Gulung Harapan: Cerita di Balik Kimbab Oishi Chwichan
by.Difta Viona
Hallo perkenalkan aku Difta Viona Anggraini, aku adalah mahasiswa semester 5 yang bertahan, walaupun diiringi dengan "sambatan".
saat ini aku sedang menghadapi hiruk pikuknya tugas tugas menjelang akhir semester ini, salah satunya adalah tugas mata kuliah kewirausahaan.
---
"kringggggg, kringggg, kringgg"
alarmku mulai berbunyi, yang menunjukkan pukul 5 pagi pertanda aku harus bangun untuk mempersiapkan hari jumatku yang begitu padat. karena matakuliahku diapit oleh dua metopen sekaligus.
"hadeuhhhh, Jumat yang sangat melelahkan" kataku sambil berjalan keluar kelas dengan menenteng tas hitamku yang rasanya enggan untuk diajak pulang.
---
"eh dip bisa kumpul sebentar ga? untuk bahas ide jualan kewirausahaan kita? itu udah ada Zaida sama Reina" panggil Fahmi kepadaku.
"oke baik, meluncur" jawabku yang sebenarnya sudah ingin segera pulang ke kos.
Tidak butuh waktu lama kita langsung berdiskusi tentang produk apa yang akan kita pilih dan akan kita eksekusi.
"gimana nih gais, ada usul ga mau jualan apa kita di CFD nanti" tanya Zaida
"Aku punya ide, gimana kalo kita bikin polling aja" sahut Fahmi.
"okei pilihannya apa aja nih?" tanya Zaida
"tempe mendoan, donat, corn ribs, kimbab, gimana?" tanya Fahmi yang dibalas anggukan kita.
"nanti aku buat pamflet yang untuk open po" sahut Fahmi lagi.
"wihh keren, oke deh mi, ku serahkan kepadamu" jawab Reina.
"berarti kita jualan di CFD sekalian open po ya gais?" tanyaku.
"iya, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui" jawab Fahmi dengan ketawa.
Hasil menunjukkan polling tertinggi jatuh pada kimbab, dan yaaa, jadi kita mengeksekusi kimbab sebagai produk yang akan kita jual nantinya.
setelah hari berdiskusi itu aku dan ketiga temanku membagi bagian tugas untuk mengerjakan business plan dan dalam waktu 3 hari kita telah menyelesaikan business plan tersebut dan dikirimkan di blog sebagai tugas ulangan tengah semester.
---
"hehh dipp, gimana tugas kewirausahaan kita, mau jualan kapan nih?" tanya Fahmi temanku sekelompok.
"kita ngikut keputusan kelas aja gimana" sahutku.
"yaudah deh kalo gitu, aku duluan ya" kata Fahmi yang mengakhiri percakapan kita.
ya, benar sekali. salah satu diantara tugas kewirausahaanku yaitu mengeksekusi ide yang telah kita tuangkan di business plan. aku dan teman sekelompokku yang terdiri dari Fahmi, Zaida, dan Reina memutuskan untuk berjualan kimbab. "Kimbab Oishi Chwichan" nama produk yang kita gunakan. Oishi yang artinya enak, Chwichan yang artinya ciwi ciwi cantik, hehe. Selain namanya yang unik, kita juga tidak lupa untuk membuat logo yang menarik.
---
Aku duduk di pojok kelas, menatap layar handphone yang menampilkan tugas mata kuliah Kewirausahaan. Judul tugas itu cukup singkat, tapi bebannya terasa berat: "Praktik Usaha: Ide hingga Eksekusi." aku menghela napas panjang. Meski ini bukan tugas individu, tekanan untuk sukses terasa membebani.
Tak lama, penanggung jawab mata kuliah membuka forum kelas yang mana menyampaikan penentuan waktu untuk kelas kita melaksanakan usaha kelompok masing-masing. sesuai kesepakatan diawal kelas kita memang sepakat untuk berjualan di CFD dan ketua kelas memberikan pilihan setiap kelompok untuk memilih tempat CFD yang sesuai hati nurani, asekk.
Pilihan kelompokku jatuh di CFD Slamet Riyadi, Solo. sebenarnya banyak pilihan ada Slamet Riyadi, Colomadu dan Kartasura. Namun, kita merasa tertantang berjualan di cfd Slamet Riyadi.
---
"Fahmi, kita mau belanja bahan kapan nih?" tanyaku membuka percakapan dan dalam waktu sekejap kita sudah membuka forum untuk kelompok 1, kelompok kita.
"kita belanja h-2 aja gimana?" sahut Reina
"iya boleh, mau belanja bareng?"
"aduhh kalo itu aku ga bisa gais, soalnya aku magang nih. gimana kalau kita bagi tiap orang belanja apa aja gitu?" sahut Zaida
"boleh tu, gapapa" jawabku
Fahmi segera meluncurkan layar berukuran 5,5 inc dan segera mengetik apa aja bahan yang dibutuhkan dan dibagi setiap anggota kelompok.
"gimana dengan modal awal kita?" tanyaku,
"kita iuran per orang Rp 30.000 gimana? nanti kalau lebih kita kembalikan lagi" jawab Zaida
"boleh tu" sahut Reina.
aku mendapat bagian untuk berbelanja minyak wijen, biji wijen, minyak asin, mayonaise, saus cabai.
"oke deh kalo gitu aku balik duluan ya gais" aku membuka obrolan lagi.
"oke hati-hati dip" sahut mereka bertiga. aku langsung pergi meninggalkan ruangan kelas.
---
Sepulang dari kuliah, aku berencana untuk segera berbelanja bahan yang sudah menjadi bagianku. saat aku bertanya di grup WhatsApp mengenai biji wijen (yang harus beli seperempat kilogram). tiba tiba Fahmi menyeletuk dan meminta tolong sekalian membelikan bahan bahan lainnya. aku dengan senang hati bersedia membelikannya, yang penting asal diganti, hehehe.
---
"gais, ada lagi yang kurang ga" tanyaku di grup WhatsApp pada malam Sabtu.
"ga ada kayaknya" balas Reina
"HEH GAIS, KITA KELUPAAN BELI TUSUK DAN PLASTIK BUAT SAUS, GIMANA NIHH MANA UDAH JAM SEGINI" balas Fahmi dengan ketikan yang terbaca sangat panik.
"yaudah yaudah, jam segini toko plastik dan kue mana ya yang kira kira masih buka?" tanyaku, dengan melihat jam di handphone menunjukkan pukul 9 malam.
"apa aku coba cari di daerah UMS dulu gais" tanyaku lagi
"bolehh bolehh, semoga adaa" balas Zaida
"oke otw" balasku singkat dan aku segera meluncur ke TKP.
Setelah mendatangi beberapa rekomendasi di google maps ternyata banyak yang sudah tutup, akhirnya aku menemukan toko yang hampir tutup, dan tidak butuh waktu lama aku segera membeli kekurangan bahan yang dibutuhkan.
sesampainya di kos aku segera terlelap tidur karena aku harus bangun jam setengah 4 pagi.
---
"knockk, knockk, knock" suara pintuku digedor oleh seseorang, dan ternyata itu adalah Fahmi yang datang ke kosku pukul 4 pagi.
"Ya Allah krinan gaiss" kata Fahmi.
aku yang baru bangun masih menerka nerka apa yang harus aku lakukan, dan setelah sadar aku segera membangunkan Zaida dan Reina.
pembuatan kimbab berada di dapur kosku, tak perlu waktu lama kami langsung membagi tugas. Fahmi memasak nasi, Reina mengupas dan memotong wortel dan mentimun, Zaida menggoreng telur dan sosis, aku memotongi bayam.
---
Setelah semua sayur direbus, telor dan sosis digoreng, nasi telah matang, aku dan teman temanku berkumpul di kamar dan bergegas untuk menggulung semua bahan dengan nori karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. bagian yang menggulung adalah Zaida dan Fahmi, aku mengemasi saus cabai dan mayonaise, Reina menata kimbab yang sudah jadi ke dalam wadah.
Pukul setengah 7 aku dan teman teman sudah menyelesaikan semuanya dan bergegas untuk mandi, karena bagi seorang wirausaha, setengah 7 sudah kesiangan jika berjualan di CFD.
Namun, tak semuanya berjalan mulus.
Zaida menggaruk rambutnya yang tidak gatal "dan aku baru sadar kalau kita lupa pesan meja buat display!"
"tenang tenang. Yang penting kita bawa produk yang cukup. Kalau display nggak ada, kita improvisasi" jawab Fahmi menenangkan. Dan keputusan akhirnya kita memutuskan untuk membawa meja milik Fahmi yang ada di kos.
---
Setengah jam perjalanan akhirnya aku dan teman temanku tiba di lokasi CFD. Dengan terburu-buru kita segera menata meja dan produk kimbab yang telah jadi.
Reina dan Zaida membawa box wadah yang penuh dengan kimbab, aku membawa perlengkapan tambahan, sementara Fahmi menggotong meja.
Disana kita tidak hanya diam, melainkan asyik menawarkan kimbab oishi Chwichan kita, dengan semangat membara kita membagi tugas. Zaida berkeliling dengan teman dari kelompok lain untuk menawarkan kimbab, aku menyiapkan pesanan dari po yang telah kita buka H-2 sebelum berjualan dan Reina, Fahmi mempromosikan kimbab di depan stand kita.
"ada yang mau beli kimbab kita ga ya?" gumam Fahmi pelan.
Difta, meski gugup, mencoba menyemangati. "Kita coba dulu. Kita sudah sampai sejauh ini."
Saat pengunjung mulai berdatangan, semua keraguan perlahan hilang. Orang-orang penasaran dengan nama unik Oishi Chwichan dan tertarik mencoba rasa kimbab yang kita jual. Banyak yang memuji kelezatannya dan ada juga yang repurchase kimbab kita.
---
Tidak membutuhkan waktu lama, kimbab Oishi Chwichan kita ludes terjual habis.
"yeyyyyy sudah habis gais" celetuk Fahmi girang.
"iya ya akhirnya setelah perjuangan yang panjang ini" sahut Reina.
"aduhh gais energiku habis" celetuk Zaida juga.
"gen Z kok suruh jualan, social energy-nya langsung habis hahaha" candaanku membuat kita semua tertawa.
setelah membereskan semuanya, kita menghitung hasil masih di lokasi yang sama.
"gaiss ternyata kita untung Rp 50.000" kata Fahmi.
"wihh banyak juga yaaa" sahutku
tak lama Reina ingat sesuatu.
"waduhh gaisss, pesanan temanku belom dibuatkan"
"ehh kok bisaa baru inget pas kimbabnya sudah habis sih" celetukku.
"gimana dong?" tanya Reina
"apa kita open po lagi aja?" sahut Zaida
"boleh tu" Fahmi antusias.
setelah percakapan itu kita semua menuju parkiran dan pulang ke kos dan rumah masing-masing. Rencana open PO pun masih wacana~
---
Mimpi dari Gulungan Kecil
Saat tiba waktunya presentasi akhir di depan dosen, kelompokku tampil percaya diri. Kita memaparkan bagaimana memulai dengan modal kecil, menghadapi berbagai tantangan, hingga akhirnya berhasil meraih keuntungan di atas target.
Meski tugas ini akhirnya selesai, aku dan teman-temanku berencana untuk terus melanjutkan Oishi Chwichan. Bagi kita, ini bukan lagi sekadar tugas kuliah, melainkan simbol kerja keras dan mimpi besar yang digulung dalam setiap potong kimbab Oishi Chwichan.
"Dari sebuah gulungan kecil, kita belajar mimpi besar."
Dokumentasi


.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar