KELOMPOK 6
1. Nisa isninur septiana 225231121
2. Fillia rima hayuni amansyah 225231129
3. Rahma khairunisa 225231136
4. Priyya mauliyana ‘Aqillah maharani 225231146
JOURNEY OF MOCHI FRIS ENJOY THE PROCESS FOR SUCCESS
PENENTUAN IDE BISNIS
Pada perkuliahan semester 4 ini kami mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan Islam, yang diampu oleh Ibu Sri Haryanti, S.E., M.M. Beliau memberikan tugas dalam mata kuliah ini berupa pembuatan business plan yang akan dikerjakan secara kelompok. Dalam pembentukan kelompok kali ini memiliki ketentuan, dimana masing-masing kelompok hanya terdiri dari 4-5 orang.
Pada perkuliahan 7 Februari 2024 pukul 07.30-08.40 WIB, barulah kami diberikan tugas untuk melakukan pembentukan kelompok serta membuat ide bisnis berupa busines plan yang akan dijalankan bersama-sama tiap kelompok. Waktu penyelesaian tugas bussines plan kami diberikan waktu kurang lebih 2 minggu. Usai sudah perkuliahan hari ini dan selesai juga melakukan pembagian kelompok kewirausahaan. Kami mendapatkan kelompok nomer urut 6 yang beranggotakan Nisa, Rahma, Fillia dan Aqilla. Semua kelompok berantusias dalam membuat rancangan bisnis yang akan dijalankan, begitupun kelompok kami juga mulai mencari- cari ide bisnis yang akan kita pilih.
Pembahasan ide bisnis tidak berhenti begitu saja dikampus, akan tetapi pembahasan tetap berlanjutkan melalui online via whatsapp. Untuk mempermudah dalam komunikasi maka kita memutuskan membuat grup whatsapp. Digrup whatsapp kita melakukan obrolan mengenai bisnis yang akan dijalankan. Disana kami semua menuangkan berbagai ide bisnis yang kami dapatkan dari hasil mencari diberbagai referensi medsos maupun google.
[13/2 19.35] Rahma: Gaess gimana untuk business plan kelompok kita? Kita mau buka bisnis apa nih?, ucap rahma melalui chat whatsapp. Kira-kira begitulah awal mula kita berdiskusi melalui grup whatsapp, yang kemudian banyak ide-ide yang bermunculan dan dishare kegrup whatsapp. [13/2 19.48] Aqilla: Gimana kalo kita bikin bucket bunga aja gaes?, ucap Aqilla melalui chat whatsapp.
Ide bisnis bermula munculnya pendapat dari Aqilla, kemudian dibagikan link dan beberapa foto bucket bunga sebagai refernsinya. Bucket bunga tersebut memiliki bahan utamanya yaitu kawat, tetapi kami tidak terlalu yakin dengan ide bisnis tersebut karena memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan modal yang tidak sedikit, dimana dari seluruh anggota kami belum ada yang berpengalaman dalam pembuatan bucket bunga tersebut. Lalu rahma mengusulkan ide untuk membuat cincin dan gelang dari manik-manik. Ide tersebut dirasa juga kurang disetujui oleh anggota kelompok kami, disusul oleh nisa yang mengusulkan ide bisnis berupa berbisnis makanan dan ide bisnis lainnya. Karena waktu semakin larut malam dan kami masih mengalami kebingugan dalam pembuatan ide bisnis, kami sepakat dan
1
Journey Of Mochi Fris
memutuskan untuk melanjutkan pembahasannya dihari selanjutnya secara langsung dikampus agar lebih efektif.
Setelah berapa hari kami mengalami kebingungan karena belum mendapatkan ide bisnis yang dirasa cocok dan pas bagi kami. Kemudian bertepatan dihari rabu, 22 Februari 2024 saat jam makan siang, kita berniat jajan di kantin gedung c namanya kantin kejujuran, entah kenapa gak ada angin gak ada hujan kami tiba tiba tertarik dengan mochi yang dijual di kantin gedung C. "Kalo jual mochi gini kita pasti laku sih" ucap Rahma secara spontan setalah melihat mochi yang dijual disana. "Iyanih ide bagus ma, kalo gitu ayo cari owner mochi aja gaes" kata Aqilla.
