Perjalanan Sukses Merek Swift : Dari Ide hingga Kesuksesan dalam Bisnis Cheese Roll



Untuk memenuhi tugas ujian tengah semester, biasanya para dosen akan memberikan tugas kepada para mahasiswanya, baik secara offline maupun online, yang dilakukan di dalam kampus maupun di luar kampus. Sebagai contoh, untuk kali ini, dosen kewirausahaan memberi kami tugas UTS untuk melakukan praktik kewirausahaan, yaitu jual beli. Kami dibagi menjadi kelompok berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Dosen meminta agar dalam satu kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan agar pelaksanaan tugas berjalan lancar serta dirasa adil bagi semua. Di sinilah kami mulai membentuk kelompok dengan enam anggota, di mana setiap anggota memilih kemampuan dan keistimewaannya sendiri.

Awalnya kami merasa bingung dan terganggu karena ini adalah pengalaman pertama kami dalam melakukan kegiatan kewirausahaan. Tanpa memiliki latar belakang sebelumnya mengenai kewirausahaan, akhirnya kami sepakat untuk tetap berusaha melaknakan tugas ini sebaik mungkin agar mendapatkan nilai yang baik pada mata kuliah ini.

Beberapa hari setelah pembagian kelompok, kami mulai memikirkan produk apa yang akan kami jual, serta apakah produk tersebut akan diminati oleh para pembeli. Setelah melakukan musyawarah dan berdiskusi bersama, kami sepakat untuk membuat camilan berupa keju yang digulung dengan kulit pangsit, atau yang biasa dikenal dengan nama "Cheese Roll".

Namun, setelah mempertimbangkan dengan matang, kami merasa bahwa produk kami akan lebih menarik jika diberi merek atau brand tersendiri. Selain meningkatkan daya Tarik pembeli, penyisipan nama merek juga dapat memberikan nilai tambah. Demikianlah pemikiran kami ketika mulai mencari nama yang tepat untuk dijadikan merek.

Di tengah kebingungan kami dalam mencari nama yang sesuai untuk merek tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang sedang memutar lagu berjudul "Foolish One" oleh musisi terkenal asal Amerika Serikat, Taylor Swift. Tanpa butuh waktu lama, kami sepakat untuk mengambil nama dari musisi tersebut sebagai merek produk kami. Swift, itulah nama merek produk kami yang muncul setelah mendengarkan lagu dari musisi tersebut.

Selain diambil karena mayoritas anggota kami adalah penggemar musik Taylor Swift, kata "Swift" sendiri memiliki makna yang cukup positif. Artinya adalah bergerak cepat, dan kami berharap dapat melakukan sesuatu dengan cepat dan responsif dalam melayani konsumen kami.

(Meiva Putri Fadira)

Setelah merasa yakin dengan nama merek serta produk yang akan dipasarkan, kami mulai bergerak untuk membeli barang-barang yang akan dibutuhkan dalam pembuatan produk Cheese Roll tersebut.

Mulai dari kulit pangsit, mencari keju yang memiliki tekstur yang sesuai untuk dijadikan isian, toping glaze dengan berbagai macam rasa, serta Oreo dan sprinkle yang akan menjadi hiasan di atas Cheese Roll kami. Untuk percobaan, kami membuat sekitar 50 gulungan pangsit. Namun, kami hanya menggoreng sekitar 5 buah untuk dijadikan sampel uji coba.

Tantangan selanjutnya adalah dalam proses menggoreng Cheese Roll tersebut. Jika suhu api, ukuran wajan, serta jumlah minyak tidak tepat, maka Cheese Roll dapat dengan mudah gosong dan tidak dapat dipasarkan. Oleh karena itu, proses penggorengan menjadi tahap yang paling sulit karena bisa berpotensi gagal jika tidak dilakukan dengan hati-hati.

Untuk sampel, kami menggoreng lima buah Cheese Roll dan menghiasnya dengan glaze stroberi serta taburan sprinkle. Setelah disusun rapi dalam kotak mika sebagai kemasan, kami memutuskan untuk mengambil foto-foto tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai poster promosi.

Cheese Roll disajikan dengan rapi dan indah dalam kotak, dengan glaze stroberi pink dan taburan sprinkle yang menarik, menjadikannya sangat menggoda bagi siapa pun yang melihat. Tanpa membuang waktu, kami segera mengambil beberapa gambar untuk dijadikan poster promosi. Kemudian, tanpa menunggu lama, kami membuka pre-order untuk Cheese Roll tersebut.

Awalnya, kami merasa pesimis dengan usaha ini, mengingat kelompok lain di kelas kami juga memiliki ide usaha lain yang tak kalah menariknya. Beberapa menit setelah kami membagikan poster promosi, hanya ada dua atau tiga pesanan yang masuk. Hal ini semakin memperkuat perasaan pesimis kami.

Namun, setelah beberapa waktu berlalu, banyak pesan masuk dan semuanya tertarik dengan produk kami. Akhirnya, pada pre-order pertama, kami menerima 50 pesanan. Dengan cepat dan penuh semangat, kami mulai menyiapkan kulit pangsit dan keju. Kami membagi tugas, ada yang menggulung, ada yang memotong keju, dan tak lupa ada yang bertugas menggoreng Cheese Roll. Semua ini dilakukan agar kami dapat menyelesaikan pesanan dengan baik dan membuat konsumen merasa puas dengan layanan kami.

(Azahra Putri Wulandari)

Untuk modal awal, kami sepakat untuk iuran sebesar Rp. 40.000 per anggota. Dengan jumlah anggota sebanyak 6 orang, modal awal untuk pembuatan produk dapat mencapai sekitar Rp. 240.000. Namun, di tengah perjalanan, kami mengalami kekurangan modal karena total pengeluaran mencapai Rp. 268.000. Sehingga kami harus mencari modal tambahan dengan meminjam kepada salah satu anggota. Kemudian, dari hasil penjualan pertama, kami berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp. 578.000. Namun, sebelum pembagian hasil, pendapatan dari penjualan tersebut dikurangi untuk mengganti modal tambahan yang dipinjam dari anggota kami. Sehingga dari Rp. 578.000, sejumlah Rp. 28.000 digunakan untuk mengganti modal awal. Sisa pendapatan yang dibagikan kepada enam anggota adalah Rp. 550.000, dengan masing-masing mendapatkan Rp. 90.000. Oleh karena itu, tersisa uang sebesar Rp. 10.000 yang akan digunakan sebagai modal untuk penjualan berikutnya.

Dengan tersisa beberapa bahan, kelompok kami berinisiatif untuk melakukan iuran kembali sebesar Rp. 15.000 per orang. Modal untuk penjualan kedua ini diambil dari sisa pendapatan penjualan pertama sebesar Rp. 10.000, ditambah dengan iuran anggota sebesar Rp. 90.000, sehingga modal untuk penjualan kedua adalah Rp. 100.000. Kami merencanakan pendirian stand penjualan di sekitar area kampus. Oleh karena itu, kami membagi tugas untuk persiapan bahan yang kurang, persiapan perlengkapan alat memasak, perizinan lokasi stand dan pembuatan banner serta meja untuk jualan.

(Adventa Isya Ilya)

Untuk perizinan lokasi, kami memanfaatkan keistimewaan salah satu anggota yang akrab dengan pemilik lahan kosong di daerah tersebut. Setelah mendapatkan izin, pemilik lahan tidak memungut biaya kepada kami sedikitpun. Hal ini menjadi keuntungan bagi kami sehingga tidak ada pengeluaran biaya sewa tempat. Selain itu, setelah memeriksa bahan yang tersedia, kami menemukan kekurangan kulit pangsit dan glaze rasa matcha. Meskipun mudah untuk membeli perasa matcha, namun sulit untuk mendapatkan kulit pangsit. Sebelumnya, kami membeli kulit pangsit dari sebuah pabrik di luar kota dengan harga yang terjangkau. Namun, karena harus segera berjualan di stand, dua anggota kami mencari kulit pangsit dengan harga murah meskipun harus pergi agak jauh dari area kampus, bahkan dalam kondisi hujan deras.

(Karina Safitri Putri Andini)

Setelah digunakan untuk pembelian bahan, ternyata hanya sebesar Rp. 46.000 yang terpakai, dengan sisanya mencapai Rp. 54.000. Saat semua bahan terkumpul, salah satu anggota mengingatkan kami mengenai meja stand dan peralatan memasak. Beberapa anggota kami bersedia membawa kompor dan wajan dari asramanya, dan kami juga meminjam meja stand dari tetangga salah satu anggota. Pada hari penjualan, kami belum menyelesaikan persiapan terkait percetakan MMT. Namun, karena kami memiliki kerja sama dan relasi yang baik, salah satu anggota langsung mencetak MMT tanpa biaya. Meskipun sudah gratis, kami merasa heran dan mengetahui bahwa MMT tersebut sebenarnya ditukar dengan cheeseroll.

Sedangkan untuk pemasaran yang kami lakukan yaitu ada 2 sistem yang pertama  melalui instagram dan yang ke-dua melalui WhatsApp, untuk swiftroll sendiri kelompok kami membuatkan akun untuk bisnis ini dengan segala persiapan seperti watermark, logo untuk menarik para pelanggan, lalu juga kami memberikan update-an di story instagram yang berisikan video kegiatan kami dalam proses membuat dan memasak, kegiatan saat jualan di stand yang kami buka, dan untuk postingan feed instagram tak lupa kami uploadkan poster jualan kami agar para pelanggan tau apa saja yang kami perjualkan di produk kami. Untuk pengelolaan pemasaran di instagram ini kami memiliki 2 admin yang bertanggung jawab untuk pengelolaan pemasaran di instagram, username instagram kami adalah @swiftroll_ jangan lupa untuk mengunjunginya.

Sistem yang ke-dua kelompok kami melakukan pemasaran melalui WhatsApp, dimana salah satu anggota kami meng-koordinasikan gambar poster, waktu upload, caption untuk kelengkapan. Setelah semua tertata dengan rapi kami semua meneruskan pesan yang telah dikoordinasikan oleh teman kami tersebut, jadi status poster pemasaran kami muncul di status WhatsApp secara bersamaan dengan gambar posternya beserta caption. Ketika status tersebut sudah di pasang kami mulai merekap pesanan yang masuk di WhatsApp, begitu pula di akun Instagram pesanan melalui DM kami catat satu-persatu.

(Adventa Isya Ilya)

Ketika kami menyiapkan stand, kami menerima beberapa pemesanan online dari rekan kampus. Kami segera menggoreng dan menghidangkan cheeseroll untuk mereka. Lokasi stand kami cukup strategis, berdampingan dengan penjual sayur, lauk, dan minuman es, sehingga sangat ramai di sore hari ketika warga ngabuburit untuk persiapan berbuka puasa. Selama melayani pesanan, seorang ibu membeli cheeseroll untuk cucunya setelah bertanya-tanya tentang produk kami. Anak-anak yang membeli minuman es juga tertarik dengan cheeseroll kami dan memutuskan untuk membelinya. Meskipun tidak begitu ramai, stand kami tetap menerima banyak pembeli hingga menjelang maghrib. Kami memutuskan untuk menutup stand dan pulang untuk berbuka puasa. Sebelumnya, kami mengambil foto bersama sebagai tugas dari dosen. Ketika kami sedang membersihkan stand, seorang anak kecil yang sebelumnya berfoto bersama kami datang kembali dengan kakaknya dan memesan cheeseroll. Kami melayani pesanan mereka dengan senang hati. Meskipun terburu-buru pulang, kami tetap melayani para pembeli hingga habis semua bahan. Dari penjualan di stand, kami menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 162.000, dengan tambahan sisa modal menjadi Rp. 216.000. Oleh karena itu, setiap anggota mendapatkan sekitar Rp. 126.000 dalam pembagian hasil.

Tugas kami pun belum sepenuhnya usai. Dosen kami meminta agar setiap kelompok mempresentasikan business plan mereka. Untungnya, ketika diskusi pertama kami telah membentuk struktur organisasi. Bendahara kami dengan cekatan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran yang kami lakukan sehingga ketika menyusun proposal bisnis plan tidak kesulitan. Pencatatan penjualan dari konsumen pun tidak luput dicatat oleh sekretaris kami yang sangat rajin.

            Proposal dalam bentuk makalah pun telah selesai, namun dosen kami juga menginginkan bentuk power point sebagai bahan presentasi. Kami sedikit pesimis karena hari presentasi sudah sangatlah dekat. Teman kami yang menjadi manajer promosi memberikan template power point yang menarik sesuai dengan tema kelompok kami. Akhirnya salah satu anggota kelompok kami mengerjakannya dalam tempo waktu satu malam dan selesai tepat sebelum mata kuliah tersebut mulai dipagi harinya.

(Widya Pramustika Utami)

            Hari presentasi pun tiba. Sebelumnya, kami telah janjian untuk memakai baju dengan tema warna senada sesuai dengan identitas produk kami, berwarna cerah. Juga kami mengenakan sebuah stiker logo produk kami yang ditempel di baju kami. Ada tiga kelompok yang mempresentasikan produknya pada pertemuan kali ini. Kebetulan pertemuan kali ini adalah yang terakhir sebelum libur lebaran.

