LIKA LIKU NASI GIGIT DAPUR LADA

 Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Kewirausahaan Islam

Dosen Pengampu : Sri Haryanti, S.E., M.M.

Kelompok 2 :

1. Devita Sari (225231133)

2. Siti Nur Adzaliyah (225231150)

3. Afifah Nur Iatiqomah (225231156)

4. Ayu Nourmastuti (225231157)


LIKA LIKU NASI GIGIT DAPUR LADA



” Namanya juga proses, Cuma satu

banding seribu kalau bisa berhasil dalam sekali coba. Namun setidaknya, kita sudah berusaha membuat perubahan kecil setiap harinya, sambil berharap semoga suatu hari keajaiban bisa terjadi tanpa kita duga.”

* * *

Hari selasa selalu menjadi hari keluhan banyak orang, karena kita harus berangkat kuliah bersama dengan munculnya matahari yang sedang cerah cerahnya, tapi bukan terik yang sampai mebuat kami mengaduh kepanasan. Setelah bersiap-siap, pukul tujuh tepat kami berangkat. Menjalani siklus yang sama selama beberapa hari dalam seminggu membuat kami hafal bentuk bangunan tersebut di luar kepala. Dengan warna hijau sebagai dominan, singkatnya kami telah berpijak di lantai satu ruangan A.104 UIN Raden Mas Sa’id Surakarta beberapa detik yang lalu.

Kami menunggu tak terlalu lama, hanya se-persekian menit setelah kami menempati bangku dan meletakkan tas selempang, wanita dengan senyum lembutnya tersebut datang, beliau dosen yang mengisi kelas kali ini, menyebut satu persatu nama lengkap mahasiswa yang seharusnya hadir secara keseluruhan. Puluhan menit terlewat untuk memahami materi yang beliau paparkan, kami agak berjengit sesaat dan menghela nafas kala wanita yang ber status dosen kami tersebut memberi tugas. Wajar, itu sudah kewajibannya. Tugas yang beliau berikan cukup memutar otak kami semua, dimana kami di haruskan membuat bisnis plan, menghasilkan produk lalu menjualnya.


Pada diskusi pertama, kami memutuskan untuk membuat produk minuman karena cukup mudah untuk manusia seperti kami yang ingin segalanya menjadi instan, namun karena keputusan tersebut kurang cocok karena beberapa kendala, kami beralih ke pilihan produk makanan. Diskusi tetap berlanjut, mencari ide yang sekiranya mudah dan menguntungkan untuk kami, mudah pembuatannya, banyak diminati, dapat mengenyangkan dan tentu dengan harga yang terjangkau (banyak mau memang). Akhirnya pilihan berhenti pada produk Nasi Cokot, namun lagi lagi kami harus memutar otak, baru teringat kala harga beras dan daging sedang melambung tinggi.

Sudah beberapa minggu terlewati, kiranya itu waktu yang amat cukup untuk menggali ide dan menganalisis beberapa produk jajanan yang banyak dijual. Kami memutuskan, menjual risol mayo dengan sistem dropshipper adalah keputusan yang tepat bila sesuai rencana kami. Pamflet sudah di buat, tinggal tahap akhir yaitu mempostingnya di siaran cerita instagram dan instastory. Kiranya risol mayo adalah pilihan yang tepat, namun kami seperti di sadarkan kala cuaca dingin akibat hujan deras menusuk tulang saat itu. Kami kembali mendengus gusar, pengambilan produk risol mayo terlalu jauh untuk musim hujan yang tidak menentu ini. Pamflet yang telah kita buat sedemikian rupa hanya untuk di ambil hikmahnya.

********

Diskusi kembali kami lakukan setelah jam kuliah selesai. Salah satu anggota melempar senyum aneh, lalu ia tertawa setelahnya, ekspresinya nampak seperti orang yang baru saja membuka kotak pandora berisi perhiasan. Ia dengan semangat mengutarakan pendapat nya, “ gimana kalo kita bikin olahan tahu ?! tahu isi misalnya ? terus...“ matanya nampak berbinar, kami tahu ia belum menyelesaikan kata kata nya, namun anggota yang lain lebih dulu

 

menimpali. “ terlalu biasa, kurang menarik “ senyum aneh itu kembali nampak, “ kita isi sama sesuatu yang menarik lah ! namanya juga harus beda ! “

Lalu kami kembali berfikir...

“ TAHU BUNTING ! “ iia memekik, karena tersedak ludahnya sendiri akibat terlalu bersemangat.

Hari itu, diskusi terakhir kami yang membuahkan hasil.

Penjualan telah di mulai pada 14 Maret lalu, dan hasil dari penjualan produk Tahu Bunting dapat merekahkan senyum kami di hari pertama. Tentu nya tidak luput dari usaha kami yang keliling mempromosikan produk pada teman sekelas. Ya, hanya sekelas dan produk terjual habis. Sangat di sayangkan hal yang tidak di inginkan terjadi, di luar perhitungan kami, ternyata laba yang di hasilkan sangat sedikit.

********

Akhirnya kami kembali melakukan riset, puncak komedi terletak pada saat kami kembali memtuskan untuk membuat produk Nasi Cokot. Tentu dilandasi dengan diskusi bersama dan analisis mahasiswa yang kerap mengeluh lapar akibat melewatkan sarapannya dan harga beras yang mulai berangsur normal. Sedikit lucu karena kami kembali pada keputusan awal setelah banyak berfikir hingga sedikit frustasi hanya untuk sebuah ide.

Namun sayangnya keluh kesah kami tak hanya sampai disitu, Keterbatasan alat memasak dan juga keahlian kami untuk memasak membuat keresahan kami kembali menyapa.

