahasiswa sering berbagi rekomendasi dengan teman-

temannya, jadi jika produk yang disukai, kabar akan cepat menyebar.

7. Jadwal yang Fleksibel:

a. Waktu operasional yang fleksibel, bisa menyesuaikan waktu operasional

dengan jam sibuk kampus, seperti jam makan siang atau setelah kelas selesai.

b. Kemungkinan buka saat event, kampus sering mengadakan berbagai event dan

kegiatan, di mana bisa ikut serta untuk menjual produk.

8. Komunitas yang Solid:

a. Kerjasama dengan organisasi mahasiswa, ada banyak organisasi dan komunitas

di kampus yang bisa diajak kerjasama untuk promosi dan penjualan.

b. Dukungan dari kampus, beberapa kampus mendukung usaha kecil dengan

menyediakan tempat berjualan atau mengadakan bazar.


PERCOBAAN PERTAMA DAN PENDISTRIBUSIAN

Setelah kami memutuskan untuk berjualan risol mayo, akhirnya kami mencoba

membuatnya untuk pertama kalinya di dapur kost Rico. Dalam pembuatan awal kulit risol

beserta isinya, kami mencari resep serta tutorial membuatnya di google dan youtube sampai

akhirnya kami melakukan percobaan dan beberapa kali gagal dalam pembuatan adonan kulit

risol, yang dimana kulitnya ada beberapa yang sobek, terlalu tebal. Akhirnya kami mencoba

berbagai cara diantaranya menambahkan air dan minyak sampai akhirnya menjadi adonan yang

pas untuk kulit risolnya, sehingga kulitnya tersebut tidak sobek ataupun terlalu tebal.

Setelah beberapa kali melakukan percobaan dan sampai akhirnya berhasil, kami mulai

merencanakan strategi penjualan dan promosi. Awalnya kami mulai mencari info yang pertama

bertanya terkait kerjasama penjualan risol di kantin kampus atau Jujugan Cafe, dan kantin

sekolah, serta dim warung makan. Setelah beberapa kali kita melakukan penitipan penjualan

risol mayo tersebut, kami mendapat beberapa kesimpulan dari percobaan dan

pendistribusiannya, diantaranya:

1. Proses Eksperimen dan Pembelajaran

Proses awal pembuatan risol mayo melibatkan banyak eksperimen dan

pembelajaran dari berbagai sumber seperti Google dan YouTube. Beberapa kali terjadi

kegagalan dalam membuat adonan kulit risol yang sesuai, namun kegagalan ini

memberikan pelajaran untuk penyempurnaan produk.

2. Penyesuaian Resep

Melalui percobaan yang berulang, dilakukan berbagai penyesuaian seperti

menambahkan air dan minyak hingga ditemukan adonan yang tepat untuk kulit risol.

3. Ketahanan dan Tekad

Ketekunan dalam mencoba berbagai metode menunjukkan komitmen yang kuat

untuk mengatasi tantangan awal dalam pembuatan produk.

4. Strategi Pemasaran

Setelah berhasil membuat risol mayo yang sempurna, langkah selanjutnya

adalah merencanakan strategi penjualan dan promosi. Upaya awal untuk pemasaran

melibatkan pencarian informasi dan bertanya mengenai kemungkinan kerjasama

penjualan di berbagai tempat seperti kantin kampus, jujugan cafe, kantin sekolah, dan

warung makan.


PROSES PENJUALAN

Selama masa penjualan, kami menitipkan di beberapa tempat sesuai dengan rencana

kami diawal. Sesuai kesepakatan diawal kami memberi harga risol 2.500 per pcs dengan

menitipkan sebanyak 20 pcs, dan setiap melakukan penitipan dengan berbda tempat, yaitu yang

kita telah sebutkan. Selama kami menitipkan risol jualan kami di tempat-tempat tersebut kami

pernah mengalami untung dan rugi. Terkadang jualan risol yang kami titipkan ada yang tidak

laku atau tersisa satu sampai lima biji, dan akhirnya sisa risol tersebut kami makan bersama.

Selama proses berjualan, kami sulit atau belum bisa konsisten berjualan dikarenakan kami

masih kesulitan untuk membagi waktu untuk berjualan risol, karena kesibukan dari masing-

masing anggota diluar jam kuliah yang menyebabkan kurangnya efektivitas penjualan.

Selain masalah diatas, kami juga memiliki kendala, kami baru berjualan dan memulai

bisnis tersebut sekitar dua minggu sebelum memasuki bulan ramadhan. Dan ketika bulan

ramadhan tiba kami sempat berhenti untuk berjualan karena belum menemukan tempat atau

warun yang pas untuk menitipkan penjualan. Dan akhirnya selama bulan ramadhan full sampai

habis lebaran kami berhenti berjualan. Sampai akhirnya kami sempat mengalami kendala

komunikasi antar anggota yang menyebabkan kurangnya efektif penjualan tersebut.

Jadi, kesimpulan yang bisa diambil dari proses penjualan kami diantaranya yaitu:

1. Penjualan dan Distribusi

Penjualan risol dilakukan dengan menitipkan produk di beberapa tempat

sesuai rencana awal. Terdapat variabilitas dalam penjualan dengan beberapa

risol kadang tidak laku, yang akhirnya dimakan bersama oleh anggota tim.

2. Tantangan Waktu dan Konsistensi

Kesulitan membagi waktu antara berjualan dan kegiatan kuliah

menyebabkan kurangnya konsistensi dan efektivitas dalam penjualan.

3. Pengaruh Waktu dan Musiman

Memulai bisnis mendekati bulan Ramadhan menimbulkan tantangan,

seperti berhenti berjualan selama bulan puasa karena tidak menemukan

tempat yang pas untuk menitipkan produk.

4. Masalah Komunikasi

Memulai bisnis mendekati bulan Ramadhan menimbulkan tantangan,

seperti berhenti berjualan selama bulan puasa karena tidak menemukan

tempat yang pas untuk menitipkan produk. Pada kesimpulan diatas, menunjukkan bahwa meskipun ada upaya dan rencana awal

yang baik, berbagai faktor seperti manajemen waktu, musim, dan komunikasi mempengaruhi

konsistensi dan efektivitas penjualan.


EVALUASI PERJALANAN BISNIS RISOLICIOUS

Pada awal pembentukan kelompok dan ide bisnis ini kelompok kami memilih untuk

menjual risol mayo, dengan alasan makanan ini banyak diminati oleh kalangan mahasiswa dan

mudah dijangkau. Proses ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam kelompok, dimana

setiap anggota berkontribusi dalam pengambilan keputusan. Pemilihan risol mayo sebagai

produk utama karena pasar potensial, biaya awal yang rendah, dan permintaan yang stabil

merupakan langkah strategis yang berdasarkan analisis pasar.

Setelah itu kelompok kami membentuk struktur organisasi dengan pembagian tugas

yang jelas: Jihad sebagai pemimpin, Rico sebagai pengelola media digital, Kharisma sebagai

bendahara, Alifiya di bagian marketing, dan Melisah menangani perlengkapan. Pembagian ini

mencerminkan pendekatan yang terstruktur untuk memastikan setiap aspek bisnis terkelola

dengan baik. Pemilihan nama “Risolicious” menunjukkan kreativitas dan upaya branding yang

tepat untuk menarik minat konsumen.

Proses awal pembuatan risol mayo di dapur kost Rico menjadi tahap eksperimen

penting. Meskipun mengalami beberapa kegagalan seperti kulit risol yang sobek atau terlalu

tebal, kelompok ini menunjukkan ketekunan dengan terus melakukan penyesuaian pada resep.

Menambahkan air dan minyak hingga menemukan adonan yang pas mencerminkan ketekunan

dan komitmen untuk menghasilkan produk berkualitas. Pembelajaran dari percobaan ini sangat

penting untuk penyempurnaan produk sebelum diluncurkan ke pasar.

Selama masa penjualan, produk risol mayo dititipkan di berbagai tempat seperti kantin

kampus, cafe, dan warung makan. Meski sempat mengalami keuntungan dan kerugian,

tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketidakmampuan untuk konsisten dalam berjualan.

Kesulitan membagi waktu antara kuliah dan bisnis menyebabkan kurangnya efektivitas

penjualan. Ini menunjukkan bahwa manajemen waktu adalah kunci penting dalam

menjalankan usaha sampingan, terutama bagi mahasiswa yang memiliki jadwal padat.