            Kelompok pertama mempresentasikan produknya, jelly fruit ball. Produk kelompok ini sedang banyak diminati kalangan muda dan mereka mempresentasikannya dengan sangat baik. Perasaan gugup menyertai kami tapi kami harus tetap optimis dan bisa menyampaikannya dengan baik. Kelompok pertama pun selesai menyampaikan hasil kerja mereka, dosen dan mahasiswa kelas kami memberikan apresiasi dengan tepuk tangan yang meriah. Rasa gugup pun menghampiri kami lagi dan sekarang giliran kelompok kami.

            Kami pun maju kedepan kelas dan mulai menyampaikan materi presentasi kami. Sebelumnya kami telah membagi tugas dalam penyampaian presentasi kami pada tiap anggota kelompok. Staf produksi kami menyampaikan profil kelompok kami, nama anggota kelompok serta latar belakang brand kami, Swift. Satu-satunya mahasiswa dikelompok kami yang kami tunjuk sebagai CEO menyampaikan visi misi serta strategi pasar kami. Lalu manajer produksi kami menyampaikan mengenai produk yang kami jual, cheese roll.

            Selanjutnya adalah mengenai SWOT. Bagian yang paling penting mengenai Strength atau kekuatan produk kami, Weakness atau tantangan produk kami. Oppurtunity atau keuntungan produk kami. Serta Treath atau ancaman bagi produk yang kami jual. Materi ini disampaikan sekretaris dan manajer promosi kami.

            Materi terakhir yaitu finansial plan atau strategi keuangan yang kami lakukan, penghitungan pemasukan dan pengeluaran, serta laba yang akan kami dapatkan disampaikan oleh bendahara kami. Presentasi kami pun usai dan seperti biasa sesi tanya jawab. Kami berharap tidak ada mahasiswa atau mahasiswi kelas kami memberikan pertanyaan, tapi itu mungkin hal yang mustahil.

(Naufal Kenshi Atthoriq)

            Salah satu mahasiswa akhirnya bertanya kepada kami. Bagaimana produk anda ini dapat terus berkembang mengikuti minat konsumen? Pertanyaan yang cukup berisi. Kami pun saling berpandangan dan ragu-ragu dalam menjawab. Akhirnya CEO kami menjawab pertanyaan tersebut dengan cukup memuaskan. Brand kami tidak hanya akan memberikan satu produk makanan saja kepada konsumen, tetapi kami akan selalu memberikan inovasi kepada konsumen sesuai dengan minat masyarakat di masa depan. Sesuai dengan visi kami menghadirkan aneka cemilan roll kepada masyarakat.

            Pertanyaan itu belum usai. Dosen kami pun juga bertanya kepada kami untuk lebih menjelaskan alasan kami memilih nama Swift untuk produk kami. staf produksi kami menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat jelas. Alasan kami karena seluruh anggota kelompok kami menyukai lagu dari Musisi ternama, Taylor Swift. Kata swift sendiri memiliki arti yang positif, yaitu bergerak dengan cepat. Harapannya, kami dapat selalu memberikan pelayanan yang cepat dan optimal kepada konsumen kami.

            Presentasi kami pun selesai, dosen kami memberikan apresiasi kepada kami. Kelompok ini hebat lho! Mereka sudah memiliki nama brand sendiri dan dalam rintisan usaha pertama kali, mereka sudah mendapatkan laba yang paling tinggi diantara kelompok lain. Berikan tepuk tangan kepada kelompok lima. Satu kelas pun memberikan tepuk tangan yang meriah kepada kami.

            Kelas hari ini selesai. Kami pun berkumpul di balkon lantai dua kampus kami untuk berfoto bersama. Kami pun memberikan apresiasi satu sama lain setelah kerja sama selama ini. Banyak sekali hal-hal yang kami dapatkan selain rasa lelah. Pengalaman dari wirausaha ini sangat berarti bagi kami semua sehingga di masa depan nanti kami tidak akan gugup ketika merintis sebuah bisnis. Dan yang paling utama adalah selalu percaya proses dan berani mengambil resiko.


KELOMPOK 5 (SWIFT ROLL)

Program Studi: Perbankan Syariah Uin Raden Mas Said Surakarta


ANGGOTA:

  1. Naufal Kenshi Atthoriq _225231192_(CEO)
  2.  Widya Pramustika Utami_225231176_(Sekretaris)
  3. Adventa Isya Ilya_ 225231175_(Bendahara)
  4.  Meiva Putri Fadira_225231183 _(Manajer Produksi)
  5. Azahra Putri Wulandari_225231180_(Staff Produksi)
  6.  Karina Safitri Putri Andini _225231195_(Manajer Marketing)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...