Dimsum Mentai: Kreasi Kuliner yang Menggugah Selera

By Atika Fatma Khoirunnisa

     Hai perkenalkan nama saya Atika Fatma Khoirunnisa, mahasiswa semester 5 dari Prodi Akuntansi Syariah. Saya dengan 3 teman saya berkesempatan untuk mengembangkan ide usaha kreatif suatu produk. Pembuatan produk ini menjadi bagian dari tugas mata kuliah Kewirausahaan Islam yang kami ambil di semester ini. Dimulai dengan pembuatan bussines plan yang kemudian dilakukan secara langsung di CFD colomadu. Dalam proses ini, kami belajar mengaplikasikan nilai-nilai kewirausahaan Islami seperti kejujuran, kreativitas, inovasi, serta menjaga interaksi sosial yang baik, khususnya saat memasarkan produk ini di CFD. 

     Nama produk yang kami buat ini adalah dimsum mentai. Dimsum mentai ini hadir sebagai paduan sempurna antara cita rasa autentik dan inovasi modern. Dengan harga yang terjangkau, hanya Rp10.000, produk ini menawarkan kelezatan saus mentai khas yang berpadu harmonis dengan tekstur lembut dimsum. Setiap gigitan menghadirkan pengalaman rasa yang memanjakan, menjadikannya pilihan ideal untuk camilan berkualitas tanpa harus merogoh kocek dalam. Dengan kesederhanaan harga dan keunggulan rasa, dimsum mentai ini bukan sekadar makanan, melainkan ekspresi seni kuliner yang membawa kebahagiaan di setiap momen.
-------------------------------
       Pagi itu, langit Colomadu dipenuhi awan kelabu. Gerimis kecil turun perlahan, membasahi jalanan di sekitar Car Free Day (CFD). Saya dan teman-teman tetap semangat menata meja kecil kami di tengah suasana yang sejuk. Di atas meja, kami menata dimsum mentai buatan sendiri hasil dari diskusi kami dalam membuat bussines plan 
Harapan kami membubung tinggi saat mengamati orang-orang yang mulai berdatangan, meski hanya membawa payung kecil atau mengenakan jaket tipis. Namun, hingga matahari mulai naik, hanya lima kotak dimsum yang terjual. Sisa dimsum di meja menjadi saksi bisu kegagalan kami menarik perhatian pelanggan di tengah keramaian.
         Di perjalanan pulang, kami merenung. “Apa yang salah?” tanya saya pada diri sendiri. Apakah produk kami kurang menarik, ataukah strategi penjualan kami yang perlu diperbaiki? Suami saya menyarankan, “Kita coba jual online saja. Siapa tahu pasarnya ada di sana.”
      Ide itu langsung kami tindak lanjuti. Kami mengambil foto terbaik dari dimsum mentai yang masih tersisa. Kemudian, foto-foto itu kami unggah ke media sosial, lengkap dengan deskripsi yang menggugah selera.
      Ternyata, langkah sederhana ini membawa perubahan besar. Dalam hitungan jam, pesan masuk memenuhi aplikasi WhatsApp kami. Tidak hanya dari teman-teman dekat, tapi juga dari orang-orang yang tidak kami kenal. Mereka penasaran dengan rasa dimsum mentai kami yang kami promosikan sebagai “kreasi unik dengan cita rasa lokal dan global.”
        Dari yang awalnya hanya laku 5 pack sekarang sisa dimsum kami ludes terjual semua, sampai ada yang bertanya kapan akan open Pre-Order lagi. Namun untuk hal itu belum kami menjindak lanjuti lagi dikarenakan jadwal kuliah dan tugas-tugasnya yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk membuat dimsum lagi.
Tidak hanya soal penjualan, kami juga belajar banyak dari pengalaman ini. Kami mulai memahami pentingnya branding, cara menarik perhatian di dunia digital, dan menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan. Setiap kali ada komentar atau masukan, kami berusaha menanggapi dengan sopan dan profesional.
----------------------------------
          Dalam proses ini, kami berusaha menerapkan prinsip kewirausahaan Islam. Kami menjaga kehalalan setiap bahan yang digunakan, memastikan kebersihan dalam proses produksi, dan tidak lupa memberikan sedekah dari sebagian keuntungan yang kami peroleh. Hal ini menjadi pondasi bagi keberlanjutan bisnis kami.
          Islam mengajarkan bahwa berdagang adalah salah satu pekerjaan mulia, asalkan dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab. Kami merasa dimsum mentai ini tidak sekadar menjadi produk, tetapi juga medium untuk menerapkan nilai-nilai tersebut. Kejujuran dalam kualitas dan niat baik dalam berbagi adalah prinsip yang kami pegang teguh.
          Bisnis ini juga mengajarkan kami untuk selalu bersyukur dan terus belajar. Kegagalan di CFD bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih bermakna. Kami belajar bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci untuk bertahan di tengah perubahan zaman.
     Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah, namun membutuhkan usaha, doa, dan strategi yang tepat. Dalam setiap rintangan, ada pelajaran yang dapat diambil untuk memperbaiki diri. Dengan semangat yang terus terjaga, kami percaya bahwa mentai dimsum kami akan menjadi ikon rasa yang menggugah selera, sekaligus membawa keberkahan bagi banyak orang.

Nama : Atika Fatma Khoirunnisa
NIM    : 225221063
KELAS: Akuntansi Syariah 5B

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bisnis Plan

Manajemen Investasi Teknologi Informasi

MANAGEMENT INVESTASI TEKNOLOGI INFORMASI            Oleh: AlFattah Candra S.R - Prodi MAZAWA   1. Management Investasi IT A. Konsep Manageme...