Memulai bisnis mendekati bulan Ramadhan menambah tantangan karena kelompok

harus berhenti berjualan selama bulan puasa akibat tidak menemukan tempat yang pas untuk

menitipkan produk. Ini menunjukkan bahwa faktor musiman harus dipertimbangkan dalam

perencanaan bisnis. Selain itu, kendala komunikasi antar anggota juga menyebabkan

kurangnya koordinasi yang mempengaruhi penjualan. Komunikasi yang efektif adalah elemen

vital dalam tim, terutama dalam mengelola bisnis bersama.


KESIMPULAN

Secara keseluruhan, pengalaman kelompok PBS 4A dalam membangun dan

menjalankan bisnis risol mayo memberikan banyak pelajaran berharga. Mulai dari

pembentukan ide bisnis, eksperimen produk, hingga tantangan penjualan, setiap tahap

memerlukan kerjasama, ketekunan, dan kemampuan manajemen yang baik. Evaluasi ini

menunjukkan bahwa meskipun rencana awal telah disusun dengan baik, faktor eksternal seperti

waktu, musim, dan komunikasi dapat mempengaruhi konsistensi dan efektivitas penjualan.

Oleh karena itu, ke depannya, perbaikan dalam manajemen waktu, komunikasi yang lebih baik,

serta adaptasi terhadap perubahan musiman menjadi kunci untuk meningkatkan

kesuksesan bisnis.

Rencana hancur solusi datang KELOMPOK 6 XIMILU DRINK

 


PROLOG

Berdoa aja sama Allah SWT. semoga jualan kita laris hari ini,” Rosa berusaha untuk memberikan energi positif kepada para teman-temannya.

“AAMIIN,” semuanya serempak bilang aamiin, yang namanya usahakan harus di coba dulu.

                                                                                                                                                                                                          Bab 1 (berawal dari..)

Tak terasa beberapa semester telah berlalu hingga sampai di semester 4. Mata kuliah kewirausahaan islam menjadi sorotan utama dalam semester ini. Dengan mengemban tugas yang tidak biasa seperti pada semester sebelumnya. Tugas yang cukup membuat para mahasiswa membuka mata, yaitu menjual produk yang dibuat sendiri. Dengan ide usaha yang cemerlang, tentu akan menghasilkan cuan bukan?

Setelah berdiskusi dan ada perdebatan kecil, akhirnya kami memutuskan untuk membuat produk camilan berbahan dasar utama pisang yang telah dikalkulasi minim kerugian. Berawal dari Rosa yang teringat tentang pisang goreng di kamar kostnya. 

             “akh, 2 hari yang lalu aku beli pisang goreng belum aku makan, rugi banget. mana harganya 5 ribu per satunya”. Dari kejadian tersebut Kamel memiliki ide.

             “gimana kalo kita bikin produk baru berbahan dasar pisang,” celetuk Kamel, sedangkan teman-temannya masih loading. “daripada pisang cuman digoreng doang, mending kita bikin inovasi baru”

Valen sadar, ide dari Kamel memang bagus. Dengan budget  yang termasuk murah, pisang dapat menjadi produk hasil karya tangan sendiri. Tapi, Apa?

                                                                                                                                                                                                       Bab 2 (banana nugget)

Tugas kami bukan hanya membuat sebuah produk, tetapi juga menciptakan inovasi dari produk. Otak kami dibuat bekerja keras, Bagaimana cara untuk membuat pisang menjadi suatu produk olahan  yang unik. berpaut dengan ide dari Kamel, Apri jadi kepikiran. 

“Apa ya kira-kira?, coklat pisang gitu?”

“kalo pake coklat, agaknya kurang ramah dompet,” hasil pemikiran Apri.

“banana nugget?,” celetuk Kamel tiba-tiba. 

Semua setuju dengan ide dari Kamel. Pada akhirnya, kami sepakat untuk membuat nugget banana.


Bab 3 (baru kepikiran, kalo..)

Hari eksekusi tiba. Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga ada satu masalah datang. Hal tersebut disebabkan oleh kami yang tidak memperhitungkan ukuran nugget banana yang akan kami buat. Ukuran yang berbeda akan berakibat pada sesuatu yang tidak diinginkan, contohnya kerugian. Di Tengah kekacauan tersebut, kami berempat mencari solusi. Solusi yang paling masuk akal adalah membuatnya sesuai atau sama semua baik ukuran dan beratnya. 

           “Gimana kalo dibikin bola-bola pisang? Kita bisa bikin ukuran sendiri,” mata kami langsung menuju pada penceletuk solusi brilian itu, Kamel. Karena tak ada satupun yang membantah usulannya, kami pun berempat setuju. 

Valen membantu Kamel untuk membuat adonan pisang dan mencetaknya menjadi bulat. Tentunya sekarang dengan ukuran yang pas, sedangkan Apri dan Rosa memasak adonan yang sudah jadi disertai dengan perkiraan penggunaan api kecil atau besar. Apri dan Rosa bingung menggorengnya dengan api kecil atau besar, akhirnya Rosa mencoba 1 nugget pisang dengan api besar ehh ternyata saat menggoreng menggunakan api besar ternyata adonan di dalamnya masih terasa tepung dan diluar jadi gosong. Akhirnya Apri memutuskan coba kalau pakai api yang kecil, Apri dan Rosa bergegas langsung menggorengnya dengan api kecil dan benar menggoreng dengan api yang kecil membuat nugget menjadi bagus dan tepungnya sudah tidak terasa. 

Rosa dan Apri hanya menggoreng nugget sebagian hanya untuk mencoba nugget apakah sudah enak apa belum. Akhirnya nugget tersebut rasanya enak kemudian adonan nugget semuanya kami masukkan ke dalam freezer.

                                                                                                                                                                                                  Bab 4 (masalah baru)

Tapi, kami tidak bergerak cepat untuk mempromosikan produk kami. Karena waktu itu Valen mengirimkan screenshot an status dari kelas sebelah ternyata mereka juga membuat produk yang sama. Tentunya hal menjadi masalah karena persaingan yang ketat dan ruang lingkup yang kecil. Akan tetapi bukan ini masalah paling besar. Masalah terbesarnya adalah ketika salah satu dari kami yang menyimpan produk di dalam freezer yang kami fikir adalah yang paling teraman ternyata, listrik di kosnya mati sehingga suhunya naik selama semalaman hal ini membuat proses pembusukan nugget lebih cepat hingga produk kami pun tidak layak untuk diperjualbelikan.

Tersisa 4 hari menuju hari dimana kita akan mempresentasikan proposal bisnis kami di depan kelas. Tapi kita masih bimbang antara membuat produk yang sama atau membuat produk baru lagi. 

          “Nih…Ca, liat,” ucap kamel sambil memperlihatkan video reel instagramnya.

          “Apa?” tanya Rosa penasaran

          “Ximilu’, dividio kan bahan utamanya buah naga nanti kita ganti pake melon”

          “Wahh ide yang bagus Kamel” ucap Apri dan Valen

Akhirnya kami menentukan membuat produk baru lagi dengan nama ximilu.

                                                                                                                                                                                                   Bab 5 (eksekusi part 2)

Di hari Senin setelah selesai kuliah pas di hari ramadhan yang sangat terik Rosa, Apri, dan Kamel belanja bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ximilu, 

          “ayo kepasar beli bahan-bahan jangan lupa di tawar mati (tawar mentok)” ujar kamel

          “tapi panas banget i mel sek ya” apri menyanggah dikarenakan memang saat itu cuaca lagi panas sekali dan posisi itu juga kamel baru saja keluar dari rumah sakit. 

          “ehh mending ke ibu sayur samping idola wae rasih kui jare lebih murah timbang ng pasar panas panas” rosa lanjut memberi saran.

kemudian, saran di setujui oleh 3 orang anggota kelompok yang ada. Saat itu juga tanpa pikir panjang kami bertiga menerjang panasnya cuaca pucangan saat itu dengan tujuan utama membeli melon dengan harga yang miring (murah) namun juga memiliki rasa dan kualitas yang baik. Didapatlah buah melon sesuai dengan yang kami inginkan dengan harga yang telah kami sepakati sekitar 10 ribu saja. 

Oh ya, sebelumnya mungkin ada pertanyaan mengapa hanya bertiga sedangkan ada 4 orang anggota kelompok? jadi, Valen tidak dapat ikut dikarenakan ini memang dadakan dan ia harus bekerja. Karena sebelumnya rencana awal kita mau buat itu dihari kamis, tapi ternyata presentasi dimajuin menjadi hari rabu. Jadi di bari senin itu Apri, Rosa, dan Kamel mereka yang membuat ximilu karena kita butuh dokumentasi. Sebagai ganti nya Valen yang membuat pamflet ximilu untuk open PO selanjutnya. 

Lalu setelah membeli melon kami selanjutnya mencari agar-agar untuk mengganti puding silk yang seharusnya digunakan (mencari dengan harga yang ekonomis dan hampir mirip) kami mengganti dengan  menggunakan agar-agar dan santan. selanjutnya kami belanja di warung  madura dikarenakan harga yang lebih murah dibandingkan dengan yang ada di indomaret. kami membeli agar di indomaret dikarenakan cuaca yang sangat panas.

“Mel tukuo ager ng indomaret wes ra kuat aku” ujar ocha penuh keluh di keringat bagaikan kuli. 

Selesai semua bahan dibeli kami bergegas menuju kost ocha untuk membuat ximilu melon tersebut. Kami membuat ximilu hanya membutuhkan waktu satu jam setengah dengan membuat 10 cup ximilu. kami rasa di hari ramadhan ximilu ini cocok disajikan pada saat berbuka puasa. dikarenakan rasanya yang manis namun tidak giung (terlalu manis) serta perpaduan buah dan agar santan dengan krimer yang ada menjadikannya minuman dengan penuh gizi dan kesegaran yang sangat mendamba.  

                                                                                                                                                                                                  Bab 6 (jualan diwarung saat Ramadhan)

Sebelum jualan kami bertiga Apri, Kamel, dan Rosa membeli bahan-bahan terlebih dahulu di warung sayur dekat kampus, kemudian setelah membeli bahan-bahan kami langsung bergegas menuju kostnya Rosa untuk membuat ximilu. Kami membuatnya menghabiskan waktu 1 jam setengah untuk 10 cup ximilu dengan harga per cup 7 ribu. Setelah selesai sekitar jam setengah lima Apri dan Kamel langsung pulang. Dengan Kamel yang membawa 2 ximilu sedengkan Apri membawa 8 ximilu Apri membawa pulang ximilu tersebut kemudian menjualnya diwarung pas adzan maghrib kan seger ya ximilu untuk berbuka puasa. Pertama kali jualan habis 5 cup sisanya habis pas waktu sholat tarawih. Terdapat orang yang bilang “akh kemahalan kalua 7 ribu kayak gini ma 5 ribu aja”. Terus Apri bergegas menghubungi Kamel, Rosa, dan Valen bilang kalua dijual 7 ribu kemahalan gaes. 

Seketika langsung dijawab Rosa kalau dijual 6 ribu gimana pada setuju engga?

Kami bertiga langsung setuju dengan pendapatnya Rosa.

Bab 7 (eksekusi ximilu part 2)

Eksekusi ximilu kedua. Sebelum itu dihari minggu Valen nanya di grup dan minta pendapat ke Apri, Rosa, Kamel untuk memilih mau buat ximilu lagi hari apa. 

          “Ini kita mau buat ximilu lagi kapan, kita harus buat lagi kan??”

          “Pilih gais mau hari apa biar sekalian buat aku izin kerja”, Tanya Valen 

          “Senin aja gimna”, ujar Rosa 

          “Selasa aja gasi, tapi manut”, ujar Valen

          “Ini ga ditawarin di medsos dulu aja ga si biar kita tau nanti mau buat berapa gitu”, Jawab Apri 

          “Kalo mau agak selo (longgar) mending hari Kamis aja”, ujar Valen

Akhirnya smua setuju dan sepakat untuk membuat ximilu lagi di hari kamis dan kita semua open PO dulu lewat story whatsapp. Tapi, ternyata ibu tukang sayur itu tutup. Kita bingung mau jadi buat apa engga udah sore juga dan akhirnya kita gajadi buat dihari itu. 

          “Apa kita buat hari jumat aja”, ujar Kamel 

          “Kamel mending minggu aja ga si bisa dijual di CFD, soalnya kalo jumat itu bingung 

mau dijual kemana kan belum ada yang beli baru 1”, ujar Valen 

          “Jangan minggu kalau mau buat besok aja soalnya ibu sayur nya tutup kalau sabtu 

minggu. Oh iya beli bahan nya jumat tapi kita buat sama jualan nya minggu aja 

gimana?, ujar kamel 

           “Yaudah gapapa nanti ager nya tak buat sabtu malem”, jawab Valen 

Keesokan harinya di hari jumat kamel pergi untuk membeli bahan di ibu sayur, ternyata ibu sayur nya masih tutup dan beliau buka lagi hari senin. 

          “Gais ibunya tutup buka lagi hari senin, gimana?, ujar Kamel 

          “Yaudah tak belikan di ums deket tempat kerja ku kalo ga ya tak beli di pasar deket 

rumahku”. Ujar Valen

Lalu, dihari sabtu Valen sudah membeli semua bahan-bahan dan alhamdulillah melon nya dapat harga miring. Karena semua bahan sudah terkumpul kita semua sepakat untuk berjualan di CFD, dan titik kumpul nya di kost Kamel jam 06.00. 

                                                                                                                                                                                                                         Bab 8 (CFD with ximilu)

Keesokan harinya ternyata ada sedikit miscom, dan kita semua bangun kesiangan kecuali Apri. Karena Apri tepat waktu sampe kost an Rosa jam 06.00. Valen bangun jam 5 padahal sebelumnya Valen udah bilang ke Apri buat telfon jam 05.30, dan ternyata HP Valen mati lupa di charger. 

          “Iki Valen mesti HP ne mati ketiduran lupa ga di charger”, yang ada difikirkan Apri 

karena udah ditelfon ga berdering 

          “Apri maaf ternyata HP ku mati, dan untung aja aku di bangunin ibukku jadi aku bisa 

kebangun”, ucap Valen setelah buka chat Apri 

Karena Apri jam 06.00 udah sampai kost an Rosa dan ternyata Rosa juga belum bangun dan pintu gerbang kost an masih digembok,  akhirnya Valen dan Apri sepakat. 

          “Yaudah pri ini melon tak potong sama selasih nya tak buat di rumah aja, aku otw jam 

6 ya, aku juga harus ambil titipan ager ku dulu dirumah budhe ku, kamu telfon in Rosa 

sama Kamel dulu biar bangun”. Ujar Valen 

Nah, setengah jam sudah berlalu Valen udah sampai kost an Kamel dan Valen langsung telfon Kamel dan langsung disuruh masuk kost an nya. Ternyata Apri yang udah dari jam 6 tadi di kost an Rosa dan mencoba telfon Rosa berkali-kali masih belum dijawab padahal berdering. 

          “Apri aku udah di kost an Kamel, Rosa gimana udah jawab belum kalo belum langsung 

kesini aja kost an Kamel, kita racik dulu cream nya, nanti Rosa biar nyusul”, ujar Valen 

          “Len aku tak mandi dulu bentar sambil nunggu Apri kesini”, ujar Kamel

Setelah semua perlengkapan siap ya sekitar jam 7 nan kita bertiga lansung pergi ke CFD dan alhamdulillah nya disana masih ramai. Kamel dan Valen mencari tempat yang pas untuk kita jualan dan Apri membeli es batu dulu tadi lupa beli. 

          “Kamel yang fotoin ya buat dokumentasi jualan kita, nanti kita yang berjualan”. Ujar 

Apri dan Valen 

          “Ayo teriakin biar ada yang beli, tapi jadi malu kan kalo diteriakin”  ujar Kamel 

          “Yaudah kita jualan biasa aja, aku juga malu”, jawab Valen 

Selang beberapa waktunya alhamdulillah jualan kita laku ya, walaupun masih beberapa dan belum habis. Nah, sekitar jam 9 kurang beberapa orang sudah ada yang kukutan. Kami bertiga bingung karena jualan kita masih sisa 3. Akhirnya kita memutuskan untuk kukutan juga, tapi tiba-tiba ada bapak parkir datang. 

          “Mba es nya masih, ini jualan apa ya?? tanya bapak parkir 

          “Oooo ini ximilu pak”, jawab Apri 

          “Harganya berapa mba, mau beli 2 ya”, tanya bapak parkir 

          “Harganya 6k pak”, jawab Apri 

          “Engga 5k aja mba? ujar bapak parkir 

          “Yaudah pak 5k aja”, ujar Valen

          “Beneran mba gapapa? tanya bapak parkir 

          “Iya Pak gapapa sekalian pak semuanya 10k dapet 3 soalnya kita juga udah kukutan”, 

jawab Valen

          “Yaudah iya mba makasih ya”, jawab bapak parkir 

Karena bapak parkir nya sedikit jauh dari kita jualan, Valen membantu membawakan ximilu itu ke tempat bapak parkir duduk. Tiba-tiba Kamel ditelfon temannya namanya pipin katanya dia kecelakaann srempetan sama truk. Lalu Kamel diajak pipin untuk jenguk temannya itu. 

          “Valen Apri aku pergi dulu ya kasian temannya pipin”. 

          “Len aku pake motor mu ya, kamu pake motor pipin oke”, ujar Kamel 

          “Oke Mel bawa aja, ini aku sama Apri lanjutin kukutan ya bentar lagi juga selesai “, 

jawab Valen 

Setelah kita jualan selesai Valen dan Apri pulang ke kost nya Kamel, tapi kita lupa ternyata kunci gerbang kost an nya Kamel ada di jok motor nya Valen dan motor Valen dibawa Kamel. Karena gaada kunci kita nunggu didepan kost an Kamel sekitar 15 menit an dan Valen mecoba menghitung keuntungan kita. 

Kita menghitung jumlah keseluruhan uang yang didapat hari itu. Ternyata jumlah uang yang didapat dari 15 cup ximilu yang kami jual seharga Rp.6.000 dan dihitung ulang lagi dengan kerugian bola” pisang juga keuntungan ximilu part 1 tersebut sebesar Rp.28.000. Dengan keuntungan yang di dapat dari per cup ximilu sekitar Rp. 1.800. 

Akhirnya ada mba” yang keluar dan membuka gerbang kost an Kamel. Pas kita masuk tiba-tiba Rosa datang, Apri dan Valen kaget dengan posisi Rosa datang. Karena dari tadi Rosa gabisa dihubungi. 

          “Apri kamu marah ya sama aku?” 

          “Sepurane ya gais gak tangi aku”, ujar Rosa 

          “Iya gapapa”, jawab Valen dan Apri 

          “Ayo makan, lapar ini nasi padang yuk”, ujar Valen 

          “Oke gas beli nasi padang”, jawab Apri dan Rosa 

Kemudian, kita masuk tapi cuma naruh barang- barang jualan tadi didalam dulu. Karena kita sudah kelaparan dari tadi belum sarapan akhirnya Valen, Apri, dan Rosa langsung mencari makan nasi padang dan memakan nya di kost an Kamel tadi sembari menunggu Kamel pulang. 

Dari usaha ximilu ini kami pun merasa bahagia dan bangga kepada diri sendiri. Akhirnya, kerja keras Kami terbayar dengan habisnya ximilu yang kami jual. Kami belajar banyak hal mulai dari kekompakkan tim yang menentukan berhasil atau tidaknya sebuah usaha, kerja keras tidak kenal lelah, dan pelajaran untuk tidak menghambur-hamburkan uang, serta dapat memberikan pelajaran bahwasanya komunikasi itu penting. Karena dari berwirausaha ini, Kami merasakan sendiri betapa susahnya mencari uang, betapa pentingnya komunikasi, saling mengerti satu sama lain.

STORYLINE JELLY BALL FRUITY

 



Dalam artikel ini kami akan menceritakan pengalaman perjalanan bisnis, mulai dari ide awal sampai evaluasi.

Perkenalkan kami mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas  Ekonomi dan Bisnis Islam.  Saat ini kami berada di semester 4 dan mendapat mata kuliah kewirausahaan Islam yang dibimbing oleh ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Dalam mata kuliah ini kami mendapat tantangan baru untuk mencoba berbisnis. Hal tersebut membuat kami merasa tertantang karena merupakan pengalaman pertama yang akan kami lakukan. Setelah mendapat tugas tersebut kami sekelompok mencari ide bisnis yang mudah untuk pemula tetapi juga menguntungkan. Setelah mencari dari berbagai referensi akhirnya kami memutuskan memulai bisnis jelly ball fruity, ide ini muncul dari keinginan kami untuk membuat camilan yang praktis dan menyegarkan, buah-buahan segar selalu menjadi pilihan yang sehat,  tetapi seringkali tidak bisa dibawa atau dikomsumsi ditengah kesibukan kami.

 Dengan  inovasi jelly ball fruity ini buah-buahan diubah menjadi bentuk jely yang mudah dinikmati kapan saja.  Minuman ini cukup viral di media sosial sehingga  memiliki daya tarik seseorang untuk mencobanya.  Selanjutnya kami menghitung jumlah modal yang kita butuhkan dengan sangat rinci. Setelah kami mempertimbangkan dan menghitung semua kebutuhan kami memutuskan untuk memberi modal 46.000 per anggota dan ditotal menjadi 276.000, kemudian kami berbelanja  semua alat dan bahan yang dibutuhkan. Keesokkan harinya kami melakukan percobaan pembuatan jelly beserta kuah creamy. Sebelum kami pasarnya kepada khalayak ramai, tetapi pembuatan jelly mengalami kegagalan dari segi tekstur dan bentuk yang telalu lembek, jadi kami mencari tutorial resep yang lain dan pada akhirnya produk kami berhasil terbentuk bulat sempurna dan siap untuk diperjual belikan. Segala pertimbangan sudah dilakukan, sehingga kami memberikan berbagai varian harga untuk setiap porsinya seperti 2000, 5000, dan juga 10000. Selanjutnya kami melakukan pembuatan desain untuk banner/pamflet yang digunakan sebagai media pemasaran untuk metode open pre order dan juga berjualan di car free day. Setelah desain selesai seluruh anggota kami melakukan teknik pemasaran/melakukan promosi melalui aplikasi whatsapp untuk pre order selama 3 hari dan alhamdulillah produk telah terjual sebanyak 36 porsi. Ketika pembuatan pesanan jelly ball untuk pre order kami memasak selama 2 hari di kos salah satu anggota kami karena jarak paling tengah diantara rumah masing masing anggota, selesai membuat jelly kami beradu argumen karena jelli buah  harus selalu berada di dalam lemari pendingin agar tetap segar dan tidak mudah basi, tetapi karena terbatasnya tempat didalam lemari pendingin maka kami memutuskan untuk membawa pulang per anggota 2-3 box jelly yang sudah jadi untuk dimasukkan kedalam lemari pendingin dirumah masing-masing.

Penyerahan pesanan kami lakukan pada hari kamis pada siang hari saat jeda mata kuliah, sedangkan untuk pesanan di luar kampus kami lakukan sore sepulang kuliah. Karena tugas kami yang utama ialah berjualan di car free day, akhirnya kami memilih untuk berjualan di car free day Colomadu yang lumayan ramai pengunjung. Sistem berjualan di car free day Colomadu itu sistem ngelapak di sembarang tempat yang belum dipakai penjual lain karena tidak ada panitia koordinaasi tempat, karena kami merupakan panjual baru yang belum memiliki tempat dengan hak pasti, kami sempat diusir karena telah memakai tempat penjual lain sehingga lapak kami geser ke tempat yang kosong.

Jam awal berjualan masih terpantau belum ada yang membeli dan kami sempat berkecil hati dan berfikir "ada yang beli engga ya?" tetapi kami tetap optimis. Selang beberapa  menit akhirnya seorang anak laki-laki bersama kakek nya membeli jelly ball kita dan mengapresiasi kami dengan berkata "masih muda sudah mau berjualan". Saat itu kami merasa bangga dan senang atas apresiasi kakek tersebut. Seiring berjalannya waktu banyak orang-orang yang sedang berolahraga melirik banner jualan kita, karena penasaran mereka mulai datang satu persatu untuk membeli Jelli Ball Fruity. Saat itu terjadi kami sangat antusias untuk melayani mereka. Saat akan berkemas untuk menyudahi jualan, tiba tiba stand jualan kami didatangi  pembeli dan kami bergegas membuat kuah creamy lagi dikarenakan kuah creamy yang dibuat sebelumnya sudah habis. Ada hal lucu saat kami berjualan di CFD. Saat itu ada anak kecil yang ingin membeli Jelly Ball kita tetapi ibunya tidak memperbolehkan lalu salah satu anggota kami membisikan adek tersebut bahwa Jelly Ball kita harganya terjangkau dan enak, tetapi adek dan ibunya tetap melewati stand jualan kami dan tanpa kami duga ternyata adek tersebut kembali lagi ke stand kami untuk membelinya.


     

Kemudian kami melakukan evaluasi mengenai jelly ball fruity yang kita jual setelah berdiskusi cukup lama kami menyimpulkan beberapa point, yang pertama kegagalan dalam mencetak jelly (kegagalan bentuk, kegagalan tekstur). Kegagalan dalam pencetakan jelly terjadi disaat masa percobaan sebelum akhirnya diperjual belikan,  dari segi tekstur yang kurang kenyal dan sangat lentur menyebabkan produk gagal, selanjutnya dari sisi bentuk, bentuk jelly yang seharusnya bulat utuh terkadang mengalami kegagalan yang kurang sempurna kebulatannya yang disebabkan oleh kurangnya praktik dalam masa percobaan. Kedua, creamy tidak bisa bertahan lama karena terbuat dari bahan dasar beberapa susu, seperti susu evaporasi, susu kental manis, dan susu fullcream. Campuran susu tersebut tidak bisa bertahan lama karena sifat susu yang mudah basi dan menimbulkan bau asam yang sangat menyengat sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Lalu ⁠jelly isi buah tidak bisa bertahan lama karena buah yang kita gunakan seperti buah naga, semangka, dan nanas. buah buahan tersebut mudah membusuk dan menyebabkan jelly menjadi berair cenderung menyebabkan lendir lengket yang berlebih. Oleh karena itu, jelly isi buah harus selalu berada didalam lemari pendingin untuk dikonsumsi. Perbandingan penjualan po lebih banyak dibandingkan penjualan saat cfd, penjualan pre-oder lebih banyak dibandingkan penjualan car free day ini disebabkan karena jangkauan target pasar yang lebih luas dibandingkan dengan cfd sendiri yang hanya mengandalkan orang-orang yang berolahraga di tempat itu saja.

Selain itu terdapat batasan waktu saat berjualan di CFD menyebabkan kami harus tutup berjualan pada batas waktu yang ditentukan sehingga waktu berjualan terbilang cukup singkat.

Tugas ini banyak memberikan pengalaman bagi masing masing anggota. Kami ditantang untuk berjualan dan terjun langsung ke lapangan sehingga dapat merasakan bagaimana susahnya memulai usaha dari nol. Menyatukan berbagai pendapatan yang ada dan yang terpenting kerja sama yang sangat di butuhkan untuk membuat suatu pekerjaan menjadi lebih ringan dan mudah. Jangan ragu memulai sebuah usaha, tetap optimis dan berani mencoba. "Kesuksesan berawal dari misi dan tantangan, bukan berawal dari zona nyaman".

TAMAT

Disusun oleh kelompok 4 PBS 4E :

· Nurul                         (225231174)

· Anissa Febriyani       (225231177)

· Mega Intaningrum N (225231184)

· Fernanda Setiadi       (225231186)

· Ainun Hanafiyah F    (225231194)

· Amelia Dea Saputri  (225231196)


Perjalanan Sukses Merek Swift : Dari Ide hingga Kesuksesan dalam Bisnis Cheese Roll



Untuk memenuhi tugas ujian tengah semester, biasanya para dosen akan memberikan tugas kepada para mahasiswanya, baik secara offline maupun online, yang dilakukan di dalam kampus maupun di luar kampus. Sebagai contoh, untuk kali ini, dosen kewirausahaan memberi kami tugas UTS untuk melakukan praktik kewirausahaan, yaitu jual beli. Kami dibagi menjadi kelompok berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Dosen meminta agar dalam satu kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan agar pelaksanaan tugas berjalan lancar serta dirasa adil bagi semua. Di sinilah kami mulai membentuk kelompok dengan enam anggota, di mana setiap anggota memilih kemampuan dan keistimewaannya sendiri.

Awalnya kami merasa bingung dan terganggu karena ini adalah pengalaman pertama kami dalam melakukan kegiatan kewirausahaan. Tanpa memiliki latar belakang sebelumnya mengenai kewirausahaan, akhirnya kami sepakat untuk tetap berusaha melaknakan tugas ini sebaik mungkin agar mendapatkan nilai yang baik pada mata kuliah ini.

Beberapa hari setelah pembagian kelompok, kami mulai memikirkan produk apa yang akan kami jual, serta apakah produk tersebut akan diminati oleh para pembeli. Setelah melakukan musyawarah dan berdiskusi bersama, kami sepakat untuk membuat camilan berupa keju yang digulung dengan kulit pangsit, atau yang biasa dikenal dengan nama "Cheese Roll".

Namun, setelah mempertimbangkan dengan matang, kami merasa bahwa produk kami akan lebih menarik jika diberi merek atau brand tersendiri. Selain meningkatkan daya Tarik pembeli, penyisipan nama merek juga dapat memberikan nilai tambah. Demikianlah pemikiran kami ketika mulai mencari nama yang tepat untuk dijadikan merek.

Di tengah kebingungan kami dalam mencari nama yang sesuai untuk merek tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang sedang memutar lagu berjudul "Foolish One" oleh musisi terkenal asal Amerika Serikat, Taylor Swift. Tanpa butuh waktu lama, kami sepakat untuk mengambil nama dari musisi tersebut sebagai merek produk kami. Swift, itulah nama merek produk kami yang muncul setelah mendengarkan lagu dari musisi tersebut.

Selain diambil karena mayoritas anggota kami adalah penggemar musik Taylor Swift, kata "Swift" sendiri memiliki makna yang cukup positif. Artinya adalah bergerak cepat, dan kami berharap dapat melakukan sesuatu dengan cepat dan responsif dalam melayani konsumen kami.

(Meiva Putri Fadira)

Setelah merasa yakin dengan nama merek serta produk yang akan dipasarkan, kami mulai bergerak untuk membeli barang-barang yang akan dibutuhkan dalam pembuatan produk Cheese Roll tersebut.

Mulai dari kulit pangsit, mencari keju yang memiliki tekstur yang sesuai untuk dijadikan isian, toping glaze dengan berbagai macam rasa, serta Oreo dan sprinkle yang akan menjadi hiasan di atas Cheese Roll kami. Untuk percobaan, kami membuat sekitar 50 gulungan pangsit. Namun, kami hanya menggoreng sekitar 5 buah untuk dijadikan sampel uji coba.

Tantangan selanjutnya adalah dalam proses menggoreng Cheese Roll tersebut. Jika suhu api, ukuran wajan, serta jumlah minyak tidak tepat, maka Cheese Roll dapat dengan mudah gosong dan tidak dapat dipasarkan. Oleh karena itu, proses penggorengan menjadi tahap yang paling sulit karena bisa berpotensi gagal jika tidak dilakukan dengan hati-hati.

Untuk sampel, kami menggoreng lima buah Cheese Roll dan menghiasnya dengan glaze stroberi serta taburan sprinkle. Setelah disusun rapi dalam kotak mika sebagai kemasan, kami memutuskan untuk mengambil foto-foto tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai poster promosi.

Cheese Roll disajikan dengan rapi dan indah dalam kotak, dengan glaze stroberi pink dan taburan sprinkle yang menarik, menjadikannya sangat menggoda bagi siapa pun yang melihat. Tanpa membuang waktu, kami segera mengambil beberapa gambar untuk dijadikan poster promosi. Kemudian, tanpa menunggu lama, kami membuka pre-order untuk Cheese Roll tersebut.

Awalnya, kami merasa pesimis dengan usaha ini, mengingat kelompok lain di kelas kami juga memiliki ide usaha lain yang tak kalah menariknya. Beberapa menit setelah kami membagikan poster promosi, hanya ada dua atau tiga pesanan yang masuk. Hal ini semakin memperkuat perasaan pesimis kami.