 

Setelah melakukan diskusi yang cukup membebani pikiran akhirnya kami menemukan ide yang dapat diandalkan. Di pagi hari diiringi mentari yang cerah, kami memutuskan untuk kembali ke rumah salah satu anggota kelompok. Langkah-langkah ringan kami menghantarkan ke pintu yang terbuka lebar menyapa dengan hangat, di mana aroma harum nasi cokot yang kami harapkan akan muncul dari sana. Dengan penuh semangat, kami bersiap untuk memasak bersama, mengejar cita rasa yang selalu menggoda di setiap suapan nasi cokot yang akan kami buat bersama.

Suasana siang yang hangat dan riang mengiringi langkah-langkah kami saat kami dibantu oleh ibu salah satu anggota kami untuk membuat nasi cokot. Dengan penuh antusias, kami belajar langkah demi langkah dalam menyajikan hidangan tradisional tersebut, sambil tertawa dan bercanda mengisi waktu bersama. Di balik aroma rempah yang harum dan suara gemerincing wajan, terjalin kebersamaan yang erat di antara kami, mengukir kenangan manis yang akan terus terpatri dalam ingatan kami.

Di sebuah dapur kecil yang penuh dengan canda tawa bahagia, kami belajar untuk memasak bersama. Mulai dari membuat bumbu dengan teliti, memasak daging hingga ke proses terakhir yang penuh keceriaan. Setiap langkah kami lalui dengan penuh semangat dan kebersamaan, menciptakan hidangan yang tidak hanya lezat tapi juga penuh dengan cerita dan kenangan. Dari proses memasak ini, kami belajar bahwa kebersamaan dan kerja sama adalah kunci dari sebuah hidangan yang sempurna.

Setelah produk nasi cokot jadi kami memasang pamflet untuk menarik pembeli, namun tak disangka, pamflet tersebut malah menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan teman- teman kami maupun mahasiswa lainnya, sehingga penjualan produk kami meningkat drastis dalam penjualan pertama.

Di sebuah kampus besar melalui media online dan open order, kami dengan antusias menjajakan nasi cokot lezat produk kami. Dengan harga yang terjangkau, hanya 5 ribu rupiah, aroma harum nasi hangat itu menarik perhatian banyak orang. Tak hanya teman-teman kami, tetapi juga mahasiswa kelas lain yang penasaran dengan kelezatan nasi cokot tersebut. Setiap suapan nasi cokot itu membawa kenangan manis dan kehangatan persahabatan di antara kami, menjadikan produk kecil itu makanan yang penuh cerita dan kebahagiaan.

Di tengah hiruk pikuk kulineran depan kampus yang ramai, kami dengan semangat memasarkan produk kami itu. Meskipun hasil penjualan kami tidak seberapa, namun dalam setiap bungkus nasi yang kami sajikan tersemat rasa syukur yang mendalam. Kami belajar bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari seberapa banyak uang yang kami dapatkan, tetapi juga dari pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh. Setiap senyum pelanggan, setiap cerita di balik bungkus nasi, menjadi bekal berharga yang akan membimbing langkah kami di masa depan. Dalam setiap butir nasi cokot yang kami jual, terukir harapan dan semangat untuk


terus berjuang, karena kami percaya, setiap langkah kecil yang kami ambil hari ini, akan membawa kami menuju impian besar di masa mendatang.

********

Saat matahari terbenam di bawah cakrawala, memancarkan cahaya oranye hangat di kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, kami berkumpul dalam kelas yang kosong tak berpenghuni, wajah kami bersinar karena kegembiraan dan antisipasi. Udara kental dengan aroma rempah-rempah yang mendesis dan suara wajan yang mendesis, itulah hayalan kami saat duduk membicarakan masa depan bisnis nasi cokot kesayangan kami. Percakapan berlangsung panas, dengan opini dan ide mengalir bebas, namun pada akhirnya, kami semua mengambil keputusan dengan suara bulat untuk merencanakan variasi baru di produk kami.

Di tengah riuhnya tugas yang tak berhenti mengalir, kami, sekelompok pemuda bersemangat merayakan penjualan pertama produk inovatif kami. Dalam kegembiraan yang membara, kami juga menjadikan momen ini sebagai titik evaluasi penting untuk memastikan kesuksesan penjualan berikutnya. Dengan semangat yang menggelora, kami bersiap untuk menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan yang lebih besar di masa depan.

Saat kami berdiri di tengah hiruk pikuk pelanggan, berbagai suara dan opini berputar- putar di sekitar kami, sebuah simfoni kritik dan saran yang dengan penuh semangat kami serap, mengetahui bahwa setiap nada akan menjadi langkah awal menuju penyempurnaan produk kami, dengan menjadikan kritik dan saran tersebut menjadi perpaduan yang harmonis, inovasi, dan perbaikan.

 

Melalui program pembelajaran kewirausahaan ini, kami berharap dapat meningkatkan kemampuan kami menjadi wirausaha yang sukses di masa depan dan menambah wawasan kami tentang betapa sulitnya membangun usaha sendiri, serta mempersiapkan diri kami untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang.

Melalui kisah-kisah inspiratif yang kami tuliskan, pengalaman kewirausahaan kami akan abadi dalam tulisan ini dan kami berharap dapat menjadi sebuah semangat untuk semua pembaca, menginspirasi mereka untuk menghadapi tantangan dan mencapai kesuksesan dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. Karena untuk menjadi orang yang sukses diperlukan semangat dan tekat yang kuat.

********

“Selalu ada harapan bagi mereka yang terus berdo’a, dan selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha.”

* *

Selesai.... Sekian terima kasih!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...