Disusun oleh:
Kelompok 4 PBS 4B
Yako Karunia Pratama (225231054)
Pavita (225231057)
Septina Cicik Rohmawati (225231061)
Mayva Natasha Nur S (225231070)
Veni Nur Koiruniswa (225231073)
PENDAHULUAN
Di era globalisasi saat ini, industri makanan ringan atau cemilan terus berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen. Di tengah tren peningkatan kesadaran akan pola makan sehat dan minat yang meningkat terhadap makanan lokal dan tradisional. Saat ini banyak makanan yang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi tubuh. Dan dilihat dari banyaknya manfaat ubi jalar, kami terinspirasi untuk membuat produk makanan ringan yang berbahan dasar ubi. Salah satu jenis makanan ringan berbahan dasar ubi yang menarik dan bergizi adalah ubi selimut.
Kami memilih usaha ini dikarenakan popularitas untuk mengonsumsi ubi jalar masih sangat kurang, dikarenakan ubi jalar biasanya dikelola hanya dengan dikukus dan digoreng saja yang membuat masyarakat bosan dan tidak tertarik mengonsumsinya. Maka dari itu, kami berinovasi membuat hal yang baru dengan cara membuat ubi di dibaluti kulit pangsit dan dibentuk seperti permen yang dihiasi toping. Dengan ini masyarakat akan tertarik untuk mengonsumsi ubi yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Latar belakang usaha ini menyoroti potensi dan keunggulan usaha ubi selimut dalam pasar makanan ringan. Ada peningkatan minat yang signifikan terhadap makanan lokal di kalangan konsumen, yang menciptakan peluang baru. Makanan ringan yang beragam menciptakan ruang untuk berinovasi dan ubi selimut dengan rasa dan keunikannya bisa menarik minat konsumen yang mencari variasi dari makanan ringan. Ubi selimut yang terbuat dari bahan baku alami dan kaya nutrisi sesuai dengan preferensi. Selain itu, konsumen juga mencari pengalaman rasa yang unik dan autentik, yang dapat dipenuhi oleh inovasi ubi selimut.
Chapter 1 : "AWAL MULA IDE BISNIS"
Pada semester 4 program studi perbankan syariah, kami mendapatkan mata kuliah kewirausahaan islam yang di ampu oleh Ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Kelas kami diberikan tugas kelompok untuk membuat bisnis plan. Setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kelompok kami ada Yako, Cicik, Mayva, Pavita, dan Veni. Setelah pembagian kelompok, kami langsung membahas untuk menyusun bisnis yang akan kami lakukan. Kami membahas terlebih dahulu terkait ide bisnis melalui grup whatsapp untuk memudahkan dalam menyampaikan pendapat dari masing-masing anggota.
Pada suatu malam hari, Mayva memulai obrolan untuk membahas ide bisnis yang akan kami buat.
“Ini mau bikin ide apa gais?” tanya mayva di grup whatsapp.
“Kuliner aja, tapi apa ya?” ujar Pavita.
“Susu kocok gais” jawab Yako.
“Disekitar kampus belum ada yang jual kah?” tanya Mayva memastikan.
“Kurang paham aku” yako menjawab pertanyaan Mayva.
Kemudian Pavita menanggapi pendapat ide dari Yako terkait susu kocok.
“Kalau susu kocok belum ada kayaknya, tapi kalau susu segar udah banyak” ujar Pavita
“ Iya benar, nanti susu kocoknya dikasih varian rasa” jawab Yako dengan pendapat untuk menambah varian rasa pada ide susu kocok yang disampaikan. Cicik dan Veni pun ikut menanggapi ide dari Yako.
“ Itu dirimu bisa membuat beneran?” ucap Cicik memastikan kepada Yako.
“ Yang mau membuat siapa? tanya Veni memastikan juga.
“ Buat bareng-bareng” jawab Mayva dari pertanyaan Veni dan Cicik. Kemudian Mayva bertanya kembali kepada teman-teman.
“Ada ide lain tidak selain susu kocok?” ujar si Mayva.
“ Aku, ide ubi selimut” Cicik pun menyampaikan ide nya kepada teman-teman.
“ Ubi selimut itu kaya gimana?” tanya Mayva dan Yako bebarengan.
“ Ubi selimut itu, adonan ubi yang didalamnya ada coklat kemudian dilipat atau dilapisi dengan kulit pangsit yang dibentuk seperti permen.” ucap Cicik menjelaskan.
“ Oalah, iya boleh itu” Mayva dan Pavita pun menanggapinya.
“Ada yang lain tidak?” tanya Mayva lagi. Dan Veni pun menjawab memberikan pendapat untuk ide bisnis.
“ Kalau buat nasi ayam geprek, tapi nasine ungu gimana? Warna ungunya dari ubi jalar yang ungu. Terus dinamain geprek janda” ujar Veni menyampaikan pendapatnya.
“ Waduh, boleh juga itu” ucap Mayva dan Pavita dengan emoji ketawa.
Setelah kami membahas di grup whatsapp dengan pendapat masing-masing, kami memiliki 3 opsi produk sebagai ide bisnis yang akan kami jalankan. Pertama ada ide bisnis membuat susu kocok, kedua membuat ubi selimut, dan ketiga membuat nasi geprek janda. Kemudian kami melakukan voting untuk menentukan ide bisnis dari 3 opsi tersebut. Dan setelah voting, kami sepakat untuk membuat produk yaitu ubi selimut.
Kami membuat ide bisnis di bidang kuliner, karena bisnis kuliner merupakan bisnis yang cukup mumpuni untuk belajar berwirausaha apalagi bagi kami sebagai mahasiswa. Produk kami merupakan bisnis kuliner yang jarang di temui di daerah sekitar kampus. Hal ini bisa menjadikan peluang usaha bagi masyarakat sekitar dan menumbuh kembangkan jiwa berwirausaha. Selain itu produk kami kaya akan kandungan gizi dengan bahan dasar ubi jalar yang memiliki karbohidrat tinggi. Serta harga dari ubi jalar juga terjangkau dan banyak dijumpai di pasar maupun di supermarket. Itulah alasan kami sepakat membuat ide bisnis kuliner yaitu ubi selimut.
Setelah sudah ditentukan ide bisnis yang akan kami jalankan, tahap selanjutnya yaitu menyusun bisnis plan untuk dipresentasikan di depan kelas. Dalam bisnis plan kami menentukan terkait nama bisnis, struktur organisaisi, harga jual, tempat produksi dan tempat jualan, modal, cara membuat, kemasan, strategi pemasaran, dan yang lainnya. Kami memberikan nama produk pada bisnis kami yaitu “imut”. Penamaan produk ini merupakan singkatan dari kata ubi selimut sendiri, sehingga nama ini cukup mudah diingat oleh para customer yang membelinya. Dari setiap customer yang membeli produk kami, kritik dan saran kami terapkan guna memperbaiki produk dari segi rasa, tampilan, dan kualitas. Kemudian untuk stuktur organisasi kami bagi sesuai potensi dari masing-masing anggota.
Selanjutnya harga jual yang kami tawarkan sangat terjangkau yaitu satu porsi nya Rp 5.000 yang dihiasi toping sesuai selera dengan kemasan mika. Kemudian untuk proses produksi kami lakukan di kost salah satu anggota kami yang berada disekitar kampus karena agar memudahkan dalam proses pengantaran produk kepada pembeli. Dan tempat penjualan kami dilakukan secara online dengan sistem pre-order, dengan memaksimalkannya meminta bantuan kepada teman kelas, teman kos, pacar, adik tingkat, dan lainnya untuk ikut serta memasarkan produk imut. Dan modal kami didasarkan pada iuran kelompok saat penjualan pertama, kemudian saat penjualan kedua dan seterusnya modal kami menggunakan uang dari uang pendapatan yang kami terima. Jadi keuangan kami diputar dari setiap penjualannya untuk dijadikan modal.
Produk ubi selimut ini belum banyak ditemukan sehingga kami yakin bisnis ini akan menjadi bisnis yang sukses. Maka kami harus melakukan pengembangan rencana bisnis dan merancang strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan dan memperkuat antar tim untuk melakukan bisnis bersama. Strategi pemasaran yang kami lakukan mengikuti trend saaat ini, yaitu mempromosikannya menggunakan media social dengan pamflet yang menarik. Kemudian kami juga mempersiapkan sumber daya manusia untuk bisa menjalankan bisnis ini. Karena untuk memulai sebuah bisnis juga memerlukan sumber daya yang diperlukan untuk menjadikan bisnis ini sukses. Sumber daya manusia pada bisnis kami adalah anggota kelompok kami yang berjumlah 5 orang. Walaupun dengan sumber daya manusia yang cukup sedikit, kami tetap memaksimalkan anggota tim kami untuk bersemangat dalam menjalankan bisnis ini.
Chapter 2 : "PENJUALAN PERTAMA"
Setelah kelompok kami menyelesaikan persentasi tentang bisnis plan yang kami susun, tahap selanjutnya adalah merealisaikan dengan berjualan. Pada penjualan pertama, kami menggunakan sistem pre-order. Namun sebelum memulai penjualan pertama, kami sedikit ragu dalam pikiran akan adanya permasalahan atau ketidaksesuaian terhadap pengolahan dan penjualan yang dilakukan. Tetapi kami harus berani memulai dan mencoba menjual binis yang kami susun dengan penuh semangat dan keyakinan. Kami mengadakan kumpul bersama untuk membahas persiapan penjualan pertama ini secara matang. Pembahasan dilaksanakan setelah kami selesai kuliah pada siang hari. Kami membahas untuk menentukan tempat produksi, bahan-bahan, tempat pembelian bahan-bahan dan yang lainnya.
Setelah pembahasan tersebut, malam harinya kami langsung share pamflet open pre-order. Untuk menarik pembeli pada produk ubi selimut, setiap anggota kami ditugaskan untuk mempromosikan produk melalui platform WhatsApp serta strategi pemasaran dari mulut kemulut. Kami memulai dengan merencanakan strategi yang terarah dan efektif untuk memastikan bahwa pesan tentang ubi selimut sampai kepada masyarakat secara luas. Kemudian leader kami menetapkan bahwa setiap anggota masing-masing harus mampu mendapatkan 4-5 porsi orderan. Untuk mencapai target tersebut, kami membagi daftar kontak WhatsApp menjadi kategori-kategori yang sesuai, seperti teman-teman, keluarga, dan kerabat yang lainnya.
Dan pada penjualan pertama ini kami berhasil mendapatkan 20 porsi orderan. Pada saat itu kami melakukan open pre-order sekitar 5-6 hari. Kami menentukan waktu pembuatan pada hari rabu selesai kuliah pada siang hari, karena kami juga harus menyesuaikan waktu dari anggota dalam proses pembuatannya. Persiapan pada penjualan pertama ini sudah matang, dikarenakan pada hari sebelumya kami sudah membagi dalam pembelian bahan-bahan. Kami harus membuat sekitar 80 pcs ubi selimut, dikarenakan orderan kami 20 porsi dan 1 porsinya berisi 4 pcs ubi selimut. Maka leader kami membagi tugas agar proses pembuatan tidak memakan waktu banyak. Kami membagi untuk yang pergi kepasar membeli minyak, kulit pangsit, tepung, gula adalah Pavita dan Cicik. Kemudian untuk yang pergi ke toko bahan plastik membeli mika, plastik, toping, coklat pasta adalah Mayva dan Veni. Dan untuk meminimalisir waktu, ubi jalar sudah dipersiapakan untuk dikukus dari rumah terlebih dahulu, sehingga saat proses pembuatan tinggal mencampurkannya saja.
Pada saat pembelian bahan-bahan kami juga memperhatikan akan kualitasnya, dikarenakan produk cemilan ubi selimut kami sudah dipastikan layak di konsumsi oleh semua kalangan masyarakat baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa dan para lansia. Dimana produk kami tidak mengandung pengawet makanan yang sudah pasti sehat, aman, dan kaya akan kadungan gizi. Setelah bahan-bahan dan peralatan sudah terkumpul semua, kami mulai membuat produk ubi selimut. Tempat pengolahan dan pembuatan dilakukan dikost anggota kami yang berada di sekitar kampus sehingga memudahkan dalam pengantaran cod di sekitar kampus karena rata-rata peminat pada penjualan kali ini adalah para mahasiswa. Karena tempat pembuatan di kost putri, jadi Yako belum bisa terlibat dalam proses pembuatan, sehingga kami beri tugas dalam pengantaran pesanan kepada customer.
Kami melakukan pembagian tugas dari masing-masing anggota yang dikordinasiakan oleh leader kami. Dengan adanya pembagian tugas semua bisa terselesaikan dengan cepat dan mudah. Pavita ditugaskan untuk menghaluskan ubi jalar dan mencampurkan bahan-bahan hingga menjadi adonan yang baik. Mayva ditugaskan mempersiapkan kulit pangsit dan membuat adonan tepung sebagai perekat kulit pangsit. Kemudian Cicik dan Veni menyiapkan mika sekaligus menempelkan stiker dan mengelompokkan pesanan dari masing-masing toping. Setelah adonan ubi selimut sudah kalis dan tercampur merata kami membagi tugas lagi dalam proses melipat kulit pangsit dengan adonan ubi. Kami membagi menjadi 2 kelompok, dua orang yaitu Veni dan Cicik membentuk adonan ubi yang dipipihkan dan memberi isian coklat pasta. Kemudian Mayva dan Pavita memasukkan adonan ubi yang sudah dipipihkan kedalam kulit pangsit dan melipatnya seperti bentuk permen.
Apabila semua sudah selesai dalam pembuatan ubi selimut, selanjutnya kami menggoreng dengan penuh hati-hati. Dipastikan dalam menggoreng kami menggunakan api sedang agar tampilannya menarik dan tidak gosong. Dalam pembuatan cemilan ubi selimut ini memerlukan waktu yang lumayan banyak sekitar 3 sampai 4 jam. Tentu yang membuat lama dalam proses pembuatan ubi selimut yaitu dalam proses melipat ubi selimut dan penggorengan ubi selimut. Proses pembuatan yang lumayan memakan waktu dan membutuhkan keuletan serta kesabaran yang tinggi dimana pada saat kulit pangsit yang sudah diberi adonan ubi jalar terkadang mengalami kerusakan atau pecah. Sehingga membuat produk ubi selimut tidak dapat digoreng dengan hasil yang memuaskan.
Di penjualan pertama ini, sudah cukup banyak antusias dari para mahasiswa dan kalangan anak-anak yang penasaran pada cemilan yang kami buat. Karena ubi selimut masih jarang ditemui pada pedagang umkm yang menjual olahan makanan dengan bahan dasar ubi jalar ini. Maka dari itu cemilan yang masih jarang ini dapat menarik minat konsumen yang masih penasaran dengan cemilan ubi selimut. Evaluasi dari penjualan pertama ini adalah adanya kesulitan dalam membentuk tampilan ubi selimut, dikarenakan kami masih pemula dalam proses pembuatannya. Kemudian keterbatasan waktu dalam proses pembuatan juga menjadi evaluasi sekaligus kendala utama kami.
Selain itu, kendala kami juga terletak pada peralatan yang terbatas atau peralatan anak kost yang seadanya. Meskipun demikian, kami tidak menyerah, kami tetap berusaha untuk mengoptimalkan apa yang ada di sekitar dengan menggunakan kreativitas dan improvisasi untuk mengatasi keterbatasan tersebut. Meskipun peralatan terbatas, kami tetap berkomitmen untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dengan semangat pantang menyerah untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan kami, kami menghadapi setiap hambatan dengan tekad yang kuat dan berusaha untuk melewati setiap rintangan dengan sukses. Kami yakin bahwasanya usaha yang kami lakukan tidak akan menghianati hasil yang akan kami dapatkan di akhir.