Namun, setelah beberapa waktu berlalu, banyak pesan masuk dan semuanya tertarik dengan produk kami. Akhirnya, pada pre-order pertama, kami menerima 50 pesanan. Dengan cepat dan penuh semangat, kami mulai menyiapkan kulit pangsit dan keju. Kami membagi tugas, ada yang menggulung, ada yang memotong keju, dan tak lupa ada yang bertugas menggoreng Cheese Roll. Semua ini dilakukan agar kami dapat menyelesaikan pesanan dengan baik dan membuat konsumen merasa puas dengan layanan kami.

(Azahra Putri Wulandari)

Untuk modal awal, kami sepakat untuk iuran sebesar Rp. 40.000 per anggota. Dengan jumlah anggota sebanyak 6 orang, modal awal untuk pembuatan produk dapat mencapai sekitar Rp. 240.000. Namun, di tengah perjalanan, kami mengalami kekurangan modal karena total pengeluaran mencapai Rp. 268.000. Sehingga kami harus mencari modal tambahan dengan meminjam kepada salah satu anggota. Kemudian, dari hasil penjualan pertama, kami berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp. 578.000. Namun, sebelum pembagian hasil, pendapatan dari penjualan tersebut dikurangi untuk mengganti modal tambahan yang dipinjam dari anggota kami. Sehingga dari Rp. 578.000, sejumlah Rp. 28.000 digunakan untuk mengganti modal awal. Sisa pendapatan yang dibagikan kepada enam anggota adalah Rp. 550.000, dengan masing-masing mendapatkan Rp. 90.000. Oleh karena itu, tersisa uang sebesar Rp. 10.000 yang akan digunakan sebagai modal untuk penjualan berikutnya.

Dengan tersisa beberapa bahan, kelompok kami berinisiatif untuk melakukan iuran kembali sebesar Rp. 15.000 per orang. Modal untuk penjualan kedua ini diambil dari sisa pendapatan penjualan pertama sebesar Rp. 10.000, ditambah dengan iuran anggota sebesar Rp. 90.000, sehingga modal untuk penjualan kedua adalah Rp. 100.000. Kami merencanakan pendirian stand penjualan di sekitar area kampus. Oleh karena itu, kami membagi tugas untuk persiapan bahan yang kurang, persiapan perlengkapan alat memasak, perizinan lokasi stand dan pembuatan banner serta meja untuk jualan.

(Adventa Isya Ilya)

Untuk perizinan lokasi, kami memanfaatkan keistimewaan salah satu anggota yang akrab dengan pemilik lahan kosong di daerah tersebut. Setelah mendapatkan izin, pemilik lahan tidak memungut biaya kepada kami sedikitpun. Hal ini menjadi keuntungan bagi kami sehingga tidak ada pengeluaran biaya sewa tempat. Selain itu, setelah memeriksa bahan yang tersedia, kami menemukan kekurangan kulit pangsit dan glaze rasa matcha. Meskipun mudah untuk membeli perasa matcha, namun sulit untuk mendapatkan kulit pangsit. Sebelumnya, kami membeli kulit pangsit dari sebuah pabrik di luar kota dengan harga yang terjangkau. Namun, karena harus segera berjualan di stand, dua anggota kami mencari kulit pangsit dengan harga murah meskipun harus pergi agak jauh dari area kampus, bahkan dalam kondisi hujan deras.

(Karina Safitri Putri Andini)

Setelah digunakan untuk pembelian bahan, ternyata hanya sebesar Rp. 46.000 yang terpakai, dengan sisanya mencapai Rp. 54.000. Saat semua bahan terkumpul, salah satu anggota mengingatkan kami mengenai meja stand dan peralatan memasak. Beberapa anggota kami bersedia membawa kompor dan wajan dari asramanya, dan kami juga meminjam meja stand dari tetangga salah satu anggota. Pada hari penjualan, kami belum menyelesaikan persiapan terkait percetakan MMT. Namun, karena kami memiliki kerja sama dan relasi yang baik, salah satu anggota langsung mencetak MMT tanpa biaya. Meskipun sudah gratis, kami merasa heran dan mengetahui bahwa MMT tersebut sebenarnya ditukar dengan cheeseroll.

Sedangkan untuk pemasaran yang kami lakukan yaitu ada 2 sistem yang pertama  melalui instagram dan yang ke-dua melalui WhatsApp, untuk swiftroll sendiri kelompok kami membuatkan akun untuk bisnis ini dengan segala persiapan seperti watermark, logo untuk menarik para pelanggan, lalu juga kami memberikan update-an di story instagram yang berisikan video kegiatan kami dalam proses membuat dan memasak, kegiatan saat jualan di stand yang kami buka, dan untuk postingan feed instagram tak lupa kami uploadkan poster jualan kami agar para pelanggan tau apa saja yang kami perjualkan di produk kami. Untuk pengelolaan pemasaran di instagram ini kami memiliki 2 admin yang bertanggung jawab untuk pengelolaan pemasaran di instagram, username instagram kami adalah @swiftroll_ jangan lupa untuk mengunjunginya.

Sistem yang ke-dua kelompok kami melakukan pemasaran melalui WhatsApp, dimana salah satu anggota kami meng-koordinasikan gambar poster, waktu upload, caption untuk kelengkapan. Setelah semua tertata dengan rapi kami semua meneruskan pesan yang telah dikoordinasikan oleh teman kami tersebut, jadi status poster pemasaran kami muncul di status WhatsApp secara bersamaan dengan gambar posternya beserta caption. Ketika status tersebut sudah di pasang kami mulai merekap pesanan yang masuk di WhatsApp, begitu pula di akun Instagram pesanan melalui DM kami catat satu-persatu.

(Adventa Isya Ilya)

Ketika kami menyiapkan stand, kami menerima beberapa pemesanan online dari rekan kampus. Kami segera menggoreng dan menghidangkan cheeseroll untuk mereka. Lokasi stand kami cukup strategis, berdampingan dengan penjual sayur, lauk, dan minuman es, sehingga sangat ramai di sore hari ketika warga ngabuburit untuk persiapan berbuka puasa. Selama melayani pesanan, seorang ibu membeli cheeseroll untuk cucunya setelah bertanya-tanya tentang produk kami. Anak-anak yang membeli minuman es juga tertarik dengan cheeseroll kami dan memutuskan untuk membelinya. Meskipun tidak begitu ramai, stand kami tetap menerima banyak pembeli hingga menjelang maghrib. Kami memutuskan untuk menutup stand dan pulang untuk berbuka puasa. Sebelumnya, kami mengambil foto bersama sebagai tugas dari dosen. Ketika kami sedang membersihkan stand, seorang anak kecil yang sebelumnya berfoto bersama kami datang kembali dengan kakaknya dan memesan cheeseroll. Kami melayani pesanan mereka dengan senang hati. Meskipun terburu-buru pulang, kami tetap melayani para pembeli hingga habis semua bahan. Dari penjualan di stand, kami menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 162.000, dengan tambahan sisa modal menjadi Rp. 216.000. Oleh karena itu, setiap anggota mendapatkan sekitar Rp. 126.000 dalam pembagian hasil.

Tugas kami pun belum sepenuhnya usai. Dosen kami meminta agar setiap kelompok mempresentasikan business plan mereka. Untungnya, ketika diskusi pertama kami telah membentuk struktur organisasi. Bendahara kami dengan cekatan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran yang kami lakukan sehingga ketika menyusun proposal bisnis plan tidak kesulitan. Pencatatan penjualan dari konsumen pun tidak luput dicatat oleh sekretaris kami yang sangat rajin.

            Proposal dalam bentuk makalah pun telah selesai, namun dosen kami juga menginginkan bentuk power point sebagai bahan presentasi. Kami sedikit pesimis karena hari presentasi sudah sangatlah dekat. Teman kami yang menjadi manajer promosi memberikan template power point yang menarik sesuai dengan tema kelompok kami. Akhirnya salah satu anggota kelompok kami mengerjakannya dalam tempo waktu satu malam dan selesai tepat sebelum mata kuliah tersebut mulai dipagi harinya.

(Widya Pramustika Utami)

            Hari presentasi pun tiba. Sebelumnya, kami telah janjian untuk memakai baju dengan tema warna senada sesuai dengan identitas produk kami, berwarna cerah. Juga kami mengenakan sebuah stiker logo produk kami yang ditempel di baju kami. Ada tiga kelompok yang mempresentasikan produknya pada pertemuan kali ini. Kebetulan pertemuan kali ini adalah yang terakhir sebelum libur lebaran.

            Kelompok pertama mempresentasikan produknya, jelly fruit ball. Produk kelompok ini sedang banyak diminati kalangan muda dan mereka mempresentasikannya dengan sangat baik. Perasaan gugup menyertai kami tapi kami harus tetap optimis dan bisa menyampaikannya dengan baik. Kelompok pertama pun selesai menyampaikan hasil kerja mereka, dosen dan mahasiswa kelas kami memberikan apresiasi dengan tepuk tangan yang meriah. Rasa gugup pun menghampiri kami lagi dan sekarang giliran kelompok kami.

            Kami pun maju kedepan kelas dan mulai menyampaikan materi presentasi kami. Sebelumnya kami telah membagi tugas dalam penyampaian presentasi kami pada tiap anggota kelompok. Staf produksi kami menyampaikan profil kelompok kami, nama anggota kelompok serta latar belakang brand kami, Swift. Satu-satunya mahasiswa dikelompok kami yang kami tunjuk sebagai CEO menyampaikan visi misi serta strategi pasar kami. Lalu manajer produksi kami menyampaikan mengenai produk yang kami jual, cheese roll.

            Selanjutnya adalah mengenai SWOT. Bagian yang paling penting mengenai Strength atau kekuatan produk kami, Weakness atau tantangan produk kami. Oppurtunity atau keuntungan produk kami. Serta Treath atau ancaman bagi produk yang kami jual. Materi ini disampaikan sekretaris dan manajer promosi kami.

            Materi terakhir yaitu finansial plan atau strategi keuangan yang kami lakukan, penghitungan pemasukan dan pengeluaran, serta laba yang akan kami dapatkan disampaikan oleh bendahara kami. Presentasi kami pun usai dan seperti biasa sesi tanya jawab. Kami berharap tidak ada mahasiswa atau mahasiswi kelas kami memberikan pertanyaan, tapi itu mungkin hal yang mustahil.

(Naufal Kenshi Atthoriq)

            Salah satu mahasiswa akhirnya bertanya kepada kami. Bagaimana produk anda ini dapat terus berkembang mengikuti minat konsumen? Pertanyaan yang cukup berisi. Kami pun saling berpandangan dan ragu-ragu dalam menjawab. Akhirnya CEO kami menjawab pertanyaan tersebut dengan cukup memuaskan. Brand kami tidak hanya akan memberikan satu produk makanan saja kepada konsumen, tetapi kami akan selalu memberikan inovasi kepada konsumen sesuai dengan minat masyarakat di masa depan. Sesuai dengan visi kami menghadirkan aneka cemilan roll kepada masyarakat.

            Pertanyaan itu belum usai. Dosen kami pun juga bertanya kepada kami untuk lebih menjelaskan alasan kami memilih nama Swift untuk produk kami. staf produksi kami menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat jelas. Alasan kami karena seluruh anggota kelompok kami menyukai lagu dari Musisi ternama, Taylor Swift. Kata swift sendiri memiliki arti yang positif, yaitu bergerak dengan cepat. Harapannya, kami dapat selalu memberikan pelayanan yang cepat dan optimal kepada konsumen kami.

            Presentasi kami pun selesai, dosen kami memberikan apresiasi kepada kami. Kelompok ini hebat lho! Mereka sudah memiliki nama brand sendiri dan dalam rintisan usaha pertama kali, mereka sudah mendapatkan laba yang paling tinggi diantara kelompok lain. Berikan tepuk tangan kepada kelompok lima. Satu kelas pun memberikan tepuk tangan yang meriah kepada kami.

            Kelas hari ini selesai. Kami pun berkumpul di balkon lantai dua kampus kami untuk berfoto bersama. Kami pun memberikan apresiasi satu sama lain setelah kerja sama selama ini. Banyak sekali hal-hal yang kami dapatkan selain rasa lelah. Pengalaman dari wirausaha ini sangat berarti bagi kami semua sehingga di masa depan nanti kami tidak akan gugup ketika merintis sebuah bisnis. Dan yang paling utama adalah selalu percaya proses dan berani mengambil resiko.


KELOMPOK 5 (SWIFT ROLL)

Program Studi: Perbankan Syariah Uin Raden Mas Said Surakarta


ANGGOTA:

  1. Naufal Kenshi Atthoriq _225231192_(CEO)
  2.  Widya Pramustika Utami_225231176_(Sekretaris)
  3. Adventa Isya Ilya_ 225231175_(Bendahara)
  4.  Meiva Putri Fadira_225231183 _(Manajer Produksi)
  5. Azahra Putri Wulandari_225231180_(Staff Produksi)
  6.  Karina Safitri Putri Andini _225231195_(Manajer Marketing)

Dibalik cerita pisang coklat lumer

 


Penulis & Anggota :

 Miftahul Maya afsari (225231066)

 Maulida khoirunnisa wardoyo (225231058)

 Yanuar Arif Wibowo (225231075) 

Sofiana Araya (225231079)

 Feni febianti (225231077) 


Pendahuluan 

      Dalam dunia kuliner yang terus berkembang, inovasi dan kreativitas menjadi faktor kunci untuk menarik perhatian konsumen. Salah satu produk inovatif yang semakin populer di kalangan pecinta makanan manis adalah pisang coklat lumer. Dengan kombinasi rasa manis dan tekstur lumer dari coklat yang meleleh, serta kesegaran dan kelembutan pisang, jajanan ini mampu menarik perhatian banyak orang. Keunikan dan kelezatan dari pisang coklat lumer menjadikannya pilihan yang menarik baik sebagai camilan sehari-hari maupun hidangan penutup dalam berbagai acara.

      Pisang coklat lumer tidak hanya menawarkan kenikmatan rasa, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan. Pisang, sebagai bahan dasar, kaya akan vitamin B6, vitamin C, dan serat yang baik untuk pencernaan. Coklat, terutama coklat hitam, mengandung antioksidan yang dapat meningkatkan kesehatan jantung dan mengurangi stres. Kombinasi ini menjadikan pisang coklat lumer sebagai pilihan camilan yang tidak hanya lezat tetapi juga bernutrisi.

      Pasar jajanan di Indonesia sangat dinamis dan kompetitif. Inovasi dalam bidang kuliner menjadi kunci sukses untuk menarik minat konsumen. Pisang coklat lumer hadir sebagai inovasi yang memadukan bahan-bahan sederhana namun menghasilkan rasa yang luar biasa. Pasar pisang coklat lumer sangat luas dan potensial. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan makanan yang sehat namun tetap lezat, produk ini bisa menjadi salah satu pilihan favorit di kalangan berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

      Selain dilihat dari aspek pasar, dalam industri kuliner yang terus berkembang ini inovasi dalam penyajian makanan menjadi salah satu kunci untuk menarik minat konsumen. Pisang coklat lumer merupakan paduan sempurna antara manisnya pisang matang yang dilapisi dengan coklat lumer yang lezat, memberikan sensasi rasa yang memanjakan lidah. Penyajiannya yang menarik dan kemudahan dalam mengonsumsinya menjadikan pisang coklat lumer pilihan favorit untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain itu, bahan-bahan yang 5 digunakan dalam pembuatan pisang coklat lumer relatif mudah didapat dan memiliki nilai gizi yang baik, menjadikannya alternatif camilan yang lebih sehat.

Penjualan Pertama 

       Memulai sebuah usaha bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan strategi yang matang, semangat pantang menyerah, dan yang paling penting, cara yang tepat untuk menarik minat konsumen. Pada kisah ini, kami akan menceritakan pengalaman penjualan pertama kami yang memutuskan untuk menggunakan sistem pre-order (PO). Sistem ini dipilih dengan harapan dapat mengurangi risiko kerugian sekaligus mengukur minat pasar terhadap produk yang kami tawarkan.

Strategi Awal 

Kami memutuskan untuk menjalankan penjualan pertama dengan sistem PO untuk beberapa alasan. Pertama, kami ingin mengetahui seberapa besar minat pasar terhadap produk yang kami tawarkan tanpa harus mengeluarkan modal besar untuk produksi awal. Kedua, sistem PO memungkinkan kami untuk hanya memproduksi jumlah pesanan yang telah dikonfirmasi, sehingga meminimalisir risiko barang tidak laku dan mengurangi potensi kerugian.