Setelah mencari-cari akhirnya kami menemukannya. Disitu nisa baru teringat bahwasannya dia memiliki kenalan yang berjualan mochi dan kebetulan mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta, dia bernana Deli. Kemudian Nisa menceritakan tentang mochi yang dijual oleh Deli kepada teman-teman satu kelompoknya "Mochinya itu harganya Cuma Rp2.500/pcs dan ada beberapa varian rasa juga. Ada rasa coklat, strawberry, kacang dan keju" ucap nisa. Setelah mendengarkan penjelasan dari Nisa, seluruh anggota sepakat untuk melakukan bisnis mochi. Alasan kami memilih bisnis mochi karena memiliki harga yang terjangkau untuk kantong mahasiswa ataupun orang yang belum memiliki penghasilan (masih diberi saku oleh orang tua) dan untuk varian rasanya terbilang sangat variatif. Alasan lainnya yaitu terkait modal yang dibutuhkan dalam menjual mochi akan lebih hemat dan kami juga dapat membantu memjual produk dari teman kami sendiri.
Setelah mempertimbangkan segala resiko yang akan dihadapi dalam menjalankan bisnis ini, kami sepakat untuk membuat busines plan dengan dimana kami sebagai reseler mochi. Alasan kami memutuskan untuk menjadi reseller karena kami kesulitan dalam melakukan pembuatan mochi yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, disamping itu kami juga bekerja diluar jam kuliah, serta mempertimbangkan faktor modal yang tidak terlalu banyak. Akan tetapi, dengan menjadi reseller tidaklah mematahkan semangat kita untuk berbisnis kedepannya. Kemudian setelah berdiskusi dengan matang, Nisa langsung menghubungi owner mochi tersebut. [22/02/24, 14.03.52] Nisa: Assalamu'alaikum kak, kenalin saya nisa kebetulan saya berminat mau menjadi reseller mochi kakak apakah berkenan ya?? [22/02/24, 17.00.08] Owner Mochi: Wa'alaikumussalam kak, wahh boleh banget kak kebetulan kami open reseller.
Setelah berdiskusi dengan owner mochi kami berinisiatif mengadakan pertemuan dengannya dikeesokan harinya, serta kami berencana membeli mochi sebagai tester untuk penjualan bisnis kami. Dalam pertemuan kami dan owner mochi terjadi kesepakatan untuk
2
Journey Of Mochi Fris
melakukan kerjasama, dimana kita sebagai distributor dan dia yang menjadi orang produksi. Bersamaan dengan pertemuan tersebut, disana kami langsung merasakan mochi dengan berbagai varian rasa, "Ini yang mochi varian strawbery ada buah strawberrynya, rasanya enak banget dengan harga yang terjangkau" ucap fillia sembari merasakan mochi dengan varian lainnnya. "Iya jadi tidak ragu lagi kalo mau kerjasama dengan kak Deli" ucap Nisa.
Kemudian pada hari Jumat 23 Februari 2024 setelah selesai perkuliahan kami melakukan kerja kelompok untuk menyusun busines plan yang akan dipresentasikan diminggu depan. Kami menyusun busines plan dikos Fillia karena satu-satunya anggota kelompok kami yang ngekos. Disana kami saling berbagi pendapat mengenai penyusunan strategi bisnis yang akan kami jalankan, mulai dari penyusunan latar belakang bisnis, perumusan visi misi bisnis, dan pembentukan struktur organisasi bisnis, analisis pasar, sumber modal, strategi pemasaran sampai dengan potensi keuntungan bisnis yang kami jalankan.
Diskusi mengenai busines plan dimulai dari pembuatan latar belakang bisnis yang akan kami jalankan sampai dengan yang potensi keuntungan dari bisnis kami. Setelah menentukan terget pasar dari bisnis kami yaitu kalangan anak muda yang didominasi para mahasiswa, anak sekolah maka kami melakukan penyesuaian harga produk agar lebih terjangkau dan kompetitif. Disini kami saling menyampaikan pendapat mengenai harga mochi yang kami jual, "Gimana kalo mochinya dijual dengan harga Rp3.500/pcs nya?" ucap aqilla. Setelah mendengar usulan dari aqilla, kami diskusi dan mepertimbangkan mengenai harga tersebut. Ternyata dari usulan aqilla kurang disetujui karena dengan harga segitu mungkin akan memiliki resiko yang lumayan sulit dalam penjualan kita kedepannya. "Yaudah kita jual mochinya Rp3.000/pcs saja, harga segitu menurutku tidak mahal dan juga tidak terlalu murah sih" ucap rahma. Kami melakukan diskusi untuk merubah harga jual mochi kami, setelah diskusi selesai kami sepakat untuk menjual mochi dengan harga Rp3.000/pcs dari harga pokok penjualan yang sebesar Rp2.500/pcs.
Pembuatan busines plan tidak hanya sampai dimodal saja, selanjutnya kami membuat logo untuk produk kami. Dimana kita mendesain logo kami agar dapat mempercantik produk yang kami jual, tidak lupa kami membuat stiker label untuk memperindah dari packaging dari mochi kami. Metode penjualan yang kami gunakan yaitu sistem Pre-Order (PO), di mana kami membuka pesanan terlebih dahulu, lalu akan memproduksi sesuai dengan pesanan yang telah diterima. Agar mengurangi risiko produk tidak laku. Untuk mempermudah dalam strategi pemasaran kami sekelompok sepakat membuat poster serta akun instagram agar mempermudah mendapatkan konsumen dan banyak masyarakat yang mengenal.
3
Journey Of Mochi Fris
Selain sistem Pre-Order, kami juga akan melakukan penjualan secara langsung atau offline disuatu event. Mengenai tempat dan waktu penjualan offline, kami belum menemukan dan masih mencari referensi tempat penjualan mochi yang strategis.
Modal menjadi tumpuan utama dalam menjalankan suatu bisnis kami ini. Karena tanpa modal, bisnis ini tidak akan bisa berjalan. Kami melakukan penghitungan modal awal yang dibutuhkan untuk penjualan bisnis mochi ini. Setelah memperhitungkan, kami pun bersepakat untuk mengeluarkan iuran sebesar Rp30.000,- per anggota sebagai modal awal usaha, dengan total modal awal terkumpul sebesar Rp 120.000,-
4
Journey Of Mochi Fris
EKSEKUSI PENJUALAN ONLINE
Setelah menentukan ide bisnis dan modal yang sudah kami sepakati, kemudian kami memutuskan ingin memulainya melalui sistem online terlebih dahulu. Setelah selesai kelas mata kuliah kami pergi untuk mencari tempat untuk mendiskusikan apa langkah kami selanjutnya. Dalam diskusi kali ini yang menurut kami sulit adalah mengenai waktu seperti mulai dari kapan kita akan buka pre order, kapan kita akan bertemu owner, dan kapan kita akan melakukan cod dengan customer. Kendala-kendala yang kami temukan adalah sulit bagi kami untuk berkumpul kecuali ketika ada matkul saja karena beberapa dari kami yang laju dari rumah fan rumahnya jauh sekali seperti nisa yang rumahnya berada di karanganyar, kemudian ada qilla yang harus bekerja part time dan beberapa kegiatan organisasi yang membuat kami sangat sulit untuk menentukan waktu untuk berkumpul. Namun, terlepas dari kendala tersebut kami dapat mengatasinya dengan melakukan semua kegiatan kelompok ini hanya ketika hari itu ada jam kuliah agar kita dapat mendiskusikannya setelah selesai jam kuliah.
Diskusi kali ini kita akan menentukan kapan kita akan mulai membuka pre otden dan berapa kali kita akan membuka pre order. “Kalau kita buka PO seminggu dua kali gimana?” usul fillia, “bentar, kalau kita buka PO dua kali kita kayaknya gapunya waktu banyak deh” ucap qilla mengingat dia mempunyai kesibukan lain, kemudian rahma mengusulkan untuk mencoba membuka PO sekali dulu lalu kita lihat bagaimana respon customer mengenai produk kami. Setelah beberapa pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk membuka PO selama 5 hari untuk melihat bagaimana respon para customer.Dan kami juga hanya melayani COD area kampus saja. Kemudian kami juga membuat desain logo, pamflet untuk penjualan PO, dan juga stiker untuk produk.
Kami membuka PO melalui whatsapp dan instagram masing-masing, selain itu kami juga menawarkan kepada teman-teman dekat kami, keluarga dan tetangga-tetangga kami. Pada saat membuka PO pertama kali ternyata banyak sekali respon dari customer yang mayoritas adalah teman-teman kami sendiri seperti, teman kelas, teman sekolah, dan teman-teman di organisasi. Banyak juga yang bertanya mengenai varian rasa mochi yang kami jual seperti “apa isian mochi nya ada potongan buahnya atau tidak?” lalu kami menjelaskan kalau hanya rasa strawberry saja yang ada buahnya.
Setelah mengumpulkan semua pesanan customer dan terkumpul 116 buah mochi, kami semua terkejut karena ternyata banyak sekali yang minat pada produk mochi yang kami jual owner dari mochi ini pun ikut terkejut karena banyaknya pesanan. Akhirnya karena terlalu
5
Journey Of Mochi Fris
banyak pesanan tersebut kami memutuskan untuk membagi COD dalam tiga hari yaitu hari kamis, jumat, dan sabtu.
Sebelum melakukan COD dengan customer kami mengambil mochi tersebut dari oener terlebih dahulu baru kemudian setelah selesai kelas kami akan melakukan COD dengan customer. Pada waktu COD kami membagi sesuai pesanan yang kami terima masing-masing. Pada saat kami mengecek mochi nya ternyata ada beberapa mochi yang rusak terutama mochi yang rasa keju, hal tersebut kemungkinan terjadi karena mochinya berada di bawah sehingga tertekan oleh mochi yang berada diatasnya. Kemudian kami membicarakan hal tersebut kepada owner dan kerusakannya akan diganti pada orderan berikutnya.
Pada hari kamis dan jumat COD berjalan dengan lancar namun pada hari sabtu ternyata kelas pada hari itu diliburkan, mau tidak mau kami harus tetap melakukan COD dengan customer. Utung saja orderan hari sabtu hanya pesanan dari teman sekolah rahma dan jarak antara rumah rahma dan kampus juga tidak terlalu jauh. Jadi Rahma mengambil orderan dan COD kepada teman-temannya sekalian berkumpul bersama katanya.
6
Journey Of Mochi Fris
EKSEKUSI PENJUALAN OFFLINE
Di Lapangan Gumuk Kartasura, kami berjualan menggunakan sistem offline untuk menjual produk kami yang bernama "Mochifris" melalui event pasar malam yang diadakan secara berkala setiap 6 bulan sekali. Acara ini memberikan pengalaman baru bagi kami dalam berjualan di lapangan. Dengan berbagai stand yang tersusun rapi menampilkan produk-produk unik dan menarik, para pengunjung dapat menikmati suasana yang ramai sambil menjelajahi beragam barang yang ditawarkan, mulai dari pakaian trendi hingga aksesoris buatan tangan dan kulineran. Kami telah menyiapkan segala sesuatu untuk menawarkan produk kepada para pembeli.
Sebelum memulai berjualan, Nisa, Rahma, Fillia, dan Qilla melakukan survei lokasi tempat penjualan. Setibanya di lokasi, mereka menemukan bahwa sebagian stand sudah dipesan, dan stand yang tersedia kurang strategis sehingga mereka kurang minat untuk menyewanya. Untuk mengatasi kendala tersebut, Nisa mengusulkan agar mereka tetap menjalankan penjualan dengan cara berjualan keliling daripada hanya menunggu pembeli di satu tempat. Dan semua anggota tim setuju dengan saran yang diajukan oleh Nisa.
Setelah menetapkan sistem penjualan berkeliling, langkah berikutnya adalah kami merancang poster promosi yang akan dipromosikan melalui WhatsApp dan Instagram pada hari sebelum kami melangsungkan penjualan di pasar malam. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian pelanggan, terutama yang telah melakukan pemesanan online, agar tertarik untuk mengunjungi lokasi kami. Kami juga akan mengirimkan pesan langsung kepada pelanggan yang telah melakukan pemesanan online untuk mengingatkan mereka tentang kehadiran kami di pasar malam.
Setelah poster dipromosikan, karena kami adalah reseller, kami memesan mochi kepada owner sebagai persediaan awal untuk dijual di pasar malam. Selanjutnya, anggota kelompok kami dibagi membagi menjadi dua kelompok saat hari berlangsung, untuk mempermudah dalam penjualanya: Fillia dan Rahma bertugas mengambil mochi dari owner, sementara Qilla dan Nisa mempersiapkan barang dan tempat untuk dibawa ke pasar malam. Kami juga menempelkan stiker pada produk kami untuk memperkenalkannya kepada konsumen, sehingga mereka dapat dengan mudah mengenali produk yang kami tawarkan.
Pada hari Kamis ba’da isya, kami melangsungkan jualan offline. Aksi dimulai dengan Qilla yang menuliskan harga dan juga merapihkan produk, kemudian Nisa dan Fillia menawarkan produk kepada pelanggan, sementara Rahma bertugas sebagai kamerawan untuk dokumentasi penjualan. Saat melakukan penawaran, tidak jarang kami mengalami penolakan,
7
Journey Of Mochi Fris
yang merupakan hal lumrah dalam dunia jual-beli. Meskipun demikian, kami tetap semangat karena ini merupakan awal dari penjualan offline kami. Mayoritas pembeli adalah anak-anak dan mahasiswi, mungkin karena mereka sudah familiar dengan mochi yang pernah menjadi tren dikalangan anak muda. Namun, bagi orang dewasa, mochi mungkin masih terlihat asing, sehingga minat pembelian dari kelompok tersebut lebih sedikit.
Dari hasil penjualan offline, setelah memulai dengan persediaan sebanyak 20 mochi dengan harga jual per pcs sebesar 3000 rupiah, dan modal awal sebesar 50.000 rupiah, kami berhasil menjual 16 mochi, namun mengalami kerugian sebesar 2000 rupiah. Meskipun telah berupaya keras dalam strategi penjualan, namun kami harus mengakui adanya kerugian yang terjadi dalam proses tersebut.
Saat jualan offline tersebut kami mengalami kerugian yang disebabkan beberapa tantangan dalam menjalankan usaha kami. Pertama, minat terhadap mochi yang kami jual masih rendah karena belum ada pelanggan tetap yang dapat diandalkan. Selain itu, kami juga harus bersaing dengan pesaing yang ada di area tempat kami berjualan. Meskipun demikian, kami tetap optimis dan bersemangat untuk terus meningkatkan kualitas produk dan layanan kami agar dapat menarik lebih banyak pelanggan dan mengatasi tantangan yang kami hadapi.
Oleh karena itu, kami akan melakukan evaluasi mendalam terhadap kinerja kami untuk mengidentifikasi peluang perbaikan dan mengurangi risiko kerugian di masa mendatang.
8
Journey Of Mochi Fris
EVALUASI
Setelah kami turun secara langsug dilapangan untuk melakukan penjualan produk mochi, kami sadar bahwasanya menjalankan suatu bisnis perlu adanya evaluasi untuk keberhasilan kedepannya. Penting untuk kami yang masih dibilang baru awal merintis bisnis sehingga mengharuskan kami untuk terus belajar agar dapat bersaing dengan pembisnis lainnya. Meskipun kami telah mempersiapkan semuanya dengan matang dalam kenyataannya masih banyak yang melesat dari perkiraan awal kami, maka dari itu kami sesekali berkumpul untuk membahas dan mengevaluasi apa saja yang harus dibenahi kedepannya.
Evaluasi pertama yang kita bahas yaitu mengenai penjualan online. Beberapa kali kita mendapat complain costumer terkait varian rasa strawberry yang asam dan rasa keju yang kurang rapi penataannya sehingga membuat isiannya keluar-keluar, kita langsung melaporkan kepada owner agar lebih meningkatkan kualitas strawberrynya serta lebih berhati hati dalam proses packaging. Sebenarnya untuk masalah packaging yang tidak rapi owner menawari kami untuk mengganti produk yang baru tetapi karna costumer kita tidak keberatan dan tetap membelinya jadi kita menolak untuk penggantian produk.
Evaluasi kedua kita yaitu mengenai packaging, karena packaging dari owner hanya dikemas satu per satu akan tetapi rata rata costumer kita membeli 5 bahkan sampai 20 pcs mochi, menurut kami kurang efisien jika pembelin 20 mochi tetapi dikemas satu-satu, “Ehh apa kita request aja ya untuk pembelian 5 kita jadikan satu mika” usul Fillia, sontak Rahma langsung menanggapi “Wah ide bagus fil, bisa menghemat biaya juga”, Nisa juga ikut menyetujui “Oke nanti aku sampaikan ke owner nya ya”.
Pembahasan kita selanjutnya yaitu mengenai penjualan offline, sebenarnya itu adalah pengalaman pertama kami berjualan offline jadi pasti banyak yang perlu kita benahi. Ternyata kondisi di lapangan tidak sesuai dengan harapan kami. Hasil penjualan malam itu jika dihitung kita mengalami kerugian Rp 2.000. Luputnya kita yaitu kita tidak tau ternyata di lokasi sudah ada stand yang berjualan sama dengan yang kita jual, Untuk mengatasi hal itu kita mengakali dengan berkeliling menawarkan produk kita dengan kata lain kita yang menghampiri pengunjung.
Faktor utama kita mengalami kerugian saat berjualan offline yaitu kita membawa stok terlalu banyak sedangkan kita baru pertama kali berjualan di lokasi tersebut. Selain itu kurangnya minat masyarakat terhadap mochi juga mempengaruhi penjualan kita malam itu, bisa dibilang mochi sudah tidak terlalu booming sekarang, pentingnya menganalisis lokasi berjualan menjadi PR bagi kami untuk kedepannya.
9
Journey Of Mochi Fris
Meskipun kita mengalami kerugian saat penjualan offline, banyak hal positif yang dapat kita jadikan pembelajaran. Kita jadi paham bagaimana sulitnya mencari uang tidak segampang apa yang kita kira, mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang kita punya sekarang, tentunya kita juga dapat pembelajaran bagaimana sulitnya memanagement uang agar bisa terus berputar,
Menurut analisa kita market place kita yaitu berjualan secara online karena target pasar kita yaitu anak-anak muda. Kita dapat membandingkan ternyata berjualan online lebih efisien bagi kita. Selain orderan yang masuk lebih banyak di online, kita juga tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk menawarkan produk, cukup dengan gadget orderan sudah masuk.
Setelah kami berdiskusi mengenai evalusi penjualan, kami pun siap untuk bisnis yang lebih matang kedepannya. Kami berkomitmen untuk tetap melanjutkan usaha ini secara online dan membesarkan usaha ini. Kami berharap usaha yang kami jalankan bersama dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat untuk masa depan kami.
Sedikit motivasi kami buat pembaca yang masih ragu untuk memulai bisnis. “Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar di langkah kedua. Ketahuilah kegagalan merupakan hal pasti dalam kehidupan, mungkin di masa depan kita akan mengalaminya tapi percayalah orang-orang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang terus-menerus bangkit tanpa sedikitpun berkata ingin menyerah sampai akhirnya mereka berhasil” selagi masi muda lakukan apa aja yang kamu mau. Go for it! Ingat, kalau mimpi itu tidak pernah mati. Daripada menyesal mending mulai dulu dari sekarang.
~
“Keberhasilan bukan milik orang pintar, melainkan milik mereka yang senatiasa berusaha” “Semua berasal dari niat bukan dari mana kita berasal”
“Dream big, work hard and make it happen”
~
10
Journey Of Mochi Fris

Tidak ada komentar:
Posting Komentar