Pada penjualan kedua kami masih menggunakan sistem pre-order. Karena bertepatan penjualan kedua kali ini pada bulan suci ramadhan. Kami menyadari bahwa bulan suci ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk memperkenalkan ubi selimut sebagai alternatif takjil yang dijadikan cemilan saat berbuka. Oleh karena itu, kami berusaha memanfaatkan momentum ini dengan menyesuaikan promosi yang lebih tinggi agar bisa meningkatkan penjualan produk ubi selimut kami. Dalam upaya meningkatkan penjualan ubi selimut, seperti pada penjualan pertama kami tetap mempromosikannya melalui media social masing-masing anggota. Kami mempromosikan pada kalangan orang-orang dewasa, lansia, dan anak kecil. Penjualan kedua ini kami juga menyediakan produk ubi selimut secara frozen food.
Selanjuthya, kami tetap menentukan target bahwa setiap anggota tim harus mampu mendapatkan 5-6 porsi orderan. Kami menaikkan target dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan dengan keuntungan yang lebih besar. Untuk mencapai target tersebut, kami mempersiapkannya dengan share pamflet setiap harinya. Selain mempromosikan melalui media social masing-masing, kami juga mendorong setiap anggota untuk memanfaatkan jaringan mereka secara langsung. Hal ini berarti berbicara tentang ubi selimut kepada teman-teman, keluarga, dan kenalan baik secara offline maupun online. Karena nama dari produk kami cukup mudah diingat oleh para pelanggan yaitu imut. Kemudian kami juga memberikan dukungan dengan menyediakan materi promosi tambahan seperti pamflet berupa video atau sampel produk untuk dibagikan kepada calon pelanggan.
Dengan kerjasama tim yang baik dan komitmen dalam mencapai target, kami yakin bahwa penjualan ubi selimut ini akan meningkat secara signifikan dari penjualan pertama. Komunikasi terus-menerus antara anggota tim dan pelaporan secara berkala tentang kemajuan akan membantu kami untuk tetap fokus dan beradaptasi dengan perubahan yang diperlukan dalam strategi kami. Dan pada penjualan kedua ini, kami berhasil menaikkan orderan. Kami berhasil mencapai 30 porsi orderan dengan waktu sekitar 3-4 hari. Karena orderan sudah mencapai target maka, kami segera close order dan langsung menentukan waktu untuk proses pembuatan. Tentu pada penjualan kedua ini waktu open pre-order yang kami lakukan lumayan cepat daripada penjualan pertama.
Kami mulai membahas lagi untuk menentukan waktu pembuatan, dan kami tentukan proses pembuatan pada hari kamis karena saat itu bertepatan kuliah kami online. Jadi kita harus bisa memaksimalkan proses pembuatan dengan waktu yang lebih lama yaitu sekitar 5 sampai 6 jam. Karena pada penjualan kedua ini, kami harus membuat sekitar 120 pcs ubi selimut dan banyak customer yang ingin mengambil orderan pada sore hari secara bersamaan. Untuk meminimalisir waktu, kami membeli kulit pangsit jauh-jauh hari. Namun ternyata kulit pangsit tersebut tidak dapat kami gunakan karena adanya kekeliruan. Jadi hari kamis sebelum proses pembuatan, kami harus pergi ke pasar membeli kulit pangsit lagi. Walaupun kami sedang berpuasa, kami berkeliling pasar dengan penuh antusias untuk mencari kulit pangsit yang berkualitas dengan harga terjangkau. Karena di tempat yang biasanya kami membeli kulit pangsit secara kiloan sudah habis.
Dan akhirnya kami menemukan kulit pangsit, tetapi harganya kurang terjangkau. Mau tidak mau kami harus membeli kulit pangsit tersebut, dan langsung melakukan proses pembuatan ubi selimut. Pada hari dimana kami melakukan proses pembuatan, leader kami tetap membagi tugas masing-masing. Kami membagi untuk yang pergi kepasar membeli kulit pangsit dan bahan yang lain adalah Cicik dan Mayva. Kemudian Veni dan Pavita mempersiapkan adonan di kost tempat kami melakukan produksi. Tempat produksi masih dilakukan ditempat yang sama dengan peralatan yang terbatas juga, namun kami tetap harus bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap porsi pesanan kami dapat memenuhi standar kualitas yang tinggi. Dengan bahan-bahan yang telah kami temukan dengan susah payah di pasar, kami siap untuk memulai proses produksi. Kami memperhatikan setiap detail dalam proses produksi, mulai dari pemilihan bahan, persiapan, hingga tahap pengolahan.
Proses produksi masih sama dengan penjualan pertama kemarin yaitu dengan pembagian tugas masing-masing agar cepat selesai. Selama proses pembuatan, kami memastikan untuk menjaga kebersihan dan keamanan produk serta mematuhi standar sanitasi yang ketat. Setiap langkah dipenuhi dengan perhatian ekstra untuk memastikan rasa, tekstur, dan presentasi setiap porsi ubi selimut sempurna. Setelah proses pembuatan dan pengorengan selesai, kami membagi tugas untuk melakukan pengantaran ubi selimut ke pelanggan. Karena banyaknya customer yang mengambil orderan pada sore hari, kami membagi tugas untuk setiap pengantarannya. Kami berlima bergerak masing-masing mengantarkan pesanan sesuai pengelompokannya. Dengan semangat yang berkobar-kobar, kami siap menghadapi perjalanan yang panjang demi memastikan setiap pesanan tiba tepat waktu dan dengan kondisi yang sempurna.
Situasi puasa menambah tingkat kesulitan dalam proses pembuatan dan pengantaran. Kondisi tubuh yang lelah dan lapar membutuhkan kesabaran ekstra dan ketahanan fisik yang kuat. Meskipun menghadapi tantangan ini, kami tidak berputus asa untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Kepuasan pelanggan tetap menjadi prioritas utama kami untuk memberikan terbaik dari yang terbaik. Dengan berbagai rintangan di jalan, seperti kemacetan lalu lintas, cuaca yang tidak mendukung, atau jarak tempuh yang jauh menjadi kendala bagi kami. Lebih lagi dengan kondisi saat puasa yang membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra. Serta pemilihan pembelian bahan-bahan menjadi pertimbangan kami, karena pada bulan ramadhan harga dari bahan baku meningkat seperti ubi jalar.
Chapter 4 : "PENJUALAN KETIGA"
Produk usaha kami yaitu ubi selimut sudah memasuki produksi yang ketiga, pastinya banyak sekali yang sudah kami lalui bersama-sama. Rencana awal pada penjualan ketiga ini kami akan lakukan sebelum lebaran, namun karena adanya kendala waktu kami baru bisa merealisasikannya setelah lebaran. Dengan alasan sebelum lebaran kemarin, rencana ingin open pre-order satu kali lagi, tetapi pada saat itu kami sedang disibukkan dengan jadwal UTS dan juga tugas mata kuliah lain yang harus kami selesaikan secepatnya. Jadi kami memutuskan dan sepakat untuk berjualan setelah lebaran saja. Setelah lebaran berlalu kami langsung membahas terkait penjualan selanjutnya.
Kami membahas persiapan penjualan melalui grup whatsaap, karena kami sedang memiliki kesibukan masing-masing. Kami menentukan untuk berjualan kembali dengan sistem pre-order. Kami memasarkannya seperti penjualan-penjualan sebelumnya yaitu melalui media social masing-masing, karena kami masih terkendala dana dan juga belum menemukan tempat yang strategis untuk berjualan. Namun semangat kami tetap membara untuk berjualan dengan peraturan yang sama yaitu setiap anggota tim harus mendapat minimal 6-7 porsi orderan. Dengan target pada penjualan ketiga ini kami ingin mencapai orderan yaitu 40 porsi. Dari penjualan pertama yang kemarin hingga selanjutnya kami sudah menentukan peningkatan orderan dengan kenaikan 10 porsi.
Dan pada penjualan ketiga ini kami menghasilkan orderan 35 porsi, hal ini tentu belum mencapai target yang kami tentukan dengan waktu open pre-order yang lama dari penjualan sebelumnya. Pada penjualan ketiga ini kami open pre-order sekitar 5-6 hari. Hal ini menjadi hambatan bagi kami, dikarenakan jarak antara open pre-order kedua dan ketiga cukup jauh. Setelah penjualan kedua kemarin bisa dihitung kami berhenti berjualan sekitar kurang lebih satu bulan. Tetapi kami harus tetap semangat meskipun penjualan ketiga ini belum mencapai target yang kami tetapkan. Dengan 35 porsi ini kami diharuskan untuk membuat ubi selimut dengan jumlah sekitar 140 pcs. Jadi kita tetap merencanakan persiapan proses pembuatan pada hari sebelumnya.
Dan kami kesulitan menentukan waktu pada proses pembuatan ini, karena anggota kami sedang disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Kami membahas waktu dan persiapan pembuatan melalui grup whatsapp. Dan kami menentukan untuk proses pembuatan pada hari selasa siang setelah pulang kuliah. Maka untuk meminialisir waktu, pada hari sebelumnya kami belanja bahan-bahan seperti ubi, minyak goreng, tepung terigu,susu kental manis,dan gula. Untuk kulit pangsit kita membeli secara mendadak agar tidak terulang kejadian pada penjualan kedua kemarin. Seperti biasanya untuk mengukus ubi jalarnya dilakukan di rumah. Yang istimewa pada penjualan ketiga ini kami menggunakan ubi jalar ungu dengan tampilan yang lebih menarik.
Pada penjualan ketiga ini kami tidak mengeluarkan dana yang banyak, karena bahan-bahan yang digunakan merupakan sisa dari penjualan sebelumnya. Kami memulai melakukan produksi di kost teman seperti biasanya. Leader kami tetap mengkoordinir dengan membagi tugas masing-masing dengan formasi seperti biasanya. Dan mungkin karena kami sudah sering membuat ubi selimut, jadinya kami tidak terlalu lama memakan waktu dalam proses pembuatannya. Bahkan kami dapat menyelesaikan produk ubi selimut dengan waktu yang lumayan cepat dari sebelumnya yaitu sekitar 3 jam. Serta pada penjualan ketiga ini tampilan dan rasa dari produk ubi selimut sudah baik dan enak.
Untuk produksi kali ini, ubi selimut sebagian digoreng dirumah masing-masing karena kami terkendala dengan jarak tempuh yang cukup jauh dari beberapa customer. Selain itu kami juga terkendala oleh cuaca yang tidak mendukung. Namun dari kendala-kendala yang ada kami tetap semangat mengantarkan produk kami kepada pembeli dengan selamat sampai tujuan. Dari semenjak penjualan pertama sampai sekarang ubi selimut mendapatkan respon yang baik dari para pembeli, bahkan mereka tidak hanya sekali membeli produk kami. Kami pun juga sudah memiliki pelanggan yang setia menunggu jadwal open pre-order untuk membeli produk ubi selimut.
Selama pembuatan produk bisnis ini, sejak memulai membuat testimoni untuk Ibu Sri Haryanti, sampai berjualan selama 3 kali kami memiliki banyak pengalaman baik susah maupun senang. Kami mendapatkan pengalaman baru dari dalam bidang berwirausaha. Dari mata kuliah kewirausahaan islam ini kita benar-benar harus bisa me-manage semuanya bersama-sama. Salah satu yang menurut kami menantang yaitu saat kelompok lain mulai berjualan lalu jualannya lebih laris dari kami, maka kami semakin tertantang untuk lebih giat lagi memasarkan dan mempromosikan produk bisnis kami. Selain karena terbuat dari bahan dasar ubi, nama dari brand kami yaitu 'imut' sendiri menjadi bahan perbincangan dari semua teman-teman kami. Yang awalnya mungkin mereka menertawakan nama dari brand kami, lalu ternyata diluar sana banyak yang melirik makanan yang berbahan dasar ubi ini dengan menginovasikan agar orang-orang tertarik dengan ubi yang notabene merupakan ndeso tapi ternyata kami bisa membuatnya menjadi makanan yang khas, tidak hanya di buat menjadi makanan-makanan jadul saja, tapi kami sudah berhasil untuk membuatnya lebih menarik lagi.
"Dengan ubi sebagai bahan dasar, bisnis kecilmu dapat tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa. Ketekunanmu adalah kunci untuk menghadirkan cita rasa yang memikat dan membangun kenangan manis bagi pelangganmu."
"Di tengah hiruk-pikuknya dunia bisnis, berjualan di bulan Ramadhan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga nilai-nilai kebaikan dan keberkahan dalam setiap transaksi."
a. Modal
Modal awal dalam proses pembuatan pada penjualan pertama kami menggunakan uang iuran yang terkumpul sebesar Rp 100.000,-. Kemudian modal untuk penjualan selanjutnya, kami menggunakan uang pendapatan dari hasil penjualan sebelumnya.
b. Pengeluaran
Penjualan | Pengeluaran |
Pertama | Rp 99.000 |
Kedua | Rp 101.000 |
Ketiga | Rp 55.000 |
c. Pendapatan
Penjualan | Pendapatan |
Pertama | (20 porsi) 20 x Rp 5.000 = Rp 100.000 |
Kedua | (30 porsi) 30 x Rp 5.000 = Rp 150.000 |
Ketiga | (36 porsi) 36 x Rp 5.000 = 180.000 |
d. Keuntungan
Mendirikan suatu bisnis membutuhkan persiapan dan konsep yang matang. Bisnis yang didirikan diharapkan mengalami peningkatan dari setiap penjualan. Ubi Selimut “Imut” merupakan produk cemilan yang bisa dijadikan peluang untuk berwirausaha dibidang kuliner bagi para mahasiwa seperti kami yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Dalam memasarkan produk yang telah disusun dan dibuat, kami menggunakan strategi pemasaran secara online dengan sistem pre-order.
Kami memaksimalkan strategi dengan dengan kerjasama tim yang baik dan komitmen dalam meningkatkan penjualan. Tim kami menggunakan strategi bahwa setiap anggota harus mampu mencapai target penjualan yang telah ditetapkan bersama. Dengan adanya produk bisnis ubi selimut “Imut” dapat menjadi inspirasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi agar apa yang telah kami rencanakan dapat terus berjalan dan juga berkembang di masa yang akan datang. Kami menyadari bahwa dalam bisnis, tantangan dan hambatan adalah hal yang biasa, dan yang terpenting adalah bagaimana kita mengatasinya dengan penuh semangat pantang menyerah.
Dalam perjalanan kami menjalankan bisnis, semoga bisa menjadi inovasi dan dapat memotivasi para pembaca untuk bisa menjadi acuan untuk memulai bisnis baru ataupun dapat menjadi contoh ide jualan kedepannya. Dan kali ini kami bisa menginovasikan bahan-bahan pokok yang harganya terjangkau seperti ubi jalar yang mudah didapatkan disekitar menjadi cemilan yang kekinian. Sehingga masyarakat tidak bosan dalam mengkonsumsi ubi jalar yang kaya akan karbohidrat tinggi dan biasanya hanya dikonsumsi dengan dikukus atau digoreng. Dengan penuh keyakinan dan persiapan yang matang kami berhasil merealisasikan bisnis plan yang kami susun. Kami pun berharap semoga paper ini bermanfaat untuk para pembaca dalam memulai suatu bisnis.
LAMPIRAN











Tidak ada komentar:
Posting Komentar