Untuk itu, kami mulai dengan membuat pamflet digital yang menarik. Pamflet ini berisi informasi lengkap mengenai produk kami, mulai dari deskripsi produk, harga, hingga cara pemesanan. Desain pamflet dibuat semenarik mungkin dengan warna-warna cerah dan gambar produk yang menggugah selera. Kami juga menambahkan beberapa testimoni dari teman-teman yang sudah mencoba produk kami sebelumnya untuk menambah kepercayaan calon konsumen.

Pemasaran di Media Sosial 

Pamflet yang sudah dibuat kemudian kami sebarkan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Media sosial dipilih karena memiliki jangkauan yang luas dan biaya yang relatif murah dibandingkan dengan media konvensional. Selain itu, media sosial memungkinkan kami untuk berinteraksi langsung dengan calon konsumen, menjawab pertanyaan mereka, dan memberikan informasi lebih lanjut jika dibutuhkan.

Kami juga memanfaatkan fitur-fitur di media sosial seperti Instagram Stories dan WhatsApp untuk memperluas jangkauan promosi. Tidak lupa, kami meminta bantuan teman-teman untuk ikut 7 menyebarkan pamflet ini ke jaringan mereka masing-masing. Dengan cara ini, kami berharap dapat menjangkau lebih banyak orang dan menarik minat lebih banyak konsumen.

Respon dan Hasil 

Ternyata, usaha kami tidak sia-sia. Minat pelanggan terhadap produk kami cukup besar. Dalam waktu singkat, orderan mulai masuk satu per satu. Awalnya kami tidak menyangka bahwa antusiasme konsumen akan sebesar ini. Pada penjualan pertama, kami berhasil mendapatkan 25 pesanan. Jumlah ini jauh melebihi ekspektasi awal kami yang hanya menargetkan sekitar 10-15 pesanan. 

Antusiasme konsumen ini memberikan semangat dan keyakinan kepada kami bahwa produk yang kami tawarkan memang memiliki potensi pasar yang baik. Selain itu, pengalaman pertama ini juga memberikan banyak pelajaran berharga, terutama dalam hal mengelola pesanan dan berkomunikasi dengan konsumen.

Pelajaran dan Pengalaman

Dari penjualan pertama ini, kami belajar bahwa promosi melalui media sosial sangat efektif dalam menarik minat konsumen. Kami juga belajar pentingnya memberikan informasi yang jelas dan detail kepada konsumen untuk meminimalisir kebingungan dan meningkatkan kepuasan mereka. Selain itu, kami menyadari pentingnya menjaga komunikasi yang baik dengan konsumen, terutama dalam hal mengkonfirmasi pesanan dan memberikan informasi mengenai status pesanan mereka. 

Kami juga belajar bahwa meskipun menggunakan sistem PO, kami harus siap dengan berbagai kemungkinan, termasuk permintaan yang melebihi ekspektasi. Untuk itu, kami harus selalu siap untuk beradaptasi dan fleksibel dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.


Penjualan Kedua 

Pemasaran produk Piscok Lumer pada minggu kedua menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan dan memberikan banyak pelajaran berharga tentang efektivitas strategi pemasaran serta preferensi konsumen. Dalam periode yang sangat singkat, dengan pre-order (PO) hanya dibuka selama dua hari, kami berhasil menjual sebanyak 17 porsi. Angka penjualan ini tidak hanya mencerminkan tingginya minat konsumen terhadap Piscok Lumer, tetapi juga menunjukkan keberhasilan dari pendekatan pemasaran yang telah diterapkan.

Pertama-tama, kesuksesan ini tidak lepas dari daya tarik unik produk itu sendiri. Piscok Lumer menawarkan cita rasa yang istimewa, menggabungkan kelembutan pisang dengan cokelat yang meleleh di mulut. Kualitas bahan yang digunakan serta proses pembuatan yang higienis dan terkontrol menjadi faktor penentu yang membuat produk kami diminati oleh konsumen. Kami memastikan bahwa setiap porsi Piscok Lumer disajikan dengan standar tertinggi, memberikan pengalaman yang memuaskan bagi setiap pembeli.

 Selain kualitas produk, strategi pemasaran yang efektif juga berperan besar dalam pencapaian ini. Kami memanfaatkan platform media sosial seperti WhatsApp secara optimal untuk mempromosikan Piscok Lumer. Melalui konten yang menarik dan interaktif, kami berhasil menarik perhatian calon konsumen dan meningkatkan engagement. Foto-foto yang menggugah selera, video pembuatan yang transparan, serta testimoni dari pelanggan sebelumnya membantu membangun kepercayaan dan ketertarikan pada produk kami.

 Promosi yang kami lakukan tidak hanya fokus pada aspek visual, tetapi juga pada komunikasi langsung dengan pelanggan. Kami aktif menjawab pertanyaan dan merespons feedback dengan cepat, menciptakan hubungan yang lebih personal dan positif dengan konsumen. Strategi ini terbukti efektif dalam meningkatkan loyalitas pelanggan dan mendorong mereka untuk melakukan repeat order. 

Keberhasilan dalam minggu kedua ini juga memberikan kami wawasan berharga tentang dinamika pasar dan kebutuhan konsumen. Dengan PO yang hanya dibuka selama dua hari, kami mampu menciptakan rasa urgensi dan eksklusivitas yang mendorong konsumen untuk segera melakukan pemesanan. Strategi ini akan terus kami kembangkan di minggu-minggu berikutnya, dengan mempertimbangkan feedback dari pelanggan untuk memperbaiki layanan dan produk yang kami tawarkan.

 Kami menyadari bahwa untuk menjaga momentum ini, kami harus terus berinovasi dan mempertahankan kualitas produk serta layanan yang prima. Kami berencana untuk memperpanjang durasi PO dan mengeksplorasi saluran distribusi baru untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Selain itu, kami juga akan mengembangkan variasi produk baru yang tetap mengedepankan kualitas dan keunikan, sehingga dapat memenuhi selera yang beragam dari pelanggan kami. 

Secara keseluruhan, pencapaian pada minggu kedua ini memberikan dorongan semangat bagi seluruh tim kami untuk terus bekerja keras dan berinovasi. Kami sangat berterima kasih kepada pelanggan setia yang telah mendukung dan mempercayai kami. Harapan kami adalah untuk terus memenuhi dan melampaui harapan mereka, serta menjadikan Piscok Lumer sebagai pilihan utama dalam camilan yang lezat dan berkualitas. Melalui dedikasi dan komitmen yang kuat, kami optimis bahwa produk kami akan terus berkembang dan meraih kesuksesan yang lebih besar di masa mendatang. 


Penutup 

A. Hambatan 

 Ada banyak hambatan yang kami lalui selama melaksanakan tugas mata kuliah kewirausahaan ini. Hambatan yang kami alami adalah antara lain sebagai berikut : 

1. Harga bahan baku yang tidak sama setiap toko. Jadi kita harus membandingkan harga terlebih dahulu 

2. Jarak rumah/kost satu sama lain yang jauh dari tempat pembuatan produk 

 3. Tempat COD yang jauh dari rumah

 4. Kesulitan dalam mencari kulit lumpia 

5. Peralatan masak yang terbatas 

 6. Pisang coklat lumer yang alot jika dingin atau sudah tidak panas

 B. Evaluasi 

Dari banyaknya hambatan yang kami lalui, kami melakukan evaluasi terhadap produk yang kami buat berdasarkan hambatan, saran maupun kritik dari para pembeli. Salah satunya adalah evaluasi terhadap bahan baku kuliat lumpia yang tiap took harga berbeda yaitu dengan mencari supplier termurah tapi dengan kualitas baik. Selain itu untuk mengatasi masalah mengenai tempat COD yang jauh dari rumah, kami pun harus membatasi area COD yang masih dapat kami jangkau dan tidak menerima COD dengan jarak yang cukup jauh dari rumah maupun kost kami. Kemudian untuk mengatasi pisang coklat yang mudah alot saat dingin kami mengatasinya dengan cara mengejar waktu COD dengan pembeli dan juga tersedia dalam frozen food. Jadi pisang coklatv akan tetap dalam keadaan panas dan tentunya tidak alot

Lampiran











Bisnis Plan

Analisis Kepuasan Pelanggan terhadap Layanan Shopee Food

  Nama; Rossi Ilham ALfarizi NIM; 245211237 Kelas; 4F Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan ...